
Assalamu'alaikum Mam semua. Alhamdulillah Kayenna bisa up hari ini. Oh ya, Kayenna ucapkan terimakasih banyak kepada Mam Mam semua yang sudah memberi hadiah atau vote untuk cerita ini. Kayenna doakan supaya murah rezekinya. Aamiin.
Jazira masih menatap sang suami yang tengah fokus menyetir. Nafasnya pun sudah tak beraturan. Seketika bulir bening menetes dari pelupuk matanya. Sesakit inikah yang harus hatinya terima atas permintaannya sendiri?
"Surat cerai? Em, baiklah. Kau katakan saja padaku jika suratnya sudah diantar." lirih Jazira setelah menghapus air matanya dengan kasar. Dia menatap keluar jendela dengan air mata yang masih mengalir.
"Apakah kau menangis?" tanya Albirru memastikan keadaan sang istri. Sebenarnya perasaannya mengatakan bahwa jangan membahas tentang hal itu. Namun entahlah, dirinya sendiri pun tak tahu dengan apa yang dia katakan.
Jazira menghela nafasnya perlahan lalu menyeka air matanya. Dia menggelengkan kepalanya lalu beralih menatap sang suami.
"No, i'am not cry. Aku cuma mau bilang, makasih banyak." jawab Jazira sambil tersenyum. Seketika Albirru merasakan perasaan yang bergemuruh di dadanya ketika melihat wajah sembab milik Jazira.
"Thank you for?" tanya Albirru bingung dengan perkataan sang istri.
"Terimakasih untuk gelarnya menjadi Nyonya Alexander selama beberapa hari ini. Meskipun nggak pernah terpikirkan oleh Zizi sendiri bisa jadi istri Mas Birru. Mungkin ini bisa ceritakan tentang hal ini pada anak Zizi kelak." jawab Jazira sambil mengalihkan pandangannya dari sang suami.
Albirru sama sekali tak menjawab perkataan sang istri. Dirinya merasakan sesak saat mendengar perkataan Jazira yang hendak menceritakan bahwa dirinya pernah menjadi Nyonya Alexander pada anaknya.
Jazira pun tak lagi menoleh kearah suaminya. Yang ada dipikiran Zizi adalah, apakah tak ada kesempatan untuk pernikahannya lagi? Sebegitu ingin pisahkah Albirru dari dirinya?
Sedangkan hal tersebut, sama seperti yang Albirru pikirkan. Albirru berpikir, kurang apakah dirinya sampai-sampai sang istri ingin bercerai dengannya. Dia memiliki alasan mengapa dia masih berhubungan dengan Larina.
Jelas bukan apa alasan Jazira ingin berpisah dengan Albirru? Suaminya tak hanya bermain api dibalik pernikahannya, tapi dia telah melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri. Bagi Jazira, hal tersebut adalah kesalahan paling fatal yang tak bisa dimaafkan.
Sedangkan Albirru? Dia masih tak sadar dengan kesalahannya. Jika dilihat, dimana kekurangan Jazira? Jika untuk seorang CEO yang tak mempermasalahkan tentang se* bebas, seharusnya dia beruntung memiliki Jazira. Tapi sepertinya Albirru sangatlah bod*h.
Setelah beberapa saat, mereka berdua telah sampai di rumah Albirru. Jazira keluar dari mobil dengan berlari sambil menutupi kepalanya dengan tas nya. Albirru yang melihat sang istri telah berlari keluar mobil pun segera menyusulnya.
Sesampainya dia didalam, Zizi segera naik ke lantai atas dimana bekas kamarnya berada. Dia ingin berganti baju Karena badannya sudah lembab karena kehujanan.
"Untunglah daster milik Tasya masih disini. Jadi aku tak perlu menggunakan pakaian milik Larina ini." ujar Jazira sambil mengambil daster milik Tasya yang belum dia kembalikan tempo hari. Ia pun segera berjalan menuju kamar mandi dan mengeringkan badannya lalu mengenakan daster milik Tasya.
Saat Jazira keluar dari kamar mandi, bertepatan dengan itu pula Albirru sedang membuka pintu kamarnya. Jazira menatap Albirru bsebentar lalu mengalihkan pandangannya.
"Jingga ada di kamarnya, kamu langsung ke kamarnya aja. Soalnya dia lagi tidur." ucap Albirru sambil menatap sang istri yang telah berganti pakaian. Jazira hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan melalui sang suami.
Jazira pun membuka pintu kamar milik Jingga dan berjalan mendekati ranjang di mana terdapat seorang gadis berambut sebahu yang tengah tertidur.
Setelah duduk di samping tubuh Jingga Jazira mengelus perlahan rambut milik Jingga yang ternyata suhu badannya sangatlah tinggi.
Jingga yang merasa bahwa ada seseorang yang mengelus rambutnya pun segera mengerjapkan matanya dan terkejut melihat kakak iparnya.
__ADS_1
"Kak Zizi! Kak Zizi kapan dateng? Jingga seneng Kak Zizi ada di sini." ujar Jingga sambil menjadikan paha milik Zizi sebagai bantal dan memeluk erat perut milik Jazira.
"Kak Zizi baru aja dateng. Sekarang Kakak Zizi tanya, Jingga udah makan belum?" tanya Jazira yang disambut gelengan kepala oleh Jingga.
"Terakhir pas di rumah sakit. Mau makan tapi Mbok Sum mungkin nggak sempet masak, minta tolong Kak Albi pun nggak akan mungkin. Yaudah Jingga tahan laper aja." sahut Jingga dengan suara seraknya.
"Ya udah, sekarang Kak Zizi masak dulu terus bawain obat. Jingga tunggu Kak Zizi sebentar ya." ujar Jazira sembari menurunkan kepala adik iparnya supaya dia bisa berdiri.
"Jingga mau ikut kak Zizi aja. Tinggal tunggu di sofa depan TV sambil bawa selimut. Bolehkan?" usul Jingga sembari bangun dari tidurnya.
Pada awalnya Jazira ingin melarang Jingga untuk mengikutinya. Tapi jika dipikir-pikir, dia pun akan bosan jika harus menunggu sekian lama di kamar sendirian. Akhirnya Jazira pun menganggukkan kepalanya sambil menuntun adiknya untuk turun ke bawah.
Albirru yang beru saja keluar kamar pun terkejut melihat adiknya berjalan dengan sang istri menuruni tangga. Ia segera menerima selimut yang dibawa oleh Jazira karena dia melihat Jazira kesulitan membawa selimut serta menggandeng adiknya.
Setelah mengantarkan Jingga duduk di depan TV, Albirru pun menutupi tubuh adiknya dengan selimut yang dia bawa. Dia menatap kepergian Jazira yang berjalan menuju dapur.
Malam ini Jazira memasak bubur ayam untuk adiknya. Karena dia tahu bahwa ketika tubuh sedang tidak bisa diajak kompromi, bubur adalah makanan yang tepat.
Setelah menunggu beberapa lama, Jazira sedang menyiapkan buburnya di mangkuk besar yang telah dia siapkan. Sedangkan Albirru yang sedari tadi duduk di sebelah adiknya pun mulai berdiri dari duduknya, karena panggilan telepon dari Johan.
Jingga menatap kepergian kakaknya yang berjalan menuju kamarnya. Jingga masih menatap televisi sampai atensinya teralih karena suara bel rumahnya berbunyi.
Setelah mengintip di jendela dan tahu siapa yang datang, Jingga pun segera membukakan pintunya dan tersenyum melihat seorang pria dengan amplop coklat di tangannya.
"Benar dengan alamat Tuan Albirru Geano Alexander? " tanya pria tersebut yang dijawab dengan anggukan oleh Jingga.
"Ini surat dari pengadilan agama yang yang baru bisa saya kirimkan sekarang." ucap laki-laki tersebut sambil menyodorkan amplop tersebut kepada Jingga.
Deg!
Jantung Jingga berdegub lebih cepat daripada ritme sebelumnya. Dia menatap kaget kepada amplop yang telah berada ditangannya. Dia dapat menebak kepada siapa surat tersebut ditujukan.
Tak lupa, kurir tersebut menyodorkan sebuah buku kecil dan meminta Jingga untuk menandatangani bagian bawah dari buku tersebut.
Setlah menandatangani bukti penerimaan dan mengucapkan terima kasih, Jingga pun segera kembali masuk ke rumah setelah mengunci pintu rumahnya. ia berjalan menuju depan TV dan berinisiatif untuk membuka amplop tersebut.
Saat membaca bagian kop surat saja dia sudah merasa sangat takut apalagi dibagian bawahnya. Dengan tekad yang penuh penasaran, dia pun membaca bagian bawah kepala surat tersebut.
Seketika matanya terbelalak ketika membaca surat tersebut. Bagaimana dia terkejut? Surat tersebut mengatakan bahwa Albirru dan Jazira diharapkan agar datang menuju pengadilan agama untuk mengurus sidang perceraian mereka.
Jazira yang telah selesai meyiapkan bubur serta ayam yang telah dia masak pun segera berjalan menuju meja makan. Albirru pun yang telah selesai menerima telepon dari Johan pun keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Pandangannya langsung tertuju kepada sang adik yang sedang berdiri menyamping lalu berpindah kepada amplop yang ada di tangan adiknya. Albirru terkejut bukan main ketika tahu apa yang berada di tangan adiknya.
Ya, Johan baru saja memberitahunya bahwa surat cerainya telah jadi hari ini. Jadi Johan mengatakan kepada Albirru agar dia bersiap menerima suratnya. Namun dia kalah cepat, adiknya lah yang lebih dulu menerima surat cerai antara dirinya dan Jazira.
Albirru menatap adiknya dengan tatapan penuh terkejut. Dia tahu apa yang akan dikatakan adiknya, terlihat dari raut wajah Jingga yang sedang menahan amarah. Sedangkan Jazira yang baru keluar dari arah dapur pun bingung melihat wajah terkejut sang suami yang sedang menatap adiknya, begitu pula dengan Jingga.
Jazira pun berjalan menuju meja makan dan meletakkan bubur buatannya. Setelah menata semuanya, Jazira pun berjalan mendekati sang adik yang terlihat sedang membaca sebuah surat. Jazira berdiri disebelah Jingga, lalu bertanya pada adiknya.
"Baca apa sih, Ngga? Sampai kaget gitu bacanya. Mas Birru juga kenapa ngeliatin adiknya sampai begitu?" tanya Jazira sambil menatap antara adiknya dan sang suami secara bergantian.
Jingga mendongakkan kepalanya dan menatap tak suka kepada Jazira dan kakaknya.
"Baca surat cerai kalian! Kenapa?" tanya Jingga dengan nada meremehkannya. Sontak Jazira yang mendengar ucapan dari sang adik pun membelalakkan matanya. Tangannya terulur hendak menyentuh surat yang ada di genggaman adiknya.
Namun belum sempat tangannya menyentuh surat tersebut, Jingga sudah membawa suratnya kebelakang badannya. Dia mundur beberapa langkah sambil menatap kedua kakaknya dengan tatapan tajam.
"Jangan harap kalian bisa ambil surat ini dari Jingga!" ujar Jingga dengan nada yang tak bersahabat sambil meremas surat tersebut di belakang badannya.
"Jingga, bawa kemari surat tersebut. Surat itu sangat penting, Ngga. Kak Albi harus tanda tangan di surat itu." ujar Albirru sambil mengulurkan tangannya nya.
"Nggak akan! Kak Albi lupa sama apa yang Kak Albi ucapkan dihadapan semua orang, beberapa hari yang lalu?! Ingat kak, itu janji Kakak sama Allah untuk terus bersama dengan Kak Zizi!" tolak Jingga sambil menatap kakaknya.
"Ini bukan salah Kakakmu, Ngga. Ini pilihan Kak Zizi." ujar Jazira karena takut Jingga memarahi sang suami. Pandangan Jingga teralih menuju kakak iparnya. Tatapannya masih sama seperti tatapannya pada sang kakak.
"Bisa-bisanya Kak Zizi memiliki pemikiran untuk berpisah dengan Kak Albi?! Wanita mana yang memiliki impian untuk menikah lebih dari satu kali hah?! Tolong belajar untuk berpikir lebih luas, kalian sudah dewasa bukan ABG labil yang kurang wawasan!" bentak Jingga sambil menyobek kertasnya.
Jazira dan Albirru pun membelalakkan matanya. Mata Jingga pun sudah memerah, pertanda dia akan menangis.
"Cukup Mama dan Papa yang berpisah Kak! Jingga udah seneng saat tau kalo Kak Albi mau nikah, jangan hancurin ekspetasi Jingga Kak! Kalian adalah tempat Jingga bergantung! Jingga nggak pernah punya orang tua yang akur, mereka selalu ribut karena orang ketiga! Bayangan Jingga, Jingga akan dapet figur orang tua lengkap dari kalian. Tapi apa?! Kalian hancurin semua bayangan Jingga!" teriak Jingga sambil menatap tajam kedua insan yang berdiri bersebrangan.
Air matanya telah jatuh membasahi kedua pipi chubby nya. Jazira merasa tersentil oleh perkataan Jingga. Saat dia hendak memeluk adik iparnya, Jingga lebih dulu berlari menuju lantai dua.
Dia berjalan menuju kamar Jazira lalu mengambil kunci yang masih menggantung di dalam. Setelah itu dia pun segera mengunci pintu kamar milik Jazira dari luar.
"Kalian renungin apa yang kalian putusin secepatnya! Nggak ada tidur pisah-pisah! Jingga nggak akan makan atau minum obat kalau kalian nggak tidur sekamar!" ucap Jingga tegas sambil mengusap air matanya dengan kasar.
Setelah itu Jingga pun masuk ke kamarnya sembari membanting pintunya.
Ada yang mau Kayenna double up?
Komen sebanyak-banyaknya ya, supaya Kayenna tau seberapa banyak yang mau cerita ini double up🙏.
__ADS_1