
Kali ini Albirru telah berada di rumahnya. Dia menunggu seseorang yang kali ini benar-benar menyulut emosinya. Terlihat dari raut wajah marahnya, Johan serta Mbok Sum pun pergi menjauhi Albirru yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.
Terlihat albirru tengah mengambil ponsel dari saku jasnya, lalu mendial nomor seseorang yang yang pada awalnya memang menjadi tempat dirinya untuk melampiaskan amarah ataupun rasa kesal.
"Cepat kau datang ke rumah! Bawa semua barang-barangmu. Aku setujui permintaan mu tadi siang! Ku beri waktu dua puluh menit, jika lebih maka jangan pernah kau injakan kaki mu di rumahku!" seru Albirru setelah panggilannya tersambung.
Dengan begitu tak sopannya, Albirru langsung memutuskan panggilan teleponnya ketika dirinya melihat Jazira berjalan masuk kedalam rumah dengan kan wajah lelahnya. Wanita tersebut sedikit menatap Albirru singkat lalu kembali menatap granit warna putih tulang di bawahnya. Tak ada niatan sedikitpun untuk dirinya menyapa lelaki yang tengah menatapnya tajam itu.
Jazira semakin menundukkan kepalanya ketika dirinya berjalan tepat di samping sang suami. Entahlah, Jazira merasa tak ada lagi sisa tenaga untuk bertengkar dengan sang suami. Sampai tiba dimana tangan mungilnya itu ditarik paksa oleh Albirru dan menarik tangannya menuju kamar milik suaminya.
Jazira yang sudah lelah pun hanya pasrah sambil memejamkan matanya sejenak disertai menghembuskan nafasnya panjang. Jazira merasa, tak akan ada hasil jika dirinya meladeni sang suami yang dia rasa tengah marah besar tersebut.
Jazira sedikit terbelalak ketika Albirru menghempaskan tubuhnya diatas ranjang dengan sangat kasar. Jazira yang hendak marah pun segera mengambil nafasnya panjang sambil memejamkan matanya lelah.
Setelah seharian bercerita tentang masalahnya kepada sang sahabat, Zakia, Jazira pun telah menghabiskan tenaganya untuk membersihkan seluruh apartemen milik kedua orang tuanya. Jazira perlahan membuka matanya ketika mendengar helaan nafas sang suami mulai teratur.
"Kapan kau melakukan hal itu bersama, Marcel?" tanya Albirru langsung to the point dengan nada rendahnya. Meskipun dengan nada rendah, tetapi Jazira tahu bahwa sang suami tengah menahan amarahnya.
"Apa yang kau maksud? Jangan bilang jika kini kau tengah menuduhku," selidik Jazira sambil mencoba untuk bangun. Namun belum sempat dirinya terbangun, lebih dulu Albirru tersenyum smirk dengan tawa mengerikannya.
__ADS_1
"Sepertinya paman Johan salah mencari gadis untuk menjadi istri bayaranku, ralat bukan gadis. Lebih tepatnya wanita. Wanita murahan yang telah melakukan **** bebas dengan kakak tirinya sendiri!" ujar Albirru dengan nada tegasnya yang membuat Jazira diam mematung.
"Apa yang kau katakan?! Atas dasar apa kau menuduhku dengan perkataanmu itu?" tanya Jazira dengan nada lirihnya sembari menatap netra sang suami yang masih memancarkan amarah.
"Bukankah memang kau seorang wanita murahan sehingga kau dengan leluasa membiarkan agar tubuh mu itu disentuh oleh kakak tirinya sendiri? Berarti benar ketika kau berusia 16 tahun, kau sudah belajar menjadi wanita murahan?" hina Albirru yang benar benar membuat Jazira menggelengkan kepalanya.
Rasa lelah yang tadi menghinggapi tubuhnya seketika menguap ketika Albirru mengungkit tentang masalah yang setengah mati berusaha dia lupakan. Jazira bangun dari posisi awalnya lalu berjalan mendekati sang suami. Badan mungil milik Jazira telah berdiri sempurna di hadapan Albirru.
"Kau mengatakan apa? Aku murahan? Kau bahkan tak tahu bagaimana cerita sesungguhnya, lalu darimana kau bisa mengatakan bahwa aku murahan?" tanya Jazira dengan nada rendahnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Tak perlu kau memakai topengmu itu di hadapanku, Ra! Kau bahkan telah kehilangan apa yang harus kau berikan untuk suamimu sejak lama! Kau tak pantas untuk menjadi istriku! Kau tahu? Kau hanya seonggok sampah yang pernah ku pungut, dan sebentar lagi akan Ku buang kembali!" hardik Albirru yang membuat cairan bening mengalir dari kedua mata milik Jazira.
"Seorang suami tak akan pernah merendahkan wanita yang dia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya. Jika kau memang tidak bisa menghargaiku, setidaknya dulu kau tak menikahiku. Seorang suami juga tak akan pernah berkhianat dengan wanita lain, bahkan sampai menghamili wanita lain. Seperti itulah gambaran seorang suami untuk Maira. Sedangkan aku tak pernah merasakan bagaimana ketulusan suamiku terhadapku," aku Jazira yang kembali membuat Albirru berdiri mematung.
Lama tak ada luapan amarah diantara keduanya. Albirru masih menatap Jazira yang tengah menatapnya. Jazira tahu, apa yang tengah sang suami rasakan dan pikirkan sangat bertentangan.
"Aku menyerah," ungkap Jazira yang langsung disambut dengan kekehan dari Albirru. Laki-laki itu tertawa keras sambil mengikis jarak diantara keduanya.
"Ya, kau menyerah karena suamimu ini tahu kebusukanmu. Memang lebih baik jika kau kembali pada laki-laki yang telah merenggut mahkotamu. Bukan kepada lelaki yang menginginkan mahkotamu." Albirru mengatakan hal tersebut sambil terus berjalan mendekati Jazira yang berjalan mundur menjauhi sang suami.
__ADS_1
"Wait, apa yang kau katakan? Bravo, berarti selama ini aku benar-benar salah telah mencintai lelaki yang hanya memikirkan perkara perut dan bawah perut saja. Kau minta untuk aku kembali pada lelaki yang telah mengambil mahkotamu bukan? Berarti itu kau! Kau lah yang merenggut semuanya dariku!" bentak Jazira diakhir perkataannya.
"Apakah kau bercanda? Bahkan Marcel lebih tahu bagaimana seluk beluk tubuh mu itu! Jika kakak tirimu itu tahu tentang goresan luka di dada bagian kirimu, itu berarti dia benar-benar telah melihat tubuh mu bukan?! Dasar wanita murahan! Kau lebih menjijikan daripada jal*ng sekelas Larina!" bentak Albirru dengan nada tingginya.
"Ya! I'am a *****! Kau puas, hah?! Aku memang seorang *******!" teriak Jazira dengan nada bergetar sambil beringsut menjauhi Albirru hingga tubuhnya menyentuh tembok dibelakangnya.
"Sekarang apa yang kau tunggu, hah?! Ceraikan ******* ini lalu kau temui Larinamu itu!" Albirru menatap Jazira dengan wajah yang memerah hingga tak sadar dia pun mengangkat tangan kanannya dan memukul tembok yang berada tepat disamping kiri pipi milik Jazira.
"Gue benci lo, Maira!" teriak Albirru tepat disamping atas kepala Jazira yang membuat wanita bertubuh mungil itu memejamkan matanya dengan air mata yang kembali membasahi kedua pipinya.
"Aku harap kau tak akan menyesal suatu hari nanti, Mas!" ujar Jazira lirih sambil menggeser tubuh kekar milik suaminya dan berjalan meninggalkan Albirru yang masih menundukkan kepalanya.
Belum kakinya merasakan ubin di luar kamar, pintu kamar milik Albirru terbuka. Jazira menghentikan langkahnya. Dia menatap tajam Larina yang berlari kecil mendekati Albirru yang masih berada di dekat tembok. Wanita yang mengaku tengah hamil itu memeluk tubuh Albirru dan menenangkan suami Jazira.
"Jangan pertahanin wanita nggak tahu malu seperti dia, Mas. Lebih baik kita mulai dari awal dan kita besarkan anak kita ini," ujar Larina sambil memegang kedua pipi milik Albirru sembari menatap Jazira yang masih berdiri mematung.
Jawaban Albirru pun semakin membuat Jazira kehilangan topangan hidupnya. Ketika Albirru menganggukkan kepalanya dan mencium lembut bibir milik Larina, mulai saat itu pertahanan yang Jazira bangun selama ini runtuh sudah.
Jazira masih menatap kegiatan mereka berdua yang semakin lama semakin panas. Jazira menatap keduanya dengan air mata yang masih terus mengalir. Hingga tiba dimana Albirru menjatuhkan tubuh Larina diatas pembaringan dimana mereka berdua pernah tidur bersama, Jazira pun segera pergi saat melihat sang suami mulai menindih tubuh Larina yang hanya terbalut mini dress.
__ADS_1
Jazira berjalan cepat keluar dari kamar milik suaminya. Tubuhnya seketika menegang ketika melihat seseorang di hadapannya kali ini.