
"Besok Jingga akan pulang. Sambutlah dia, aku tak ingin kau memperlakukannya dengan tidak baik." Ucap Albirru dengan nada datarnya yang membuat Jazira membuka matanya.
Jazira menatap tajam kepada sang suami yang telah berjalan menjauhi ranjangnya. Jazira merasakan matanya sedikit memanas, jantungnya pun berdegub dengan kencang. Tanpa diminta, kristal bening yang sedari tadi bertengger di pelupuk matanya pun lolos.
"Jingga? Bukankah Jingga adalah wanita yang foto bersama Mas Birru? Dasar laki-laki gila! Entahlah berapa wanita yang sedang dekat dengannya!" Ujar Jazira sambil memaki suaminya itu.
"Biarkan saja, Zi. Jika dia terkena penyakit kelamin atau sejenisnya, tau rasa!" Lirihnya disertai kekehan diakhir ucapannya. Setelahnya, ia pun segera menarik selimutnya hingga sebatas dada lalu mulai memejamkan matanya.
Sedangkan Albirru yang masih berada didepan kamar Jazira hanya tersenyum tipis. Dia melangkahkan kakinya menjauhi kamar Jazira dan berjalan menuju lantai dasar, dimana kamarnya berada.
*********
Keesokan harinya, Jazira yang sudah bangun pun segera berjalan menuju kamar mandi. Dia berniat mandi lebih pagi kali ini. Entahlah, suasana hatinya sedang dalam mood yang baik.
Selesai mandi, dia berjalan menuju dapur. Ya, sesuai perkiraannya. Mbok Sum telah bangun dan sednag memasak hidangan untuk sarapan.
"Selamat pagi, Mbok. Hari ini Simbok mau masak apa?" Sapa Jazira sambil membuka kulkas. Mbok Sum yang mendengar suara majikannya pun menolehkan kepalanya dan tersenyum ramah menatap Jazira.
"Pagi juga, Non Maira. Hari ini Simbok mau masak ayam kecap. Nona muda sangatlah menyukai olahan ini. Apakah Nona Jazira juga menyukainya?" Jawab Mbok Sum sambil mengaduk masakannya yang hampir matang.
Seberapa berpengaruhnya Jingga, sih dalam rumah ini? Mbok Sum saja sampai hafal makanan kesukaannya. Duh, Zi kau harus lebih strong lagi. Batin Jazira sambil memejamkan matanya dan menghirup nafasnya dalam dalam.
"Zizi sangat menyukainya, Mbok. Tolong nanti pisahkan saja ya, Mbok. Zizi mau makan di kamar aja." Ujar Jazira sambil berjalan kesamping Mbok Sum. Mbok Sum yang mendengar jawaban dari Jazira pun menolehkan kepalanya dengan alis yang berkerut.
"Kenapa dipisah, Non? Apakah Non Maira masih sakit hati dengan perkataan tuan muda, kemarin?" Bingung Mbok Sum yang membuat Jazira tersenyum tipis.
__ADS_1
"Zizi nggak mau ganggu waktunya Mas Biru sama Kak Jingga. Takutnya nanti kalau kejadia seperti kemarin terulang lagi." Jawab Jazira sambil menundukkan pandangannya.
"Non Jingga baik banget kok, Non. Dia berbeda sekali dengan tuan muda Albirru. Sifatnya sangat rendah hati serta sopan. Persis seperti Nona Maira. Bahkan jika Mbok Sum lihat-lihat lagi, muka kalian berdua sangatlah mirip." Ucapan Mbok Sum baru saja membuat hati Jazira semakin terasa sakit.
Mengapa aku merasa jika Jingga ini akan lebih sulit untuk kukalahkan? Seberapa baik dirinya? Sepertinya kau akan kalah kali ini, Zi. Batin Jazira lagi sambil menghembuskan nafasnya panjang.
"Non Maira bisa banti, Mbok Sum?" Tanya Mbok Sum mencoba meminta tolong kepada majikan wanitanya. Jazira pun mendongakkan kepalanya dan menganggukkan kepalanya.
"Apa, Mbok? Zizi bisa bantu Mbok Sum." Jawab Jazira sumringah sambil tersenyum untuk menghilangkan kegugupannya. Mbok Sum pun menyerahkan semangkok ayam kecap yang terlihat mengguggah selera untuk Jazira.
"Tolong bawakan ayam ini kemeja makan ya, Non? Mbok Sum mau bawa nasinya." Ujar Mbok Sum yang langsung diangguki oleh Jazira. Mbok Sum berjalan mendahului Jazira.
Jazira yang masih berhati-hati saat membawa mangkuk besar berisi ayam kecap tersebut pun terkejut tatkala melihat sang suami yang datang dari arah depan sambil mengendong seorang wanita layaknya bocah lima tahun.
Albirru yang tahu akan arti tatapan Jazira pun segera menurunkan Jingga. Dia mengecup perlahan pipi Jingga sambil menyeret koper berwarna hitam dengan corak luar angkasa tersebut menjauhi Jingga.
Tatapan Jingga beralih lada Jazira yang masih berdiri mematung lwngkap dengan mangkok besar berisi makanan kesukaannya. Dengan segera ia pun melepas pelukannya kepada Mbok Sum lalu berjalan mendekati Jazira.
"Hai, kakak cantik. Siapa namamu?" Sapa Jingga lembut sambil mengambil alih mangkok yang terlihat besar ditangan Jazira. Jazira pun tersadar dari lamunannya dan tersenyum kecil menatap Jingga yang telah selesai meletakkan mangkok tadi.
"Hai. Namaku Jazira. Kau bisa memanggilku Zizi." Jawab Jazira yang langsung diangguki oleh Jingga. Jingga memeluk erat Jazira yang hanya ditatap datar oleh Albirru. Albirru berjalan menaiki tangga sambil mengangkat koper Jingga.
Jazira yang merasa canggung pun segera melepaskan pelukan Jingga.
"Eh, kenapa kak? Apakah kau risih padaku?" Tanya Jingga polos sambil menyentuh lengan Jazira. Jazira pun hanya tersenyum kaku sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ti ... tidak, bikan begitu. Aku hanya ingin pergi kekamar. Mbok, tolong antarkan makanan Zizi ya? Zizi pamit keatas dulu." Ujar Jazira sambil menundukkan sedikit kepalanya lalu berjalan menjauhi Jingga yang masih menatapnya intens.
Jazira yang masih berjalan sambil menundukkan kepalanya pun terkejut saat dahinya membentur dada bidang seseorang. Jazira pun segera mendongakkan kepalanya dan terkejut menatap Albirru.
Albirru masih menatap dalam netra Jazira. Sedangkan Jazira yang ditatap oleh Albirru pun dengan segera mengalihkan pandangannya menuju kesembarang arah.
"Ayolah kak Zi. Kita sarapan bersama. Ada Kak Albi, Mbok Sum, dan Jingga. Bukan begitu Kak Bi?" Bujuk Jingga yang hanya diangguki oleh Albirru dengan terpaksa.
Jazira menatap takut-takut kepada suaminya yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Albirru. Lengan kekarnya memeluk pinggang ramping milik Jazira sambil berjalan mendekati meja makan.
Jingga yang melihat hal tersebut pun hanya tersenyum lucu sambil menatap Mbok Sum.
Jazira berjalan dengan kaku karena tangan Albirru yang masih melilit pinggangnya. Setelah mereka berdua duduk bersebelahan, Jingga dan Mbok Sum pun ikut duduk dihadapan Albirru dan Jazira.
Albirru melepaskan lengannya dari Jazira dan membalikkan piring keramik berwarna putih yang ada didepannya. Semua orang pun ikut membalikkan piring mereka dan disambut dengan cepat oleh Jingga yang audah mengambil nasi.
Dilanjutkan dengan Mbok Sum lalu Jazira. Saat Jazira hendak menuangkan nasi ke piringnya, ucapan Jingga menghentikannya.
"Kak Zizi, mengapa kau tak mengambilkan nasi untuk Kak Albi terlebih dahulu?" Tanya Jingga polos sambil memasukkan suwiran ayam kecap kedalam mulut kecilnya. Jazira pun menghentikan kegiatannya lalu menatap Albirru yang sedang menatapnya.
"Em, bukankah kau kekasihnya? Kau bisa membantunya untuk menyiapkannya. Aku rasa, aku tak pantas melakukannya." Jawab Jazira yang langsung disambut tawa Mbok Sum dan Jingga.
"Kau bilang aku kekasih Kak Albi? Ternyata kau salah paham!" Ucap Jingga disela tertawanya.
Iyi Gecerler! All❤
__ADS_1
Maafkan Kayenna jika banyak typo ya. InsyaAllah besok pagi direvisi lagi. Terimakasih