
Jazira terkejut ketika dirinya mendengar ******* panas yang berasal dari kamar sang suami. Seketika sesak di dadanya, seolah ada suatu bahan yang menimpa dadanya. Nafasnya pun seolah tercekat oleh sebuah tali yang tak nampak wujudnya.
Setetes bulir bening tiba menghujani pipi putihnya. Jazira melipat bibirnya kedalam ketika merasakan nyeri yang menyerang dadanya ketika telinganya menangkap suara yang pernah hadir menyapa telinganya tepat di malam ketika dirinya kehilangan mahkotanya.
Jazira segera menggelengkan kepalanya sembari memejamkan matanya dengan air mata yang terus menetes ketika mendengar sang suami yang selalu menyebut nama Larina dalam desahannya.
Tak ingin berlama-lama dan menyiksa dirinya, Jazira pun segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil apa yang seharusnya dia ambil. Jazira membuka pintu kamarnya dengan sedikit kasar sehingga menimbulkan sedikit suara yang terdengar diseluruh ruangan karena pintunya menghantam tembok yang ada di kamar milik Jazira.
Jazira bergerak dengan cepat sembari menghapus air mata yang masih keluar membasahi pipinya. Setelah membuka laci yang berada di lemarinya, lalu segera mengambil pasport miliknya.
Setelah membuka laci di lemarinya, tatapan Jazira tertuju kepada sebuah buku nikah yang terdapat selembar foto mungil pernikahannya yang berukuran polaroid. Tangan yang sedikit basah dengan keringat dingin itu mengambil pasport yang tertumpuk oleh buku nikah berwarna hijau miliknya.
Netra indah milik Jazira kembali meneteskan air matanya saat melihat foto cantik dirinya yang berada disamping foto milik sang suami. Namun dengan tatapan bencinya, wanita tersebut menghapus air matanya dengan kasar lalu segera berjalan keluar dari kamarnya.
Sejenak, Jazira menatap kamar yang ditempatinya hampir selama 2 minggu itu lalu menghela nafasnya dengan kasar. Setelahnya, wanita tersebut pun menutup pintunya dengan sedikit kasar lalu segera berjalan turun ke bawah.
Tatapan mata Jazira tertuju pada lantai yang ada di rumah milik suaminya. Bahkan ketika dirinya hampir tiba di depan pintu kamar milik Albirru, Jazira mengepalkan tangan kirinya dengan erat sembari melipat bibirnya ke dalam. Dirinya bersikap seolah-olah dirinya adalah tuna rungu yang tengah melewati kamar menjijikan itu.
__ADS_1
Hingga langkahnya terhenti karena tangan kirinya dicekal oleh seseorang. Nafas Jazira tercekat saat netranya menangkap kepalan tangan besar dengan cincin emas di jari manis milik sang empu tangan.
Tak ada percakapan diantara kedua insan yang tengah berdiri itu. Hingga ketika Jazira yang berusaha untuk melepaskan cekalan tangan sang suami, ucapan dari sang suami membuat Jazira terkejut.
"Maafin gue, Ra! Gue benar-benar kelepasan tadi. Gue marah karena lo nggak terima permintaan maaf gue dan karena lo nggak kasih kesempatan kedua buat gue. Dan untuk masalah lo dan Marcel, gue minta maaf karena perkataan gue. Maafin gue ya, Ra? Kita mulai semua dari awal, dan gue janji akan terima lo apa adanya," ujar Albirru yang membuat senyum miring terbit di bibir Jazira.
"Gue bener-bener nyesel, Ra. Jangan tinggalin gue dengan masalah sebesar ini sendiri," imbuh Albirru yang lagi-lagi tak dihiraukan oleh Jazira. Tangan kanan Jazira yang memegang pasport serta buku nikah dan foto pernikahan mereka pun mulai mencengkeram erat barang-barang yang ada di genggamannya.
"Sayang! Come on," teriak Larina dari salam kamar yang membuat Jazira terkekeh perlahan. Gadis itu membalikkan badannya menghadap sang suami yang tengah bertelanjang dada, dengan beberapa kiss mark si dada bidang milik Albirru.
Albirru mengikuti apa yang tengah sang istri lihat dari tubuhnya. Setelahnya, Albirru pun kembali menatap Jazira yang salah satu alisnya terangkat sebelah. Jazira sedikit bersedih membayangkan apa yang lelaki di hadapannya ini serta wanita yang tengah mengaku sedang hamil itu saat berada di dalam kamar.
"Kenapa wanita menjijikkan ini masih ada disini, sih?! Usir, sayang! Mual aku bawaannya," ujar Larina seolah-olah dirinya adalah istri Albirru dan dialah wanita yang berkuasa di rumah Albirru. Jazira masih sabar ketika Larina mencoba mengusirnya melalui sang suami.
"Kenapa kau sangat lama, sayang?" ujar Larina manja sambil bergelayut manja di lengan kekar milik Albirru yang tak terlapisi kain. Dengan beraninya, Larina sedikit menjinjitkan kakinya lalu mencium bibir sensual milik Albirru di hadapan Jazira.
Jazira sama sekali tak mengeluarkan reaksi apapun itu. Dia hanya menatap keduanya dengan tatapan tak peduli. Hingga keluarlah decakan menyebalkan yang berasal dari mulut Jazira ketika Albirru membalas ciuman dari Larina.
__ADS_1
"Sungguh pertunjukan yang sangat menjijikan," ujar Jazira sambil melipat kedua tangannya di depan dada yang membuat Albirru segera menyudahi ciuman keduanya. Larina yang merasa terganggu pun menatap Jazira dengan penuh emosi.
"Kenapa?! Lo marah karena suami lo lebih milih gue dan anak dia?! Pantes juga sih Mas Birru lebih milih gue, soalnya gue lebih baik daripada lo yang ternyata nggak lebih dari wanita murahan yang ngasih tubuhnya secara cuma-cuma ke kakak tirinya!" ujar Larina dengan marahnya sambil mencoba untuk menggapai leher milik Jazira.
Jazira yang sedikit terkejut dengan perbuatan bar-bar dari Larina pun mendorong tubuh Larina dengan keras. Tidak salah bukan, apa yang Jazira lakukan? Dia mencoba menyelamatkan dirinya dari wanita gila itu.
"Maira!" bentak Albirru sambil berjongkok di samping tubuh Larina. Dengan sigap Albirru pun meneliti tubuh milik wanita yang mengaku tengah mengandung anaknya itu. Sedangkan Jazira yang benar-benar terkejut dengan bentakan Albirru pun seketika diam mematung.
"Kau membentakku? Bahkan belum aku menjawab permintaanmu, kau kembali mengulangi kesalahanmu? Kenapa kau memintaku untuk bertahan jika sifatmu masih sama dan bahkan lebih parah? Kau benar-benar lelaki paling menjijikkan yang pernah aku temui selama hidupku," tanya Jazira tanpa mengedipkan matanya.
"Lo dorong Larina, Ra! Dia sedang mengandung anakku! Apakah seorang ayah akan membiarkan calon anaknya dalan bahaya? Tidak bukan?!" bentak Albirru sambil mendongakkan kepalanya dengan tatapan tajamnya yang membuat Jazira menggelengkan kepalanya.
"Ayah? Bahkan kini setelah kau melakukan hubungan intim kini kau telah berubah pikiran? Kini kau telah mengakui bahwa anak yang ada di kandungan Larina adalah anakmu? Wah, permainan yang bagus Tuan Albirru." Jazira tersenyum mengejek sambil menatap keduanya.
"MAIRA!" bentak Albirru lagi yang tak menghentikan senyuman Jazira yang semakin aneh. Wanita cantik itu meledakkan tawa jahatnya sambil menatap dua orang yang mendongak menatapnya itu.
"Aku menyesal karena pernah jatuh hati kepada lelaki sebrengs*k dirimu! Ku harap kau tak akan menyesal ketika bibitmu tumbuh di rahim wanita yang telah kau sia-siakan ini!" ujar Jazira dengan nada marahnya lalu berjalan cepat meninggalkan Albirru yang diam mematung mendengar penuturan Jazira.
__ADS_1
...• Jangan Lupa Bersyukur •...