ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 123 - SEASON 2


__ADS_3

Sementara Jazira yang tengah berjalan untuk kembali ke ruang rawat inapnya bertemu dengan adik iparnya. Wanita itu menerima bantuan dari adik sang suami itu. Keduanya berjalan mendekati lift dan segera masuk ke dalam setelah pintu liftnya terbuka. Jingga menekan tombol sesuai lantai tempat ruang rawat inap milik Jazira berada.


"Kak Zizi dari mana? Kenapa jalan sendiri?" Jingga yang khawatir dengan kondisi sang kakak pun hanya bisa mengelus punggung kecil milik sang kakak. Tak ada jawaban dari Jazira, bahkan hanya sekedar deheman saja tak Jingga dapatkan.


Memang sejak kematian Arasa, Jazira menjadi lebih banyak berdiam diri dan menutup dirinya. Hendak memaksa sang kakak untuk berbicara pun Jingga tak bisa melakukannya. Gadis itu hanya bisa menatap wajah sayu nan sembab milik sang kakak yang kini tengah menatap kosong pada lantai lift.


"Kakak mau pulang kapan? Tidak mungkin bukan jika Kak Zizi ingin menginap di sini terlalu lama?" tanya Jingga dengan nada ragunya sembari menuntun sang kakak untuk keluar dari lift.


Jazira yang mendengar pertanyaan dari Jingga pun sontak menghentikan langkah kakinya. Wanita yang berjalan tanpa alas kaki itu menatap lantai rumah sakit dengan air mata yang sudah mengumpul di pelupuk matanya.


Jazira kembali meneteskan air matanya tatkala dirinya mengingat bahwa dirinya sudah berada cukup lama di rumah sakit tersebut. Di rumah sakit itulah dirinya kembali mendengar pernyataan cinta dari sang suami, dan di rumah sakit itu juga dirinya kehilangan bayinya.


"Apakah kita tidak bisa di sini saja, Ngga? Arasa tiada di sini. Dia meninggal karena kakak. Andai asi kakak keluar dengan cepat, mungkin saja Arasa masih hidup sampai sekarang. Dia pasti akan menangis saat dia haus, nantinya." Jazira menolehkan kepalanya menuju sang adik ipar dengan tatapan kosong dan lengkap dengan air matanya yang telah turun.


"Jangan seperti ini, Kak. Kakak harus sembuh, kakak harus mencoba mengikhlaskan Arasa. Supaya Arasa tenang di sana, Kak. Jingga sedih lihat Kak Zizi nggak sembuh-sembuh." Jingga menghapus air mata yang terjatuh tepat di pipi sebelah kirinya dengan cepat.

__ADS_1


Sementara Jazira yang kembali teringat bahwa sang putri telah tiada pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebegitu beratnya bagi Jazira untuk melupakan momen paling buruk dalam hidupnya, setelah kehilangan semua anggota keluarganya.


"Apakah kakak seorang pembunuh, Ngga? Apakah Arasa meninggal karena kakak?" tanya Jazira mencoba memastikan bahwa dirinya bukanlah orang yang membunuh sang anak.


Jingga yang mendengar pertanyaan dari sang kakak pun langsung mendekap erat Jazira. Gadis itu menangis tersedu sembari memeluk Jazira dengan sangat erat. Jangan lupakan air matanya yang masih membasahi pipi mulus milik Jingga.


"Kakak harus sembuh. Jingga rindu kakak yang dulu," Tangis pilu Jingga menjalar dan merambat ke koridor yang masih sepi itu.


Sementara Jazira yang merasa bahwa dirinya baik-baik saja pun hanya bisa menjawab permintaan sang adik dengan gelengan kepalanya. Dia benar-benar tak merasa bahwa kini dia sakit. Yang Jazira inginkan hanyalah bertemu dengan sang anak.


"Aku tidak gila! Aku akan pulang, dan buktikan pada Arasa bahwa mamanya tidaklah gila. Baiklah, ayo kita pulang." Dengan air mata yang masih mengumpul di di kedua ujung matanya, Jazira menarik lengan milik Jingga dan juga tiang infusnya.


Wanita itu berjalan dengan tergesa menuju ruang rawat inapnya. Entah mengapa, setelah hampir 1 tahun bersama sang kakak, baru kali ini Jingga merasa takut dengan perubahan sang kakak. Entah mengapa, Jazira nampak seperti wanita yang terkena gangguan jiwa setelah kematian anaknya.


"Berhenti, Kak. Kak Zizi tidak boleh seperti ini," ujar Jingga dengan tangis yang semakin menjadi saat Jazira terlihat tengah tertawa lebar, sembari berjalan mendekati brankar bayi yang ada di sebelah brankar utama miliknya.

__ADS_1


"Kau lihat Arasa, Ngga? Dia putriku, dia sangat cantik seperti ku bukan? Dia cantik bukan?!" teriak Jazira dengan air mata yang semakin deras mengucur. Jingga yang melihat sang kakak melepas selang infusnya dengan paksa pun, menutup mulutnya dengan keterkejutan yang luar biasa.


"Stop, Kak Zi! Ini bukan Kak Zizi!" ujar Jingga dengan histeris saat kakak iparnya itu menggendong guling kecil yang ada di brankar bayi itu, layaknya tengah menggendong tubuh mungil almarhum Arasa.


Jazira sama sekali tak mendengarkan ucapan dari Jingga. Wanita itu mengajak berbicara guling yang menurut Jazira sangatlah mirip dengan putrinya yang telah tiada. Jazira juga mengatakan perkataan yang dia dengar saat berada di roof top, semalam.


Jingga yang memang sudah ketakutan dan takut jika akan terjadi sesuatu dengan sang kakak pun berjalan dengan tergesa ke luar ruangan. Gadis itu menangis hingga dirinya melihat tubuh kekar sang kakak, yang baru saja keluar dari lift.


"Kak Albi! I ... itu, Kak Zizi!" Dengan nada yang penuh ketakutan itu, Jingga berlari dengan tangan yang seolah hendak menggapai lengan kekar milik kakaknya.


Albirru yang melihat kondisi sang adik yang terlihat sangat ketakutan pun langsung menahan tubuh milik Jingga yang kini bergetar dengan hebat. Pikiran dari laki-laki itu langsung tertuju pada Jazira yang entah berada di mana sekarang ini.


"Di mana kakak mu? Kenapa kau meninggalkan dia sendiri?" tanya Albirru sembari menatap sepanjang koridor yang sepi. Laki-laki itu menatap penuh kebingungan kepada sang adik yang terlihat benar-benar kalut.


"Kak Zizi semakin parah, Kak." Tanpa membuang banyak waktu, Albirru segera melangkahkan kaki lebarnya menuju ruang rawat milik sang istri, setelah mendengar penuturan dari Jingga.

__ADS_1


Betapa terkejutnya Albirru ketika melihat kondisi Jazira yang dapat digolongkan sedikit tidak wajar. Laki-laki yang jantungnya kini berdegub dua kali lebih cepat itu langsung menghampiri sang istri lalu segera menghempaskan guling yang ada di dekapan Jazira.


__ADS_2