ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 69


__ADS_3

Keesokan harinya, Jazira yang baru saja terbangun pun segera berusaha untuk duduk. Namun karena kandungannya branta pesisir akan kesulitan untuk bangun dari tidurnya. Hingga terdengar suara pintu kamarnya terbuka yang membuat Jazira menolehkan kepalanya.


Senyum manis Jingga terpatri di wajah cantiknya, yang membuat Jazira tersenyum lega. Adiknya itu sangat hafal kapan dia bangun dan dia membutuhkan bantuan. Jingga tahu kapan dirinya terbangun dan akan langsung mendatangi kamarnya.


"Terlambat lima menit dari waktu bangun biasanya," ucap Jingga sembari menurunkan kakinya kakaknya secara perlahan, yang membuat Jazira terkekeh pelan.


"Efek kecapekan mungkin, Ngga." Jazira memberi alasannya dengan nada yang tertahan yang membuat Jingga menggelengkan kepalanya.


"Beberapa menit yang lalu Jingga juga udah kesini, tapi tadi Kak Zizi belum bangun. Ya udah Jingga tinggal keluar dulu buat bangun Kak Marcel," ujar Jingga yang memuat Jazira menganggukan kepalanya.


"Gimana keadaan Kak Marcel? Udah mendingan atau malah makin parah?" tanya Jazira sembari menerima uluran tangan dari Jingga untuk bangun dari duduknya.


"Panasnya semakin tinggi. Mungkin habis ini juga mau panggil dokter," jawab Jingga lalu menuntun sang kakak menuju ke kamar mandi.


"Kak Zizi mandi dulu, nanti kalau udah panggil Jingga. Jingga bakal siapin pakaian sama perlengkapannya. Jangan jalan sendiri!" ucap Jingga memperingatkan kepada sang kakak yang hanya membuat Jazira menganggukkan kepalanya.


"Iya, makasih banyak sayangnya Kak Zizi," ucap Jazira berterima kasih pada Jingga lalu segera menutup pintu kamar mandi setelah Jingga menganggukkan kepalanya.


Setelah dirinya ada di dalam kamar mandi, Jazira pun berjalan mendekati sebuah cermin besar dan membuka sedikit bagian piyamanya. Dia mengelus perlahan perutnya yang membesar karena sang buah hati lalu tersenyum perlahan.


"Kau senang telah kau tahu jika kau akan bertemu dengan Papa mu, hmm? Tapi Mama minta maaf karena mungkin tak akan kembali pada Papamu. Kita harus kuat ya, Nak," ucap Jazira sebelum dia mulai mandi.

__ADS_1


Benar saja setelah dia selesai mandi Jazira pun memanggil sang adik, yang membuat Jingga langsung berjalan cepat mendekati pintu kamar mandi dengan pakaian ganti milik Jazira.


Setelah memberikannya, Jingga pun keluar dari kamar milik Jazira dan berniat untuk memanggil dokter pribadi di rumah Marcel seperti yang diperintahkan oleh Marcel.


Smentara Jazira, dia tengah memakai pakaian formal yang Jingga pilihkan. Dia benar-benarq sangat bersyukur memiliki adik sebaik Jingga. Jingga tahu apa yang dirinya butuhkan dan juga apa yang baik untuk dirinya.


Setelah semuanya selesai, Jazira pun segera keluar dari kamar mandi dengan berhati-hati. Entahlah dirinya merasa bagian bawah perutnya terasa sedikit kram pagi ini.


Jazirq memegangi bagian bawah perutnya sembari melipat bibirnya ke dalam. Entahlah mengapa kali ini bayi kecilnya tersebut sedikit rewel. Apakah mungkin karena dia akan bertemu dengan papanya? Pikir Jazira dalam benaknya.


"Kamu kenapa sayang? Jangan buat mama repot ya, Mama ada rapat penting hari ini. Supaya perusahaan kita lebih maju. Mama ingin menjamin masa depanmu kelak," ujar Jazira kepada bayi kecilnya yang masih di dalam perut sembari memberikan elusan lembut di sana.


Sejujurnya Jazira sedikit khawatir ketika perutnya terasa kram dan dirinya harus pergi untuk ke perusahaan milik suaminya Tetapi karena memang dirinya merupakan tipe atasan yang tak ingin menyerahkan pekerjaan penting kepada bawahannya pun mau tak mau harus berangkat ke perusahaan milik Albirru.


Jazira pun segera keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati meja makan yang sudah terdapat Veno serta Jingga yang lebih dulu berada di sana.


"Ini tas Kak Zizi sekaligus sama proposal yang akan Kak Zizi bawa. Jingga yakin, Kak Zizi bisa lakuin yang terbaik," ucap Jingga sembari menyerahkan sebuah tas berwarna hitam beserta contoh proposal yang terbungkus oleh map berwarna hitam.


Jazira pun menganggukkan kepalanya dan duduk di hadapan Veno. Laki-laki tersebut menghadap Jazira lalu mengatakan bahwa dirinya tidak bisa ikut bersama Jazira ke kantor Albirru, karena dirinya juga sedang ada rapat.


Jazira pun lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya lalu segera memakan sarapanya untuk bergegas ke perusahaan milik suaminya. Dirinya tak ingin terlambat dalam kesempatan besar ini yang akan membuat perusahaannya semakin maju.

__ADS_1


Padahal dalam hatinya, Jazira tengah menahan rasa sakit yang menyerang bagian bawah perutnya. Ini bukan kali pertamanya, tapi hal ini akan terjadi ketika dirinya kelelahan atau merasa gugup.


"Kak Zizi berangkat dulu ya, Ngga. Semoga Kak Marcel cepat sembuh dan Kakak mu jadi untuk menanam saham di perusahaan kita," ucap Jazira sambil berdiri dan mengelus puncak kepala milik Jingga. Jingga pun hanya menganggukkan kepalanya dan menatap kepergian sang kakak menuju pintu keluar.


Jazira pun segera berjalan menuju garasi yang ada di rumah Marcel lalu mengeluarkan mobilnya. Jazira benar-benar tak menggunakan jasa sopir atau apapun itu. Entahlah mengapa wanita tersebut seketika berubah menjadi sangat mandiri.


Setelah sedikit menjauh di rumah milik Marcel, Jazira menghentikan mobilnya dan meminum obat penguat rahim yang kemarin dokter kandungannya berikan. Berharap agar rasa sakitnya sedikit mereda.


Meskipun waktunya hanya sedikit, tetapi kepentingan sang buah hati menjadi lebih utama untuk dirinya. Dirinya tak ingin terjadi sesuatu hal pada buah hatinya.


Setelah Jazira selesai, dia pun segera menjalankan mobilnya menuju perusahaan milik Albirru yang masih dia ingat letaknya. Meskipun dirinya berada di London beberapa bulan, itu tak membuat dirinya lupa dengan letak perusahaan milik sang suami.


Setelah memakan perjalanan yang cukup lama, akhirnya Jazira tiba di sebuah perusahaan yang yang terlihat semakin maka. Melihat nama sang suami yang terpampang jelas di pamflet besar itu membuat Jazira menghembuskan nafasnya panjang dan menahan rasa gugupnya agar tak berpengaruh kepada kandungannya.


Setelah memantapkan hatinya, Jazira pun keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati lobi perusahaan. Ketika dirinya menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, betapa terkejutnya Jazira karena dirinya terlambat 10 menit.


Keadaan kantor yang mulai sepi karena para pekerja setelah berada di ruangan yang masing-masing pun membuat Jazira semakin ketakutan akan kehilangan kesempatan besar ini.


"Permisi Mbak, ruangan untuk rapat dengan JA Company di bagian mana ya, Mbak?" tanya Jazira dengan nada ramahnya kepada resepsionis yang terkejut melihat kedatangan Jazira.


Resepsionis tersebut sempat gugup, dan dengan segera memberitahukan di mana letak ruang rapatnya. Jazira yang mengerti pun segera berjalan menuju lift dengan sedikit tergesa-gesa.

__ADS_1


Sedangkan Albirru yang telah berada di ruang rapat dengan beberapa relasi bisnisnya yang lain pun menghembuskan nafasnya kasar. Dirinya paling tidak suka jika waktunya terbuang hanya untuk menunggu kliennya yang tidak tepat waktu.


Setelah menunggu beberapa menit kemudian, Albirru pun akhirnya memutuskan untuk memundurkan kursinya dan bersiap untuk berdiri. Namun belum sempat dirinya melangkahkan kakinya pergi, pintu ruangan tersebut terbuka dan menampilkan sosok wanita yang membuat dirinya terkejut bukan main.


__ADS_2