ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 18


__ADS_3

Malam berganti pagi, Jazira yang memang sengaja tak tidur pun segera turun menuju lantai satu. Dia berjalan menuju dapur dan mendapati Mbok Sum yang sedang memasak. Dengan perlahan Jazira pun mendekati Mbok Sum dan memeluknya dari belakang.


"Ya Gusti! Astagfirullah Non, Simbok kaget." Pekik Mbok Sum sambil mengelus tangan Nona barunya. Jazira terkekeh perlahan lalu berpindah kesamping Mbok Sum.


"Kenapa sepi, Mbok? Cuma ada Simbok aja kah dirumah ini? Nggak ada yang bantuin Simbok gitu?" Tanya Jazira sambil memotong wortel yang tadinya sedang dipotong oleh Mbok Sum.


"Nggak ada Non. Simbok cuma berdua sama Den Albirru, paling-paling Johan yang mampir atau tidur disini sesekali." Terang Mbok Sum yang membuat Jazira sedikit terkejut. Bukankah kebanyakan orang kaya akan memiliki banyak pelayan dan yang lain-lain?


Akhirnya mereka berdua pun memasak bersama sambil sesekali bercanda lalu tertawa. Setelah beberapa saat, mereka berdua telah menyelesaikan acara masak mereka. Tepat saat Jazira meletakkan nasi yang baru saja dia angkat, Albirru keluar dari kamarnya.


Entahlah, dia merasa bahwa ada yang berbeda dengan suaminya tersebut. Tatapan datar dan dingin yang Albirru layangkan kepada Jazira membuat gadis tersebut menundukkan kepalanya.


Ini bukan Albirru yang semalam, kali ini Albirru berubah banyak.


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Albirru duduk dihadapan Jazira dan langsung membalikkan piring keramik yang berada didepannya. Jazira yang bingung hendak melakukan apa pun menatap Mbok Sum yang juga sedang menatapnya.


"Nona mau makan sekalian? Biar Simbok yang siapkan." Ucap Mbok Sum hendak menyentuh piring dihadapan Jazira. Namun belum sempat tangannya sampai, tangan Albirru terangkat.


"Tunggu saya selesai makan, Mbok. Saya tidak ingin diganggu ketika sedang makan." Ucap Albirru datar sambil meneruskan sarapannya. Hati Jazira sedikit berdenyut mendengar perkataan dari Albirru, yang kini telah sah menjadi suaminya. Lebih tepatnya Suami sementaranya selama 10 bulan kedepan.


Bahkan hanya untuk sekedar makan bersama pun tak boleh? Benar-benar gila lelaki yang ada dihadapan Jazira ini.


Seketika tangan Mbok Sum pun mundur dengan teratur. Matanya menatap Jazira yang masih diam mematung. Dada Jazira sudah kembang kempis. Tak ingin kembali kecewa, Jazira pun berjalan menjauhi meja makan dan hendak naik menuju kamarnya.


Namun belum tiga anak tangga dia pijak, suara manja seorang wanita mengganggu pendengarannya.

__ADS_1


"Selamat pagi, sayang! Ah kenapa kau semakin tampan setelah menikah!" Ucap seorang wanita yang langsung duduk dipangkuan Albirru.


Sontak, Jazira membalikkan badannya hingga melihat perbuatan wanita yang berada di pangkuan sang suami. Betapa terkejutnya Jazira karena melihat Larina yang mencium rakus bibir milik sang suami tanpa malu dihadapannya dan Mbok Sum.


Nafasnya tercekat didada melihat hal tersebut. Tapi dia tak ingin terlihat lemah atau bahkan cemburu dihadapan Albirru. Jazira menatap keduanya dengan tatapan datar. Sejenak, tatapannya dengan sang suami bertemu. Namun dengan cepat, Jazira mengalihkan pandangannya.


Entah dia sadar atau tidak, Jazira kembali melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya seolah-olah dia tak melihat adegan tadi. Meninggalkan Albirru yang kini tengah merasa heran dengan sikap istri kecilnya itu. Apakah mungkin, Jazira cemburu?


Mereka yang berada di lantai dasar terperanjat kaget, saat mendengar suara pintu yang terbanting dengan keras dari lantai atas. Bahkan Albirru sampai merasa terkejut atas tindakan istrinya. Lebih tepatnya, istri kontraknya.


Jazira meluruhkan tubuhnya tepat saat pintu tersebut tertutup. Gadis itu merasakan sangat sesak, seolah dadanya terhimpit oleh beban yang begitu berat. Tangan mungil itu meremas kuat dadanya dengan air mata yang mulai meluruh.


Jazira tak bisa lagi menahan tangisannya. Sekuat tenaga, Jazira menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan yang akan keluar dari bibirnya. Suara tangisan, kini mulai terdengar memenuhi setiap penjuru kamar tersebut.


"Baru semalam kau meminta agar aku bertahan padamu, tapi apa? Sekarang kau bertingkah seolah-olah aku bukan siapa-siapamu. Apakah sesakit ini melihat suami bermesraan dengan wanita lain? Hiks..." Lirih Jazira sambil memukul dadanya perlahan.


"Kenapa kau menangis, Zi? Apakah kau akan kalah sebelum berperang? Biarkan saja! Berlakulah bahwa seolah-olah kau bukan siapa-siapanya. Bukankah dia yang mengatakan bahwa kau tak boleh mengurus keperluan pribadinya? Baiklah kita buat Jazira yang baru!" Ujarnya pada dirinya sendiri lalu berdiri dari duduknya.


Dia berjalan untuk mengganti pakaiannya dan mengambil tas selempangnya. Tak lupa Jazira sedikit memoleskan make up di wajahnya dan bersiap untuk keluar dari kamar.


Gadis itu memejamkan matanya sejenak, mencoba untuk menguatkan mentalnya saat bertemu dengan pria itu. Perlahan namun pasti, Jazira membuka gagang pintu dan keluar dari kamarnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Albirru yang tengah memangku kekasihnya pun, menoleh ke arah tangga di mana Jazira berjalan dengan wajah yang sangat dingin. Wajah wanita itu terlihat sangat datar, dengan tatapan yang sama sekali tak menatap Albirru.


Jazira terus berjalan melewati tempat duduk Albirru dan Larina. Gadis itu sama sekali tak menghiraukan tatapan tajam dari suami kontraknya itu. Jazira melangkah menuju Mbok Sum yang berada di meja makan, tak jauh dari posisi Albirru.

__ADS_1


"Mbok, Zizi pergi keluar sebentar ya? Mbok Sum mau titip apa sama Zizi?" Tanya Zizi sambil menatap lembut kepada wanita tua yang ada dihadapannya.


"Non Maira mau kemana? Ini masih pagi loh, Non." Ujar Mbok Sum sambil memegang tangan Jazira. Jazira pun hanya tersenyum dan mengelus lengan milik lansia yang sudah dia anggap sebagai ibunya.


"Zizi mau beli makanan di komplek depan. Mbok Sum mau Zizi beliin apa?" Tanya Jazira lagi sambil menatap Albirru melalui ekor matanya. Albirru yang sedari tadi memangku mesra Larina pun mulai mengeratkan rahangnya.


"Simbok nggak mau pesen apa-apa. Non Maira pulang dengan selamat, Mbok Sum udah seneng." Tolak Mbok Sum terhadap penawaran Jazira.


"Yaudah, Zizi berangkat dulu ya Mbok? Kalau Simbok mau makan dulu juga nggak apa-apa. Intinya jangan bareng sama si onoh. Mau tunggu Zizi juga boleh Mbok. Nanti Zizi akan cepet-cepet belinya." Ujar Jazira sambil mencium punggung tangan milik Mbok Sum.


Sontak tubuh Mbok Sum pun menegang dan menatap kepergian Jazira dengan tatapan sayang. Baru sekarang majikannya dengan rendah hati mau mencium tangannya.


"JAZIRA ALTAMAIRA! Mau kemana kau? Apakah kau lupa bahwa kau sudah punya suami?!" Bentak Albirru sambil berjalan mendekati Jazira setelah mendudukkan Larina di bekas bangku nya.


Jazira pun menghentikan langkahnya dan memejamkan matanya serta menghirup nafas dalam-dalam. Seketika perasaan sesak yang tadi menjalari dadanya kembali hadir. Dengan kasar Albirru pun membalikkan tubuh Jazira sehingga menatapnya.


"Jawab pertanyaanku!" Tekan Albirru tepat ditelinga Jazira. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap sang suami.


"Apakah kau lupa? Kau sendiri yang membuat surat kontrak itu. Disana tertulis jelas bahwa kita tak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing bukan? Tanpa perlu ku jabarkan lagi, kau pasti sudah tahu bukan?" Jawab Jazira sambil memberanikan diri menatap netra Jazira.


"Tapi ini dikuar konteks, Ra. Aku nggak suka kamu seperti ini." Lirih Albirru yang membuat Jazira mengernyitkan dahinya bingung. Disaat itu pula, Larina berjalan mendekati Albirru yang sedang menundukkan kepalanya menatap Jazira.


"Kenapa kau marah padaku, suamiku? Aku tidak akan meninggalkanmu." Desis Jazira sambil membelai lembut pipi suaminya.


Alhamdulillah bisa up. Eh kakak kakak semua ada yang mau Kayenna double up atau bahkan tripple up nggak? Kalau ada comment dibawah ya🤗

__ADS_1


__ADS_2