
"Tentu saja, saya pasti akan berkerja secara profesional. Senang bisa bekerja sama denganmu, Tuan Albirru." ucap Jazira lalu segera menarik tangannya dari genggaman Albirru.
Namun karena Albirru menggenggam erat tangan miliknya, membuat Jazira yang hendak berbalik menjadi kembali menghadap ke Albirru.
"Kau ingat perkataanku? Aku tak akan membiarkanmu lepas dariku." Albirru berbicara sedikit berbisik yang membuat Jazira segera melepaskan tangannya dari cekalan Albirru dengan tatapan tajamnya.
"Jangan pernah berharap hal itu akan terjadi! Kau lupa siapa aku sekarang!" bisik Jazira dengan tegas yang membuat Albirru menatap Jazira yang tengah kembali ke kursinya untuk membereskan beberapa barang-barangnya.
Setelah mengemasi semua barang-barangnya dengan rapi, Jazira yang melihat beberapa pekerja lain keluar dari ruang rapat tersebut bahkan Paman Johan pun, keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Albirru yang masih berdiri menatapnya dengan tatapan tajam.
Jazira melewati Albirru begitu saja dengan tangan kiri yang menyangga perut bagian bawah nya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena Albirru yang mencekal lengannya.
"Aku akan menerima semua keputusan yang kau pilih. Tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk mengantarmu sampai bawah. Aku tak ingin sesuatu terjadi padamu dan bayi itu," ucap Albirru yang membuat senyum sinis Jazira keluar.
Wanita itu menolehkan kepalanya ke samping dan menatap risih pada laki-laki yang tengah mencekal lengannya.
"Kau tak perlu repot-repot melakukan hal itu. Aku bisa menjaga bayiku sendiri. Terima kasih untuk tawarannya, Tuan Albirru!" ucap Jazira dengan tegas lalu segera menghempaskan tangan Albirru dengan kasar dan berjalan keluar dari ruangan rapat tersebut. Jazira mengelus perlahan perut besarnya dengan perasaan yang bercampur aduk.
Wanita tersebut teringat kembali oleh perkataan atau Albirru yang mengatakan dirinya hanya sebuah sampah. Hal itulah yang membuat Jazira semakin memacu semangat nya agar dia menjadi orang yang lebih sukses lagi.
Saat Albirru hendak mengejar Jazira, sebuah telepon membuat dirinya tak dapat mengejar sang istri. Hal itulah yang membuat Albirru sedikit kesal lalu mengangkat teleponnya, sembari melihat Jazira yang tengah berjalan pergi meninggalkannya.
Entah mengapa, Jazira memang sedikit merasa kurang enak perasaannya. Dirinya merasa akan ada sesuatu yang menimpa dirinya. Perasaan itulah yang kini tengah menggerayangi pikiran Jazira. Namun dirinya akan terus berpositif thinking, bahwa apapun yang akan terjadi pada dirinya pasti sudah menjadi jalannya.
__ADS_1
Benar saja saat dirinya tengah berdiri menunggu di depan pintu lift, akhirnya lift yang dia tunggu pun terbuka. Saat dirinya hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift tersebut, seketika Jazira mengurungkan niatnya karena melihat tatapan tajam dari Larina yang telah berdiri di dalam lift.
Jazira yang melihat hal tersebut pun hendak mengembalikan langkahnya karena tak ingin menemui wanita licik itu. Namun betapa kurang beruntungnya Jazira karena dengan cepat pula Larina menarik tangannya dengan kasar dan segera membawanya masuk ke dalam lift.
Jazira pun berusaha memberontak agar dirinya bisa keluar dari lift tersebut, tetapi Larina tak selemah apa yang Jazira kira.
"Kubilang lepaskan aku, dasar jal*ng kurang ajar!" bentak Jazira dengan mata yang merah, yang membuat Larina sedikit terkejut dengan perubahan Jazira. Namun tekad Larina untuk menghancurkan hidup Jazira tak luruh begitu saja.
Wanita tersebut menggenggam erat pergelangan tangan Jazira yang membuat Jazira sedikit meringis.
"Kau bisa lari dariku kemarin, tapi sekarang aku tak akan pernah melepaskan mu serta bayi sialan ini!" tegas Larina sembari memutar sedikit lengan Jazira yang membuat Jazira menggigit bibir bagian bawahnya.
Jazira yang mendengar perkataan Larina pun mencoba untuk menekan acak tombol di lift tersebut, berharap agar pintu lift segera terbuka dan dirinya bisa melarikan diri dari wanita gila ini.
"Kumohon jangan pernah sakiti anakku! Kau bisa mengambil Mas Birru dariku atau mengambil statusku sebagai istrinya! Tapi aku mohon jangan pernah sakiti bayi yang tak bersalah ini!" ujar Jazira dengan bentakannya.
Memang pada awalnya Jazirq sedikit panik ketika menghadapi wanita tidak waras seperti Larina ini, tetapi karena dirinya tak ingin ke gegabah Jazira pun bersikap tenang dan menghadapi Larina dengan otak cerdiknya.
Dia tak ingin karena keteledorannya, terjadi sesuatu pada dirinya maupun bayinya. Beberapa saat, akhirnya lift tersebut pun terbuka. Dan yang lebih membuat Jazira terkejut karena Larina membawanya ke bagian paling atas di gedung milik suaminya tersebut.
Dengan kasar Larina menarik tangan Jazira yang membuat ibu hamil tersebut merasa sedikit ketakutan. Entahlah bagaimana jalan pikir Larina. Mengapa dia tega menyakiti seorang ibu hamil, padahal dirinya pun juga tengah mengandung.
Jazira masih mengikuti Larina yang menarik tangannya dengan kasar menuju sebuah pintu besi yang Jazira yakin mungkin saja itu adalah pintu yang menuju ke rooftop. Entah kesurupan setan apa, ibu hamil tersebut dapat membuka pintu itu dengan mudahnya yang membuat Jazira menelan ludahnya dengan susah payah.
__ADS_1
Akhirnya benar, ternyata pintu tersebut langsung menghubungkannya menuju rooftop di perusahaan milik suaminya. Setelah dirinya menginjakkan kaki di rooftop yang langsung menghadap ke langit bebas itu, membuat pakaian serta rambut Jazira berterbangan.
Sedangkan Larina masih terus membawa Jazira menuju pinggir rooftop yang membuat Jazira menghempaskan tangannya dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan, hah?! Apakah kau sudah gila?! Apa salahku, sehingga kau berbuat keji seperti ini padaku!" teriak Jazira karena angin yang berhembus kencang, sehingga suaranya ikut terbawa terbang bersama.
"Kau masih bertanya apa salahmu?! Kau merebut kekasih ku! Kau juga telah membuat kekasih ku tak lagi memperhatikan aku dan anakku! Dia lebih memilih untuk menunggu mu dan bayi kalian!" teriak Larina frustasi dengan air mata yang mulai menetes.
"Aku ingin dia mengakui anakku yang tak bersalah ini! Aku ingin membawanya pergi dari ayahnya yang tak bertanggung jawab!" bentak Larina sembari berjalan cepat mendekati Jazira dan mencekik leher jenjang milik Jazira.
Tubuh Jazira seketika menegang mendengar penuturan dari Larina. Jadi ternyata selama ini benar, bahwa bayi yang Larina kandung bukanlah anak dari suaminya?
"Jadi benar bahwa anak yang tengah kau kandung ini bukan anak dari suamiku? Oh aku sungguh sangat bersyukur. Terima kasih karena kau telah menunjukkan sifat asli dari suami itu. Pergi dan ambil dia karena aku sama sekali tak membutuhkan laki-laki seperti dia!" ujar Jazira yang kembali membuat Larina semakin meradang.
Larina merasa terhina oleh ucapan Jazira karena dari ucapan Jazira tersebut Larina menangkap bahwa dirinya lah yang mendapat sisa dari Jazira.
"Sekarang lepaskan aku! Aku mohon jangan pernah sakiti aku dan anakku! Aku akan segera pergi meninggalkan kalian berdua," mohon Jazira karena Larina semakin memojokkan dirinya hingga ketepi rooftop.
Namun sepertinya pendengaran Larina telah tertutup oleh egonya. Larina sama sekali tak memberi ampun pada Jazira. Dia terus mencekik Jazira sehingga kini Jazira berada di ujung pembatas rooftop tersebut.
Jazira yang hampir terhuyung ke belakang pun mencoba berteriak dan memohon kepada Larina untuk melepaskannya.
"Ku mohon lepaskan aku! Aku masih ingin membesarkan anakku ini," mohon Jazira dengan tangisnya yang masih tak digubris oleh Larina.
__ADS_1
Larina terus mendorong tubuh ke Jazira ke belakang yang semakin membuat tangis Jazira semakin deras. Yang lebih membuat Jazira ketakutan karena dirinya merasakan sesuatu mengalir dari bagian bawah tubuhnya karena bagian perutnya tertarik ke belakang.
"Maira!" teriak seseorang yang langsung berlari kearah mereka berdua.