ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 78


__ADS_3

"Mbok Sum, Zizi pulang dulu ya? Kita bertemu lain kali," ujar Jazira sembari memeluk erat Mbok Sum. Wanita tua itu pun hanya menganggukkan kepalanya sembari mengelus punggung milik Jazira.


"Pulangnya di antar sama Den Albi atau gimana, Non?" tanya Mbok Sum setelah pelukan keduanya terlepas. Jazira pun menolehkan kepalanya kepada Jingga yang tengah menganggukkan kepalanya sembari menghadap dirinya.


"Sudah dijemput sama sopir Kak Marcel, Mbok. Zizi pamit dulu ya, Mbok?" ucap Jazira sembari berjalan keluar dari rumah milik sang suami. Entah mengapa, Albirru merasa bahwa sesuatu akan terjadi pada sang istri dan anaknya.


"Ra, biar Mas yang anter kamu pulang, ya? Mas takut kamu kenapa-napa," ucap Albirru sembari berdiri di hadapan Jazira. Tak ada respon dari Jazira kali ini. Wanita itu hanya mendongakkan kepalanya sembari menatap wajah tampan milik suaminya.


"Kak Zi, Jingga tunggu di mobil ya?" ucap Jingga lalu segera keluar dari rumah sang kakak dan segera masuk ke dalam mobil milik Marcel. Sedangkan Mbok Sum yang melihat hal tersebut pun segera berjalan meninggalkan pasutri itu, dirinya tahu bahwa Jazira membutuhkan ruang.


"Gimana, Ra? Mau kan?" tanya Albirru sembari mengelus puncak kepala milik sang istri. Setelah lama berdiam diri, Jazira pun menggelengkan kepalanya dengan tatapan yang masih sama.


"Udah ada yang jemput, nggak usah buang-buang waktu," jawab Jazira yang membuat Albirru menghembuskan nafasnya panjang. Albirru pun memeluk sang istri erat dengan elusan lembut di punggung milik Jazira.


"Jangan tinggalin Mas ya, Ra? Putri kecil kita butuh kita berdua," ujar Albirru sembari menghirup aroma tubuh sang istri yang tak pernah berubah.


"Dia sama sekali tak membutuhkan papa nya, bahkan dia juga tak membutuhkan mama nya. Karena dia terlalu kuat. Dia malaikat cantik yang tak akan pernah meninggalkan mamanya," ujar Jazira dengan nada datarnya yang membuat Albirru menggelengkan kepalanya.


Albirru pun menekuk kedua lututnya di hadapan sang istri lalu mengelus perut besar milik istrinya.


"Putri cantik Papa, kamu sehat-sehat di dalam ya? Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan mama dan papa. Kamu harus kuat, Nak!" Albirru dapat merasakan tendangan dari dalam sana ketika sang suami mengajak berbicara sang anak.


"Kau ternyata sangat pintar, little girl! Papa sangat bangga padamu," puji Albirru lalu mencium perut milik Jazira yang membuat sang empu menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kabarin Mas kalau ada apa-apa ya, Ra? Kamu masih jadi tanggung jawab Mas sampai kapan pun itu, kau paham?" ucap Albirru sambil berdiri dan kembali berdiri di hadapan sang istri.


Jazira sama sekali tak menjawab, dirinya hanya menganggukkan kepalanya dengan tatapan sayunya. Entah dorongan dari mana, Albirru pun memajukan wajahnya dan mencium seluruh wajah milik Jazira.


Mulai dari kening, kedua mata Jazira, pipi kanan dan kiri, hidung, dagu, dan yang terakhir adalah bibir milik Jazira yang telah menjadi candu untuk dirinya. Keduanya sedikit terkejut dengan cium*n tiba-tiba mereka.


Setelah puas menempelkan bibir keduanya, Albirru pun menarik wajahnya dari Jazira yang membuat Jazira sedikit merasakan sebuah perubahan besar dari dalam dirinya.


"Mas sayang kamu, Ra." Albirru kembali memeluk sang istri yang tengah mengandung buah hatinya itu. Albirru pun cukup terkejut karena kali ini Jazira membalas pelukannya.


Air mata Jazira menetes seiring mengeratnya pelukannya kepada sang suami. Jazira benar-benar merasa akan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Albirru mengelus puncak kepala milik sang istri serta memberikan beberapa kecupan singkat di puncak kepala milik sang istri.


Tak munafik, wanita mana yang yang tak merindukan sang suami yang baru saja bertemu setelah beberapa bulan dalam keadaan mengandung. Terlebih lagi teringat bagaimana perjuangan Jazira untuk mengalahkan ngidamnya yang pasti hanya berputar kepada suara sang suami atau wajah sang suami.


"Kamu jaga diri, Ra. Kita pasti bisa seperti dulu lagi. Mas percaya sama kamu," ucap Albirru yang membangkitkan rasa kepercayaan diri di dalam diri Jazira kembali. Jazira pun menarik tubuhnya dari Albirru dan mendongakkan kepalanya.


"Calon mama nggak boleh nangis, ya? Calon mama yang satu ini adalah mama terbaik yang akan dimiliki oleh putri kita nanti. Benar?" ujar Albirru sambil menghapus air mata milik sang istri dan mencium kedua kelopak mata milik sang istri.


"Maaf," satu kata yang kembali terucap dari Jazira sebelum wanita itu berjalan keluar dari rumah Albirru. Albirru menatap wanita yang tengah mengandung anaknya itu pergi meninggalkan dirinya.


Sedangkan Jingga yang sedari tadi melihat interaksi kedua kakaknya pun sedikit memiliki harapan agar kakak laki-lakinya berubah. Dirinya pun tak ingin jika kedua kakaknya sampai berpisah.


Setelah tiba di depan mobil milik Marcel Jazira pun segera masuk dan duduk di sebelah Jingga. Setelah menghembuskan nafasnya, Jazira pun meminta kepada sang sopir untuk segera membawa Jingga dan dirinya pulang.

__ADS_1


Hanya ada keheningan selama mereka bertiga sedang dalam perjalanan untuk kembali ke rumah Marcel.


Hingga setelah beberapa saat, tiba-tiba sopir yang mengendarai mobil milik Marcel tersebut berulang kali menatap spion tengah maupun samping karena melihat sebuah mobil yang sedari tadi mengikuti mereka.


"Maaf non, tapi apakah benar mobil yang berada di belakang kita itu sedari tadi mengikuti kita?" tanya sang sopir yang membuat Jazira serta Jingga segera menolehkan kepalanya.


"Yang bener pak? Ngga, cepet telepon Kak Marcel!" ujar Jazira sembari menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap apakah mobil tersebut masih mengikuti mereka atau tidak. Jazira pun meminta kepada sang sopir untuk membawa mobilnya sedikit lebih cepat dan jangan melewati jalan yang sepi.


Namun semua terlambat, mobil yang mereka kendarai salah memilih jalur. Mungkin karena sang sopir merasa sedikit panik karena ketika dirinya menaikkan kecepatan mobilnya, mobil itu pun semakin semangat untuk mengejar mobilnya.


Hingga akhirnya Jazira melihat bahwa salah satu penumpang mobil itu membuka kaca pintu mobilnya dan segera menodongkan pistol ke arah mobil mereka.


"Cepat menunduk!" seru Jazira sembari menundukkan kepalanya. Jingga yang masih berusaha untuk menghubungi Veno dan juga Marcel pun ikut menundukkan kepalanya, hingga terdengar suara tembakan yang menghantam kaca mobil bagian belakang milik Marcel.


Dorr!


Sopir yang mengendarai mobil tersebut pun semakin kalut, hingga dirinya semakin menaikkan laju mobilnya yang membuat Jingga serta panik.


Tak lama setelah itu mobil tersebut menyalip mobil milik mereka semua dan berhenti tepat di depannya yang membuat sopir mengerem mendadak mobilnya yang membuat Jazira serta Jingga hampir terbentur kursi penumpang yang ada di depannya.


"Cepat telepon Kak Albi!" teriak Jazira ketika orang yang membawa pistol tadi mengarahkan pistolnya ke sopir Marcel dan kali keduanya tembakan tersebut meluncur menembus kaca mobil milik Marcel yang langsung mengenai sopir itu.


Dengan paniknya, Jingga pun segera mengalihkan panggilan nya dengan cepat dan berhasil menelpon nomor Albirru. Tapi semuanya terlambat, orang-orang tersebut segera memecahkan kaca yang ada di sebelahnya dan berhasil menarik Jingga serta Jazira keluar dari mobilnya dalam keadaan panggilan yang telah terhubung.

__ADS_1


...Jangan pernah menilai suatu cerita tanpa tahu alur selanjutnya, karena tak semua alur selanjutnya akan sama seperti apa yang Mam semua pikirkan. Don't judge my figure, Mam....


__ADS_2