
"Kita mulai semua dari awal ya, Ra? Mas janji akan berubah!" Ucapan yang dikatakan oleh Albirru beberapa hari yang lalu membuat Jazira bimbang.
Sebenarnya wanita itu sudah tak ingin lagi memberi kesempatan pada Albirru. Tapi entah mengapa, hal tersebut tidak sejalan dengan apa yang hatinya inginkan.
Perlakuan yang Albirru berikan padanya juga menambah keraguan Jazira. Pria itu berubah menjadi sangat hangat, dan memperhatikan apa yang dirinya butuhkan.
Seperti saat ini, Albirru yang tahu jika hari ini adalah jadwal kontrol untuk istrinya itu, berjalab masuk ke kamar istrinya. Dia membuka pintunya dengan perlahan, dan melihat Jazira yang masih tertidur.
"Sayang, bangun dulu yuk. Kamu ada jadwal kontrol," bisik Albirru sembari mengusap kepala milik Jazira yang masih memejamkan matanya.
Jazira masih belum merespon panggilan dari suaminya. Tapi tak lama setelahnya, Jazira mulai membuka matanya. Dia menatap Albirru dengan wajahnya yang masih sangat mengantuk.
"Bangun ya, sayang? Mas temenin kamu ke dokter, hari ini." Setelah itu, Albirru membantu istrinya untuk bangun.
Jazira menatap kosong ke ranjang bayi milik anaknya, dan membiarkan Albirru merapikannya rambutnya. Perlahan, Albirru beralih ke depan istrinya dan berjongkok di hadapan Jazira.
__ADS_1
"Selesai kontrol nanti, kita mampir ke rumah Arasa ya? Udah satu minggu kamu belum kesana lagi," ujar Albirru sembari menggenggam kedua tangan istrinya.
Jazira menatap Albirru dengan tatapan datarnya lalu menghembuskan napasnya dengan begitu dalam. "Hari ini jadwal terakhir buat kontrol, 'kan?" tanya Jazira pada suaminya.
Albirru pun sontak menganggukkan kepalanya. Memang, hari ini adalah jadwal terakhir Jazria untuk pergi ke dokter.
"Kamu udah bilang sama aku, 'kan? Setelah aku bener-bener pulih, aku bisa pulang ke rumah?" tanya Jazira dengan hati-hati yang langsung membuat Albirru menggelengkan kepalanya.
"Apa yang mas bilang ke kamu itu, nggak semuanya bisa mas turuti. Ini rumah kamu, Sayang." Albirru duduk di sebelah Jazira dan mengelus pundak kepala milik istrinya.
"Apalagi yang kamu harapkan dari pernikahan ini, mas? Memang sebenarnya sudah benar, kita tidak ada hubungan dan komunikasi lagi. Tapi nyatanya tidak, kau kembali saat Arasa lahir."
Albirru yang mendengar ucapan dari istrinya itu dengan cepat langsung memeluk istrinya. Jazira bertanya padanya, apa yang dia harapkan dari pernikahan kontrak ini?
Semuanya. Albirru berharap agar semuanya kembali baik-baik saja. Dia mencintai istrinya, dan seterusnya akan seperti itu. Lagipula semuanya sudah jelas, yang membuat dirinya dan Jazira berpisah adalah karena sebuah kesalah pahaman.
__ADS_1
"Ra, dengerin mas ya? Mas bener-bener sayang sama kamu. Mas nggak mau lagi kehilangan kamu. Tetep di sini ya, Ra? Suamimu ini berjanji akan berubah. Apapun yang kamu mau, mas akan turuti." Albirru mendekap istrinya semakin erat sembari memantapkan hatinya.
Jazira tak menjawab ucapan suaminya. Dia pun segera bersiap untuk pergi ke dokter. Kali ini dirinya ditemani oleh suaminya, bukan adik iparnya.
****
"Sejauh ini, keadaan Nona Jazira sudah sangat membaik. Bisa dikatakan jika kondisimya sudah pulih. Hanya perlu banyak istirahat saja." Albirru tersenyum tipis sembari menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan dari dokter tersebut.
Pria itu mengelus punggung milik sang istri yang baru saja duduk di sebelahnya. Jika dilihat, memang wajah Jazira banyak berubah sekarang.
Wajahnya yang pucat dengan kaantung mata yang tebal membuat penampilannya sangat berbeda dengan sebelumnya. Helaan napas dari wanita itu membuat Albirru mendekap pinggang istrinya.
"Oh ya, Dok. Untuk waktu yang disarankan, dalam jarak berapa lama, istri saya ini diperbolehkan untuk kembali hamil?"
Pertanyaan yang baru saja Albirru katakan itu, berhasil membuat Jazira terkejut. Hamil lagi?
__ADS_1