ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 22


__ADS_3

Albirru yang baru saja keluar dari kamar pun terkejut karena melihat Jazira yang sedang menatapnya tanpa ekspesi. Jazira hanya tersenyum miring lalu membenarkan sedikit outernya yang mulai tersingkap.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Albirru heran sambil duduk diseberang Jazira. Jazira sama sekali tak menjawab, dia hanya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Apakah aku salah jika ingin mengunjungi suamiku yang sedang bekerja?" Ucap Jazira mengembalikan pertanyaan kepada sang suami.


"Ups, wait. I'am wrong. Suamiku tidak bekerja, melainkan sedang bergumul manja dengan wanita lain. Right?" Koreksi Jazira yang membuat Albirru menatapnya tajam.


Jazira sama sekali tak merasa terintimidasi oleh tatapan Albirru. Mata tajam Jazira menatap kedatangan seorang wanita dengan rambut yang berantakan serta selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


Tanpa malunya wanita tersebut duduk dipangkuan Albirru dan memejamkan matanya disana. Lagi lagi dan lagi Jazira hanya menatapnya sinis sambil terkekeh pelan.


"Apakah kau tak malu? Kau tak dapat melihat bahwa ada istrinya disini?" Desis Jazira yang membuat Larina membuka matanya. Dia menatap tajam Jazira lalu tersenyum tipis.


"Heh apa kau lupa?! Kau hanya istri yang kekasihku bayar. Jangan berbangga diri dengan status sementara mu itu!" Jawab Larina tak suka sambil mengeratkan pelukannya kepada Albirru.


Albirru hanya menyimak perkataan antara kekasihnya dan sang istri. Dia mengeratkan pelukannya kepada Larina sambil mencium pelipis Larina. Sontak Jazira yang melihat hal tersebut pun henya membuang pandangannya kesembarang arah.


"Mau apa kau disini? Cepatlah kembali pulang! Mengganggu saja!" Usir Larina yang membuat Jazira menaikkan sebelah alisnya. Netra Jazira beralih menatap sang suami yang juga sedang menatapnya intens.


"Aku ingin menjemput suamiku untuk pulang bersamaku. Bukankah yang lebih tepat mengucapkan hal tersebut itu aku? Kau hanya kekasihnya, kau tak memiliki hak sedikitpun atas suamiku. Kau mengerti?" Papar Jazira yang membuat Larina sedikit terusik.


"Sudah kujelaskan bukan? Kau hanya istri bay-" Ucapan Larina terpotong oleh Jazira yang yang sudah mengangkat tangan kanannya.


"Stop it! Gue tau kalo Gue hanya istri bayaran. Tanpa Lo jelasin secara panjang lebar, Gue dah tau! Okey, Gue cuma istri kontraknya Tuan Albirru selama 10 bulan! Gue tau itu, tanpa perlu Lo bilang berulang kali. Gue bosen dengernya!" Bentak Jazira yang membuat Albirru mengetahui sisi lain Jazira.

__ADS_1


"Mas, Birru mau pulang kapan? Bareng Zizi atau sama wanita nggak tahu malu ini?" Tanya Jazira dengan nafas yang sedikit tak beraturan. Albirru yang dipanggil namanya oleh Jazira pun semakin menatap intens sang istri.


"Mis Birri mau piling biring aku itiw biring winiti nggik tiu mili ini." Ejek Larina sambil menatap remeh Jazira. Jazira hanya memutar bola matanya jengah lalu berdiri dari duduknya.


"I'm waiting for your answer." Lirih Jazira sambil menatap sang suami yang sedang membenarkan selimut putih yang melilit tubuh Larina. Dengan sengaja Larina mulai menyingkapkan sedikit bagian kakinya sehingga menunjukkan kaki jenjang yang sangat putih itu.


"Kau pulang saja dulu. Aku masih ingin bersama dengan Larina." Ujar Albirru sambil menutupi permukaan kulit milik Larina. Jazira hanya menghela nafasnya perlahan.


"Apakah AC diruangan ini rusak? Mengapa aku merasa gerah." Ucapan Jazira baru saja membuat Larina merasa berbangga diri. Dia mengira bahwa Jazira merasa cemburu karena dirinya berada dipangkuan Albirru.


Dia pun menyeringai lalu memajukan kepalanya hinga mengecup bibir Albirru. Dan yang lebih damn it nya lagi karena Albirru tak menolak perlakuan dari Larina.


Apakah Jazira cemburu? Tentu saja tidak. Dia membuka outernya sehingga menampakkan tubuh indahnya yang hanya tertutup pakaian minim pilihan Zakia.


Albirru yang melihat pergerakan dari Jazira pun mulai mengalihkan pandangannya dari Larina. Netranya menatap seorang gadis cantik dengan pakaian yang sedikit terbuka.


Sontak Larina pun menolehkan kepalanya, mengikuti arah mata Albirru yang tiba-tiba berhenti menciumnya. Larina terkejut bukan main saat melihat tubuh Jazira.


Bagaimana tak terkejut? Jika dibandingkan, tubuhnya pun akan kalah dengan tubuh Jazira. Bukan masalah apa-apa, Larina yang perempuan saja merasa iri dengan tubuh Jazira lalu bagaimana dengan Albirru.


"Sayang, kamu lihat apa sih? Jangan tatap wanita lain selain aku ya? Aku nggak akan terima kalau sampai hal itu terjadi." Ucap Larina memperingatkan Albirru sambil mencoba mengalihkan wajah Albirru agar kembali menatap dirinya.


Sementara Jazira yang sudah berada diluar ruangan Albirru pun hanya menghela nafasnya. Tak dapat Jazira pungkiri, dia merasa sakit hati atas perlakuan sang suami.


Bukankah dia telah memiliki istri? Mengapa dia tak meminta sang istri saja untuk melayaninya?

__ADS_1


"Dasar laki-laki plin plan, bilangnya aku menjijikkan lah atau apalah. Sedangkan dia? Dia tak lebih menjijikkan dari apa yang dia tuduhkan padaku." Gerutu Jazira sambil berjalan menuju lift.


Setelah dia memasuki lift, dia memberi kabar kepada Johan untuk mengantarkannya pulang. Johan yang baru tahu bahwa sang majikan berada di kantor tuan mudanya pun terkejut.


Sebelum berjalan keluar lift, Jazira memakai kembali outernya. Jazira masih memiliki akal sehat, dia tak ingin mengobral tubuhnya untuk orang lain. Dia melakukan hal itu untuk membuktikan pada suaminya bahwa bukan hanya Larina yang menarik.


Entahlah, mengapa setelah menikah dengan Albirru dia ingin membuktikan hal lain kepada suaminya. Seakan-akan dirinya ingin menjadi satu-satunya wanita yang ada didalam hidup sang suami, meskipun hanya dalam waktu 10 bulan.


Jazira tidak salah bukan? Istri mana yang tak ingin diperlakukan dengan sebaik-baiknya oleh sang suami?


"Baiklah, kita mulai permainannya. Buang jauh-jauh rencana Zakia untuk menjadi jal*ng halal itu, Zi. Kau harus mulai jual mahal mulai sekarang. Kurasa itu tidaklah sulit." Ucap Jazira sambil berjalan keluar dari lift.


Jazira terus berjalan menuju basement, tempat dimana Johan berada. Jazira tersenyum senang karena melihat Johan yang sudah berdiri disebelah mobil berwarna hitam mengkilap itu.


"Selamat sore, Paman. Maaf jika Jazira merepotkan Paman." Sapa Jazira lembut sambil menundukkan kepalanya. Johan hanya tersenyum lalu membungkukkan badannya.


"Ini sudah tugas saya, Nona." Jawab Johan sambil menatap sang atasan. Jazira pun hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju pintu belakang mobil.


"Pulang sekarang ya, Paman? Jazira mau istirahat." Ujar Jazira sambil memasuki mobil. Johan pun segera berjalan memutar lalu duduk dibelakang kemudi.


Setelah memastikan sang atasan telah siap, Johan pun mulai menghidupkan mobilnya. Namun belum semoat dia menjalankan mobilnya, ketukan kaca disebelah Jazira menghebtukan mereka berdua.


Jazira terkejut bukan main ketika melihat seseorang yang berdiri diluar mobil.


Devam Etti.

__ADS_1


Kayenna minta maaf jika ada salah kata atau kalimat. Don't forget for like.


__ADS_2