
Sontak Jazira yang terkejut pun segera membelalakkan matanya. Albirru mencengkeram erat kedua tangan milik Jazira agar Jazira tak bergerak, dan cara tersebut berhasil. Nyatanya Jazira sama sekali tak dapat bergerak.
"Awas! Pindah dari atas Zizi nggak?! Mas Birru tuh berat, jangan kek anak kecil deh!" seru Jazira tak suka karena wajahnya hanya berjarak beberapa senti saja dari sang suami.
"Masakin aku dulu, baru aku turun." ujar Albirru yang membuat Jazira mengalihkan pandangannya. Dia tak tahan dengan wajah tampan sang suami. Wanita mana yang akan menolak pesona seorang Albirru Geano Alexander? Kemungkinan hanya Jazira saja.
"Udah Zizi bilang kan? Maaf maaf kata nih Mas, bukan maksud Zizi mau membangkang suami atau sejenisnya. Soalnya Mas Birru udah keterlaluan. Sama sekali tidak mencerminkan sifat selayaknya seorang suami ke istrinya." ucap Jazira yang sebelumnya meminta maaf terlebih dahulu.
"Kenapa Mas Birru harus repot-repot buat nikahin Zizi kalo Mas Birru punya Larina?! It's okey kalo kalian masih ada hubungan setelah kita berdua menikah, tapi jangan sampai ngelakuin zina! Bisa kan tahan sampai sepuluh bulan dulu, untuk apa? Untuk menjaga ikatan suci kita, Mas! Zizi rasa, percuma juga kita nikah gini." imbuh Jazira sembari menatap netra indah sang suami.
Albirru masih menatap wajah cantik milik Jazira. Entahlah, mengapa dia tak memberitahu saja alasan mengapa dirinya terpaksa melakukan semua itu. Namun mau dibagaimanakan lagi, dia tetap bersalah jika dipandang dari sisi manapun.
"Percumah nikah kalo Mas Birru ngelakuin hal seperti 'itu' dengan wanita lain. Hal tersebut tidak lebih daripada sebuah hinaan untuk ikatan pernikahan. Kau tahu? Aku terpaksa melakukan semua ini hanya demi Jingga. Jika tak ada Jingga maka aku lebih memilih bercer-" ucapan Jazira terpotong karena ulah Albirru.
Cupp...
Albirru mengecup singkat bibir milik sang istri agar sang istri terdiam. Jazira terkejut bukan main dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.
"Aku ngelakuin semua ini karena terpaksa, Ra. Suatu saat kau akan tahu apa alasanku masih bertahan dengan wanita berotak busuk seperti dirinya." jawab Albirru setelah mencium bibir sang istri singkat.
Jazira yang tersadar dengan ucapan sang suami pun segera menggelengkan kepalanya perlahan.
"Terpaksa? Bisa bisanya kamu bilang terpaksa? Apakah masih bisa disebut dengan kata terpaksa jika sudah sampai berhubungan int*m? Sepertinya kau sedang bercanda." cela Jazira sambil tersenyum miring.
"Lalu aku harus melakukannya dengan siapa, hmm? Jikapun aku memiliki istri, aku tak akan bisa melakukan hal 'itu' dengannya. Lelaki mana yang tak akan tergoda dengan tubuh milik Larina itu?" bela Albirru yang membuat Jazira tertawa pecah.
__ADS_1
"Kau lupa? Siapa yang membuat peraturan konyol itu hah?! Apakah ketika kau menulis surat tersebut, kau tak menggunakan logika mu? Andai saja kau tak menulisnya, maka kau bisa," ujar Jazira tertahan karena sadar akan ucapannya.
Albirru menyunggingkan senyum yang tak bisa Jazira artikan tatkala mendengar perkataan Jazira. Dia semakin mendekatkan wajahnya kepada sang istri lalu berhenti tepat disebelah telinga sang istri.
"Maka aku? Cepat lanjutkan kata katamu." lirih Albirru tepat disebelah telinga Jazira yang membuat gadis mungil itu sedikit merutuki perkataannya.
Albirru sempat mencium leher jenjang milik Jazira yang membuat sang empu sedikit kaget. Karena tak ingin terjadi sesuatu yang lebih dari ini, Jazira segera meminta kepada sang suami untuk sedikit menjauh.
"Minggir nggak, Mas?! Jangan deket deket Zizi!" seru Jazira yang tak dihiraukan oleh Albirru. Entahlah, apa niatan lelaki yang sedang tak memakai baju tersebut.
Tak kehabisan akal, Jazira segera menaikkan lututnya dengan sedikit tenaga hingga membentur bagian utama milik suaminya.
Sontak Albirru yang merasakan sakit di bagian utamanya pun segera menggulingkan badannya ke sebelah Jazira.
"Tergoda, tergoda! Emang laki laki tuh bisanya cuma nyalahin perempuan! Jangan gedein nafsunya! Minimal inget istri di rumah lah!" teriak Jazira tak terima sambil berdiri dari posisi tidurnya.
"Dasar Albirru! Pikirannya cuma seputar bisnis sama bawah perut! Kena HIV tau rasa!" teriak Jazira kesal karena pemikiran sang suami.
Setelah itu, Jazira segera berlalu dari dalam kamarnya. Dia berjalan keluar dari kamarnya sembari mengikat rambutnya asal asalan.
Dia berjalan menuju dapur untuk memasak sesuatu. Tak mungkin dia membiarkan suaminya tersebut kelaparan tengah malam seperti ini.
"Syukurlah Mbok Sum memasak nasi. Ku buatkan nasi goreng saja untuk suami cab*lku itu." ujar Jazira sembari memanaskan minyak serta menyiapkan nasi dan bumbu instannya.
Sementara Albirru yang sedikit merasa lebih enak pun segera berjalan menyusul sang istri ke luar kamar. Albirru tahu jika istrinya pasti berada di dapur, dan itu benar.
__ADS_1
Hatinya sedikit menghangat ketika melihat sang istri yang terlihat sangat lelah namun masih bangun untuk memasak.
Albirru berjalan mendekati sang istri. Senyumnya merekah melihat tangan sang istri yang lihai diatas perapian untuk mengolah masakan. Albirru memeluk istrinya dari belakang lalu meletakkan dagunya di bahu milik istrinya.
Jazira yang sedang asyik memasak sehingga tak menyadari keadaan sekitar pun terkejut bukan main. Dia menolehkan kepalanya dan mendapati sang suami yang tengah menatapnya.
"Jangan ganggu dulu, sana geseran dikit." pinta Jazira sembari mengaduk nasi gorengnya agar tak gosong. Albirru masih tak menghiraukan apa yang sang istri katakan. Jazira yang kesal pun segera mematikan kompornya lalu menghela nafasnya kasar.
"Lepasin atau ku tendang lagi?! Jangan remehin kekuatan lututnya Zizi ya?!" ujar Zizi terlanjur kesal dengan sifat sang suami. Dengan segera Albirru pun melpaskan pelukannya lalu membiarkan Jazira menghidangkan nasi goreng untuknya.
Jazira membawa piring berisi nasi goreng buatannya menuju meja makan lalu meletakkannya di tempat biasa sang suami duduk. Albirru mengekori sang istri lalu duduk disebelah Jazira.
"Kamu nggak makan?" tanya Albirru setelah duduk dengan sendok dan garpu di kedua tangannya. Jazira hanya menggelengkan kepalanya lallu meletakkan kepalanya di kedua lipatan tangannya.
"Ngapain? Pindah ke kamar aja, nanti kau akan merasa tak enak badan jika tertidur disini." ujar Albirru sembari menyuapkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Albirru benar benar merasa cocok dengan masakan sang istri tersebut.
"Nungguin Mas Birru bentar aja. Nanti kalo Zizi ketiduran, bangunin aja." ucap Jazira sembari memejamkan matanya. Albirru tak menjawab pertanyaan sang istri, dia membiarkan sang istri tertidur di meja makan untuk menemaninya makan.
Memang Albirru kurang bersyukur karena memiliki istri sebaik Jazira namun dia lebih wanita lain yang tak sebanding dengan Jazira.
Albirru menikmati masakan sang istri sembari menatap wajah gadis berdaster yang tertidur di sebelahnya. Setelah merasa kenyang, Albirru menandaskan air minumnya lalu berjalan mendekati sang istri.
Albirru menggendong wanita yang telah banyak bersabar menghadapi dirinya lallu membawanya masuk ke kamar. Albirru menidurkan sang istri seperti posisi semula lalu berjalan ke sisi ranjang yang lain untuk menyusul sang istri yang mungkin telah bermimpi.
Albirru menghadap kearah sang istri yang tengah terlelap dengan wajah teduhnya lalu memeluk erat badan mungil milik Jazira.
__ADS_1
"Aku akan berubah buat kamu, Ra." ucap Albirru lirih setelah mencium kening milik istrinya.