ISTRI BAYARAN CEO DINGIN

ISTRI BAYARAN CEO DINGIN
BAB 23


__ADS_3

Jazira menelan ludahnya dengan susah payah ketika melihat Albirru berdiri dengan tatapan datar diluar. Johan yang melihat hal tersebut pun segera keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri sang atasan.


Johan yang mengerti arti tatapan dari Albirru pun segera membukakkan pintu mobil. Bertepatan dengan itu, Jazira segera menggeserkan posisi duduknya agar Albirru dapat duduk.


Albirru hanya menatap intens kepada Jazira lalu duduk dengan damai disebelah Jazira. Sedangkan Jazira? Dia sedikit terganggu dengan kedatangan suaminya tersebut.


"Kenapa dia langsung pulang? Bukankah Larina masih berada didalam?" Batin Jazira dalam hati sambil membuang pandangannya menuju keluar jendela.


Matanya berbinar ketika melihat Tasya yang sedang berjalan mendekati motornya. Tanpa basa-basi, Jazira pun segera turun dari mobil. Dia tak menghiraukan Albirru yang menatapnya terkejut.


"Nona Jazira! Kau ingin kemana?" Pekik Johan terkejut karena Jazira mulai berjalan menjauhi mobil Albirru. Seketika Jazira pun menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Johan.


"Aku akan pulang bersama Tasya. Paman pulang saja terlebih dahulu. Sampaikan pada Mbok Sum kalau Jazira akan pulang sedikit terlambat, ya Paman? Jazira pergi dulu." Papar Jazira lalu berjalan cepat mendekati Tasya.


"Tasya?" Ucap Jazira perlahan sambil memegang bahu Tasya. Tasya yang sedang sibuk menundukkan kepalanya untuk mencari kunci motornya pun terkejut bukan main.


"Monyet, eh monyet!" Latah Tasya yang membuat Jazira tertawa terbahak-bahak. Tasya pun langsung membalikkan badannya tatkala mendengar suara sahabatnya.


"Zizi!" Teriak Tasya sambil membenarkan kacamatanya lalu memeluk Jazira erat. Jazira yang sedari tadi masih tertawa pun mulai berhanti tertawa lalu memeluk Tasya lembut.


"Kenapa latahmu sangat lucu, Sya? Monyet, eh monyet." Tanya Jazira sambil menirukan gaya latah Tasya. Tasya yang diejek oleh Jazira pun hanya memukul pelan punggung pemilik Jazira lalu melepaskan pelukan mereka.


"Apakah kau sedang mengejekku?" tanya Tasya dengan nada yang sedikit tersinggung lalu memincingkan matanya. Jazira pun menggelengkan pelan kepalanya lalu menepuk kedua pipi gembul milik Tasya.


"Siapa yang mengejek mu? Aku tidak mengejek mu sama sekali." Tutur Jazira mencoba meyakinkan sahabatnya. Tasya pun hanya mengangguk pelan lalu mulai naik keatas motornya.

__ADS_1


Tanpa diminta Jazira pun langsung di belakang Tasya.


"Aku belum minta kamu buat duduk dibelakang aku loh, Zi. Main duduk aja." Desis Tasya sambil membenarkan kacamata yang lagi-lagi membuat Jazira tertawa.


"Ah udah lah, ayo kita balik. Aku pengen cerita banyak sama kamu." Ujar Jazira sambil menepuk pelan bahu Tasya. Tasya pun hanya menggelengkan kepalanya perlahan lalu mulai melajukan motornya.


Mereka berdua masih tertawa lepas sambil bercanda. Mereka tak sadar jika sedari tadi Albirru masih menatap kepergian mereka berdua. Albirru rasa, apa yang dia lakukan sekarang ini sia-sia.


Dia rela meninggalkan Larina yang dengan sukarela akan melayaninya lagi untuk Jazira. Namun sekarang? Jazira pergi meninggalkan dirinya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun untuk dirinya.


Ingin kembali pun dia rasa akan percuma. Dia meminta pada Johan untuk mengantarnya pulang.


Sedangkan Larina yang kecewa dengan Albirru pun memutuskan untuk pulang. Wait, bukan pulang. Lebih tepatnya dia akan kembali ke tempat favoritnya. Tanpa author sebut, kalian sudah paham bukan?


Sedangkan disebuah cafe bernuansa modern, terdapat gadis berambut sebahu yang masih berdebat dengan seorang laki-laki.


"Aku mau pulang aja. Udah lama aku nggak ketemu sama Kakak. Kita udahan aja ya?" Ucap wanita tersebut sambil berdiri dari duduknya.


"Gue nggak mau Lo balik! Lo harus disini sama Gue!" Bentak laki-laki tersebut yang membuat gadis itu memutar bola matanya jengah.


"Aku udah selesai kuliah disini, aku mau balik ke rumah. Aku udah tinggalin kakak selama tahun 4 tahun lebih!" Tuturnya lagi dengan nada yang mulai emosi.


Namun lelaki yang berada di hadapannya pun tak mau kalah. Dia semakin mencengkram erat lengan milik gadis tersebut dan masih memaksanya agar tidak kembali ke rumahnya.


"Gue pacar lo! Dan Gue yang lebih berhak tentang apapun itu jika menyangkut hidup Lo! Jadi sekali Gue bilang Lo nggak boleh pulang, berarti Lo nggak akan pergi dari sisi Gue!" Ucap laki-laki tersebut tegas sambil menatap tajam wanita di hadapannya.

__ADS_1


Gadis itu pun tersenyum miring lalu menghempaskan tangan laki-laki tersebut dengan kasar. Dia menatap tajam netra lelaki tersebut dan mulai mengubah ekspresinya.


"Lo nggak salah kan? Lo lebih berhak tentang hidup Gue daripada kakak Gue? Gue rasa Lo udah mulai gila! Oke Gue akui, dulu Gue masih sangat bodoh bisa menerima Lo jadi pacar Gue dan bertahan selama 4 tahun!" Bentak gadis cantik tersebut yang membuat sang kekasih terkejut.


"Selama empat tahun Gue selalu di monopoli sama Lo! Gue rela nggak kasih kabar sama Kakak Gue demi Lo! Tapi sekarang Gue udah sadar. Cowok nggak jelas seperti Lo nggak pantes Gue pertahanin!" Ucapnya lalu mulai berjalan menjauhi meja yang sedari tadi menjadi saksi retaknya hubungan keduanya.


"Jingga! Jangan buat Gue marah karena tindakan bodoh Lo! Kita udah lewati semuanya selama empat tahun. Jangan sia-sia in empat tahun itu!" Cegah lelaki tersebut yang membuat gadis bernama Jingga membalikkan tubuhnya.


"Lo bilang jangan sia-sia in waktu pacaran kita selama empat tahun?! Justru dengan ini Gue mau kembaliin waktu Gue yang terbuang sia-sia selama empat tahun sama Lo!" Jawab Jingga sambil menahan air matanya.


"Mungkin Gue akan tetap bertahan sama Lo jika Lo kasih Gue kejelasan! Tapi apa? Setiap Gue tanya tentang kejelasan hubungan kita, Lo selalu menghindar. Lo pikir Gue nggak tahu soal hubungan gelap Lo sama dosen kita, hah?!" Sambung Jingga yang membuat kekasihnya melotot.


Bagaimana bisa dia mengetahui hubungannya dengan dosen pembimbing di kampus mereka. Jingga tersenyum manis sambil menghapus air matanya.


"Gue cuma mau ucapin banyak terimakasih buat Lo. Makasih karena udah khianatin Gue. I think that's enough. We're done here. Thank you!" Ucap Jingga mengakhiri perdebatan mereka lalu keluar dari cafe.


Dia masih menghapus air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya. Jingga mengembangkan senyumnya karena beban yang selama ini dia pikul mulai menguap pergi.


"I'am proud of you, Ngga. Jangan sedih hanya karena lelaki yang tak jelas. Dia sama sekali tak memberi kejelasan untuk hubungan kalian, mungkin saja jika kau dulu tak menerimanya pasti hidupmu akan lebih bahagia. Maybe, you already have a husband. Even child." Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Dia terus berjalan kembali menuju apartemennya tanpa sadar bahwa seseorang sedari tadi masih mengintainya dengan senjata tajamnya.


Alhamdulillah selesai 2 bab, don't forget for like ya? Ada yang mau Kayenna double up lagi? Kalau ada, comment ya...


Thank you, Iyi Gecerler all❤.

__ADS_1


__ADS_2