
Butik tutup lebih awal hari ini. Dona dan yang lain berniat menjenguk Rena di rumah sakit.
Mereka kini sudah berada di rumah sakit.
krekkkk,, (anggap saja suara pintu ruang rawat Rena)
Rena dan Bagas menoleh ke arah pintu.
"Kalian, kok sudah pulang?"
"Hari ini ibu bos sedang baik hati mbak." kata Sari.
Mereka tertawa bersama.
"Ini, kalian makan dulu. Pasti kamu sama Bagas belum makan kan."
"Terimakasih."
Mereka berbincang-bincang di ruang pasien yang di tempati Rena. Kedatangan mereka menjadi pelipur bagi Rena. Sementara Bagas pergi ke masjid yang berada dalam lingkungan masjid untuk melaksanakan sholat.
"Mbak, kita pulang dulu ya." kata Intan mewakili teman-temannya.
"Nggak mau nginep sini?" canda Dona.
"Nggak, nanti ganggu mbak Rena sama suaminya."
"Kamu pikir bulan madu."
Mereka tertawa bersama. Mereka bertiga pulang terlebih dahulu. Sementara Dona masih berada dalam ruangan bersama Rena.
Di lorong rumah sakit mereka bertemu dengan Bagas.
"Kalian mau pulang." tanya Bagas.
"Iya mas, sudah malam." jawab Intan.
"Terimakasih sudah mau jenguk Rena."
"Sama-sama." jawab mereka secara bersama.
"Hati-hati di jalan. Saya permisi mau kembali ke kamar Rena."
"Iya mas."
Intan memandang kepergian Bagas.
"Ganteng banget suami orang." ujar Intan.
"Mau jadi pelakor." kata Sari.
__ADS_1
"Masih jauhan mbak Rena kemana-mana dari pada kamu." ucap Wati
"Tapi nggak bisa kasih keturunan." cibir Intan.
Intan meneruskan langkahnya meninggalkan kedua temannya. Sari dan Wati hanya geleng-geleng melihatnya. Segera mereka menyusul Intan.
Di dalam ruangan Rena.
"Kalian makan dulu, ini makanan yang aku bawa keburu nggak enak." Dona membuka kantong kresek di meja dekat ranjang Rena.
"Kamu tadi belum makan?" tanya Bagas pada Rena.
"Belum, nggak enak, banyak orang."
"Ya sudah aku suapin."
"Biar aku yang suapin Gas, kamu makan saja."
Dona mengambil makanan dari tangan Bagas dan menyuapi Rena. Bagas duduk di sofa pojok kamar dan memakan makanan yang di bawa Dona. Rena tidak bisa makan sendiri karena tangannya masih di infus.
"Orang tua kamu sudah di kabari Ren."
"Sudah, mungkin mereka dalam perjalanan." jawab Bagas yang sedang duduk di sofa.
"Don,, tentang biaya rumah sakit.."
"Tidak usah kalian pikirkan. Yang terpenting kenyamanan Rena selama di rawat di sini. Dengan begitu akan cepat sembuh. Iya kan...?"
"Nggak cukup terimakasih doang Ren,, harus kamu ganti. Tapi nggak pakai uang lo."
"Terus pakai apa."
"Kesembuhan kamu."
Mereka berdua saling berpelukan. Di tempat duduknya Bagas hanya menyaksikan mereka berdua dengan tersenyum.
"Aku pulang dulu, ini sudah malam. Kamu juga butuh istirahat."
"Hati-hati di jalan. Terimakasih makanannya."
Sebelum subuh orang tua Rena dari desa sudah datang. Merek tidak langsung pergi ke ruangan Rena.
Mereka singgah di masjid yang berada di area rumah sakit. Setelah waktu subuh datang, mereka segera sholat dan pergi ke ruangan Rena.
Mereka membuka pelan pintu kamar Rena.
Rena masih terlelap tidur di ranjang pasien. Sementara Bagas tidur di sofa.
"Bangun, sudah subuh."
__ADS_1
Pak Abdul membangunkankan Bagas dengan pelan.
Sementara bu Yanti berada di dekat ranjang Rena. Beliau memandang wajah anaknya dengan kecemasan.
Pak Abdul adalah bapak Rena. Sedangkan ibu Rena bernama bu Yanti.
Bagas membuka matanya dengan enggan. Beberapa kali dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Diapun tersadar di depannya berdiri bapak mertua yang sedang tersenyum padanya.
"Bapak kapan sampai."
"Baru saja."
Bagas berdiri dan bersalaman dengan bapak mertuanya. Kemudian berjalan ke arah ibu Yanti.
"Ibu.. sehat." tanya Bagas sambil bersalaman dengan bu Yanti.
"Alkhamdulillahh sehat."
"Sera tidak ikut bu?" Bagas menanyakan adik perempuan Rena satu-satunya.
"Dia masih bekerja, katanya nanti mau nyusul."
"Kamu sholat dulu, biar Rena kami yang jaga."
"Iya bu, Bagas tinggal pergi dulu."
Rena terusik dalam tidurnya. Ia mendengar seperti ada suara di sekitarnya. Rena membuka matanya.
"Ibu,, bapak,,"
"Kami disini, semua akan baik-baik saja."
Ibu Yanti mengelus pelan kepala putrinya. Sementara pak Abdul berdiri di samping ranjang.
"Sekarang yang terpenting kesehatan kamu nak. Jangan terus larut dalam kesedihan. Kasihan suami mu." pak Abdul menasehati Rena.
Rena hanya mengangguk.
Di dalam ruangan Rena mereka berbincang-bincang.
"Mas nggak kerja."
"Mas sudah izin."
"Kalau mau kerja tidak apa-apa. Ada kami yang akan menunggu Rena." ujar pak Abdul.
"Iya, sekarang cari kerjaan susah."
"Besok saja saya masuk kerjanya pak, saya sudah izin pada atasan."
__ADS_1
BERSAMBUNG.