Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 124


__ADS_3

Saat Bagas melajukan mobilnya ke arah kantor, dia melihat Sani berdiri di pinggir jalan.


"Masuk." ucap Bagas membuka pintu mobil dari dalam.


"Makasih mas. Dari tadi nunggu kendaraan umum tapi nggak ada." jelas Sani.


Sani mencuri pandang pada Bagas. Sesekali dia memuji Bagas dalam hatinya.


"Tampan sih. Masa iya nggak tertarik sama gue." batin Sani.


Dengan sengaja Sani sedikit mengangkat rok mininya. Memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus. Dia menghadap ke kaca sampingnya dan membuka kancing baju bagian atas. Sehingga belahan dadanya terlihat sempurna.


Bagas hanya diam sambil tersenyum remeh melihat kelakuan Sani.


"Intan yang baru muncul. Maaf saja, gue nggak sebodoh dulu." batin Bagas.


Turun dari mobil, Bagas mendekat ke arah Sani. Dan membisikkan sesuatu.


"Istri saya lebih seksi dari pada kamu." bisik Bagas dan berlalu meninggalkan Sani yang masih diam mematung.


Sani memejamkan matanya dan segera membenahi pakaiannya. Wajahnya memerah menahan rasa malu bercampur kesal.


Di dalam ruangan pun, Sani tidak berani melihat langsung ke arah Bagas. Dia hanya mencuri pandang. Sementara Bagas tidak peduli, dia fokus pada pekerjaannya.


"Permisi pak. Mau minta tolong boleh?" tanya Rena pada satpam di kantor Bagas.


"Mbak istrinya pak Bagas kan. Ada apa mbak?"


"Nitip ini pak. Saya telepon mas Bagas, biar nanti di ambil sendiri di sini." ujar Rena.


Bekal makan siang yang biasanya Bagas bawa tertinggal di rumah, Rena yang tahu jika suaminya masih belum bisa makan selain masakannya mengantarkannya untuk Bagas.


"Oalahhh,,, mbak masuk saja ke dalam. Nggak apa-apa kok mbak." ucap pak Satpam.


"Terimakasih pak."


Rena melangkahkan kakinya ke kantor tempat suaminya bekerja. Suasana masih terlihat sepi. Karena jam makan siang masih beberapa menit lagi.


Setelah bertanya pada resepsionis, Rena melangkahkan kakinya menuju ruangan Bagas.


"Siang." ucap Rena.


"Rena." seru Mira dengan antusias.


Bagas dan yang lain langsung menengok ke pintu.


"Sayang." ucap Bagas.


"Bumil. Kangen." Mira langsung berdiri dan memeluk Rena.


"Hai Ren." sapa Leon.


"Kenapa kamu ke sini?" Bagas segera mengambilkan kursi untuk Rena duduk.


"Ini." Rena menenteng rantang tempat makan.


"Ya ampun sayang. Kenapa nggak minta tolong mak Irah saja."


"Kasihan mak Irah mas."


"Seharusnya kamu telepon saja, biar aku yang ambil sendiri."


"Kasihan kamunya. Harus bolak-balik."


"Makin cantik aja elo Ren." celetuk Leon.


"Istri gue brengsek." ucap Bagas tidak terima.


"Jadi ini istrinya mas Bagas. Biasa saja. Cantikan gue kemana-mana." batin Sani.


"Ya sudah, aku mau pulang mas. Kalian lanjut kerjanya." ucap Rena.


"Hai mbak." sapa Sani.


"Dia yang menggantikan Galih."


"Sani." ucapnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.


"Rena. Istrinya mas Bagas." sahut Rena menyambut uluran tangan Sani.

__ADS_1


Saat mereka sedang berbincang dengan Rena, atasan mereka melewati ruangan mereka dan berhenti.


"Pasti marah." batin Sani.


"Bu Rena." sapa atasan sekaligus pemilik perusahaan.


"Pak. Maaf pak. Saya mengganggu pekerjaan mereka." ucap Rena merasa tidak enak hati.


"Nggak apa-apa. Sebentar lagi juga sudah masuk jam makan siang. Kalau begitu saya duluan bu, ada yang harus saya kerjakan." pamitnya.


Sementara sekertaris di belakangnya tersenyum ramah pada Rena.


"Loh kok." batin Sani.


Sani merasa heran. Bagimana atasannya tidak marah. Dan malah bersikap demikian pada Rena.


"Saya pulang dulu ya semuanya." pamit Rena.


"Biar aku antar sampai depan sayang." tawar Bagas.


"Ooooo,,,,,, co cweeeeettt." ujar Mira sambil menggerak-gerakkan badannya sendiri saat melihat Bagas menggandeng tangan Rena.


Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Rehan.


"Hai Ren." sapa Rehan.


Rena hanya tersenyum mendengar sapaan dari Rehan.


"Sok akrab banget ni orang." batin Bagas.


"Sayang ayo, nanti keburu panas." Bagas segera mengajak Rena melangkahkan kakinya kembali.


"Ya memang panas. Inikan siang hari. Nggak hujan lagi." gumam Rehan bingung.


Bagas menemani Rena di depan kantor sampai taksi yang di pesan oleh istrinya datang.


Acara tujuh bulanan kehamilan Rena akhirnya tiba. Seperti saat acara empat bulan kehamilannya. Mereka mengundang tetangga dan saudara untuk datang ke acara tersebut.Acara berjalan dengan lancar dan hikmat.


Keluarga Rena dari desa juga datang. Bahkan ada tetangga Rena yang juga ikut. Alhasil pak Abdul menyewa mobil ntuk pergi ke rumah Rena.


Kali ini keluarga Rena tidak menginap di rumah mereka. Karena mereka pulang ke desa menaiki mobil sewaan tersebut bersama beberapa tetangga.


"Capek ya." tanya Bagas pada Rena sambil memijat kaki Rena.


Bagas kemudian menata bantal di belakang Rena.


"Biar kamu lebih nyaman." ucap Bagas kembali memijat kaki Rena.


Di lihatnya mata Rena sudah mulai terpejam dengan nafas yang teratur. Bagas tersenyum melihat wajah cantik istrinya.


"Pasti nanti kamu juga sangat tampan sayang." ucap Bagas lirih sambil mencium perut Rena.


Bagas membetulkan letak kepala Rena. Dan ikut berbaring di samping istrinya.


Pagi hari Bagas bangun lebih dulu. Di pandanginya wajah cantik Rena.


"Sayang,, bangun." ucap Bagas berbisik di dekat telinga Rena.


Rena menggeliat lucu dengan perut besarnya. Hingga Bagas tertawa melihatnya.


"Kenapa mas?" tanya Rena mendengar suara tawa Bagas.


"Nggak. Bangun gih. Sholat bareng. Ayuk." ajak Bagas.


Selesai sholat, mereka keluar dari kamar.


"Pagi mak." sapa Rena.


"Kamu minum susu dulu. Baru kita jalan-jalan." ucap Bagas.


"Biar saya yang buatkan mak." ujar Bagas saat mak Irah hendak membuat susu untuk Rena.


"Ini sayang. Diminum."


"Alkhamdulillah." ucap Rena setelah menghabiskan segelas susu.


"Kita tinggal ya mak. Mau jalan-jalan dulu." pamit Rena.


Bu Anis dan bu Yanti selalu bilang pada Rena.

__ADS_1


REN, SEKARANG KEHAMILAN KAMU SUDAH BESAR.


JIKA PAGI LEBIH BAIK JALAN-JALAN SEBENTAR.


SUPAYA LAHIRANNYA MUDAH.


Menurut Rena tidak ada salahnya melakukan hal tersebut. Dan Rena pun selalu jalan-jalan setiap pagi di sekitar kompleks rumah mereka.


Sementara Bagas selalu menemani Rena sebelum bersiap untuk berangkat kerja.


"Mas, lusa kita belanja perlengkapan bayi ya. Kan mas nggak kerja." ucap Rena saat jalan-jalan.


"Beres. Tapi jangan lama ya. Mas takut nanti kamu kecapekan. Kita belanja beberapa dulu saja. Nyicil. Supaya kamu nya juga nggak capek." jelas Bagas.


"Iya. Nanti belanja lagi ketika hari Minggu lagi. Kan mas nggak kerja." tutur Rena.


"Iya." jawab Bagas dengan senyum.


Hari-hari berikutnya Rena jalani dengan bahagia. Bagaimana tidak. Setiap hari Rena selalu di telepon ibunya dari desa. Beliau selalu menanyakan keadaan Rena dan bayinya, serta memberi wejangan pada putri pertamanya tersebut.


Sedangkan bu Anis rutin setiap hari untuk datang ke rumah Bagas. Beliau selalu membawakan Rena makanan. Dan juga beliau beralasan menemani Rena karena Bagas sedang bekerja.


Hari-hari yang di nantikan seluruh keluarga datang juga. Usia kehamilan Rena sudah menginjak 9 bulan. Tinggal menunggu, kapan bayi yang ada di dalam perut Rena untuk keluar menghirup udara.


Pagi hari Rena merasakan mulas bercampur sakit pada perutnya.


"Kenapa sayang?" tanya Bagas saat melihat raut wajah istrinya yang terlihat menahan rasa sakit.


"Sakit mas." ucap Rena memegang perutnya.


Bagas membuang ke sembarang arah dasi yang ada di tangannya. Saat ini Bagas sedang bersiap untuk berangkat kerja.


"Mak.." teriak Bagas memanggil mak Irah.


Mak Irah langsung datang dan masuk ke kamar Bagas.


"Mak, kelihatannya Rena mau melahirkan." ujar Bagas khawatir.


"Ya sudah mas, kita bawa ke rumah sakit." ucap mak Irah.


Mak Irah dengan cekatan segera menyiapkan segala sesuatunya untuk di bawa ke rumah sakit. Sementara Bagas mengeluarkan mobilnya dari dalam bagasi sambil menelpon dokter Puspa.


"Baik dok." ucap Bagas dan mengakhiri panggilan teleponnya.


"Sudah mak. Ayo."


Bagas segera menggendong Rena, dan mak Irah berlari lebih dulu untuk masuk ke dalam mobil.


"Sini mas, hati-hati." ucap mak Irah dari dalam mobil.


Bagas duduk di depan dan menyetir mobil. Sementara mak Irah dan Rena duduk di kursi belakang.


"Sabar mbak." ucap mak Irah mencoba menenangkan Rena dan sesekali menghapus keringat Rena di dahinya menggunakan tisu.


Sampai di rumah sakit, Rena segera di tangani oleh dokter Puspa. Bagas bahkan ikut masuk ke dalam ruang persalinan untuk mendampingi Rena.


Di luar ruangan, mak Irah menghubungi keluarga Rena dan Bagas. Mak Irah memberitahu mereka jika sekarang Rena berada di rumah sakit.


"Bagaimana mak?" tanya bu Anis begitu sampai di rumah sakit.


Bu Anis datang bersama pak Ramli dan juga Lina. Bahkan Lina masih memakai bebidol atau pakaian tidurnya.


"Masih di dalam bu, mas Bagas juga ada di dalam." jelas mak Irah.


"Sudah lama mak?" tanya Lina.


"Belum mbak. Sekitar lima belas menitan." jelas mak Irah.


"Kok lama ya pak." ucap bu Anis.


"Sabar bu. Kita do'akan saja supaya semuanya baik-baik saja." ujar pak Ramli.


Sudah satu jam lebih mereka menunggu di luar. Tapi belum ada tanda-tanda Rena sudah melahirkan.


"Bu, Lina ke kamar mandi dulu. Kebelet." ucap Lina sambil berlalu.


Pak Ramli dan bu Anis saling pandang dan tertawa. Begitupun dengan mak Irah. Saking tegangnya, mereka bahkan tidak menyadari jika putri mereka datang ke rumah sakit masih memakai pakaian tidur.


Lina memakai bebidol berlengan pendek dengan celana pendek. Dengan rambut di cepol berantakan.

__ADS_1


Jangan lupa, dia juga masih memakai sendal lucu dengan kepala boneka di atasnya. 😂😂😂


BERSAMBUNG.


__ADS_2