Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 35


__ADS_3

"Mak, nanti titip rumah lagi ya?"


Rena berkata sambil mengambil piring kotor di atas meja makan. Dan menaruhnya di wastafel.


"Siap mbak."


Mak Irah menjawab dengan tangan penuh busa. Karena dia sedang mencuci piring yang Rena taruh di wastafel.


Rena sudah memberitahu mak Irah jika dirinya akan bekerja lagi. Tetapi hanya untuk sementara.


Sebelum Bagas berangkat kerja terjadi sedikit perdebatan antara mereka. Bagas merasa khawatir karena Rena akan pergi kerja mengendarai motor miliknya. Sementara tidak mungkin Rena memakai mobil. Karena hari ini Bagas ada pekerjaan dari kantor yang mengharuskan dirinya terjun langsung ke proyek di kota sebelah.


Akhirnya Rena mengalah. Dia akan berangkat ke kantor menggunakan ojek seperti biasa. Dan di jemput Bagas saat pulang nanti. Tetapi hati kecilnya merasa senang. Ternyata suaminya sangat menyayangi dirinya.


Setelah Bagas berangkat kerja, Rena membantu mak Irah membersihkan dapur.


"Mak, Rena tinggal ya. Mau bersiap dulu."


"Monggo mbak, silahkan."


Saat hendak berangkat kerja Rena merasa kesal. Tukang ojek yang biasa Rena pesan ternyata tidak bisa mengantarnya.


"Bagaimana dong mak, nanti kalau pakai motor pasti mas Bagas marah."


"Aduh mbak, mak nggak tahu. Terserah mbak saja. Berangkatnya bagaimana." mak Irah takut jika pendapatnya salah.


"Mas Bagas sih, pake acara nggak di bolehin segala."


Rena duduk di kursi ruang tamu dengan bibir manyun sambil memegang ponselnya. Mak Irah segera pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk Rena.


"Ini mbak di minum dulu, untuk meredakan emosi mbak."


Mak Irah menyerahkan segelas teh pada Rena. Tanpa berkata, Rena mengambilnya dan meminumnya. Karena teh yang di buat mak Irah sudah di campur dengan air dingin. Membuat tehnya menjadi hangat.


"Naik angkot saja mak, mudah-mudahan ada ojek di pangkalan."


Rena berdiri dari duduknya. Dia pamit pada mak Irah dan berjalan menuju pangkalan ojek.


Ternyata dugaan Rena benar. Tidak ada satu pun tukang ojek di pangkalan. Karena jam-jam seperti saat ini tukang ojek sekitar rumah Rena sudah di pesan oleh ibu-ibu untuk mengantar mereka.


Alhasil Rena berjalan sedikit ke jalan yang biasanya di lewati oleh angkutan umum. Dia menunggu di tepi jalan sambil sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya.


Sebuah mobil berhenti di depannya. Kaca mobil di buka dari dalam.


"Ren, lagi ngapain di sini?"


"Galih, nunggu angkot."


"Mau berangkat kerja."


Galih mengetahui karena kemarin dia sempat ngobrol dengan Rena saat Rena menjemput Bagas.


Rena hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Galih. Galih menyarankan Rena masuk ke dalam mobilnya. Dan mengantarnya bekerja. Tetapi Rena menolak. Rena tidak ingin Bagas marah pada nya. Karena suaminya selalu berkata " jauhi Galih, aku tidak suka kamu terlalu dekat dengannya".


Galih tidak begitu saja menyerah. Dia membujuk Rena.


"Kalau nunggu angkot kamu bisa telat Ren, kamu lihat sekarang jam berapa?"

__ADS_1


Rena melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kamu nunggu angkot, itu pun kalau angkotnya ada. Kalau tidak bagaimana." bujuk Galih supaya Rena mau di antar oleh dirinya.


Rena semakin bimbang. Jika ikut dengan Galih dan sampai Bagas mengetahuinya, pasti suaminya akan marah besar. Jika dia menunggu angkot, dia takut akan terlambat.


"Benar kata Galih, kalau angkotnya cepat datang, kalau nggak. Ah,, bodo amat. Dipikir nanti sajalah. Yang penting sekarang bisa berangkat kerja." batin Rena.


Rena masuk ke dalam mobil Galih.


"Jangan lupa sabuk pengamannya."


Rena hanya memandang Galih dan memasang sabuk pengaman di badannya.


"Kamu nggak kerja?"


"Hari ini mau ke kota sebelah, ada proyek yang harus di datangi langsung ke lokasi."


"Katanya mas Bagas juga mau ke kota sebelah."


"Bagas nggak jadi. Aku yang gantikan. Soalnya Leo belum masuk. Pekerjaan menumpuk. Tadi saja ada karyawan dari divisi lain yang bantu kami."


"Kamu sendiri?"


"Nggak."


Rena menoleh ke belakang. Dia celingak-celinguk mencari sesuatu di jok belakang. Galih tertawa melihat tingkah dari wanita yang di sukai nya.


"Kamu cari apa sih Ren?"


"Nggak lah, mana berani. Aku memang nggak sendirian. Kan ada kamu."


"Iisss,,,, cekk" dengus Rena.


Setiap ada kesempatan Galih mencuri pandang pada Rena. Sedangkan Rena sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang Rena lakukan dengan ponselnya.


"Lih, boleh minta tolong nggak?"


Galih menoleh ke samping dan memandang wajah Rena.


"Jangan bilang sama mas Bagas kalau kamu nganterin aku kerja ya."


Rena menatap wajah Galih dengan tatapan penuh harapan.


"Memang kenapa?" Galih berpura-pura tidak tahu.


"Ya,,, nggak kenapa-napa sih. Tapi terserah kamu saja lah."


"Apa iya aku kasih tahu alasannya. Kalau benar, kalau ternyata selama ini mas Bagas salah mengira, bisa malu aku. Di kiranya aku kepedean lagi." batin Rena.


Galih menoleh ke arah Rena. Dilihatnya Rena hanya diam dengan mata menatap lurus ke depan.


"Iya."


Mendengar perkataan dari Galih, Rena langsung menengok. Dengan senyum mengembang di wajahnya dia berterimakasih pada Galih.


"Makasih."

__ADS_1


"Aku memang tidak berniat menceritakan pertemuan kita ini pada suamimu. Yang terpenting sekarang membuat kamu mempercayaiku. Dari rasa percaya itu pasti aku jauh lebih mudah mendekatimu." batin Galih.


Hening.....


"Ekhem... Ren, boleh minta nomor ponsel kamu?"


Rena hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Galih.


"Aku tidak tahu, tiba-tiba nomor mu tidak ada di ponselku."


Galih berpura-pura. Padahal dia tahu bahwa nomornya telah di blokir.


"Mas Bagas sih, pake blokir nomor nya segala. Bagaimana ini. Kalau dikasih, dan mas Bagas tahu pasti mas Bagas marah-marah. Kalau tidak di kasih, nggak enak juga. Aduh..." batin Rena.


"Ren..."


"Ah, iya apa."


"Boleh minta nomor ponsel kamu?"


Sebenarnya Galih sudah mempunyai nomor Rena. Tetapi dia hanya berpura-pura. Supaya Rena tidak curiga jika selama ini dia yang telah mengiriminya pesan cinta.


"Anu,,, itu.." Rena memegang sebelah pelipisnya.


Rena mencoba mencari alasan yang masuk akal. Tetapi dia tidak menemukannya.


"Ya sudah lah nggak apa-apa kalau tidak boleh. Santai saja." ucap Galih kemudian.


"Sebenarnya aku menginginkan nomormu supaya lebih enak menghubungi Bagas. Karena biasanya jika di luar kantor ponselnya sulit di hubungi."


Rena merasa tidak enak pada Galih akhirnya memberikan nomornya.


"Sini ponsel kamu."


Galih memberikan ponselnya pada Rena.


"Ini, nomorku sudah ada di dalamnya."


Galih mengambil ponsel yang disodorkan padanya. Kemudian secara reflek dia mengendus bau ponselnya. Apa yang di lakukan Galih di lihat oleh Rena.


"Kenapa ponselnya, kok kamu gitukan."


"Ah,, nggak apa-apa. Aku tadi habis makan lalapan. Takut baunya nempel di ponsel. Nggak enak sama kamu." kilah Galih.


Padahal Galih ingin menghirup wangi tangan Rena yang masih tertempel di ponsel miliknya.


Sesampainya di depan butik Rena turun dari mobil. Sebelum turun Rena mengingatkan Galih kembali.


"Ingat lo ya, jangan sampai bilang sama mas Bagas..."


"Iya, aku ingat Ren.." Galih memotong perkataan Rena.


"Oke. Makasih tumpangannya."


Rena turun dan berjalan menuju butik.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2