Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 86


__ADS_3

"Bagaimana kabar kamu Ren?" tanya Mira begitu sampai di rumah sakit.


"Alkhamdulillah, sudah nggak di perban. Juga sudah nggak merasa cenut-cenut." jawab Rena.


"Maaf." ucap Mira lirih.


"Apa sih. Sudah, nggak usah di ingat-ingat. Bukan salah kamu juga." kata Rena.


Sebenarnya Rena sedikit merasa takut saat ada yang membicarakan tentang masalah tersebut. Di saat ada yang membahasnya, hati Rena merasa sesak. Dan juga terbayang kembali di mana kejadian itu pernah menimpa dirinya.


Karena itu, saat ada yang menyebut nama Tio. Atau bertanya tentang kejadian yang dia alami, Rena selalu mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau perasaan takut itu muncul lagi.


Dia tidak ingin ada orang yang tahu bahwa dia masih menyimpan rasa takut tersebut. Dia percaya bahwa seiring berjalannya waktu, rasa takut yang sedang dia rasakan sekarang dapat hilang di kemudian hari.


Apalagi di sekelilingnya terdapat orang-orang yang sangat menyayangi dirinya.


Sementara, di kursi sudut ruangan. Bu Anis tampak membuka dan menyiapkan makanan yang di bawa oleh Mira.


"Makasih ya nak Mira. Sudah merepotkan. Ini banyak sekali makanannya." ucap bu Anis.


"Sama-sama bu. Lagian juga tidak setiap hari." ucap Mira.


"Ya sudah sini semua, makanannya sudah ibu siapkan." ucap bu Anis.


"Ini punya Rena." kata bu Anis sambil menyodorkan makanan pada Rena.


"Perlu di suapi sayang." tanya Bagas.


"Hoe.... Di sini banyak orang. Nggak usah lebay." cetus Leon.


"Bilang aja elo iri. Soalnya istrinya Leon masih di rumah orang tuanya Bu. Habis melahirkan. Terus nggak pulang-pulang deh." ledek Mira.


Semuanya tertawa mendengar perkataan Mira. Tapi tidak untuk Leon.


"Gue juga heran sama Yuna. Di suruh pulang masih nggak mau. Padahal gue sudah bilang, mau sewa jasa baby sister." ucap Leon lirih.


"Nak Leon, perempuan baru melahirkan itu wajar jika ingin dekat dengan orang tua. Apalagi ini anak pertama kalian. Mungkin istri nak Leon masih merasa takut jika mengurus bayinya sendirian. Dan dia lebih nyaman jika yang mengurus bayinya adalah orang yang melahirkan dan membesarkannya dulu." ucap Bu Anis mencoba memberi pengertian pada Leon.


"Iya Bu, makasih sudah memberi tahu saya." ucap Leon.


Rena yang mendengarkan sedikit merasakan nyeri di hatinya. ANAK. BAYI.


Rena tersenyum hambar sambil menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya. Bahkan makanan tersebut seperti tersangkut di tenggorokan Rena.


Rena mengambil botol minuman di sampingnya dan segera meminumnya. Dia menarik nafas panjang dan meneruskan menyantap makanannya kembali.


Nampak Mira yang sedang makan dengan duduk di kursi bersama yang lain memperhatikan perubahan ekspresi wajah Rena yang terlihat murung.

__ADS_1


Mira sadar jika mungkin saja hati Rena agak tersentil mendengar ibu mertuanya dengan Leon membicarakan tentang Yuna dan bayinya.


"Ren, elo mau nambah lagi?" tanya Mira mencoba mengalihkan perhatian Rena.


"Nggak. Aku sudah kenyang." jawab Rena.


"Kalian tadi habis dari kantor langsung ke sini?" tanya bu Anis.


"Iya bu, sekalian searah jalan pulang." jawab Mira.


Setelah selesai makan, mereka sholat maghrib berjamaah di ruangan Rena.


Sementara di rumah Bagas, Intan bolak balik keluar masuk rumah. Sesekali dia berdiri di teras rumah. Sembari melihat jalan. Berharap yang punya rumah segera datang.


"Ini sudah maghrib. Kenapa mas Bagas belum pulang." batin Intan.


Intan kembali ke dalam rumah dan mengambil ponsel yang dia letakkan di meja ruang tamu. Dia berniat menelpon Bagas.


"Kenapa nomornya malah nggak aktif." ucap Intan geram.


"Apa yang harus gue lakuin. Biar mas Bagas mau melihat gue."


"Wanita murahan. Sama seperti mamanya." ucap seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu.


Mendengar ada yang bicara, Intan lantas menengok ke arah sumber suara.


"Galih." gumam Intan sambil berdiri.


"Mau apa elo ke sini?" tanya Intan dengan nada sinis dengan kaki melangkah beberapa jengkal ke belakang.


"Sedang apa elo di sini?" bukannya menjawab pertanyaan Intan. Galih malah bertanya pada Intan.


Intan hendak berbalik dan melangkah pergi dari hadapan Galih. Tapi tangan Galih lebih cepat memegang rambut Intan.


"Aww,,, lepas. Sakit brengsek." umpat Intan kerena rambutnya di jambak oleh Galih dari belakang.


Bukannya melepaskan, Galih malah semakin mengencangkan pegangannya dan membawa Intan ke sofa. Di hempaskannya tubuh Intan ke sofa tersebut.


"Ishhh..."


Intan mendesis karena kepalanya terbentur sandaran sofa. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat kejadian tersebut dari jendela.


Lina mengintip kejadian tersebut dari balik jendela. Sebenarnya Lina datang ke rumah Bagas untuk memberikan peringatan pada Intan. Tapi ternyata dia melihat kejadian di luar dugaannya.


Lina dan yang lain pulang lebih awal karena Dona ingin menjenguk Rena. Dona khawatir jika dia menjenguk setelah butik tutup maka akan terlalu malam. Maka dari itu, Dona memutuskan menutup butik lebih awal.


Saat Dona mengajak Lina untuk berangkat bersama ke rumah sakit. Lina menolaknya. Lina beralasan ingin pulang terlebih dahulu untuk membersihkan badan.

__ADS_1


"Apa mau elo." tantang Intan pada Galih.


"Hebat juga elo. Bisa masuk ke rumah orang. Padahal tuan rumahnya sedang tidak ada." ucap Galih sambil memandang sekelilingnya.


Saat Intan hendak berdiri, Galih mendorong badannya lagi. Bahkan Galih menaikkan kakinya di atas sofa untuk menginjak telapak tangan Intan.


"Aw,, aw,,aw. Sakit. Sialan. Brengsek. Singkirin kaki elo." ucap Intan sambil menahan rasa sakit.


"Ha,,ha,,."


Galih tertawa senang melihat Intan kesakitan.


"Sakit. Elo bilang sakit. Lebih sakit mana, nyokab gue apa elo. Elo sama mama elo udah bikin nyokab gue sakit. Ini belum seberapa." kata Galih sambil menekan kakinya. Kemudian dia menarik kakinya dari telapak tangan Intan.


"Nyokap elo gila bukan karena kita. Emang dari sananya dia udah gila" ucap Intan dengan berani.


Plakkk...


Galih menampar pipi Intan hingga Intan terjungkal kembali ke sofa. Bahkan sudut bibir Intan berdarah.


"Gue akan aduin ini ke papa. Lihat saja." ancam Intan.


"Papa. Papa. Apa elo bilang. Papa. Kita lihat saja. Apa yang bakal pa-pa ka-mu lakukan." kata Galih.


Galih meninggalkan rumah Bagas. Tapi saat berjalan keluar, dia tiba-tiba berhenti dan berkata pada Intan.


"Bilang sama mama elo. Untuk hati-hati menggunakan uang. Karena uang yang di gunakan sekarang adalah uang milik seorang Galih." ucap Galih tanpa membalikkan badan dan terus melangkah keluar rumah.


Melihat Galih hendak pergi meninggalkan rumah kakaknya, Lina segera berlari ke samping rumah.


"Apa hubungan kak Galih dan Intan. Kenapa kak Galih benci banget sama Intan. Bahkan sampai bertindak seperti tadi." gumam Intan sambil mengamati mobil Galih yang meninggalkan rumah Bagas.


"Aaaa...." teriak Intan di dalam rumah Bagas.


"Wow,,.dia pikir rumah ini hutan. Bener-bener tarzan ni anak. Apa gue perlu ngasih pelajaran juga sama dia. Tapi perlakuan kak Galih tadi lebih dari cukup." ucap Lina lirih sambil tersenyum meninggalkan rumah Bagas.


"Gue harus cari tahu soal hubungan mereka. Tapi bagaimana caranya. Iya, Wati dan Sari. Pasti mereka tahu." kata Lina berbicara sendiri sambil menaiki sepeda motor skuter miliknya.


*****


"Mas Bagas. Kenapa yang datang bukan kamu. Kenapa malah lelaki brengsek itu yang datang." ucap Intan lirih dengan menahan tangisnya.


"Kenapa dia bisa tahu jika aku berada di sini?" tanya Intan di dalam hati.


"Dan lagi, dia bilang uang milik Galih. Apa maksudnya." ucap Intan.


" Lebih baik aku segera memberitahu mama. Dan bertanya ada apa sebenarnya." kata Intan sambil merapikan penampilannya.

__ADS_1


Merasa Bagas tidak akan pulang, Intan memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Bagas.


BERSAMBUNG.


__ADS_2