Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 16


__ADS_3

"Bagaimana, apa kamu sudah mempunyai jawabannya." Bagas mengajak Rena bertemu di pinggir danau.


"Kita jalani saja seperti ini. Biarkan waktu yang menjawab." Rena berhenti sejenak.


"Jujur saja aku takut memulai hubungan bersama kamu." tangan Rena saling menggenggam dengan perasaan tak karuan.


"Jika aku boleh tahu, apa yang kamu takutkan."


Bagas bertanya dengan lembut. Dia tahu saat ini Rena sedang dalam perasaan bimbang.


"Jika kamu tidak mau cerita, ya sudah tidak apa-apa." Bagas beranjak pergi dari tempatnya.


"Aku takut kamu berbohong padaku tentang perasaan mu. Aku gadis dari desa yang hanya lulus SMA. Sedangkan kamu begitu tampan, dan sedang menempuh pendidikan di universitas. Mana mungkin tidak ada wanita yang menyukaimu."


Bagas menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.


"Di kampus banyak wanita yang menyukaiku."


Rena mendongakkan kepalanya menatap Bagas.


"Tapi tidak ada yang bisa masuk ke dalam hati ku."


Bagas duduk berlutut di depan Rena sambil menggenggam tangan Rena.


"Sejak pertama melihatmu, aku tertarik dengan dirimu. Kamu tahu sendiri, berapa lama aku mencoba mendekatimu. Bukan hanya satu atau tiga bulan." Bagas menghela nafasnya.


"Wajah mu selalu ada dalam pikiranku. Maaf,, aku bukan lelaki yang romantis. Hanya bisa berkata tentang apa yang sedang aku rasakan."


Bagas menundukkan kepalanya. Tangan Rena terulur mengelus rambut Bagas.


"Kita akan mencobanya."


Bagas langsung melepas tangan Rena dan berdiri. Rena di buat kaget olehnya.


"Serius, jadi kamu menerima cintaku. Mulai hari ini kita pacaran." Bagas seakan tidak percaya apa yang di katakan Rena.


"Iya."


Bagas membawa Rena dalam pelukannya.


"Terimakasih, sudah memberiku kesempatan."


"Terimakasih juga sudah sabar menghadapi segala tingkahku."


Mereka berdua duduk mengobrol dengan senyum terus mengembang di bibirnya dan tangan saling menggenggam.


"Hari ini kamu tidak bekerja."


"Aku sudah tidak bekerja, toko tempatku bekerja akan di jual. Pemiliknya membutuhkan uang. Sekarang aku sedang mencari pekerjaan baru."

__ADS_1


"Tenang saja, kamu pasti akan mendapatkan pekerjaan baru."


Akhirnya Rena mendapatkan pekerjaan baru. Dia bekerja di butik milik Dona.


Kisah cintanya dengan Bagas berjalan mulus. Hingga akhirnya mereka menikah.


******


flash back telah selesai,,, mari kita kembali ke kehidupan Rena dan Bagas yang sekarang. 😊😊


Mereka masuk ke warung makan dekat danau. Sebenarnya tempat itu tidak seperti warung. Tapi juga bukan restoran. Malah terlihat seperti kafe, tapi menyiapkan berbagai menu makan dan minum seperti di restoran.


" Itu bukannya Bagas."


"Iya, sama Rena."


"Bagas..."


Bagas menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Terlihat beberapa teman kuliah Bagas sedang berkumpul. Termasuk Galih.


"Ada acara apa ini." tanya Bagas begitu sampai di dekat mereka.


"Biasa, kumpul-kumpul."


Mereka saling bersalaman. Begitu juga dengan Rena.


"Hai Ren.. apa kabar." Galih bertanya saat tangan mereka berjabatan.


"Kalian teruskan ngobrolnya. Aku tinggal dulu."


"Mau ke mana, disini saja."


"Kasihan istriku, nanti dia bosan. Kalian kan laki-laki semua."


Bagas melirik ke arah Galih, dan ternyata dia masih memandangi istrinya.


"Mas mau pesan apa." Rena membuka buku menu begitu sampai di meja mereka.


"Terserah kamu saja." Bagas menjawab dengan datar.


Kemudian Rena memesan makan dan minuman.


"Padahal sudah lama kita tidak ke sini ya mas, tempatnya masih sama. Masih terap ramai. Hanya berganti warna catnya saja." Rena mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


Merasa di abaikan Rena segera menepuk pelan lengan suaminya.


"Kamu kenapa sih mas, kok diam saja."


" Apa Galih sering menghubungi kamu." bukannya menjawab pertanyaan Rena, Bagas malah bertanya pada Rena.

__ADS_1


"Kamu kenapa nanya seperti itu, aneh banget." Rena merasa heran, karena sejak tadi mereka tidak pernah membicarakan Galih.


Bagas masih memandang Rena dengan ekspresi datar.


"Pernah, hanya beberapa kali." Rena menjawab dengan jujur.


"Dia menghubungi hanya menanyakan soal kamu, ini pesan-pesan nya masih ada di ponsel. Belum aku hapus." Rena mengambil ponselnya dari dalam tas dan menyerahkan pada Bagas.


"Ada apa sih mas." Bagas mengambil ponsel Rena dan melihat isi pesan yang Galih kirim pada istrinya.


Huuuuffftttt...


Bagas mengembuskan nafasnya dengan panjang.


Makanan yang mereka pesan akhirnya datang.


"Kita makan dulu, nanti aku kasih tahu." Bagas mengembalikan ponsel milik Rena.


"Kenapa perasaan ku mengatakan ada yang tidak beres pada Galih. Beberapa kali aku memergokinya sedang memandang Rena dengan tatapan anehnya. Mungkin aku bisa mencoba menyakinkan perasaan ku dengan melakukan hal ini. Walau ini sangat sulit." batin Bagas.


Bagas mengambil makanan Rena dan berniat menyuapinya.


"Aaa.... ayo di makan sayang, buka mulut kamu." Bagas menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Rena.


Rena membuka mulutnya dan memakannya.


"Ada apa dengan mas Bagas, kenapa dia jadi seperti ini." batin Rena sambil mengedip-kedipkan matanya dan terus membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Bagas.


Bagas mengambil tisu dan mengelap sudut bibir Rena.


Rena pun tersadar dari lamunannya. Dia segera mengambil tisu dari tangan Bagas dan mengelap sendiri bibirnya. Bagas hanya tersenyum melihat kebingungan istrinya.


Di meja lain tampak seseorang mengepalkan tangannya. Dia berdiri dan mendorong kursinya ke belakang. Hingga kursinya terguling. Beberapa orang sampai kaget di buatnya.


"Elo kenapa Lih."


"Gue mau ke toilet sebentar."


"Mau ke toilet saja sampai heboh kayak gini, kasihan tu kursi."


"Kebelet mungkin."


Galih segera berjalan menuju toilet. Bagas hanya memandang dari mejanya. Pandangan matanya dan Galih sempat bertemu sebentar. Bagas menyadari ada pancaran amarah saat Galih memandangnya.


"Kamu mau pesan apa lagi."


" Aku sudah kenyang mas."


"Kalau begitu kita pulang, ini sudah larut malam."

__ADS_1


Mereka meninggalkan tempat tersebut. Sebelum pergi mereka menghampiri teman Bagas untuk berpamitan.


BERSAMBUNG


__ADS_2