
"Ini mas di minum dulu, pesanan aku tidak lupa kan mas."
"Alkhamdulillah.." Bagas meminum habis air putih yang di ambilkan oleh Rena.
"Ini pesanan tuan putri." Bagas menyerahkan beberapa buku resep membuat kue pada Rena.
"Terimakasih tuan raja." Rena mengambil bukunya dengan antusias.
"Kok banyak banget mas." Rena melihat sampul bukunya satu persatu.
"Supaya kamu lebih pintar." Rena memandang Bagas dengan menyipitkan mata.
"Mas pikir Rena mau sekolah."
"Memang kamu mau sekolahkan. Sekolah membuat kue. Itu yang akan jadi gurunya." Bagas menunjuk buku uang di pegang Rena.
"Suka-suka mas Bagas saja deh."
"Mak Irah sudah pulang."
"Ya sudahlah mas."
"Suruh mak Irah pulang setelah aku datang, supaya kamu ada temannya."
"Nggak perlu mas, aku sudah terbiasa kok. Lagi pula nanti kasihan mak Irah nya."
" Ya sudah terserah kamu saja. Aku mau mandi dulu." Bagas beranjak dari duduknya dan mengusap lembut pucuk kepala Rena.
Rena sibuk membaca buku yang baru saja di belikan oleh Bagas.
"Ya ampun, aku belum menyiapkan baju ganti untuk mas Bagas." Dia segera menuju kamar tidur.
"Untung belum selesai mandinya."
Bagas keluar dari kamar mandi dengan handuk masih melilit di bawah perutnya. Rena pun tampak tergoda.
"Ya Alloh cobaan apa ini, ingin rasanya memegang perut suamiku yang berpeck-peck.. Sadar Rena... kamu masih masa nifas. Jangan seperti jablai."
" Kenapa sayang, apa aku seksi, sayangnya kamu masih masa nifas. Jadi aku tidak bernafsu. Maaf ya" bisik Bagas di samping telinga Rena.
"Kapan mas Bagas sampai di dekat ku."
"Saat kamu sedang sibuk memikirkan aku." wajah Bagas tepat berada di depan wajah Rena.
"Apa suamiku jadi paranormal, atau apalah itu. Kenapa bisa membaca pikiran ku."
"Aku bisa membaca apapun yang sedang kamu pikirkan sayang." Bagas mengelus pelan wajah Rena dan mengambil baju yang ada di tangan Rena.
Rena mendorong tubuh Bagas.
"Aku keluar dulu mas." Rena segera bergegas keluar dari kamar.
Di dalam kamar Bagas tertawa terbahak-bahak melihat tingkah unik istrinya.
"Padahal aku hanya asal bicara, kenapa Rena bertingkah lucu sekali. Jadi gemas." Bagas memegangi perutnya sambil tertawa.
"Aduh perut ku sakit," Bagas masih memegang perutnya dan menuju kamar mandi.
"Gara-gara Rena aku harus berwudhu lagi."
Di meja makan Rena sedang menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Bagas.
"Rena,, kamu bodoh banget, bodoh... bodoh..." Rena memukul-mukul kepalanya.
"Pasti mas Bagas hanya asal bicara, pasti dia hanya menebak saja. Kenapa aku berpikir sampai ke sana. Ini gara-gara perut sialan milik mas Bagas. Tapi badannya memang sangat seksi, apalagi perut sialan berpeck-peck itu. Bikin otak mesum ku muncul."
"Malunya aku.. mau di taruh di mana mukaku,," Rena menutupi wajahnya menggunakan ke dua telapak tangannya.
__ADS_1
"Astaga...!" Bagas berada tepat di depannya saat Rena membuka matanya.
Di meja makan Rena hanya diam dan cemberut saat melayani suaminya. Bagas menahan senyum di bibirnya.
"Dosa low... cemberut di depan suami."
"Siap yang cemberut." Rena menunjukkan senyum terpaksa nya.
Setelah selesai makan, Bagas duduk santai di depan televisi.
"Sayang, buatkan aku kopi dong." Bagas sedikit mengeraskan suaranya karena Rena berada di dapur.
"Iya, sebentar lagi mas, aku selesaikan ini dulu. Sabar ya.." Rena menjawab sambil mencuci piring bekas mereka makan. Dan membersihkan meja makan.
"Ini minumnya mas, maaf sedikit lama." Rena meletakan secangkir kopi di atas meja.
"Tidak apa-apa. Besok pun akan aku tunggu." Bagas menjawab sambil mengerlingkan matanya.
Rena hanya menyebikkan mulutnya dan duduk di samping Bagas.
"Sayang, jika ada laki-laki lebih kaya dari aku menginginkan kamu apa kamu mau."
"Mas tanya apaan sih, nggak ngerti aku."
"Maksud nya jika ada laki-laki lebih kaya dari aku, dan menginginkan kamu menjadi istrinya. Apa kamu akan terima dan meninggalkan aku." Bagas menyeruput kopinya dan meletakkan nya kembali.
"Memang ada mas, siapa, aku mau dong." Rena menjawab dengan candaan.
"Sayang,, aku serius." Bagas memandang Rena.
"Ya aku tinggallah." jawab Rena santai.
"Mak.. maksud nya.. kamu me.. menerima lelaki itu dan meninggalkan aku." Bagas berkata dengan terbata dan nafas tersengal.
"Aku tinggalkan lelaki itu di kandang macan, biar dimakan macan. Auuuummm." Rena menirukan suara hewan buas tersebut sambil memposisikan tangannya seperti ingin mencakar.
"Mana mungkin, aku meninggalkan lelaki seperti kamu, punya perut berpeck-peck." Rena mengelus perut Bagas dan bergelayut manja di lengannya.
"Kamu bikin oksigen di hati aku habis Rennn...!"
"Paru-paru kaliii..."
Bagas memeluk erat tubuh Rena.
"Kamu jangan dekat-dekat dengan Galih, jangan percaya setiap perkataanya."
"Iya, mas kan sudah kasih tau aku." Rena masih betah di dalam pelukan suaminya.
"Mas sudah bicara dengan Galih." Rena mengusap-usapkan hidung nya ke dada Bagas.
"Sudah, tadi saat di kantor."
"Apa katanya."
"Dia akan merebut kamu dari sisi ku."
"Benar-benar gila." Rena melepaskan pelukannya dari Bagas.
"Apa jangan-jangan dia psikopat ya mas." Rena bergidik ngeri dan kembali ke pelukan suami nya.
"Kamu kan sudah lama kenal dengannya mas, masa tidak tahu kesehariannya."
"Dia sahabat yang baik. Sama seperti Leon. Tidak ada yang aneh pada diri nya." Bagas mencium berulang-ulang pucuk kepala Rena.
"Kamu blokir saja nomornya supaya tidak menghubungi kamu. Mas jadi khawatir."
"Ponsel ku ada di kamar mas. Nanti saja ya mas."
__ADS_1
Rena masih nyaman berada di dekapan tubuh Bagas. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Bagas.
"Mas, kamu jangan bertindak aneh-aneh."
"Maksud kamu apa."
"Jangan sampai emosi kamu terpancing oleh perkataan Galih. Kamu harus percaya sama aku. Nggak mungkin aku lebih memilih dia dan meninggalkan kamu."
"Aku akan berusaha."
"Aku akan rugi besar jika meninggalkan kamu. Aku sudah membantumu membangun rumah ini. Uangku habis banyak. Apalagi rumah beserta tanah ini atas nama kamu."
Bagas melepas pelukannya dan memegang ke dua bahu Rena sambil memandangnya.
Sementara Rena hanya tertawa cekikikan.
"Dasar." Bagas mencium hidungnya dan memeluknya kembali.
"Sebentar ya." Rena melepaskan pelukan Bagas dan beranjak dari duduknya.
"Ini." Dia kembali membawa ponselnya dan memberikan pada Bagas.
Bagas menatap Rena.
"Mas yang blokir nomor Galih."
"Kenapa, kamu nggak tega blokir nomor nya." Bagas menatap Rena dengan pandangan menyelidik.
"Ya nggak lah, aku hanya malas berurusan dengan nya." Rena duduk kembali di samping Bagas.
"Ini." Rena kembali menyodorkan ponselnya.
"Ok, dengan senang hati." Bagas mengambil ponsel nya dan mencari kontak Galih.
"Selesai." Bagas meletakkan ponsel Rena di atas meja.
"Bahagia banget, habis dapat hadiah pak."
"Lebih dari itu." Bagas memeluk Rena kembali dan menggelitik pinggang Rena.
"Mas,,, geli.. nanti perut aku sakit." Rena memukul-mukul lengan Bagas.
Bagas menghentikannya dan mencium wajah Rena bertubi-tubi
"Mas,,, nanti wajah ku penyok." Rena mendorong pelan tubuh Bagas sambil cemberut.
"Mana ada, wajah penyok karena di cium." Bagas mencubit bibir Rena yang cemberut.
"Sudah, aku mau tidur, ngantuk." Rena beranjak dari duduknya menuju kamar.
"Jangan tidur malam-malam." Rena membalikkan tubuhnya.
"Siap tuan putri."
Rena melanjutkan berjalan ke kamar tidur sambil tersenyum.
"Aku akan menjaga rumah tangga kita Ren."
*******
"Bre**sek. Ini pasti ulah Bagas."
Galih melihat ponselnya. Dia mengetahui nomor nya telah di blokir oleh Rena.
"Kamu pikir ini akan berhasil. Kamu salah. Aku akan selalu menghubungi Rena bagaimanapun caranya."
BERSAMBUNG
__ADS_1