
"Besok kalian jadi pulang?" tanya bu Yanti pada Bagas dan Rena.
"Iya bu, besok agak siang berangkatnya. Mas Bagas kan harus kerja bu. Nanti kalau kelamaan cuti busa-bisa di pecat." jawab Rena.
Sebenarnya bu Yanti masih menginginkan Rena untuk tinggal di rumahnya. Tapi beliau sadar, sekarang putrinya sudah berkeluarga.
Dan alangkah baiknya, jika seorang istri selalu senantiasa berada di dekat suaminya.
"Mbak Rena nggak di sini saja dulu. Kapan-kapan biar mas Bagas jemput." ucap Sera.
"Jangan, kasihan mas mu kalau bolak-balik. Jaraknya kan jauh." timpal pak Abdul.
"Ibu sama bapak nanti kalau mau datang ke rumah kita bilang saja. Biar nanti Bagas yang jemput." ucap Bagas.
"Bapak sama ibu saja nih yang di tawarin. Ingat kak, ada yang lain di sini." celetuk Sera.
"Iya iya, kamu juga Ser." kata Bagas sambil tertawa.
"Kok aku udah ngantuk ya mas. Padahal masih jam segini." kata Rena sembari menguap.
"Ya sudah kamu tidur sana. Sholat dulu baru tidur. Mas masih pengen ngobrol di sini." kata Bagas.
"Rena tidur dulu ya pak,bu." kata Rena sambil berdiri.
"Sepertinya aku itu nggak terlihat ya. Cuma bapak sama ibu yang di pamiti" kata Sera.
Rena melemparkan guling tepat ke arah Sera.
"Aww." teriak Sera saat guling yang dilempar Rena tepat mengenai kepalanya.
"Nak Bagas, ibu sama bapak titip Rena ya." ucap bu Yanti.
"Pasti bu." jawab Bagas.
"Rena itu anak yang lembut nak. Dia memang terlihat tegas. Tapi sebenarnya dia itu mudah tersentuh hatinya. Dia anak yang sangat baik." jelas pak Abdul.
"Iya benar tuh. Dulu saja jika ada yang jahat sama mbak Rena, terus dia minta maaf, pasti mbak Rena langsung maafin. Terus kalau aku bilang sama mbak Rena " HATI-HATI MBAK, PASTI CUMA MINTA MAAF BOHONGAN. BESOK DI ULANGI LAGI" Pasti mbak Rena bilang gini "NGGAK BOLEH BERPRASANGKA BURUK SAMA ORANG" Sebel kan." ucap Sera.
"Bagus dong Ser, kita kan harus saling memaafkan." kata pak Abdul.
"Benar kan bu, mbak Rena itu setipe sama bapak. Kalau Sera sih, jika ada yang minta maaf. Sera kerjain aja dulu. Enak banget. Udah nyakitin hati orang, tiba-tiba datang minta maaf. Waktu mau jahatin orang kenapa nggak mikir dulu. Lagu lama." kata Sera.
"Kamu tuh." kata pak Abdul sambil menepuk pelan bahu putri keduanya.
"Tapi biar begitu, mbak Rena juga bisa bersikap tegas low pak. Bapak ingatkan waktu ada yang lamar mbak Rena. Waktu itu mbak Rena bilang nggak. Ya tetap nggak. Padahal keluarga yang laki udah pakai segala macam bujukan. Bahkan mau di belikan mobil. Terus di buatkan rumah. Dan mau di kasih mahar yang banyak. Tapi mbak Rena tetap nggak mau. Katanya nggak suka." jelas Sera.
Bagas hanya terdiam mendengar perkataan dari Sera. Dia sempat berpikir, bagaimana jika keluarga Rena tahu. Jika dirinya pernah membuat Rena menangis dan merasakan sakit hati.
Bagas tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpa dirinya. Beruntungnya dirinya tidak terlalu jauh masuk ke dalam permainan Intan.
__ADS_1
Dan yang lebih membuatnya bahagia dan bersyukur, karena dia mempunyai istri seperti Rena. Seorang istri yang tidak pernah menceritakan aibnya dan masalah keluarga kecilnya pada orang lain. Termasuk keluarganya.
"Ya Alloh terimakasih banyak. Kau telah memberiku bidadari Mu." batin Bagas.
"Nak Bagas." panggil bu Yanti pelan.
"Eh, iya bu. Ada apa?" tanya Bagas tersadar dari lamunannya.
"Sekarang Rena sedang hamil. Biasanya, perempuan hamil memiliki emosi yang tidak stabil. Dan juga keinginannya tidak mudah di tebak. Jadi nak Bagas harus sabar menghadapi Rena. Jika saja Rena menjadi lebih sulit di mengerti." jelas bu Yanti.
"Baik bu, Bagas mengerti." ucap Bagas.
Selesai berbincang dan mendapat beberapa wejangan dari mertuanya, Bagas menyusul Rena ke dalam kamar.
*****
"Lina sudah pulang pak?" tanya bu Anis.
"Sudah, dari tadi." jawab pak Ramli.
"Bapak gimana sih. Kok nggak panggil ibu. Seharusnya bapak ngomong ke ibu dong. Ibu tu sudah menunggu kepulangan Lina dari tadi." omel bu Anis sambil berjalan menuju kamar Lina.
"Lin, ibu masuk ya." teriak hu Anis dari luar kamar Lina.
"Iya bu." sahut Lina dari dalam.
"Kenapa bu?" tanya Lina saat bu Anis sudah berada di dekatnya.
Lina yang masih bingung dengan perkataan ibunya hanya diam. Dia masih memandang ke arah ibunya sambil menerka-nerka maksud perkataan ibunya.
"Ibu ngomong apa sih. Mbak mu hamil" ucap Lina meniru perkataan ibunya.
"Kamu itu. Sama kayak bapakmu. Kalau di kasih tahu nggak cepat tanggap." ucap bu Anis geram.
"Mbak Rena hamil. Tadi mas mu telepon ke ibu. Dia bilang mbak Rena hamil, janinnya sudah berusia 6 minggu. Kamu mau punya ponakan. Sebentar lagi mau di panggil tante Lina." jelas bu Anis.
"Serius?" tanya Lina.
"Beneran?" tambah Lina.
"Ibu nggak lagi nge-prank Lina kan?" imbuhnya.
"Kamu itu." kata bu Anis.
Keduanya lantas saling berpelukan. Lina melepas pelukan ibunya dan berdiri. Kemudian jingkrak-jingkrak di atas kasur.
"Eh, eh, eh. Berhenti. Berhenti. Nanti kasur mu jeplok. Ibu juga nanti yang rugi. Jingkrak-jingkrak di lantai saja." ucap bu Anis saat melihat tingkah putrinya tersebut.
"Lina seneng pake, pake, pake banget bu." ucap Lina sambil memeluk ibunya lagi.
__ADS_1
"Melow lagi. Nangis lagi." ucap pak Ramli di depan pintu kamar Lina sambil berjalan pergi.
Sebenarnya dari tadi pak Ramli juga melihat kebahagiaan istrinya dan putri tercintanya. Pak Ramli juga sangat senang, karena akhirnya dia akan memiliki cucu.
Tapi beliau tidak mungkin menunjukkan rasa senangnya seperti istri dan putrinya. Mungkin karena beliau adalah seorang lelaki. Atau mungkin juga pak Ramli gengsi. Dan bisa juga pak Ramli ingin terlihat berwibawa di depan keluarganya.
Sontak, Lina dan bu Anis menoleh ke arah pak Ramli.
"Dasar lelaki. Nggak peka sama perasaan perempuan." ucap bu Anis.
"Betul." sahut Lina.
"Iblis betina itu pasti kejang-kejang dengar mbak Rena hamil." ucap Lina.
"Eh, jangan sampai dia tahu. Entah kenapa ibu jadi khawatir sama mbak mu." ucap bu Anis.
"Iya bu, Lina juga." kata Lina.
"Apalagi mbak mu itu orangnya baik. Nggak kayak kamu. Pecicilan. Diakan nggak suka sama kekerasan. Ribut-ribut gitukan dia nggak suka. Jadi kepikiran ibu Lin." kata bu Anis.
"Apalagi Intan itu, sumpah. Nekat banget. Tadi siang saja dia nyuruh orang buat ke butik. Buat beri pelajaran ke Lina. Beruntung di butik banyak orang." ucap Lina keceplosan.
"Apa. Intan melakukan hal itu." kata bu Anis naik pitam.
"Bu, tenang. Nanti bapak tahu. Bisa kena hukuman nanti Lina bu. Bu tolong, jangan keras-keras." ucap Lina sambil memegang lengan ibunya.
"Aduh, kenapa sih ini mulut nyrocos saja. Nggak bisa di erem." batin Lina.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya bu Anis khawatir.
"I am fine Mom." ucap Lina sambil menampilkan deretan giginya.
"Tadi dia juga ke sini. Kayak minta belas kasihan gitu sama ibu. Tapi maaf-maaf saja. Nggak mempan." tutur bu Anis.
"Bu, besok Lina pulang agak malam ya. Mau ambil motor dulu di bengkel." ucap Lina.
"Memang malam bengkel buka Lin." tanya bu Anis.
"Lina sudah menghubungi bengkelnya bu. Katanya bisa. Soalnya bengkel sama rumahnya kan jadi satu." ucap Lina berbohong.
"Maaf bu, Lina bohong." batin Lina.
"Kenapa nggak pagi saja sih Lin." kata bu Anis.
"Males. Pasti nanti terburu-buru." kata Lina mencari alasan.
Sebenarnya motor Lina sudah berada di rumah Galih. Karena pihak bengkel mengirim motor Lina ke alamat rumah Galih.
Karena sewaktu mengirim motor Lina ke bengkel, Galih tidak menyertakan alamat Lina. Dan kebetulan bengkel tersebut adalah bengkel langganan Galih. Jadi pihak bengkel mengira bahwa motor tersebut milik Galih.
__ADS_1
Sepulang dari butik, Lina bermaksud untuk bertemu dengan Galih. Dengan alasan akan mengambil motornya.
BERSAMBUNG.