Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 65


__ADS_3

Mira segera mengambil ponsel miliknya di dalam saku celana trenengnya. Dia berpura-pura selfi.


"Mas Tio."


Mira segera memasukkan kembali ponselnya, dan bergegas pergi tanpa menoleh ke belakang. Dia berjalan sesantai mungkin. Supaya Tio tidak mengetahuinya. Padahal dadanya bergemuruh hebat.


"Aku harus memperingatkan Rena. Dia tidak tahu, siapa Tio sebenarnya." batin Mira.


"Ternyata kamu biang keroknya. Kita lihat saja, apa yang akan aku lakukan untuk memberi kamu sebuah pengalaman hidup. Yang pastinya tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu." ucap Tio dengan seringai liciknya.


Di kantor, Leon dan Bagas kelabakan. Mira dan Galih tidak masuk bekerja secara bersamaan. Jika Mira sudah lebih dulu izin kenapa dia tidak masuk hari ini. Sedangkan Galih, dia tidak ada kabar sama sekali.


"Ini anak gimana sih. Di telpon nggak di angkat-angkat." kata Leon geram.


"Ponselnya aktif?" tanya Bagas.


"Aktif."


Sejak tadi Leon terus menghubungi Galih. Tetapi tidak ada jawaban dari Galih.


"Dari pada membuang waktumu menghubunginya terus menerus, lebih baik kamu kerjakan ini." Bagas memberikan sebuah map berisi beberapa lembar berkas.


"Ckkk."


Leon mengambilnya dari tangan Bagas sambil berdecak.


"Seharusnya, dia bilang kek kalau nggak masuk." ucap Leon terus menggerutu.


"Bagaimana jika kamu suruh Rena menghubungi Galih. Pasti dia akan mengangkatnya."


Entah mendapat ide dari mana, sehingga Leon berani berbicara seperti itu pada Bagas.


Bagas seketika menoleh pada Leon dengan tatapan membunuhnya.


"Oke, bercanda." kata Leon sambil duduk di kursi.


"Padahal ide gue setidaknya bisa membantu." gumam Leon.


*****


Sore hari, sekitar jam 4.


"Bu, Intan mau minta izin keluar sebentar. MU bertemu teman." kata Intan.


"Iya." jawab bu Anus singkat tanpa melihat pada Intan.


"Kenapa cuma sebentar. Pergi saja selamanya. Entah mengapa aku tidak suka dengan anak itu. Terlalu pemalas." gumam bu Anis setelah Intan pergi.


"Bu,,, Intan mana?" tanya Lina setengah berlari menuju ke tempat bu Anis.


"Nggak tahu. Tadi sih izin sama ibu, katanya mau keluar sebentar." ucap bu Anis.


"Kemana bu?" tanya Lina.


"Mana ibu tahu." jawab bu Anis sambil mengangkat kedua bahunya.


Sontak Lina berlari keluar rumah. Di bukanya gerbang pagar rumah. Dia menengok ke kanan kiri.

__ADS_1


"Ah siall,,, kemana perginya." Lina kembali berjalan ke dalam rumah.


Di sebuah kafe, nampak Intan duduk dengan secangkir kopi latte di hadapannya.


"Aku yakin, kamu pasti akan datang mas." kata Intan sambil mengangkat cangkir kopinya, dan menyeruputnya.


Ternyata Intan telah mengirim pesan pada Bagas sebelum datang ke kafe. Dia tidak segan-segan akan menceritakan kejadian di rumah orang tua Bagas, jika Bagas tidak datang menemuinya sekarang.


Suara pintu cafe terbuka, Intan menoleh. Senyum Intan mengembang sempurna di bibirnya.


"Sini mas." ucap Intan setelah Bagas mendekati tempatnya duduk.


Wajah bahagia Intan tidak dapat ditutupi. Dia tampak begitu bahagia Bagas datang menemuinya walau harus menggunakan ancaman.


"Katakan. Ada apa." tanya Bagas setelah duduk.


"Kok duduk di situ sih mas. Sini dong, biar dekat." kata Intan dengan nada bicara yang manja.


"Ada apa menyuruh saya datang ke sini." tanya Bagas dengan ekspresi datar.


Saat menoleh ke arah berbeda, badan Bagas menjadi panas dingin. Di melihat ada Dona dan Angga berada di dalam kafe tersebut.


Intan merasa Bagas memandang ke arah lain, dengan ekspresi terkejut. Intan mencari apa yang di lihat oleh Bagas. Bibir Intan terangkat sebelah.


"Mereka." batin Bagas.


"Kita pergi sekarang."


Bagas berdiri dan bergegas pergi keluar kafe sebelum kehadirannya di sadari oleh mereka. Intan hanya diam dan mengikuti Bagas.


"Mas kenapa sih." tanya Intan berpura-pura tidak tahu sambil bergelayut di lengan Bagas.


"Aku mau nyetir." kata Bagas.


Intan memang memindahkan tangannya dari lengan Bagas, tapi ia malah beralih mengelus paha Bagas.


Bagas melajukan mobilnya meninggalkan kafe.


"Mas, kita mau ke mana?" tanya Intan setengah berbisik di samping telinga Bagas.


"Ada apa kamu mengajak saya bertemu."


Bagas menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Sebenarnya saya ingin meminta tolong mas Bagas untuk mengantar saya ke rumah saya."


Bagas hanya melirik Intan.


Intan telah merencanakan akan membawa Bagas ke rumahnya.


"Sebenarnya saya takut pulang sendiri." ucap Intan.


"Dimana alamat rumah kamu?" tanya Bagas dengan ekspresi datar.


Sebenarnya Bagas busa saja menolak permintaan Intan. Tapi dia takut Intan mengatakan kejadian waktu itu pada Rena. Atau Bagas malah punya pikiran lain. Entahlah,,,,.


Intan menyebutkan alamat rumahnya. Sesampainya di tempat alamat yang di berikan Intan, Bagas memandang sejenak rumah tersebut. Iya,,, rumah yang sangat megah. Tetapi, kenapa Intan harus mengontrak.

__ADS_1


"Mari mas masuk?" ajak Intan.


Bagas melangkah membuntuti Intan.


"Mbok..." teriak Intan sampai di dalam rumah.


Dari arah berlawanan datang tiga orang paruh baya dengan tergopoh-gopoh.


"Non Intan." kata salah satu pembantu di rumah Intan.


Mereka heran, kenapa anak majikannya datang. Atau lebih tepatnya mau pulang ke rumah ini.


"Buatkan kami minum." kata Intan dengan memandang salah satu dari mereka.


"Kalian boleh pergi." ucap Intan sambil mengibaskan tangannya.


"Ehh,,, tunggu. Selama saya tidak tinggal di sini, apa ada yang mencari saya?" tanya Intan.


"Ada non, seorang lelaki. Masih muda. Beberapa kali sempat datang kemari. Menanyakan keberadaan non. Usianya kurang lebih, seperti tuan ini." jawab salah satu pembantu sambil menatap Bagas.


"Oke. Oh iya, nanti minumnya antar ke atas."


Bagas hanya menyimak obrolan mereka. Intan menoleh dan menggandeng tangan Bagas. Di bawanya Bagas naik ke lantai dua, melewati tangga.


Bodohnya Bagas, dia diam saja dan lagi-lagi menuruti keinginan Intan.


"Silahkan duduk mas. Disini biasanya Intan menenangkan diri." kata Intan sambil duduk di sebelah Bagas.


Bagas hanya memandang Intan dengan berbagai pertanyaan di benaknya.


"Pasti mas Bagas bingung ya." Intan mengelus pelan lengan kokoh Bagas.


Di bawanya tangan Bagas ke pahanya.


"Oke Intan, ceritakan kisah hidupmu. Tapi harus kaku bumbui. Supaya lebih nikmat." batin Intan.


"Maaf non, ini minumnya." kata pembantu yang baru saja datang.


Intan hanya memandangnya. Setelah meletakkan minuman tersebut, dia kembali lagi ke bawah.


"Sebenarnya setelah bercerai, mama menjalin hubungan dengan seorang pengusaha. Mama tidak tahu jika dia sudah beristri. Mama sangat mencintai dia. Begitupun sebaliknya. Entah apa yang terjadi, Intan tidak begitu paham. Pengusaha tersebut menceraikan istrinya. Di bilang, jika sejak dulu kehidupan yang dia jalani tanpa cinta. Akhirnya mama menikah dengan dia."


Intan mengalirkan air mata palsu di pipinya.


"Anak dari papa tiri Intan tidak terima. Dia selalu meneror aku mas."


Intan menangis dan memeluk Bagas. Tanpa hanya diam tanpa bergerak. Dia tidak membalas, ataupun menolak pelukan Intan.


"Makanya aku lebih memilih tinggal di kontrakan. Dan sekarang aku sangat nyaman berada di rumah orang tua kamu. Mereka sangat menyayangiku. Dan memperlakukan aku seperti menantu mereka." ucap Intan.


"Lalu saudara tiri kamu di mana?" tanya Bagas.


"Dia ada di kota ini juga. Dia selalu datang ke rumah ini. Dan jika kami bertemu, dia selalu bertindak kasar padaku."


Intan menangis dalam pelukan Bagas. Rasa kasihan Bagas tiba-tiba muncul. Tangannya terulur membelai bahu Intan.


"Yes... sedikit lagi Intan. Dia juga lelaki normal. Sentuhan fisik pasti bisa merangsangnya." batin Intan.

__ADS_1


Di rumah, Rena nampak gelisah. Bagas belum juga datang. Padahal di luar sudah mulai gelap.


BERSAMBUNG.


__ADS_2