Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 80


__ADS_3

Karena tidak bisa menemukan Tio di cafe, akhirnya Bagas dan yang lain meninggalkan cafe tersebut. Bagas kembali ke rumah sakit, sementara yang lain pergi dengan tujuan masing-masing.


"Pak, bu, sudah lama?"


Begitu sampai di ruangan Rena, Bagas langsung menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di kursi dan bersalaman.


Pak Ramli dan Bu Anis sama sekali tidak memandang ke arah Bagas. Ada perasaan kecewa di hati mereka. Pak Ramli mengelus pelan pundak bu Anis. Beliau takut jika istrinya terbawa emosi saat bertemu Bagas.


Apalagi saat ini mereka berada di rumah sakit. Dan Rena juga dalam keadaan sakit.


Bagas merasa sedikit aneh dengan tingkah kedua orang tuanya. Tapi dia mengacuhkannya. Dia berpikir, mungkin mereka sedang capek.


"Gimana mbak mu Lin?" tanya Bagas.


Bagas menghampiri Lina yang duduk di kursi samping ranjang Rena. Bahkan Lina pun enggan menjawab pertanyaan dari kakaknya.


"Lin, kamu hubungi mak Irah. Katakan supaya mak Irah tidur di rumah mbak mu saja malam ini." ucap bu Anis.


Lina berdiri dari duduknya dan berjalan ke tempat pak Ramli dan bu Anis duduk. Kemudian dia duduk di samping ibunya.


Bagas merasa aneh dengan tingkah keluarganya.


"Kenapa dengan mereka. Aku seperti tidak terlihat saja." batin Bagas.


"Ini bu, ibu ngomong sendiri ke mak Irah."


Lina menyerahkan ponselnya yang sudah terhubung dengan mak Irah pada ibunya. Bu Anis mengambil ponsel dari tangan Lina sambil mendengus. Sementara yang punya ponsel hanya memperlihatkan deretan giginya.


"Halo mak, nanti mak tidur saja di rumah Rena ya. Saya titip rumah ya mak. Jika ada apa-apa mak telepon Lina saja. Ya sudah mak, terimakasih."


"Ini."


Bu Anis mengembalikan ponsel milik Lina. Pak Ramli hanya diam dan terus memandang Bagas dari belakang.


"Pak." ucap bu Anis pelan.


Pak Ramli kemudian menoleh ke arah istrinya duduk.


"Ajak Bagas keluar jika bapak ingin bicara." kata bu Anis.


"Nanti saja, keadaannya masih seperti ini. Bapak hanya takut dengan kondisi Rena." ucap pak Ramli.


"Mas Bagas memang bodoh. Di luar sana banyak lelaki yang menginginkan mbak Rena. Eee,,, malah mau di sia-sia kan." imbuh Lina.


Pintu terbuka pelan dari luar. Ternyata Angga datang lagi untuk menemui Rena. Pikirannya tidak bisa tenang sebelum melihat kondisi Rena.


"Maaf mengganggu." ucap Angga sopan pada keluarga Bagas.


"Dokter, silahkan. Tidak mengganggu kok dok." kata bu Anis.


Kemudian Angga bersalaman dengan keluarga Bagas.


"Ganteng banget calon suami orang." batin Lina saat bersalaman dengan Angga.


"Ada apa lagi kamu datang ke sini." sarkas Bagas yang sudah berdiri dan menatap tajam pada Angga.

__ADS_1


Tentu Bagas sangat tidak menyukai kehadiran Angga di ruangan Rena.


"Bagas. Mana sopan santun kamu." tegur pak Ramli.


"Saya hanya ingin berbicara dengan Rena." jawab Angga dengan tenang.


Angga sadar, di sini semua keluarga Bagas tengah berkumpul. Tidak mungkin jika dia bertindak sangat tidak sopan.


"Rena sedang tidur. Dia butuh istirahat. Sebaiknya kamu keluar." kata Bagas.


"Bagas. Maaf dokter. Mungkin anak saya sedang banyak pikiran." ucap bu Anis merasa tidak enak pada Angga.


"Tidak apa-apa bu, kalau begitu saya permisi dulu. Nanti jika Rena sudah bangun saya akan ke sini lagi."


"Baiklah kalau begitu. Maaf ya dok." kata bu Anis.


Angga mengeratkan kedua rahangnya dan menahan emosinya sambil memandang Bagas. Kedua tangannya terkepal sempurna di dalam saku celananya. Lalu dia meninggalkan ruangan Rena.


Pak Ramli hanya diam sambil memperhatikan interaksi Bagas dan Angga. Sebagai lelaki, beliau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi pak Ramli tidak mau asal menebak saja.


"Kenapa kamu bersikap kurang ajar pada dokter Angga. Dia itu dokter yang sudah memeriksa istrimu saat dia sakit dulu." omel bu Anis.


"Jika ibu tidak tahu, lebih baik ibu diam saja." kata Bagas sambil duduk kembali.


"Maksud kamu apa bicara seperti itu pada ibu." kata bu Anis sedikit meninggikan intonasi suaranya.


"Bagas." tegur pak Ramli.


Bagas berdiri dan menghampiri ke dua orang tuanya.


"Bu, Angga juga menyukai Rena. Bukan hanya Galih bu, Angga juga." kata Bagas.


Sontak semua yang ada di ruangan menoleh ke arah Bagas.


"Mas Bagas yakin. Dokter Angga calon suaminya mbak Dona. Sahabat mbak Rena." kata Lina tidak percaya.


"Iya, semua juga tahu hal itu." ucap Bagas.


Pak Ramli dan bu Anis hanya saling pandang.


"Lalu Dona bagaimana?" tanya bu Anis.


"Dona juga tahu. Sudahlah bu, Bagas juga pusing. Saat ini Bagas hanya fokus mencari Tio." ujar Bagas.


"Eghhh..."


Terdengar suara lenguhan dari Rena. Sontak semuanya berdiri dan mendekat ke ranjang Rena.


"Mas sudah balik. Bagaimana?" tanya Rena.


Bagas menggelengkan kepalanya pelan. Melihat gelengan kepala suaminya membuat Rena merasa takut.


"Artinya Tio menghilang." kata Rena nanar.


"Mas akan berusaha mencarinya." kata Bagas yakin sambil memegang tangan istrinya.

__ADS_1


"Dia sangat licik mas." kata Rena dengan mata mulai mengembun.


"Hushhh,,, sudah kamu jangan takut. Kita semua akan menjaga kamu." kata bu Anis menangkan menantunya.


"Tio sangat menakutkan bu. Dia sangat nekat. Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan." kata Rena ketakutan.


"Apa kamu sudah melapor ke polisi?" tanya pak Ramli pada Bagas.


"Penjara terlalu mudah untuk bajingan seperti dia." kata Bagas dengan mata merah dan rahang yang mengerat.


Bagas teringat bagaimana keadaan kamar Tio yang berceceran bekas darah Rena.


"Mas, Tio sangat berbahaya. Rena takut jika terjadi apa-apa sama mas." jelas Rena.


"Kamu tenang saja. Semua akan baik-baik saja."


Bagas mencium kening Rena. Dan membelai rambut indah milik istrinya. Serta menghapus air mata Rena.


"Ya Alloh, jangan pisahkan mereka berdua. Apapun yang terjadi." batin bu Anis sembari menghapus air matanya.


Bu Anis membalikkan badan dan menangis ambil memeluk pak Ramli. Tangan pak Ramli menepuk-nepuk pelan bahu istrinya.


"Semoga hanya maut yang bisa memisahkan kalian berdua. Dan aku janji. Aku akan ikut menjaga ketentraman rumah tangga kalian." batin Lina.


Di tempat lain. Mira tengah mencari keberadaan Tio. Sekarang dia berniat mengakhiri pernikahannya.


"Aku tidak boleh seperti ini terus. Kehidupan terus berjalan. Sementara aku, hanya diam menunggu sesuatu yang akhirnya sudah bisa aku tebak. Benar kata Rena. Aku terlalu di butakan oleh kata cinta." kata Mira.


"Di mana kira-kira Tio saat ini berada." kata Mira sambil duduk sembari berpikir.


"Mungkin aku bisa mencarinya bersama Dona. Ya, benar. Lebih baik sekarang aku menemui Dona."


Mira mengirim pesan pada Dona. Dia bertanya dimana keberadaan Dona saat ini. Setelah mendapat jawaban dari Dona, dia langsung menuju ke tempat Dona.


Saat ini Dona berada di kantor milik Angga. Sebenarnya Dona mendatangi Angga karena ingin menanyakan soal pencariannya terhadap Tio.


"Mira sedang perjalanan menuju ke sini." kata Dona.


"Bagaiman ponselmu bisa berada di tangan Tio." tanya Angga.


"Aku juga tidak tahu."


"Kamu lihat. Gara-gara kecerobohan kamu, ada seorang wanita yang terbaring di ranjang rumah sakit. Dan pasti saat ini mentalnya juga terguncang." ucap Angga dengan raut wajah yang sangat tidak bersahabat.


"Aku juga tidak tahu. Kenapa kamu malah menyalahkanku. Aku datang ke sini bukan untuk berdebat." kata Dona.


"Lebih baik kamu pergi dari sini. Membuat mood ku semakin berantakan." sarkas Angga.


"Kenapa kamu tidak pernah sedikitpun memperlakukan aku seperti kamu memperlakukan Rena. Lembut, perhatian, tersenyum. Kenapa?" tanya Dona.


Angga hanya diam dan tidak menjawab.


"Aku calon istri kamu. Sedangkan Rena, dia perempuan yang sudah bersuami. Dan aku pastikan. Kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan Rena. Karena hati Rena hanya untuk Bagas."


"Keluar." teriak Angga dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2