
"Makasih ya mbak Yanti. Bilang sama Rena juga, makasih." ucap bu Dewi.
"Jadi tadi yang di depan rumah mbak Yanti itu mobil suaminya Rena?" tanya bu Dewi.
"Iya, tapi Rena pernah bilang masih nyicil." kata bu Yanti.
"Nggak apa-apa nyicil. Yang penting kan nggak nyuri mbak." ucap bu Dewi.
Sampai di rumah, bu Yanti menengok kembali Rena di dalam kamarnya.
"Ini anak. Tidur dari tadi nggak bangun-bangun. Kebo banget." ucap bu Yanti.
Bu Yanti pergi ke dapur dan menyiapkan makan siang
"Assalamua'alaikum." ucap pak Abdul dan Bagas bersamaan.
"Wa'alaikum salam." jawab bu Yanti.
"Rena mana bu?" tanya Bagas.
"Masih tidur. Lebih baik kamu bangunkan dia. Kita makan siang bareng." pinta bu Yanti.
Bagas pun masuk kedalam kamar. Sebelum membangunkan Rena, dia mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
"Sayang, bangun. Bapak sama ibu sudah nunggu kita di ruang makan." ucap Bagas dengan mengusap pipi Rena secara pelan.
"Bapak sama ibu?" tanya Rena seperti bingung.
"Iya. Makanya kamu bangun dulu. Biar sadar sepenuhnya. Ayo, duduk dulu." ujar Bagas.
Rena melihat sekelilingnya. Dan mulai teringat kembali, bahwa sekarang dia berada di rumah kedua orang tuanya.
"Lucunya istriku." kata Bagas gemas dengan memencet hidung Rena.
"Ayo." ajak Bagas.
Sampai di ruang makan Rena segera menyapa kedua orang tuanya.
"Ibu, bapak." ucap Rena sembari mencium telapak tangan keduanya secara bergantian.
"Cuci muka dulu sana. Baru makan." ucap bu Yanti.
Dengan langkah malas, Rena pergi ke belakang untuk membersihkan mukanya terlebih dahulu. Setelah selesai, ia bergabung bersama yang lain di ruang makan.
"Enak sekali masakannya bu." ucap Rena sambil melahap makanan yang ada di piringnya.
"Pelan-pelan." ucap bu Yanti.
"Nak Bagas jangan sungkan-sungkan. Kalau masih kurang tambah lagi." ujar pak Abdul.
"Iya pak, terimakasih. Ini saja sudah membuat perut saya penuh pak." ucap Bagas.
"Kamu nggak ngambil sayur asem nya Ren?" tanya bu Yanti.
"Nggak bu, tadi sebelum tidur Rena sudah makan sayur asemnya bu." tutur Rena dengan masih tetap fokus pada makanan di piring miliknya.
__ADS_1
"Tadi siang." gumam Bagas masih bisa didengar oleh yang lain.
Mendengar ucapan lirih dari Bagas, Rena hanya mengangguk kecil. Sementara pak Abdul dan bu Yanti hanya saling pandang.
Bagas juga merasa heran. Padahal tadi Rena sudah sarapan dengan porsi lumayan banyak. Belum lagi tadi di dalam mobil, Rena sempat makan camilan yang di bawa dari rumah.
Sampai di rumah pak Abdul makan lagi. Dan sekarang makan siang dalam porsi juga lumayan banyak.
Karena jujur saja Bagas juga tidak tahu porsi makan istrinya. Sebab, dia selalu berangkat saat pagi dan pulang sore hari.
Tapi seingat Bagas. Jika dirinya sedang di rumah dan tidak bekerja, Rena hanya makan dengan porsi sedikit. Bahkan saat Bagas menawari untuk menambah makanan, Rena selalu menolak.
Selesai makan siang, pak Abdul dan yang lain berkumpul di ruang tamu. Tidak lupa di tangan Rena sudah memegang camilan.
Sembari mengobrol, Rena selalu memasukkan camilan tersebut ke dalam mulutnya. Hingga ia tak sadar bahwa camilan tersebut sudah habis.
"Loh, kok habis." ujar Rena sambil melihat ke dalam bungkus camilan.
"Kan dari tadi kamu ambilin terus sayang." ucap Bagas sambil mengelus pelan rambut Rena.
Pak Abdul dan bu Yanti hanya tersenyum melihat mereka berdua.
"Sera pulang jam berapa pak?" tanya Bagas.
Sementara Rena sudah berdiri dari duduknya dan berjalan menuju belakang. Saat kembali, di tangannya sudah memegang toples berisi camilan.
"Biasanya jam setengah 4 sore sudah sampai rumah." jawab pak Abdul.
"Ren, nanti perut kamu sakit. Kamu dari tadi mas lihat makan terus." ucap Bagas.
Padahal Bagas menegur Rena dengan nada yang pelan dan lembut. Dia hanya khawatir jika Rena sakit perut karena terlalu banyak makan. Tapi entah kenapa Rena malah menjawab dengan perkataan yang ketus.
"Rena." tegur bu Yanti dengan intonasi sedikit tinggi.
"Nak Bagas jangan di ambil hati. Mungkin Rena sedang sensitif." bisik pak Abdul.
Karena pak Abdul duduk tepat di sebelah tempat duduk Bagas.
"Mulai dari kapan kamu suka ngemil?" tanya bu Yanti.
"Sudah seminggu ini bu. Perut Rena lapar terus. Bawaannya pengen makan saja. Nanti kalau Rena nggak makan, pasti Rena ngantuk." jelas Rena.
"Kamu hamil?" tanya bu Yanti
Rena langsung menatap ke arah bu Yanti dan menggeleng pelan.
"Kamu itu menggeleng, tidak hamil, atau belum tahu?" tanya bu Yanti.
Sementara Bagas dan pak Abdul hanya diam menyimak keduanya. Sungguh, saat bu Yanti tanya apakah Rena hamil atau tidak, hati Bagas merasakan ada desiran halus.
Antara merasa bersalah karena belum bisa memberikan cucu untuk mertuanya atau ada perasaan lain dalam hatinya. Seperti berharap mendengarkan jawaban "iya" dari istrinya.
Rena lantas menoleh ke arah Bagas.
"Kamu kok di tanya malah melihat suamimu." ucap bu Yanti.
__ADS_1
"Rena memang sudah telat sekitar seminggu bu, tapi Rena belum memastikannya. Rena takut kecewa." ucap Rena lirih sambil menunduk.
Bagas tersenyum tipis mendengar perkataan Rena. Dia berharap istrinya benar-benar hamil. Bukan hanya Bagas yang mengharapkan Rena hamil. Tapi seluruh keluarga besar mereka juga berharap demikian.
"Seharusnya kamu cek dulu sebelum kemari. Kan bahaya. Bagaimana jika kamu hamil. Jarak rumah kamu ke sini kan jauh nak." ucap bu Yanti dengan lembut sambil mengelus lengan putrinya.
"Aku kan kangen sama masakan ibu. Memang nggak boleh ke sini." rajuk Rena.
"Boleh." ucap bu Yanti sambil tersenyum dan memeluk Rena.
Senyum yang terukir di wajah bu Yanti menyiratkan sesuatu. Beliau menatap ke arah suaminya sembari mengangguk. Seperti mengisyaratkan sesuatu.
Sementara Bagas yang tidak mengerti hanya diam dan hanya bisa membatin dalam hatinya.
"Semoga kamu hamil sayang." batin Bagas.
*****
Ketukan pintu rumah membuat bu Anis menghentikan kegiatan merajutnya. Beliau berdiri dan membuka pintu untuk melihat siapa yang bertamu ke rumahnya.
"Kamu. Mau apa?" tanya bu Anis dengan ketus setelah tahu siapa yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Bu, bisa Intan bicara sama ibu." ucap Intan dengan sopan.
"Ya sudah bicara saja. Saya nggak punya banyak waktu." kata bu Anis.
"Cepetan bicara, ada apa?" tanya bu Anis tanpa mempersilahkan Intan untuk masuk ke dalam rumah.
Intan membuka topi yang menutupi kepalanya. Bu Anis hendak tertawa saat melihat rambut Intan saat ini. Tapi beliau menahan tawanya.
Sekarang rambut Intan di potong pendek. Persis seperti seorang lelaki. Dan itu semua karena kerjaan dari putrinya, Lina.
"Ibu lihat. Ini semua karena Lina. Anak ibu." ucap Intan.
"Terus." kata Intan.
"Apa ibu nggak kasihan sama saya. Saya malu bu untuk keluar rumah dengan rambut seperti ini. Saya berharap ibu bisa bicara dengan Lina tentang masalah ini." ucap Intan.
"Malu. Ya Ampun, kamu masih punya malu. Menggoda dan menginginkan lelaki beristri saja kamu tidak malu." kata bu Anis.
"Kalau kamu malu keluar dengan rambut seperti itu, kamu pakai jilbab saja. Eh jangan. Kan nggak enak, masa berjilbab kok menginginkan suami orang."
"Dan satu hal lagi. Tindakan putri tersayang saya itu sudah sangat tepat. Untung saja bukan saya yang memegang gunting. Kalau saya, hemmm sudah saya habiskan rambut kamu itu." ujar bu Anis.
"Kenapa, mau marah. Mau mukul saya." ucap bu Anis.
Karena bu Anis melihat kedua tangan Intan yang sudah mulai mengepal sempurna dengan raut wajah marahnya.
"Kamu mau saya teriak. Biar semua tetangga pada datang. Biar mereka semua tahu. Siapa kamu. Sana kamu pergi. Jijik saya lihat kamu." ucap bu Anis.
"Badan kayak triplek. Lurus. Wajah pas-pasan. Nggak ada cantik-cantiknya. Makanya nggak heran kamu mau rebut lelaki yang sudah beristri. Pasti kamu itu nggak laku." imbuh bu Anis.
Bu Anis langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Padahal Intan masih berdiri di depan pintu rumahnya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1