
Bagas keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya.
"Di usir sama ibu ya?" kata Bagas menggoda Rena.
Rena yang sedang duduk di tepi ranjang sambil melamun langsung menoleh ke arah Bagas.
"Nggak." ucap Rena sambil berdiri menghampiri suaminya.
"Udah nggak panas lagi."
Bagas menyentuh dahi Rena.
Rena membantu Bagas memakai pakaiannya. Bagas terus menatap secara intens wajah Rena.
"Ada apa mas, apa ada yang mau mas tanyakan."
Rena sadar jika sedari tadi Bagas terus menatap wajahnya.
"Cantiknya istriku."
Bagas meraih pinggang Rena dan mengeratkan pada badannya.
"Aku tahu, ada yang mas ingin tanyakan. Tanya saja, dari pada mas menebak nebak sesuatu yang belum pasti."
Rena seolah bisa membaca pikiran Bagas. Di tuntunnya Rena untuk duduk di kursi. Sedangkan Bagas duduk berjongkok sambil menjinjitkan kakinya di hadapan Rena.
"Jangan duduk di situ. Lebih baik kita duduk di sana."
Rena menunjuk ranjang tempat mereka tidur.
"Di sini saja." Bagas mengambil tangan Rena dan menciumnya.
"Katakan, ada apa."
"Tentang kamu dan Galih." Bagas menundukkan kepalanya.
"Aku akan bercerita semuanya. Tapi mas jangan memotong ceritaku. Biarkan aku selesaikan dulu, baru mas boleh bertanya."
Bagas mengangkat kepalanya untuk memandang Rena dan mengangguk.
"Apa nanti mas nggak terlambat kerja."
Bagas menoleh ke arah jam dinding yang tertempel di dinding. Kemudian dia menggeleng.
"Masih banyak waktu. Dari pada aku penasaran. Nanti malah nggak konsen kerja."
"Baiklah, waktu mas melarang ku naik kerja dengan naik sepeda motor. Dan saat itu mas bilang mau pergi ke kota sebelah untuk meninjau lokasi proyek. Jadi mas harus menggunakan mobil. Waktu itu aku mencari ojek di pangkalan. Tapi tidak ada ojek satu pun. Terus aku berjalan sampai jalan yang biasanya di lewati angkot. Tapi sudah lama aku menunggu, tidak ada angkot yang lewat." Rena terdiam sesaat sebelum melanjutkan ceritanya.
"Sebuah mobil berhenti tepat di depan ku. Ternyata Galih. Dia menawarkan untuk mengantarku bekerja. Tapi aku tidak mau. Aku takut mas akan marah. Tapi Galih tidak kunjung pergi, dan benar saja tidak ada angkot yang lewat. Padahal butik sudah buka. Akhirnya aku setuju untuk di antar Galih."
"Di dalam mobil, Galih bilang dia mau ke kota sebelah untuk meninjau lokasi proyek untuk menggantikan kamu. Karena dia bilang mas nggak bisa pergi ke sana."
"Galih meminta nomorku, dia bilang jika di rumah, mas pasti sulit untuk di hubungi. Kemudian aku berikan nomor ku. Aku sempat berfikir, mungkin bukan Galih yang selama ini memberi pesan pesan aneh padaku. Karena dia saja tidak punya nomorku. Makanya aku berikan nomorku."
Bagas dengan sabarnya mendengarkan setiap perkataan Rena.
"Sayang, apa pernah Galih menemui kamu di butik."
__ADS_1
"Nggak pernah mas, jika mas tidak percaya mas bisa tanya ke Intan. Dia kan ada di rumah ibu sekarang." kata Rena.
"Apa aku perlu menelpon Intan." kata Rena kemudian.
"Tidak perlu, mas percaya. Maafkan mas ya. Sudah cemburu sampai membuat kamu seperti ini."
"Rena juga minta maaf, tidak menuruti perkataan mas."
"Intan, sebenarnya apa yang di inginkannya. Aku harus berhati-hati, apalagi tentang kejadian waktu itu. Dasar bedebah sialan." batin Bagas.
"Mas keluar yuk, kita sarapan."
Di meja makan bu Anis sudah duduk untuk menunggu kedatangan Rena dan Bagas.
"Maaf bu, jadi menunggu kami."
"Nggak apa-apa. Gimana keadaan kamu. Sudah lebih baik."
"Sudah bu."
Seperti biasa, Rena melayani Bagas saat di meja makan. Bu Anis yang melihat ketelatenan Rena tersenyum. Beliau sangat bersyukur memiliki mantu seperti Rena.
Saat mereka sedang sarapan, pintu depan di ketuk dari luar. Mak Irah yang mendengar pun langsung berlari dan membukanya.
"Pak Dokter, silahkan masuk pak."
Mak Irah mengajak Dokter Angga ke ruang makan.
"Maaf mas, ada pak Dokter."
Semua lantas menoleh ke arah mak Irah.
"Maaf jika kedatangan saya terlalu pagi. Sehingga mengganggu waktu sarapan kalian. Sebenarnya saya sekalian lewat untuk berangkat ke rumah sakit. Saya ingin memastikan keadaan bu Rena."
Angga berkata dengan senyum selalu merekah di bibirnya dan nada yang sangat sopan.
"Jadi anda dokter yang memeriksa menantu saya."
Bu Anis berdiri dan segera berjabat tangan dengan Angga.
"Mak, ambilkan piring satu lagi mak." kata bu Anis menyuruh mak Irah.
Bagas dan Rena hanya diam saja. Bagas melirik istrinya. Tampak Rena menampilkan raut tidak suka atas kedatangan Angga. Dan Bagas menyadari hal tersebut.
Bagas memegang paha Rena dan mengelusnya. Rana menoleh ke arah Bagas. Bagas dan Rena saling tersenyum.
"Ini pak Dokter piringnya." kata mak Irah.
"Silahkan di ambil pak, seadanya. Tadi ini saya yang masak. Jadi rasanya tidak seenak masakan Rena." ucap bu Anis.
Angga langsung memandang ke arah Rena. Tetapi Rena tidak peduli. Dia mengacuhkan kedatangan Angga.
"Sayang, aku harus berangkat kerja." kata Bagas sambil berdiri.
"Maaf dok, saya tinggal dulu. Soalnya saya mau berangkat kerja."
"Silahkan." kata Angga.
__ADS_1
"Memang itu yang aku inginkan. Tanpa kamu di samping Rena." batin Angga.
Bagas kemudian bersalaman dengan bu Anis dan Angga.
"Bu, saya ke depan dulu. Mau antar mas Bagas." kata Rena pamit pada mertuanya.
"Mas hati-hati ya." ucap Rena sambil mencium telapak tangan Bagas.
"Baik-baik di rumah. Jika ada apa-apa segera hubungi mas." kata Bagas sambil mencium pipi Rena.
"Jangan terlalu jutek dengan Angga, dia calon suaminya Dona." tutur Bagas.
"Andai kamu tahu apa yang telah dilakukan Angga pada ku mas, pasti kamu tidak akan pernah bilang seperti ini." batin Rena.
Sebenarnya Rena ingin menceritakan perlakuan Angga pada Rena saat dia terbaring sakit pada Bagas. Tetapi di rumah masih ada ibu Anis. Rena tidak mau jika mertuanya tahu. Dan akan kepikiran akan hal itu.
"Hati-hati."
Rena melambaikan tangan saat mobil Bagas keluar dari pekarangan rumah. Setelah itu di kembali masuk ke rumah.
"Ternyata dokter Angga ini calon suaminya mbak Dona ya, ibu baru tahu."
Rena segera duduk di tempat makan yang tadi sempat ia gunakan.
"Pasangan yang serasi ya Ren. Dokter Angga dan mbak Dona. Cantik dan tampan." kata bu Anis dengan antusias.
Rena memutar matanya dengan malas.
"Bagaimana, masakan ibu enak?" tanya bu Anis.
"Enak bu." jawab Angga dengan senyum di bibirnya.
"Gratis ya enak." gumam Rena.
"Apa Ren?" tanya bu Anis.
"Nggak bu, masakan ibu enak."
Angga sempat mendengar ucapan dari Rena. Tapi sedikitpun dia tidak merasa tersinggung. Bahkan dia sangat senang. Angga memandangi Rena dengan bibir terus senyum.
"Tapi masih enak masakan Rena low Dok." kata bu Anis memuji menantunya.
"Kapan-kapan Dokter harus mencobanya, iya kan Ren?"
"Iya bu." jawab Rena sambil tersenyum menghadap bu Anis.
"Pak Dokter mau memeriksa Rena ya, silahkan kalau begitu. Ren, ajak ke kamar sana. Biar kamu di periksa." kata bu Anis.
"Rena sudah sembuh bu, tidak perlu di periksa lagi." kata Rena.
Sebenarnya Rena sangat malas harus berurusan dengan Angga.
"Kamu itu, di bilangin ngeyel. Cepat sana. Kasihan pak Dokter, dia harus ke rumah sakit setelah ini."
Tidak mau mengecewakan ibu mertuanya, akhirnya Rena mau di periksa oleh Angga.
"Baik bu. Kita ke ruang tengah saja. Tidak perlu ke kamar."
__ADS_1
Rena berjalan mendahului Angga menuju ruang tengah.
BERSAMBUNG.