Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 76


__ADS_3

"Ada apa dengan Rena?" tanya Bagas begitu sampai di rumah sakit.


"Tidak tahu." jawab Dona.


Dona menceritakan bagaimana mereka menemukan Rena. Dona kemudian memanggil suster. Dan bilang jika suami pasien sudah ada di sini.


Susterpun mengantar mereka ke ruangan dokter.


"Aku titip Rena sebentar." kata Bagas dengan memandang Wati dan Sari bergantian.


"Iya mas."


Dona dan Bagas menemui dokter yang memeriksa Rena.


"Sebenarnya ada apa dengan istri saya dok?" tanya Bagas setelah duduk di kursi depan dokter.


"Yang tahu sebenarnya terjadi hanyalah istri bapak sendiri. Tapi menurut pemeriksaan saya, istri bapak hampir di perkosa." jelas dokter.


Deggg....


Bagas dan Dona saling pandang.


"Tapi tenang saja, masih hampir. Saya sudah memeriksa alat vital istri bapak. Tidak terjadi apa-apa di dalamnya."


"Lalu, ibu dokter tahu dari mana?" tanya Dona.


"Ada beberapa bekas kiss mark di bagian tubuh atas pasien. Dan juga, di kedua pundak pasien ada bekas cengkeraman tangan. Bisa di lihat dari bekasnya, cengkeraman tangannya sangat kuat. Hingga menimbulkan bekas." jelas dokter.


"Tapi istri bapak sangat hebat. Dia berjuang untuk lari, padahal luka di telapak kakinya sangat banyak."


"Apa saya sudah boleh menemuinya dok?" tanya Bagas.


"Silahkan, tapi jangan di ganggu dulu. Biarkan pasien istirahat." kata bu Dokter.


"Baik Dok, terimakasih."


Dona dan Bagas pergi ke ruangan Rena di antar oleh suster. Wati dan Sari juga berada di dalam ruangan Rena saat ini. Mereka berdua kekeh tidak mau pulang.


Melihat keadaan istrinya membuat hati Bagas seperti di sayat-sayat. Di lihatnya Rena dengan wajah yang masih pucat.


"Siapapun dia, pasti akan aku cari." ucap Bagas sambil menggenggam tangan Rena.


"Tenang saja, aku juga tidak akan membiarkannya lolos dengan mudah." ucap Dona yang tengah berdiri di samping Bagas.


*****


"Bapak nggak kerja?" tanya Lina.


"Nggak, badan bapak sedikit nggak enak. Mungkin karena flu." jawab pak Ramli.


"Intan ke mana. Kemarin minta izin sama ibu, katanya cuma sebentar. Sampai sekarang belum balik-balik lagi." omel bu Anis sambil mengupas buah.


"Dia tidak akan kembali ke sini bu." jawab Lina dengan santai.


Pak Ramli dan bu Anis menoleh ke arah putrinya tersebut.


"Ada sesuatu yang Lina akan ceritakan pada bapak dan ibu." kata Lina.


Dan,,,,, akhirnya Lina bercerita tentang Intan dan Bagas pada ke dua orang tuanya.


"Apa!"


Nafas bu Anis nampak tak beraturan. Sementara wajah pak Ramli masih terlihat tenang.


"Aku harus bicara dengan Bagas."


Bu Anis hendak berdiri, tapi di hentikan oleh pak Ramli.

__ADS_1


"Bu, tenang dulu. Jangan sampai emosi ibu menguasai hati." kata pak Ramli menenangkan istrinya.


"Apa mbak mu sudah tahu?" tanya pak Ramli.


Lina hanya menggeleng pelan.


"Bagaimana Bagas bisa melakukan hal sehina ini." gumam pak Ramli.


"Telpon rumah mas mu Lin, tanya mak Irah. Mas mu sudah pulang apa belum?" suruh pak Ramli.


"Tidak perlu telepon. Kita langsung ke sana saja." ucap bu Anis.


"Bu,, bapak bilang jangan emosi. Kita harus tanya Bagas dulu dengan cara baik-baik."


Lina akhirnya menelpon rumah Bagas. Tetapi hal mengejutkan malah di dengar oleh Lina.


"Apa mak? Ya sudah Lina tutup teleponnya mak."


"Ada apa Lin?" tanya bu Anis cemas.


"Mbak Rena ada di rumah sakit." jawab Lina.


"Kok bisa?"


"Nggak tahu." jawab Lina dengan menggelengkan kepalanya.


"Kita ke rumah sakit sekarang." kata pak Ramli mengajak bu Anis dan Lina.


*****


"Lina brengsek. Merusak semua rencana ku." kata Intan yang sedang duduk di taman belakang rumahnya.


"Apa aku memberitahu Rena saja, tentang kejadian antara aku dan mas Bagas. Ya,, walaupun tidak sampai tahap itu." ucap Intan.


"Ini non Intan minumnya."


Seorang pembantu datang membawa minuman untuk Intan. Lalu di letakkan nya minuman tersebut di meja samping Intan. Kemudian dia kembali lagi ke dalam rumah.


"Tidak. Jika aku memberitahu Rena, mas Bagas pasti akan membenciku. Lalu aku harus apa. Berpikir Intan." ucap Intan pada dirinya sendiri.


"Ya,, aku akan tetap mendekati mas Bagas lewat cara halus. Kelemahan mas Bagas hanya satu. Anak. Ya,, benar. Kamu hebat Intan."


Intan bicara sambil tertawa dan bertepuk tangan untuk memuji dirinya sendiri.


"Wong edan, ndak waras." kata seorang pembantu yang melihat Intan dari kejauhan.


*****


Rena membuka ke dua bola matanya.


"Sayang..."


Bagas langsung mencium tangan Rena.


"Ren.."


"Mbak Rena."


Mereka semua berdiri di samping Rena. Hanya Bagas yang duduk di samping Rena.


"Enghhh..."


Rena hendak menggerakkan kakinya. Tapi kakinya masih terasa sangat sakit.


"Mbak, jangan di paksakan mbak berbaring saja." kata Wati.


"Mana yang sakit?" tanya Bagas.

__ADS_1


Bagas menyibakkan selimut, terlihat telapak kaki Rena penuh dengan perban. Bahkan kaki bagian bawah milik Rena juga membengkak.


"Ya Alloh,," kata Bagas.


Bagas memang tidak tahu jika kaki Rena separah ini. Karena kaki sampai perut Rena berada di bawah selimut.


"Apa yang terjadi Ren. Ceritakan pada kami." pinta Dona.


Tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Semua mata langsung melihat siapa gerangan yang telah membuka pintu tersebut.


"Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit milik ku saja." kata Angga begitu sampai di dekat mereka.


"Kamu tahu dari mana jika Rena ada di sini?" tanya Dona heran.


Angga tidak menjawab pertanyaan Dona. Dia malah semakin mendekat ke ranjang pasien milik Rena.


Bagas melihat kehadiran Angga dengan tatapan jengkel. Rena yang mengerti langsung memegang tangan Bagas.


"Ini rumah sakit." ucap Rena lirih.


Bagas hanya mengangguk pelan.


"Ini rumah sakit terdekat." kata Dona lagi.


"Kenapa kamu tidak menghubungiku?" kata Angga pada Rena.


Angga tidak menghiraukan tatapan mata Bagas dan semua orang di ruangan ini pada dirinya. Seolah-olah mereka tidak ada di ruangan.


Dona yang memahami situasinya langsung memegang lengan Angga.


"Yang terpenting Rena tidak kenapa-napa sayang." kata Dona pada Angga.


sayang....


Semua orang di dalam ruangan menoleh ke arah Dona.


Sementara Rena hanya tersenyum melihat tingkah konyol sahabatnya tersebut.


Saat Angga hendak melepas pegangan tangan Dona, pemilik tangan tersebut malah mengeratkan pegangannya. Seolah takut jika sampai terlepas.


Angga menatap Dona dengan tatapan horor miliknya. Sementara yang di tatap malah menampilkan deretan giginya yang putih.


Menyebalkan bukan.... 😁😁😁


Suasana jadi hening. Tapi ini terjadi hanya untuk sementara. Dan,,, pintu terbuka kembali dari luar.


Tampak tiga orang masuk ke ruangan tersebut. Leon, Mira, dan pastinya Galih.


"Maaf, kami hanya ingin menjenguk Rena." kata Mira.


Merasa terlalu banyak orang di ruangan, Wati dan Sari memutuskan untuk pamit terlebih dahulu.


Rena terus memandang Mira. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran Rena. Melihat wajah Mira membuat dia teringat akan Tio.


Galih melihat melihat telapak kaki Rena yang di perban. Dia mendekat, dan sedikit mendorong tubuh Angga yang menghalangi langkahnya.


"Kamu kenapa Ren?" tanya Galih dengan pandangan matanya mengarah ke kaki Rena.


"Lebih baik kalian keluar, Rena butuh istirahat" ujar Bagas.


Bagas tidak suka mereka ada di dekat Rena. Siapa lagi kalau bukan Angga dan Galih.


"Tidak." kata Galih dan Angga bersamaan.


"Sebelum aku tahu apa yang terjadi, aku akan tetap di sini." kata Angga.


Rena hanya memejamkan mata mendengar perkataan Angga. Walaupun tidak begitu mengenal Angga, tapi Rena tahu sedikit sifat Angga.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2