Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 64


__ADS_3

"Akhirnya gue menemukannya. Ternyata selama ini dia begitu dekat dengan gue." kata Galih sambil menyetir mobil.


Sesampainya di rumah, Galih berjalan menuju ruang kerjanya. Di mana terdapat ruang rahasia di dalamnya. Dan hanya Galih sendiri yang bisa membukanya. Jadi tanpa perintah dari dia pun, pembantu di rumah tidak bisa masuk ke ruangan tersebut.


Galih merebahkan badannya di kasur berukuran besar miliknya. Terlintas bayangan masa lalunya. Dimana kedua orang tuanya bertengkar hebat saat itu.


Semua itu masih membekas dalam ingatannya. Saat itu, waktu dirinya masih SMA. Kehidupan keluarganya yang awalnya bahagia terusik karena kedatangan seorang perempuan, yang berhasil menggoda papanya. Hingga berujung perceraian kedua orang tuanya.


"Ma, aku menemukannya. Menemukan anak perempuan ****** itu." gumam Galih sambil memandang langit-langit kamarnya.


Ternyata Intan adalah anak dari perempuan yang sudah menghancurkan keluarganya. Galih yang merasakan sakit hati, memendam rasa dendam yang dalam pada mereka.


Apalagi sekarang mamanya sedang melakukan pengobatan di luar negeri tempat mamanya di lahirkan dan di besarkan. Mama Galih mengalami tekanan mental setelah perceraian itu terjadi. Namun saat ini, kondisinya sudah berangsur membaik.


Selama ini Galih hanya tinggal bersama dua orang pembantunya. Galih di beri satu perusahaan oleh papanya di kota tersebut, namun dia masih enggan untuk mengelolanya. Sehingga papanya menyerahkan tanggung jawab perusahaan pada orang kepercayaannya sampai Galih mau mengelolanya.


"Seandainya gue mempunyai seseorang seperti Rena di samping gue, pasti keadaan gue nggak bakal kayak gini. Ada teman yang bisa gue ajak ngobrol."


Di kamar Galih, terpasang foto Rena di dinding. Dengan berbagai ukuran. Karena Galih tidak hanya memasang satu foto.


Saat melihat foto tersebut Galih teringat perkataan Bagas di kantor. Bahwa Rena yang telah memberinya saran untuk masalahnya di kantor.


"Beruntung sekali Bagas, mempunyai orang tua yang sangat memperhatikannya. Adik yang sangat menyayanginya. Bahkan sekarang mempunyai istri yang sangat mencintai dia."


Galih bangun dari tidurnya dan tertawa hambar. Di teringat saat dulu pernah datang ke rumah Bagas.


"Padahal, keluarga mereka tidak kaya. Masih lebih berkali-kali lipat kaya keluarga gue. Mama gue berasal dari keluarga kaya raya. Papa juga. Tapi apa, semua tidak berguna!"


Galih berteriak sambil mengacak acak tempat tidurnya dan membuang beberapa barang di mejanya.


Papa Galih lebih memilih tinggal bersama mamanya Intan. Dan saat ini mereka telah resmi menikah. Meskipun waktu itu mereka menikah secara siri. Karena papanya Galih belum bercerai dengan mamanya.


*****


"Tan, elo ngapain di luar?" tanya Lina di ambang pintu.


"Cari angin." kata Intan.


Lina melirik ke arah layar ponsel Intan. Tetapi sepertinya Intan tengah memainkan permainan di ponselnya.


"Ya sudah, gue masuk lagi." kata Lina sambil membalikkan badannya dan melangkah pergi.


"Mas Bagas sama sekali nggak merespon wa gue. Gue harus cari cara buat mendekati dia." kata Intan lirih.


"Tapi gue nggak boleh gegabah." batin Intan.


Lina sebenarnya tidak benar-benar masuk ke dalan rumah. Dia berada di balik jendela, sambil sedikit membuka gorden untuk mengintip Intan.


"Apa yang sedang Intan pikirkan." batin Lina.


Intan memang membuka aplikasi game, tapi tidak memainkannya. Tangannya bahkan tidak menyentuh layar ponselnya.


"Lihat pak anakmu." kata bu Anis pada pak Ramli sambil menunjuk ke arah Lina.


"Biarkan saja, dia bilang akan berbicara jika sudah memastikannya." ucap pak Ramli.

__ADS_1


Pak Ramli dan bu Anis melihat Lina yang tengah mengintip Intan dari balik jendela.


"Kayak detektif saja." kata bu Anis dengan mengelengkan kepala pelan dan melenggang pergi bersama pak Ramli.


Di rumah Bagas, nampak Rena dan Bagas tengah berada di depan televisi. Dengan Rena membaringkan badannya dengan paha Bagas sebagai bantalnya.


"Mak Irah pulang?" tanya Bagas.


"Iya, tadi sore. Katanya mau membersihkan rumahnya. Karena sudah dua hari tidur di sini." jawab Rena.


"Emmm."


"Mas, gimana di kantor."


"Baik." jawab Bagas sambil menjawil hidung Rena.


Rena masih memandang suaminya. Bagas mengerti bahwa jawabannya terlalu singkat untuk Rena.


"Semuanya berjalan lancar. Kembali lagi seperti semula. Dan itu semua terjadi,,, karena istriku."


Bagas membungkukkan badannya dan mencium dahi Rena.


Malam bergulir begitu cepat. Sang Surya sudah tidak sabar menampakkan dirinya pada semua makhluk di bumi.


Pagi hari, Rena jalani seperti biasa. Melayani Bagas sampai sang suami pergi berangkat bekerja. Hari ini Rena belum masuk kerja.


"Mak, mak Irah."


Rena berjalan menuju belakang. Di lihatnya mak Irah sedang membereskan meja makan.


"Mak maaf ya Rena nggak bisa bantu." kata Rena.


" Rena mau keluar sebentar. Mau jalan-jalan. Mumpung belum terlalu panas." ucap Rena.


"Iya mbak, tapi jangan jauh-jauh. Nanti kecapekan. Mbak kan baru sembuh." tutur mak Irah.


"Oke. Rena berangkat mak. Mak tenang saja, Rena hanya berputar di komplek ini. Mungkin cuma sampai taman."


Rena berjalan pelan, sesekali berpapasan dengan warga sekitar dan bertegur sapa.


Sampai di taman, Rena melihat seseorang yang tidak asing di matanya. Dia pun mendekati orang tersebut.


"Mbak Mira." sapa Rena setelah mendekat.


"Hai.." ucap Mita


Rena hanya memandang Mira dengan pandangan penuh tanya. Sebab, rumah Mira jauh dari taman ini. Apalagi ini masih pagi, dan bukannya ini waktu Mira bekerja. Tetapi Mira malah duduk di bangku taman.


"Sini."


Mira menepuk tempat duduk di sebelahnya. Menyuruh Rena duduk bersamanya. Rena mendudukkan bokongnya di bangku tempat Mira duduk.


"Kamu pasti herannya, kenapa aku ada di sini?" tanya Mira.


Rena hanya mengangguk dengan mata berkedip.

__ADS_1


"Kamu lucu banget sih Ren, makanya banyak yang suka sama kamu."


Mira tertawa melihat ekspresi Rena dengan anggukannya, yang menurut Mira seperti anak kucing. Sangat lucu dan imut.


"Apa sih mbak." jawab Rena dengan malu.


"Kamu pasti herankan, kenapa aku bisa sampai sini?"


"Iya, dan bukannya ini jam kerja."


"Rumah mertuaku ada di sana Ren." Mira menunjuk sebuah bangunan rumah yang megah.


"Waow,, yang besar itu mbak. Itu rumah orang tua suami mbak Mira. Mas Tio." tanya Rena seakan tidak percaya.


"Iya. Mereka sedang tidak enak badan. Aku dari semalam nginep di sana."


"Pantesan mbak nggak masuk kerja."


"Semuanya tidak seindah yang kamu bayangkan Ren." batin Mira.


"Ada apa mbak?" tanya Rena memecah lamunan Mira.


"Eh, tidak. Oh iya Ren, aku mendengar kabar bahwa Dona dan dokter Angga akan bertunangan." kata Mira mengalihkan topik pembicaraan.


"Apa. Kenapa aku tidak tahu." jawan Rena.


"Sebenarnya berita itu juga belum bisa dipastikan. Soalnya kan masih gosip." kata Mira.


"Mudah-mudahan bukan hanya gosip mbak. Aku berharap mereka bertunangan. Jika bisa langsung saja menikah." ucap Rena dengan tertawa pelan.


"Kamu bisa saja Ren."


"Jika mereka sampai menikah, berarti aku berhasil mbak." ucap Rena dengan senang.


"Berhasil?" tanya Mira bingung.


"Iya, aku mencoba memberi pengertian pada Dona. Bahwa dia salah dalam memahami arti cinta. Aku tidak ingin sahabat terbaik ku menyesal seumur hidupnya mbak." Rena memegang tangan Mira.


"Aku tidak ingin jika kelak Dona menjalani hidupnya dengan rasa bersalahnya." kata Rena.


"Ren, apa kamu tidak takut?" tanya Mira.


"Takut apa mbak? Aku lebih takut jika tidak berbuat apa-apa. Dan membiarkan Dona menyesali keputusannya." jawab Rena dengan sungguh-sungguh.


"Wangi ini,,,," batin Mira seraya menajamkan indera penciumannya.


"Maaf Ren, aku harus kembali dulu. Takut nanti di cari. Sebaiknya kamu juga segera pulang." kata Mira dengan raut wajah sedikit takut.


"Kenapa sih mbak Mira, aneh." batin Rena.


"Baiklah mbak, aku pamit dulu. Semoga mertua mbak Mira segera sembuh."


Rena meninggalkan Mira terlebih dahulu.


Mira merasa cemas, dia takut apa yang ada di benaknya akan benar-benar terjadi. Dan sepertinya apa yang di takutkan Mira akan terjadi.

__ADS_1


Seorang dengan mata menyalang dengan tangan mengepal menatap kepergian Rena di balik pohon. Tepatnya di belakang tempat Rena dan Mira duduk.


BERSAMBUNG.


__ADS_2