Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 58


__ADS_3

"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini. Pasti pasien kamu di rumah sakit sedang menunggumu." kata Rena setelah sampai di ruang tengah.


"Tenang saja, waktuku untuk kamu banyak. Tidak perlu khawatir." Angga mendudukkan bokongnya di sofa.


"Aku sudah sembuh, tidak perlu di perikasa."


"Sebaiknya kamu duduk sini."


Angga menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. Karena saat ini Rena berdiri. Dia enggan untuk duduk, apalagi mengobrol dengan Angga.


"Mau kamu apa sih?" tanya Rena dengan wajah sinis.


"Makin cantik saja jika seperti itu." kata Angga.


"Sabar Rena, sabar. Tuan Angga, silahkan angkat kaki da-ri ru-mah sa-ya." kata Rena dengan penekanan.


"Oh iya, kata mertua kamu, masakan kamu enak. Masakin buat aku ya."


Bukannya pergi dari rumah Rena, Angga malah menyuruh Rena memasak untuk dirinya.


Merasa tidak ada gunanya berbicara dengan Angga, Rena hendak membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Angga. Tapi belum sempat dia berjalan, Angga sudah memeluknya dari belakang.


Rena yang kaget, sontak melepaskan pelukan Angga dan menamparnya.


"Jaga batasan anda." kata Rena setelah menampar Angga.


Angga memegang pipi bekas tamparan Rena sambil tersenyum.


"Sudah selesai Ren?"


Bu Anis datang menghampiri mereka. Bu Anis melihat ada yang aneh dari gelagat mereka.


"Ada apa Ren?"


"Nggak bu, Rena sudah sembuh. Kata dokter Angga, hanya perlu istirahat dan menghabiskan obat kemarin saja. Iya kan Dok?" kata Rena.


"Iya bu."


"Bu, dokter Angga mau pamit dulu. Kasihan, pasiennya di rumah sakit sedang menunggunya."


Rena mengusir secara halus Angga dari rumahnya.


Angga hanya memandang Rena tanpa berkata sepatah katapun.


"Perempuan cerdik. Aku semakin suka" batin Angga


"Oh iya dok, terimakasih banyak sudah menyempatkan diri mampir ke sini." kata bu Anis.


"Dokter besok tidak perlu ke sini lagi. Sayakan sudah sembuh. Lagi pula saya tidak enak merepotkan dokter." kata Rena dengan nada bicara yang halus.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu bu."


Dokter Angga bersalaman dengan bu Anis. Tapi saat dia akan menjabat tangan Rena, Rena hanya mengatupkan ke dua tangannya di depan dada dan sedikit mengangguk sebagai ganti bersalaman dengan Angga.


Angga hanya bisa menarik kembali tangannya dan mendengus. Bu Anis dan Rena mengantar Angga sampai teras.


Di saat yang bersamaan datang Intan dan Lina.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." ucap Intan dan Lina bersamaan.


"Wa'alaikum salam."


Lina dan Intan memandang Angga. Bu Anis yang paham langsung memperkenalkan Angga pada mereka berdua.


"Dia dokter Angga, dokter yang memeriksa mbak mu. Dia juga calon suami dari mbak Dona. Yang punya butik tempat mbak mu bekerja." jelas bu Anis.


Lina terus menatap Angga. Dia terpesona dengan ketampanan dokter tersebut.


Rena yang mengetahuinya menyenggol lengan Lina sambil matanya melotot dan menggeleng pada adik iparnya. Lina langsung menatap Rena sambil tersenyum kaku.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Jika ada apa-apa jangan sungkan menghubungi saya." ucap Angga sambil memandang Rena.


"Baik dok." kata Rena sambil tersenyum dan mengangguk.


Rena berpura-pura baik di hadapan Angga karena sedang banyak orang. Sebenarnya ia sangat muak pada setelah kejadian kemarin.


Sebelum masuk ke mobilnya Angga menoleh kembali ke arah Rena. Rena pun tidak menanggapi sama sekali. Dia malah mengajak bu Anis dan yang lainnya masuk ke dalam rumah.


"Mari, masuk ke dalam."


Rena berjalan sambil memegang lengan Lina. Intan dan bu Anis menyusul di belakang mereka.


"Mbak sudah sembuh?" tanya Lina.


"Sudah, tapi masih sedikit pusing. Sama mulutnya masih terasa pahit."


"Lihat mereka berdua Tan, siapa yang akan menyangka jika mereka saudara ipar."


"Iya bu."


"Mas Bagas sudah berangkat mbak?"


Tanya Lina begitu sampai di ruang tengah, dan mendudukkan bokongnya di sofa.


"Sudah, sari tadi." jawab Rena.


Mereka berempat berbincang di ruang tengah.


"Ren, jika masih kurang enak badan lebih baik kamu tidur saja di kamar." kata bu Anis.


Bu Anis melihat mata Rena sedikit merah dan sayu. Wajahnya juga masih sedikit pucat.


"Maaf, sebenarnya Rena ngantuk bu. Mungkin karena habis minum obat." ucap Rena sambil menguap. Tangannya di letakkan di depan mulutnya.


"Mbak, tidur saja. Nggak apa-apa, biar kita di sini." kata Lina.


Rena memutuskan untuk merebahkan diri di dalam kamar. Dia sudah sangat mengantuk.


"Ada mbak Lina dan mbak Intan. Kapan datang mbak?"


"Baru saja mak."


"Maaf, mak nggak tahu. Mak habis beli ini." kata mak Irah sambil memperlihatkan kantong kresek yang berisi barang belanja di tangannya.


"Mau minum apa mbak, biar mak buatkan." tawar mak Irah.

__ADS_1


"Teh hangat saja mak. Ibu juga di buatkan?" tanya Lina kepada ibunya.


"Nggak usah, ibu baru saja minum." kata bu Anis.


Tanpa bertanya pada Intan mak Irah bergegas pergi ke dapur.


"Pembantu sial**. Dia pikir aku ini nggak kelihatan." batin Intan kesal. Karena dirinya tidak di anggap ada oleh mak Irah.


Lina juga merasa heran dengan mak Irah. Kenapa mak Irah selalu bersikap seperti itu pada Intan.


"Kok Mak Irah nggak tanya ke Intan." batin Lina sambil memandang Intan.


Bu Anis tidak terlalu memperhatikan mereka. Karena saat ini beliau sedang berbalas pesan dengan ibu-ibu di grup tempat tinggalnya.


"Ini mbak tehnya, silahkan di minum."


Mak Irah menurunkan dua gelas teh di meja. Mak Irah sama sekali tidak memandang Intan. Semua itu tidak luput dari pengamatan Lina.


"Ekhemm, apa nggak ada makanan ringan?" tanya Intan.


Mak Irah hanya diam, pura-pura tidak mendengar.


Mak Irah tidak menjawab pertanyaan dari Intan. Setelah menaruh segelas teh dimeja, dia langsung membalikkan badan dan berjalan kembali ke belakang.


Intan yang kesal hendak mengikuti mak Irah ke belakang.


"Aku kebelakang sebentar ya, mau ke kamar mandi." kata Intan mencari alasan.


"Iya." jawab Lina.


Setelah Intan sudah tidak nampak, buru-buru Lina mengikutinya. Lina merasa ada yang tidak beres.


Ternyata benar dugaan Lina. Intan tidak pergi ke kamar mandi, melainkan ke dapur menghampiri mak Irah.


Lina berada di balik tembok. Dia hanya ingin melihat apa yang akan terjadi. Lina berpura-pura menjadi detektif.


"Apa mau kamu?" tanya Intan berada di sebelah mak Irah.


"Maksudnya." mak Irah menjawab sambil mencuci piring di wastafel.


"Gue ada masalah apa sama lo." Intan matikan kran di wastafel.


Mak Irah menghentikan kegiatannya dan mengambil lap untuk mengeringkan tangannya.


"Jawab bego."


Intan meraih baju bagian belakang milik mak Irah. Membuat mak Irah sedikit terceking. Tidak terima mak Irah membalikkan badan dengan melepaskan tangan Intan dari bajunya.


Di balik tembok, Lina merasa geram dengan perilaku Intan pada mak Irah. Dia sangat ingin menghampiri mereka. Tapi di tahan. Dia ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Tidak punya sopan santun sekali sama orang tua." batin Lina.


Mak Irah hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya memandang Intan dengan pandangan jijik.


"Punya mulut kan situ, ngomong." Intan berbicara sambil mendorong mak Ira.


Di balik tembok tangan Lina sudah terkepal kuat.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2