
"Mbak Rena."
Mak Irah langsung memeluk Rena.
"Kalau mbak Rena mau keluar dari rumah ini bilang sama mak mbak, mak akan ikut. Mak akan ikut mbak Rena pergi."
Mak Irah meneteskan air matanya. Rena hanya tersenyum sambil mengelus lengan mak Irah.
"Ya Alloh mbak, badan mbak Rena panas. Wajah mbak juga pucat."
Mak Irah menuntun Rena ke kamarnya.
"Mbak istirahat saja dulu, mak buatkan bubur ya."
Mak Irah berjalan keluar melewati Bagas. Sepertinya kehadiran Bagas tidak terlihat oleh mak Irah. ðŸ¤ðŸ¤
Melihat mak Irah yang begitu cemas, membuat Bagas merasa bersalah.
"Orang lain saja begitu sayang dengan Rena. Sedangkan aku."
Bagas mendekati Rena. Di sentuhnya dahi Rena.
"Mas."
"Maafin mas."
"Nggak mas, Rena yang salah. Sudah mengabaikan perintah dari suami. Maafkan Rena."
Bagas membawa Rena dalam pelukannya. Di ciumnya rambut Rena.
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu."
Mak Irah datang dengan membawa semangkuk bubur dan air minum.
"Ini mbak di makan dulu."
"Sini mak, biar aku suapi."
Rena pun menerima suapan demi suapan dari Bagas.
"Maaf mas Bagas, apa tidak sebaiknya kita panggil dokter. Kasihan mbak Rena."
"Nggak perlu mak, sebentar lagi juga sembuh."
"Benar kata mak Irah, sebaiknya kita panggil dokter."
"Biar mak yang telepon dokternya. Waktu itu mak di kasih kartu namanya."
Rena dan Bagas saling memandang. Sementara mak Irah sudah keluar kamar dan berniat menelpon dokter Angga.
"Siapa?" tanya Bagas.
Rena hanya menggeleng pelan. Karena merasa badannya dingin dan lemas, Rena merebahkan diri di kasir. Bagas mengambil selimut dan menutupi tubuh Rena sampai lehernya.
"Maafkan aku." ucap Bagas lirih sambil membelai lembut rambut Rena.
Bagas tidak beranjak dari duduknya. Dia tetap berada di samping Rena dan memandangi istrinya. Sekelebat bayangan tentang Intan muncul di benaknya.
"Sial." batin Bagas.
Tangan Bagas mengepal sempurna. Bayangan wajah Intan saat mencumbu dan memanjakan juniornya terlintas di benak Bagas.
__ADS_1
Bagas tidak sadar jika tangannya berada di atas kepala Rena.
"Aww,, sakit mas."
Rena mengaduh kesakitan karena rambutnya di genggam dan di tarik oleh Bagas.
"Maaf sayang maaf. Mas nggak sengaja."
Bagas langsung mengelus rambut Rena.
"Mas Bagas kenapa sih." batin Rena.
tok tok tok
"Mas Bagas, dokternya sudah datang."
"Masuk saja mak."
Mak Irah membuka pintu dan mempersilahkan dokter Angga masuk.
"Angga." gumam Bagas.
Bagas langsung berdiri dan bersalaman dengan Angga. Rena yang masih lemas hanya berbaring menatap Angga dengan pandangan yang sayu.
"Kamu kenapa lagi?"
Angga mendekat dan menyentuh dahi Rena.
Tidak seperti biasanya yang selalu berdebat saat bertemu dengan Angga. Saat ini Rena hanya diam tanpa berkata apapun. Mungkin dia merasa malas untuk bicara karena keadaan badannya yang tidak sehat.
Angga mengeluarkan alatnya dan mulai memeriksa Rena.
"Biasanya dia cerewet, mungkin karena sakit dia menjadi pendiam." batin Angga.
"Bagaimana keadannya?" tanya Bagas.
"Dia demam, dan sepertinya juga kelelahan. Rena juga banyak pikiran. Itu yang membuat dia jadi seperti ini."
"Dingin." ucap Rena.
Angga ingin membenarkan selimut yang di pakai Rena.
"Biar saya saja."
Bagas mendekat ke tempat Rena Rena dan membenarkan selimutnya. Angga pun sedikit memundurkan langkahnya.
Ada perasaan tidak rela di hati Angga melihat perhatian Bagas.
"Baiklah, ini resep obatnya. Sebaiknya segera di belikan di apotik. Supaya bisa segera di minum."
Angga memberikan secarik kertas berisi tulisan obat-obat yang harus di minum oleh Rena.
"Terimakasih, berapa biaya periksanya."
Bagas hendak mengeluarkan dompet dari sakunya.
"Tidak perlu. Sebaiknya kamu segera membelikan obat Rena."
"Terimaksih. Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu."
Angga mengangguk sambil tersenyum. Sepeninggal Bagas, Angga tidak segera meninggalkan Rena. Dia malah duduk di tepi ranjang, di samping Rena.
__ADS_1
"Apa yang terjadi." Angga membelai pelan rambut Rena.
"Kamu bisa mencariku jika ada masalah. Aku akan membantumu." tangan Angga beralih menyentuh pipi Rena.
"Kamu tahu, aku lebih senang kamu yang galak dari pada seperti ini. Aku tidak suka jika kamu sakit."
Angga mencium pelan dahi Rena.
Rena sebenarnya tidak tidur. Badannya hanya lemas tidak bertenaga. Matanya terasa panas. Karena itu dia terus memejamkan mata. Sebenarnya Rena ingin bangun dan menendang Angga. Tapi tubuhnya yang lemas tidak bisa melakukan itu. Untuk sekedar membuka mata dan berbicara saja dia tidak punya tenaga.
Di depan pintu, Dona melihat semuanya. Sebenarnya saat tadi Dona tidak bisa menghubungi Rena, dia langsung menelpon rumah Rena. Dia berbicara dengan mak Irah. Dan mak Irah menceritakan bahwa Rena pergi dari rumah. Tetapi mak Irah tidak tahu apa penyebabnya.
Dona berpesan pada mak Irah untuk selalu memberi tahu dia jika ada kabar dari Rena. Setelah mak Irah menghubungi dokter Angga, dia lalu menghubungi Dona. Mendengar kabar tentang keadaan Rena, Dona langsung bergegas pergi ke rumah Rena.
"Sebaiknya kamu menyingkir dari sisi sahabatku."
Dona menarik baju yang di pakai oleh Angga. Mendapat perlakuan seperti itu, Angga berdiri dan membenarkan pakaiannya.
"Seorang dokter seperti anda apa tidak punya malu. Melakukan hal yang menjijikkan seperti tadi. Dia perempuan yang sudah bersuami."
Dona berbicara dengan menggebu-gebu. Ada kilatan amarah dalam matanya. Dia tidak sedang cemburu. Melainkan takut jika rumah tangga sahabatnya akan di usik oleh orang seperti Angga.
"Apa anda tidak punya harga diri. Melakukan semua itu saat pasien anda sedang sakit. Lihat dia tidak berdaya. Sungguh menjijikkan." sarkas Dona dengan nada marah.
"Semua itu tidak ada hubungannya dengan kamu." jawab Angga dengan santai.
Angga hendak melangkah pergi meninggalkan kamar Rena. Tetapi di hentikan oleh perkataan Dona.
"Tuan dokter yang terhormat. Jauhi sahabat saya. Jangan pernah mengusik hidupnya." kata Dona dengan penuh penekanan.
"Jangan pernah campuri urusan saya."
Angga membalikkan badan dan memandang tajam Dona.
"Jika anda masih terus mendekati sahabat saya, saya pastikan anda akan menyesal."
hahahaha.....
Angga tertawa menyeramkan. Dia berjalan mendekati Dona. Dan mencengkeram dagu Dona dengan tangannya.
"Apa yang bisa kamu lakukan. Perempuan lemah seperti kamu bisa apa."
Dona melepaskan cengkeraman tangan Angga dan mengusap dagunya yang terasa sakit karena perlakuan Angga.
"Bukankah kita sama. Menyukai orang yang sudah menikah. Apa bedanya nona. Kamu menyukai suami orang. Bahkan mereka akan berpisah karena kamu. Coba katakan. Apa perbedaan kita."
Sesaat Dona diam tidak bisa menjawab pertanyaan Angga. Seperti ada belati yang menusuk ke dalam dadanya. Terasa nyeri. Entah dapat kekuatan dari mana, Dona pun menjawab pertanyaan Angga.
"Kita jelas berbeda. Aku dan mas Tio saling mencintai. Sedangkan kamu, Rena tidak pernah menyukai kamu. Melirik kamu saja tidak akan mungkin." bantah Dona.
"Apa kamu yakin, Rena tidak akan menyukai saya. Lalu bagaimana jika saya bisa membuat Rena menyukai saya. Bahkan bukan hanya menyukai, tapi mencintai saya."
"Kamu..." amarah Dona seakan mau meledak.
"Sebaiknya kamu urus saja masalahmu sendiri. Tidak perlu mencampuri masalah orang lain."
Angga membalikkan badan dan meninggalkan kamar Rena.
"Ren..."
Dona mendekat ke tempat Rena dan memandang sahabatnya dengan rasa iba.
__ADS_1
BERSAMBUNG.