Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 54


__ADS_3

"Biarkan saja dulu bu, jangan di ganggu. Biarkan Rena istirahat."


Pak Ramli memegang bahu istrinya. Mencoba untuk menenangkan istrinya.


"Tadi bapak bilang baik-baik saja. Lihat, dia sangat pucat dan panas. Biasanya dia pasti akan menyambut ibu jika ibu datang ke sini." bu Anis mengusap air mata di pipinya.


"Kamu juga, tadi ikut-ikutan bapak mu. Bilang mbak mu nggak apa-apa." kata bu Anis sambil memandang sinis putrinya.


"Mana Lina tahu bu, kan bapak yang bilang." jawab Lina enteng.


"Kamu itu, makanya jangan sok tahu. Kalau belum lihat." omel bu Anis pada putrinya.


Lina yang mendapat omelan dari dari ibunya hanya cuek saja. Bahkan menampilkan wajah tidak bersalahnya. Karena memang sebenarnya Lina tidak bersalah.


"Sudah, jangan ribut di sini. Nanti Rena terganggu. Lebih baik kita bicara di luar saja." ajak pak Ramli.


Mereka akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar, dan membiarkan Rena untuk beristirahat dengan tenang.


"Gas, nanti ibu tidur sini." kata bu Anis setelah duduk di sofa.


Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang tengah rumah Bagas.


Semuanya sontak memandang ke arah bu Anis.


"Yesss,, itu berarti aku juga akan tidur di sini." batin Intan merasa sangat bahagia.


"Bu, nanti bapak ada pertemuan di kelurahan. Tidak bisa menginap di sini." ucap pak Ramli.


Pak Ramli termasuk salah satu perangkat desa di tempatnya tinggal.


"La terus apa hubungannya sama ibu. Bapak kan bisa pulang. Nanti biar ibu sendiri yang tidur di sini. Lagian ibu masih khawatir sama Rena. Ibu mau merawat Rena dulu." kata bu Anis.


"Biar nanti Intan temani ibu tidur di sini. Jadi kita bisa merawat mbak Rena bersama." tawar Intan dengan menampilkan senyum manisnya.


Muak sekali melihat tingkah Intan. Sok baik, dan sok manis.


"Maaf sebelumnya, tapi kamar yang bersih hanya ada satu bu. Kamar yang satunya masih sangat kotor. Mak nggak tahu jika akan ada yang menginap di sini." kata mak Irah sambil menurunkan minuman ke meja.


"Iya nggak apa-apa mak." kata bu Anis.


"Mau apa lagi anak ini. Cari perkara saja." batin Bagas sambil melirik ke arah Intan.


Bagas hanya takut Intan melakukan tindakan di luar dugaan Bagas. Dia takut jika Rena mengetahui kejadian tadi siang di rumah orang tua Bagas.

__ADS_1


Salah Bagas juga, kenapa sempat terpedaya oleh Intan. Sekarang dia sendiri yang menjadi bingung dan gelisah.


"Apa nggak bisa dibersihkan?" tanya Intan.


"Ini sudah sore mbak, membutuhkan waktu untuk membersihkan. Mak juga belum memasak untuk makan nanti malam." jawab mak Irah sambil berdiri di samping sofa.


Sebenarnya mak Irah hanya mencari alasan saja. Dia tidak rela jika Intan tidur di rumah majikannya. Mak Irah sepertinya bisa menebak jalan pikiran Intan.


"Dasar ular, pikirannya licik banget. Selalu cari cara." batin mak Irah.


"Mak kan bisa membersihkan dulu, terus lanjut masak. Mak disini kerja. Pasti di gaji kan?" kata Intan sambil memandang sinis mak Irah.


Semuanya langsung memandang Intan dengan tatapan heran. Mereka merasa perkataan Intan terlalu berlebihan.


"Maaf, akan saya bersihkan."


Mak Irah hendak berjalan pergi, tetapi di hentikan oleh Lina.


"Tidak perlu mak, mak memasak saja. Ini sudah sore. Nanti nggak keburu matang masakannya. Intan dan saya nanti akan pulang saja. Biar ibu yang menginap di sini."


"Tapi Lin.."


"Kenapa sih kamu ngebet banget pengen tidur sini." kata Lina penasaran.


"Sudah, kalian pulang saja. Biar ibu tidur di sini." kata bu Anis.


"Shitt,, gagal. Pembantu sialan. Jika aku sudah jadi istri mas Bagas, pertama kali yang aku lakukan adalah memecat kamu. Brengsek." Intan memandang mak Irah dengan tatapan dendamnya.


"Kasihan, gagal deh. Tenang saja mbak Rena. Mak tidak akan membiarkan ular ini bertindak seenaknya." batin mak Irah sambil memandang Intan dan tersenyum.


"Kalau begitu saya permisi ke belakang dulu." pamit mak Irah.


Ketika adzan maghrib berkumandang,Rena bangun dari tidurnya. Dia tidak tahu jika di luar keluarga Bagas tengah berkumpul.


"Alkhamdulillah, badan aku sudah nggak panas lagi. Tapi kenapa masih lemas ya. Mulutku juga pahit."


Rena berjalan menuju kamar mandi dengan hati-hati. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rena langsung melaksanakan sholat maghrib.


"Astaghfirulloh, aku tadi tidak melaksanakan sholat ashar." gumam Rena sambil memakai mukena.


Saat Rena sedang sholat, pintu kamar terbuka. Ternyata Bagas hendak membangunkan Rena. Melihat Rena sedang shalat, dia menunggu dengan duduk di kursi.


Bagas sudah melaksanakan shalat berjamaah bersama yang lain. Di belakang ada satu ruangan yang memang diperuntukkan untuk melakukan sholat.

__ADS_1


Mereka menyiapkan tempat sholat jika sewaktu-waktu ada tamu. Lagi pula tidak mungkin jika ada tamu, kemudian di suruh sholat di dalam kamar mereka.


"Tadi mak Irah bilang kamarnya belum di bersihkan. Ini sudah bersih. Bahkan sangat rapi." gumam Lina.


Lina tidak sengaja melihat kamar tamu yang pintunya terbuka sedikit saat dia baru saja dari belakang melaksanakan sholat bersama yang lain.


Buru-buru Lina menutup rapat pintunya, karena terdengar suara langkah kaki dari belakangnya.


"Ada apa Lin, kok berhenti?" tanya Intan sambil melihat kamar di sebelahnya.


"Nggak, yuk ke depan."


"Ini kamar yang kata pembantu tadi belum di bersihkan ya?"


"Iya, tadi sempat aku buka pintunya sebentar. Kotor banget." kata Lina membohongi Intan.


"Gimana sih kerjanya pembantu mas Bagas. Orang nggak becus kerja di jadikan pembantu. Di bayar lagi." omel Intan.


"Udah, jangan ngomel saja. Lebih baik kita ke depan."


Lina menggandeng lengan Intan dan menariknya menjauhi kamar tamu.


"Kalian makan saja dulu, soalnya bapak kan mau ada acara. Jadi harus segera pulang." kata bu Anis.


"Nggak apa-apa bu, tunggu Bagas dulu." kata pak Ramli.


"Biar saya panggilkan mas Bagas nya." tawar Intan.


"Tidak perlu mbak, biar saya saja. Sayakan pembantu di rumah ini. Mbak Intan kan tamu. Nanti saya di marahin majikan saya, karena tidak menghormati tamu."


Setelah berkata demikian, mak Irah langsung pergi menuju kamar Bagas.


"Enak saja mau masuk kamar mbak Rena. Dasar ular." gumam mak Irah sambil berjalan.


Di meja makan tampak tangan Intan terkepal sempurna di bawah meja.


"Pembantu sial**. Berani-beraninya dari tadi ngerusak rencana gue. Lihat saja. Gue pastikan kamu di pecat kerja di sini." batin Intan dengan ekspresi kesalnya.


Ekspresi Intan tidak luput dari pandangan Lina. Dia merasa ada yang aneh antara mak Irah dan Intan.


"Mak Irah berbohong jika kamarnya kotor. Sedang Intan ngeyel banget pengen tetap di sini. Sebenarnya ada apa ini. Aku harus cari tahu." batin Lina.


Lina memang perempuan yang cuek, tapi dia sebenarnya sangat pemerhati. Apalagi jika menyangkut orang di sekitarnya. Lina memiliki rasa penasaran yang kuat jika dia menemukan sesuatu yang menurutnya aneh. Dan dia akan mencari tahu sampai dia mendapatkan jawaban atas apa yang dia inginkan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2