Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 51


__ADS_3

"Dimana Rena Lin?"


Bagas langsung bertanya kepada adiknya begitu turun dari mobil.


"Lina juga nggak belum tahu mas. Tadi ada ibu-ibu yang bilang sama Lina, jika semalam mbak Rena sholat di masjid ini."


"Sabar, kita cari Rena bareng-bareng. Mungkin dia ada di sekitar sini."


Mereka pun mencari Rena di sekitar masjid.


*****


Di dalam kamar kos, Rena masih terlelap. Dia merasakan lapar pada perutnya. Kemudian dia bangun. Di pegangnya dahinya sendiri.


"Sudah nggak begitu panas." gumam Rena.


Rena keluar dari kamar dan mengambil pakaian yang tadi pagi sempat dia cuci. Setelah itu dia berganti pakaian. Saat hendak mencuci baju milik ibu kos yang dia pakai, Rena kebingungan. Di kamar mandi tidak ada siapapun.


"Kamu mau ngapain."


"Bu, ini saya mau cuci baju dan selimut ibu. Tapi saya nggak punya sabun cuci." kata Rena dengan malu-malu.


"Tidak usah kamu cuci, sini biar di cuci pembantu di rumah saya."


"Terimakasih banyak bu. Sekalian Rena mau pamit."


"Kamu sudah sembuh?"


"Insya Alloh sudah bu."


"Ya sudah, hati-hati."


Setelah bersalaman dengan ibu kos Rena meninggalkan tempat ia menginap semalam.


"Mari pak." sapa Rena pada pak satpam yang menjaga di gerbang.


"Iya mbak, mbaknya mau pulang?"


"I-iya pak." jawab Rena.


Rena berjalan kembali, kali ini dia berniat akan pergi ke butik Rena.


"Ya Alloh, kenapa panas sekali. Butik Dona jauh banget lagi."


Secara perlahan dia menyusuri jalanan di bawah teriknya matahari.


"Maunya sih naik angkot, tapi uang dari mana."


Rena melihat cincin yang melingkar di jarinya.


"Apa aku jual saja ini, lagi pula aku juga lapar."


Rena mencari toko mas sambil terus berjalan. Sudah lumayan lama dia berjalan, tapi tidak menemukan toko yang di carinya. Sesekali dia mengusap dahinya yang berkeringat.

__ADS_1


Sementara itu, Bagas berhenti dan bertanya pada beberapa orang yang sedang berkumpul.


"Maaf ibu-ibu mau numpang tanya. Apa ada yang pernah melihat wanita ini."


Bagas memperlihatkan foto Rena di dalam dompetnya.


"Dia semalam tanya sama saya tempat kos terdekat di sini." kata salah satu dari ibu-ibu itu.


"Kalau boleh tahu, tempatnya di mana bu?" tanya pak Ramli. Karena sekarang pak Ramli satu mobil dengan Bagas. Lina di suruhnya pulang untuk beristirahat.


"Dia semalam ke arah sana. Di sana memang menyewakan kamar untuk perempuan pak."


"Terimakasih banyak bu."


Bagas dan pak Ramli segera menuju tempat yang di beritahu oleh ibu tadi.


"Apa mungkin tempatnya ini Gas."


"Sebentar pak, Bagas tanya dulu. Itu ada satpamnya."


Bagas keluar dari mobilnya. Pak Ramlipun mengikuti Bagas.


"Maaf pak, mau tanya. Apa semalam ada perempuan menginap di sini. Ini fotonya."


"Eemm,,, iya mas. Semalam mbaknya ini dalam keadaan basah kuyup datang kemari mas. Katanya sih tasnya hilang. Makanya dia tidak punya uang. Terus dia membayarnya memakai antingnya mas. Itupun saya dengar dari pemilik kos ini. Karena kasihan, ibu kos menyuruh dia untuk istirahat di sini sampai sembuh. Kasihan mas, sepertinya dia demam."


"Bisa saya bertemu dengan dia pak."


"Maaf mas, mbak nya sudah pergi dari sini. Baru saja. Sekitar setengah jam. Ke arah sana mas."


Bagas dan pak Ramli segera naik mobil. Bagas melajukan mobilnya ke arah yang di tunjukkan oleh pak satpam.


"Itu Rena." tunjuk pak Ramli pada seorang wanita yang berjalan pelan di tepi jalan.


Bagas menghentikan mobilnya tepat di samping Rena. Renapun berhenti dan menoleh ke arah mobil tersebut.


"Mobil mas Bagas." gumam Rena.


"Ren." kata Bagas setelah keluar dari mobil.


Dia langsung memeluk istrinya. Pak Ramlipun ikut turun dan menghampiri menantunya.


"Bapak."


Rena melepas pelukan Bagas dan bersalaman dengan pak Ramli. Wajah Rena tampak pucat. Badannya juga sedikit demam.


"Badan kamu panas nak." ucap pak Ramli.


"Nggak apa-apa pak. Oh iya, bapak sama mas Bagas mau ke mana?"


"Cari kamu. Kita pulang yuk." Bagas memegang tangan Rena.


"Terimakasih pak, mas, sudah mengkhawatirkan saya. Saya nggak apa-apa kok."

__ADS_1


Rena berkata dengan berkaca-kaca. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Kalau kamu tidak ingin pulang ke rumah, setidaknya kamu bisa datang ke rumah bapak. Kamu itu mantu bapak. Berati kamu sudah menjadi anak bapak."


"Tidak perlu pak, biar Rena pulang ke rumah kami saja."


Seketika Bagas teringat akan Intan. Dia tidak ingin bertemu dengannya lagi. Rena menatap suaminya dengan perasaan takut. Takut jika Bagas masih marah padanya.


Tetapi dia tidak ingin mengecewakan mertuanya. Akhirnya Rena setuju untuk pulang ke rumah.


"Kamu bawa Rena pulang saja, kasihan dia."


Pak Ramli melihat Rena sangat pucat. Beliau khawatir akan kesehatan menantunya tersebut.


"Biar bapak telpon Lina saja. Biar di jemput."


"Tidak perlu pak, kita antar bapak dulu. Lalu kita pulang." tawar Rena.


"Lihat badan kamu, panas dan wajah kamu pucat. Sebaiknya kamu segera beristirahat di rumah."


Karena pak Ramli tetap kekeh tidak mau diantar, akhirnya Rena dan Bagas pulang terlebih dulu.


Di dalam mobil, Rena hanya diam dan memandang ke depan. Terlihat dari wajahnya Rena tampak lesu. Tangan Bagas terulur menggenggam tangan Rena. Seketika Rena menoleh ke arah Bagas.


Sepeninggal Rena dan Bagas, pak Ramli menghubungi Lina untuk menjemputnya.


"Bagaimana Rena pak?" tanya bu Anis begitu pak Ramli sampai rumah.


"Tadi kami bertemu Rena di jalan. Sekarang mereka pulang ke rumahnya."


Pak Ramli tidak menceritakan keadaan menantunya pada istrinya. Dia takut bu Anis akan cemas.


"Benar kan bu, kata Lina. Mbak Rena itu perempuan kuat dan juga pintar. Ibu sih nggak percaya."


Lina berkata dengan gayanya dan nada bicara bangga terhadap Rena.


"Kamu itu, terus keadaan Rena bagaimana pak?"


"Rena baik-baik saja bu, katanya dia menjual anting untuk tinggal di kos."


"Kenapa tidak di bawa ke sini saja sih pak."


"Mereka butuh waktu berdua bu, lebih baik jangan di ganggu dulu. Bapak yakin, setelah masalah mereka selesai, pasti mereka datang ke sini."


"Iya bu, pasti mbak Rena datang ke sini. Dan bilang, terimakasih Lina, sudah mau cari mbak."


"Kamu itu." bu Anis mencubit pelan lengan Lina.


"Kalian ini, kamu juga Lina. Jangan telpon mbak sama mas mu dulu. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka."


"Pak, ibu khawatir. Bagaimana jika mereka malah bertengkar lagi jika sudah sampai di rumah."


"Ibu itu, sudah berapa tahun ibu mengenal menantu kita. Rena itu wanita yang sabar. Lagi pula Bagas juga sangat menyayangi Rena. Tidak perlu khawatir berlebihan."

__ADS_1


Di balik tembok, Intan sedang mendengarkan percakapan mereka. Tangannya mengepal dengan sempurna.


"Wanita sialan itu kembali lagi. Tapi tenang saja. Sekarang aku akan terang-terangan mendekati suamimu Rena." kata Intan lirih sambil tersenyum menakutkan.


__ADS_2