
Seperti biasa. Pagi hari Rena sibuk menyiapkan sarapan. Dia di kaget kan dengan Bagas yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"Masak apa sayang?" kata Bagas.
"Mas, sudah selesai bersiap?"
"Kamu lihat dong. Sudah rapi begini." kata Bagas sambil merentangkan tangannya.
"Sini mas."
Seperti biasa, Rena melayani Bagas saat sarapan. Setelah menyelesaikan sarapan. Bagas pun berangkat kerja.
Sekitar jam 11 siang, Rena sudah bersiap berangkat pergi ke cafe. Setelah pamit pada mak Irah, Rena berangkat.
Rena pergi naik ojek online yang sudah dia pesan sebelumnya.
"Ini cafe yang Dona maksud kan." batin Rena.
Rena berhenti di depan cafe. Dia masuk ke dalam. Di dalam cafe nampak sepi.
"Sepi banget. Aneh. Inikan sudah siang."
Rena duduk di salah satu kursi di cafe tersebut. Seorang pelayan mendekatinya dan menanyakan pesanan Rena.
Setelah Rena menyebutkan apa yang di pesannya pelayan tersebut meninggalkan Rena.
"Mana sih Dona. Katanya di sini. Kok nggak ada."
Rena menengok ke arah pintu cafe.
"Sudah lama nyonya."
Seorang lelaki duduk di depan kursi Rena.
Rena tampak bingung. Kenapa Tio ada di sini. Apa Dona juga menyuruhnya datang ke sini juga.
"Kenapa dia ada di sini." batin Rena.
"Kenapa, kitakan janjian di sini. Jam sebelas siang." kata Tio dengan senyum jahatnya.
Menyadari ada yang tidak beres, Rena segera menyambar tasnya. Dan berjalan menuju pintu cafe.
Belum sampai pintu, tangan kekar Tio sudah melingkar di pinggang Rena.
Dengan sekali ayun. Rena sudah berada di pundak Tio.
Tio membawa Rena seperti membawa karung beras. Tas Rena jatuh ke lantai. Semua barang dalam tas Rena berserakan di lantai.
"Lepas." Rena berteriak dengan memukul-mukul bahu Tio.
Tio hanya tersenyum dan meneruskan langkahnya tanpa terpengaruh dengan teriakan dan pukulan dari Rena.
Rena melihat ada beberapa pelayan cafe.
"Toloooong. Kalian, heiii,,,,.toloooong." teriak Rena pada pelayan cafe.
Tetapi mereka seperti tuli dan buta. Tidak melihat dan mendengar teriakan dari Rena.
"Brengsek. Mau kau bawa ke mana aku. Bajingan. Lepasss."
Rena terus memberontak dalam gendongan Tio. Sampai di depan sebuah ruangan. Tio berhenti dan membuka pintu.
Di jatuhkan Rena dalam ranjang yang terdapat di dalam makar tersebut.
__ADS_1
"Aaww..." teriak Rena saat Tio menjatuhkan dirinya ke kasur.
Tio berbalik dan melepas pakaian yang melekat di tubuhnya. Melihat tindakan Tio, Rena menjadi khawatir.
"Oke Rena, tenang." batin Rena sambil mencari tasnya.
"Astaga, tas ku tadi kan terjatuh." gumam Rena.
Melihat Rena sedang mencari sesuatu dan berpikir, membuat Tio membuka suaranya.
"Apa kamu sedang menyiapkan dirimu, cantiiik." ucap Tio dengan hanya memakai ****** *****.
"Kenapa melihatku seperti itu. Apa bentuk tubuhku lebih bagus dari bentuk tubuh suamimu." kata Tio seraya memegang perutnya sendiri.
Jantung Rena berdetak tidak karuan. Takut. Pastinya Rena merasakan hal tersebut.
"Rena tenangkan dirimu. Tarik nafas, keluarkan." batin Rena memberi semangat pada dirinya sendiri.
Saat ini Rena sedang memikirkan cara lari dari cengkeraman iblis di depannya saat ini. Rena melihat pintu di belakang tubuh Tio.
"Sial. Pintunya menggunakan kode. Akan sangat susah keluar dari sini." batin Rena.
Tanpa Rena sadari, Tio sudah berada di sampingnya dengan memperhatikan setiap detail wajahnya.
"Kamu memang cantik. Lebih cantik dari Dona." bisik Tio di samping telinga Rena.
Rena yang terkejut pun sontak mengangkat tubuhnya untuk menjauhi Tio. Tapi semua sudah terlambat. Tio dengan sigap merengkuh pinggang Rena.
"Wangi."
Tio mencium rambut Rena.
"Lepaskan. Aku sesak." ucap Rena.
Otak cerdas Rena sudah mulai berpikir dan bekerja.
Dengan halus, Rena memegang tangan Tio. Mendapat perlakuan seperti itu dari Rena, Tio pun merasa besar kepala.
"Ternyata perempuan murahan. Sama saja dengan yang lain." batin Tio.
"Mas Tio, aku ingin bertanya. Boleh?"
Rena menatap wajah Tio. Ingin rasanya Rena meludahi wajahnya. Tapi Rena harus menahannya.
"Apa?" jawab Tio sambil mainkan rambut Rena.
"Ingin sekali ku patahkan tangan mu ini." batin Rena.
"Kenapa mas Tio lebih memilih Dona dari pada Mbak Mira?"
"Tidak kenap-napa." jawab Tio sambil melepaskan tangannya pada Rena.
Rena bernapas lega. Dia sedikit menggeser duduknya.
"Mbak Mita tak kalah cantik dari Dona?"
Rena bertanya sambil melihat-lihat keadaan sekitarnya. Siapa tahu ada yang bisa dia gunakan untuk keluar dari kamar.
"Dari dulu aku tidak mencintai Mira. Tapi Mira lah yang mencintaiku." ucap Tio datar dengan mata memandang lurus kedepan.
"Kenapa kalian menikah bila mas Tio tidak mencintai mbak Mira."
Tio tidak segera menjawab pertanyaan Rena. Dia tampak seperti sedang berpikir.
Pandangan mata Rena mengarah ke jendela. Seperti mendapatkan harta karun. Bibir Rena tampak tersenyum. Mata Rena mencari benda yang dapat memecahkan kaca jendela.
__ADS_1
"Itu dia."
Rena segera beranjak dari kasur dan mengambil vas bunga yang terletak di atas meja. Tio yang merasakan pergerakan dari Rena langsung menoleh ke samping.
Tio bergegas menghampiri Rena dan menahan tangan Rena yang hendak melempar vas bunga ke kaca jendela.
"Lepas..!" teriak Rena.
"Ternyata selain cantik kamu juga cerdik." ucap Tio hendak meraih vas yang di pegang Rena.
Rena segera menoleh ke samping dan menggigit lengan kekar Tio.
"Aawww..." jerit Tio.
Rena segera menyikut perut Tio. Saat pegangan Tio ke tubuh Rena longgar. Rena segera melepaskan diri dan berlari ke arah jendela.
Dilemparkannya vas bunga sekuat tenaga mengarah ke jendela.
Pyarrr.... (suara kaca pecah)
"Rena..." teriak Tio geram.
"Akhirnya." kata Rena dengan senang.
Kaca jendela pecah. Kacanya berhamburan di lantai.
Tanpa melihat ke bawah, Rena berlari ke arah jendela.
"Aduh.."
Telapak kaki Rena terkena pecahan kaca. Seketika tubuh Rena hendak jatuh. Tapi di tangkap Tio.
"Kamu boleh pergi setelah memuaskan diriku."
Tio menggendong kembali Rena dan melemparkannya ke kasur. Darah terus mengucur di kedua telapak kaki Rena.
Seprei yang awalnya berwarna coklat muda bercorak biru, kini sudah bertambah corak. Merah. Karena darah Rena mengenai seprei.
"Tio,, jangan macam-macam." Rena menggerakkan tubuhnya mundur.
"Tio...!" teriak Rena.
Dengan mudah Tio merobek pakaian yang di gunakan Rena. Hingga beberapa kancing baju Rena terlepas.
Tio tersenyum melihat payudara Rena yang menyembul keluar. Rena hendak melawan. Tapi rasa sakit di kakinya, menjadikan dirinya sedikit lemas.
Tio berada di atas tubuh Rena. Tangannya memegang pundak Rena dan mulai menciumi tubuh Rena.
Tangan Rena terulur ke arah telapak kakinya. Masih ada beberapa serpihan kaca yang menancap di sana.
Mata Rena terpejam kuat. Tangannya mencabut kaca yang menancap di telapak kakinya.
Dengan menahan rasa sakit di telapak kakinya, dan rasa jijik. Karena saat ini tangan dan bibir Tio sudah berada di benjolan dadanya, Rena mengangkat tangannya yang sudah memegang serpihan kaca dan menancapkan nya ke bahu Tio sekuat kuatnya.
Tio berteriak dan bangun. Tangannya memegang bahunya yang di tancapi serpihan kaca oleh Rena.
Rena segera menendang perut Tio dengan sisa kekuatannya. Tio terjengkang ke belakang. Rena segera lari ke arah jendela dengan kaki terpincang-pincang.
Lagi-lagi Rena menginjak pecahan kaca yang bertebaran di lantai. Seperti mati rasa, Rena tidak mempedulikan rasa sakitnya. Dia terus berjalan keluar.
"Perempuan brengsek." kata Tio sambil mencabut kaca yang menancap di bahunya.
Di lihatnya Rena sudah keluar dari kamar lewat jendela.
BERSAMBUNG.
__ADS_1