
"Pak Bagas." panggil Pak Anton saat melihat Bagas berjalan dengan menggandeng Rena.
Pak Anton adalah atasan Bagas, sekaligus pemilik perusahaan tempat Bagas bekerja.
Bagas dan Rena berjalan mendekat ke arah Pak Anton.
"Kenalkan pak, ini Rena. Istri saya." ucap Bagas memperkenalkan istrinya.
"Rena." ucap Rena memperkenalkan dirinya.
Angga yang berada di dekat Pak Anton memperhatikan Rena secara intens.
Mereka berbicara masalah proyek yang akan di kerjakan dengan perusahaan Angga. Tampak wanita yang berada di samping para pria hanya bisa mendengarkan pembicaraan masing-masing pasangan.
"Maaf jika saya boleh bertanya, apa pembangunan mall di kota B yang sedang dibicarakan?" tanya Rena dengan sopan.
"Iya benar." jawab pak Anton.
"Ada apa sayang?" tanya Bagas pada istrinya.
"Maaf sebelumnya jika nanti saya salah. Tapi saya dengar, bahwa proyek tersebut terhambat karena bermasalah dengan warga sekitar. Beberapa warga pemilik tanah tidak melepaskan tanah mereka." ucap Rena.
"Iya, memang benar." kata pak Anton.
"Dan saya juga mendengar, maaf sebelumnya. Saya juga tidak tahu pasti. Tapi saya hanya mendengar beberapa hari yang lalu dari para warga. Kata mereka harga tanah mereka di hargai dengan harga murah. Dan juga, warga tidak suka dengan cara mereka memperlakukan mereka." kata Rena dengan hati-hati.
"Maksudnya?" tanya pak Anton penasaran.
"Ancaman. Warga sekitar mendapat ancaman. Mereka di ancam jika tidak melepaskan tanah mereka. Karena itu warga jadi tidak respek terhadap pembangunan tersebut. Bahkan menolak." jelas Rena.
"Dari mana kamu tahu Ren?" tanya Dona.
"Beberapa hari yang lalu saya sempat lewat jalan tersebut. Dan mampir di warung sekitar." jelas Rena.
Semua orang di sekitar Rena hanya saling pandang.
"Sebenarnya, kita tidak perlu bermain kasar untuk mendapatkan tanah tersebut. Warga pasti akan melepaskan jika kita bisa merangkul mereka." ucap Rena.
"Sebenarnya, proyek ini sudah saya serahkan ke anak buah saya. Dan saya percaya dengan dia." jelas Pak Anton.
"Menurut kamu kita harus bagaiman?" tanya Angga dengan memandang Rena.
"Kita beli tanah mereka sesuai harga. Maksud saya, dengan harga yang wajar. Tanpa adanya ancaman. Dan kita harus mengadakan pendekatan dengan mereka. Misal, untuk karyawan di mall tersebut akan kita ambil dari warga sekitar dengan umur tertentu. Sedangkan di sekitar mall mungkin saja bisa kita bangun ruko-ruko yang bisa di tempati warga. Jadi mereka bisa menambah penghasilan. Tapi ruko tersebut masih di bawah naungan perusahaan kita." jelas Rena.
"Bisa kita coba dulu. Bagaimana pak?" tanya Angga pada pak Anton.
"Boleh." jawab pak Anton.
__ADS_1
"Tapi sebaiknya kita meminta bantuan pada tetua di tempat tersebut untuk berbicara pada warga sekitar. Karena yang saya lihat, mereka masih sangat menghormati beliau. Maaf, bapak mengertikan maksud saya?" tanya Rena dengan sopan.
"Iya iya, saya paham." ucap pak Anton dengan tersenyum pada Rena.
"Pantas pak Bagas juga sangat baik dalam mengerjakan pekerjaannya. Ternyata istrinya juga sangat hebat." imbuh pak Anton.
"Terimakasih pak." ucap Bagas.
Angga memandang Rena dan tersenyum.
"Kenapa kamu tidak bekerja saja di perusahaan saya. Mungkin kamu bisa mengembangkan bakat kamu." ucap pak Anton.
"Maaf, saya tidak pantas bekerja di perusahaan besar seperti milik bapak. Saya hanya lulusan SMA. Pasti nanti saya di tempatkan di OG." ucap Rena bercanda sambil tersenyum.
Sontak semua yang ada di ruangan tersenyum mendengar perkataan Rena.
Setelah acara selesai, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
"Yon, elo pulang sama siapa?" tanya Mira saat berada di parkiran.
"Kenapa. Mau nebeng?" tanya Leon menebak.
Mira hanya tersenyum lebar dan mengangguk mendengar pertanyaan Leon.
"Memangnya kamu nggak bawa mobil?" tanya Rena.
"Nggak. Males kalau nyopir sendiri." jawab Mira.
"Mas." tegur Rena sambil memukul pelan lengan Bagas.
"Gimana dong sayang, mereka sama-sama nggak punya pasangan. Dan, sudah lama nggak di pake." ejek Bagas lagi.
"Hoe, sini elo kalo berani." ucap Mira pada Bagas sambil mengarahkan kepalan tangannya.
"Stres elo. Gila harian." celetuk Leon.
Bagas hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya tersebut.
"Sudah mas. Ya sudah Mir, Yon, kita duluan. Hati-hati di jalan." ucap Rena.
Mira hanya melambaikan tangannya menanggapi perkataan Rena. Sementara, Leon mengacungkan jempolnya.
"Sekarang bisa di jalankan mobilnya pak, orangnya juga sudah masuk mobil. Sudah nggak kelihatan." ucap Dona yang saat ini sudah berada di dalam mobil bersama Angga.
Tapi Angga tidak kunjung-kunjung menyalakan mesin mobil. Bola matanya terpaku pada sosok Rena. Hingga dia seakan enggan meninggalkan parkiran.
"Sabar Don." kata Dona dalam hati untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Tapi Angga juga tak kunjung menjalankan mobilnya, padahal mobil Bagas sudah mulai melaju. Tetap di tatapnya mobil Bagas yang melaju di jalanan.
"Ingat, sampai kapan pun dia tidak akan bisa anda miliki. Lagian di samping sudah ada yang seseksi ini, malah nggak di lirik. Buta pak?" celetuk Dona.
Tanpa membalas perkataan Dona, Angga menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan yang sepi.
"Waow." ucap Dona.
"Kenapa nggak jadi pembalap saja pak." ucap Dona setengah berteriak.
Tangan Dona berpegangan dengan erat pada kursi mobil. Ada rasa takut saat Angga melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Tapi Dona mencoba tenang.
"Ya Alloh, lindungilah hamba Mu. Hamba Mu masih perawan. Belum pernah merasakan nikmatnya surga dunia." teriak Dona sambil memejamkan mata.
Mendengar teriakan Dona, Angga hanya tersenyum samar. Bahkan senyumnya tidak bisa terlihat. Angga bahkan sempat melirik ke arah Dona yang sedang memejamkan mata dengan mulut komat-kamit seperti mengucap sesuatu.
"Ahh." jerit Dona saat mobil Angga tiba-tiba berhenti mendadak.
Dona membuka matanya dan mengatur nafasnya karena ketakutan yang baru saja dia alami. Tiba-tiba pintu mobil sebelah Dona sudah terbuka.
Angga melepaskan sabuk pengaman milik Dona dan menarik Dona keluar dari mobil. Dona yang masih merasakan takut hanya bisa diam dan mengikuti tindakan Angga.
Dona masih terdiam seperti orang linglung. Angga mendekat pada Dona. Dan dia tiba-tiba mencium bibir Dona sekilas. Dona masih diam. Dia bertambah syok dengan apa yang di lakukan Angga barusan pada dirinya.
Angga masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan pelan sambil melihat Dona dari kaca spion mobilnya.
Dona seperti tersadar dan memegang bibirnya. Kemudian Dona berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil. Hingga dia terjatuh saat melompat karena high heel nya yang tinggi. Tapi Dona langsung berdiri lagi dan masuk ke dalam rumah sambil terus berjingkrak-jingkrak.
Angga yang melihat tingkah Dona dari kaca spion mobilnya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Sementara, Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dengan tangannya sebelah kiri menggenggam tangan Rena.
Rena menyandarkan kepalanya di pundak Bagas. Dan sesekali mencium tangan milik suaminya. Dengan Bagas selalu mencuim pucuk kepala Rena.
"Semoga kita akan selalu bersama mas. Aku tidak akan biarkan ****** itu menghancurkan rumah tangga kita." batin Rena.
"Mas." panggil Rena dengan lembut.
"Apa sayang?" tanya Bagas sembari mencium pucuk kepala Rena.
"Jangan pernah dekati Intan. Hubungi Intan. Atau bertemu dengan dia." ucap Rena.
"Iya, pasti mas akan lakukan. Kamu tenang saja." ucap Bagas.
"Aku tidak ingin ada Intan-Intan lainnya lagi." imbuh Rena.
"Iya sayang." kata Bagas.
__ADS_1
Bagas melepaskan tautan tangannya bersama Rena dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
BERSAMBUNG.