
Di parkiran rumah sakit nampak tiga lelaki sedang berdebat. Saat Angga ingin masuk ke dalam mobilnya, Bagas dan Galih berada di samping pintu mobil. Mereka hendak ikut Angga menaiki mobilnya.
Angga menatap tajam pada mereka.
"Minggir." kata Angga datar.
"Aku akan ikut, Rena adalah istriku." jawab Bagas.
Sedangkan Galih hanya diam tanpa berkata apapun.
"Kalian bisa naik mobil kalian sendiri." ucap Angga.
"Kamu kira kami bodoh, pasti nanti kamu akan menghilang dari pandangan kami." jawab Galih.
"Heh,, kalian saja yang tidak becus mengendarai mobil." tutur Angga.
"Jangan buang-buang waktu, buka pintunya." kata Bagas.
"Ckk,,, kalian ini merepotkan. Aku tidak suka satu mobil dengan kalian." kekeh Angga.
Dari arah lain, Leon melihat mereka bertiga. Diapun berjalan menghampiri mereka.
"Sedang apa mereka di sana, aku pikir sudah menemui Tio." gumam Leon sambil berjalan.
"Apa yang kalian lakukan?" kata Leon setelah sampai di dekat mereka.
"Kalian sudah lama keluar dari ruangan Rena, kenapa masih ada di sini?" imbuh Leon heran pada mereka bertiga.
"Jangan seperti anak kecil, Tio keburu kabur."
Leon hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka bertiga.
Angga memukul pelan mobilnya dan membuka pintu mobil. Mereka berempat masuk ke dalam mobil. Leon dan Angga duduk di kursi depan, dengan Angga berada di kursi stir.
Sedangkan Bagas dan Galih berada di kursi belakang. Mereka duduk dengan tetap menjaga jarak. Tidak ada percakapan sama sekali di dalam mobil.
"Lebih sepi dan mengerikan dari pada kuburan." celoteh Leon.
Leon berharap ada yang menimpali ucapannya. Tapi ternyata nihil. Zonk.
Di rumah sakit, nampak dokter sedang memeriksa Rena.
"Bagaimana dok?" tanya Mira.
"Tidak apa-apa. Ini memang ada beberapa luka yang lumayan dalam. Yang terpenting jangan di buat jalan dulu ya bu." jelas dokter pada Rena.
Rena hanya mengangguk sambil berbaring. Sementara Dona berdiri di samping Rena.
Dokter pun telah selesai memeriksa Rena, dan meninggalkan mereka.
"Tio, aku nggak nyangka. Dia bisa berbuat sejauh ini." ucap Dona.
"Don, aku mau tanya." kata Rena sambil melihat ke arah Dona dan Mira bergantian.
"Apa?"
"Maaf ya mbak Mira, jika pertanyaan ku pada Dona membuat mbak Mira nggak enak nantinya." ucap Rena dengan hati-hati.
Mira hanya mengangguk kecil dan sedikit menarik sudut bibirnya.
"Apa kamu,,,, sudah,,, pernah me-emmm, melakukan. Maksud ku,,,."
Rena tampak enggan meneruskan pertanyaannya pada Dona. Selain dia tidak enak pada Mira, Rena juga merasa pertanyaan yang akan di ajukan pada Dona adalah masalah pribadi Dona. Yang tidak seharusnya Rena menanyakan hal tersebut pada Dona.
"Nggak Ren. Aku tahu kamu mau tanya apa. Dan jawabannya tidak pernah sekalipun." jawab Dona dengan mantap.
"Memang pernah Tio mengajakku bermain di ranjang, tapi aku menolak." imbuh Dona sambil melirik ke arah Mira.
"Kalau kalian tidak percaya, kita bisa periksa ke dokter. Untuk membuktikan aku masih perawan atau nggak." pinta Dona.
__ADS_1
"Nggak perlu." kata Rena dan Mira bersamaan.
Mereka bertiga saling memandang dan tertawa.
"Maaf, pernah membuat kamu merasakan sakit hati." ucap Dona pada Mira.
Mira hanya menggeleng pelan dan mengelus pundak Dona.
"Sebenarnya, aku juga sama seperti kamu Don." kata Mira.
Dona dan Rena hanya diam. Mereka mencoba mencerna perkataan dari Mira.
"Aku masih perawan." imbuh Mira.
Sontak, Rena dan Dona melongo tidak percaya. Bahkan mereka memandang Mira tanpa berkedip.
"Mbak Mira jangan bercanda." ucap Rena.
"Jangan panggil mbak dong Ren. Serasa tua. Kita kan seumuran." kata Mira.
"Oke. Mira." kata Rena sambil menyatukan jari telunjuk dan jempolnya.
"Nggak mungkin kamu belum pernah melakukannya. Secara,,, Tio kan. Astaga." kata Dona masih tidak percaya.
"Sumpah. Mas Tio belum sekalipun menyentuhku." ungkap Mira dengan raut muka sedih.
"Lantas." kata Dona.
Mira hanya mengangkat kedua bahunya dan memaksakan senyumnya.
"Oke. Tidak usah di bahas." ucap Rena mengalihkan perhatian mereka.
Rena sadar betul. Saat ini Mira pasti sangat terpukul. Suaminya yang sama sekali tidak pernah menginginkannya, malah berusaha melecehkan wanita lain. Dan itu adalah dirinya sendiri.
Saat mereka sedang asik mengobrol, pintu kamar rawat Rena terbuka dari luar.
Tanpa mengucapkan salam, bu Anis langsung masuk dan mendekat ke arah menantunya. Bahkan Dona dan Mira berasa tidak ada di mata bu Anis.
"Nggak apa-apa bu. Hanya sedikit nggak enak badan." jawab Rena.
Dia tidak ingin mertuanya cemas karena keadaannya.
"Mbak Rena hobi banget masuk rumah sakit." celetuk Lina.
"Aww,,"
Lina meringis saat tangan pak Ramli bersarang di telinganya.
Dona dan Mira langsung bersalaman dengan kedua orang tua Bagas dan juga Lina.
"Bagas ke mana, kok nggak ada?" tanya bu Anis.
"Mas Bagas ada keperluan bu, tadi juga di sini. Baru saja keluar." jelas Rena.
"Ckk,, istri sakit. Bukannya di tunggu, malah kelayapan. Kamu telpon mas mu Lin?" omel bu Anis.
"Nggak perlu bu, tadi mas Bagas sudah izin ke Rena. Lagian ada Dona dan Mira di sini." tutur Rena.
"Oh iya tante, Intan tidak ikut?" tanya Dona.
"Tidak nak."
Pak Ramli menjawab dulu pertanyaan Dona. Beliau takut jika istrinya yang menjawab, pasti akan berbuntut panjang.
Sementara bu Anis melengos mendengar jawaban singkat dari suaminya.
"Lin, kamu sudah dapat pekerjaan?" tanya Rena.
Lina hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gimana Don?" tanya Rena sambil memandang Dona.
"Bisa." jawab Dona singkat.
"Kamu mau kan kerja di butik Dona. Mbak kan masih sakit. Terus Intan juga tidak bisa di harapkan." jelas Rena.
"Iya Lin, dari pada aku harus mencari karyawan baru. Kalau kamu kan aku sudah kenal. Lagian Intan kalau di tanya pasti jawabannya ngambang." ucap Dona.
"Ngambang, mbak Dona ada-ada saja." kata Lina.
"Jika gue kerja, berarti gue nggak bisa pantau Intan dong. Terus kalau Intan datang ke rumah mbak Rena bagaimana?" batin Lina.
"Bagaimana?" tanya Dona.
"Iya mbak." jawab Lina sambil menoleh ke arah orang tuanya secara bergantian.
"Kenapa Lin?"
Rena bertanya pada Lina, karena Rena merasa raut muka Lina nampak tidak bahagia. Rena hanya takut jika Lina menerima pekerjaan ini karena terpaksa.
"Kalau kamu nggak mau jangan di paksakan, mbak nggak apa-apa kok. Iya kan Don? Nanti biar Dona cari karyawan lain saja." ucap Rena merasa tidak enak.
"Huft,, jadi salah paham." batin Lina.
"Sudah, kamu terima saja." tutur bu Anis.
"Benar bu?" tanya Lina.
"Iya, biar nanti mbak mu ibu yang urus." jelas bu Anis.
"Baiklah." kata Lina dengan tingkah centilnya.
Lina lega mendengar jawaban ibunya. Rena dan yang lain hanya bisa tersenyum melihat tingkah Lina.
"Awwww...."
Rena berteriak kencang saat kakinya tidak sengaja tersenggol pantat Lina yang hendak duduk di pinggir ranjang dekat kaki Rena bagian bawah.
"Mbak kenapa?" tanya Lina kaget.
Bukan hanya Lina yang kaget. Seisi ruangan kaget dengan suara teriakan Rena.
"Awwww..."
Rena berteriak kembali sambil menangis karena telapak kakinya di pegang Lina.
"Jangan di sentuh Lin."
Dona segera menarik Lina supaya menjauh dari Rena.
"Kamu kenapa Ren?"
Bu Anis dan pak Ramli pun menjadi panik.
Segera Mira membuka selimut Rena. Tampak perban di telapak kaki Rena sedikit berwarna merah.
"Panggil dokter Don." suruh Mira.
Melihat ke dua telapak kaki Rena di perban, bu Anis, pak Ramli, dan Lina hanya terbengong. Sembari menatap Rena yang meneteskan air mata.
"Ada apa ini?" tanya pak Ramli bingung.
Bu Anis mendekati menantunya dan menghapus air mata Rena. Padahal di pipinya sendiri saat ini sudah basah karena air matanya.
"Apa yang terjadi Ren?" tanya bu Anis lirih sambil menangis.
Lina hanya berdiri, dan sesekali menghapus air matanya yang jatuh. Sementara tangan kirinya masih membungkam mulutnya sendiri. Dia juga memperhatikan telapak kaki Rena.
BERSAMBUNG.
__ADS_1