Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 104


__ADS_3

Plakkk


Telapak tangan Lina langsung menampar pipi Intan.


"Auu." teriak Intan sambil memegang pipinya.


"Kalian." imbuh Intan geram.


"Apa. Dasar pelakor." sarkas Wati.


"Berani elo deketin mas Bagas, habis elo sama kita." kata Sari sambil menjambak rambut Intan.


"Aaa." teriak Intan sambil memegangi rambutnya karena jambakan dari Sari.


Intan terhuyung beberapa langkah ke belakang setelah Sari melepaskan tangannya dari rambut Intan. Setelah itu Sari mengibas-ngibaskan tangannya.


"Kenapa elo?" tanya Wati yang melihat Sari mengibas-ngibaskan tangannya.


"Bau. Elo mau cium." kata Sari sambil memandang ke arah Intan.


"Jijik. Paling bau comberan." ucap Wati.


"Jika elo masih berani ngusik rumah tangga kakak gue. Gue pastikan hidup elo nggak akan tenang." kata Luna sambil mencengkeram dagu milik Intan dengan tangannya.


"Lepasin gue bedebah." kata Intan dengan menepis tangan Lina yang berada di dagunya.


Saat Intan hendak melayangkan tangannya untuk menampar Lina, tangan Intan di cekal oleh Sari terlebih dulu.


"Enaknya kita apain?" tanya Sari.


"Kalian pegangin." suruh Lina pada Wati dan Sari.


"Oke." kata Sari.


"Dengan senang hati." imbuh Wati.


Tangan Intan di pegang oleh Wati dan Sari. Sementara Lina mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Widih. Mau apa kau?" tanya Wati dengan logat lucunya saat melihat Lina mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Lina berjalan, dan berhenti tepat di belakang Intan. Di ambilnya rambut Intan. Dan.


Krek krek krek...


Terdengar suara rambut yang sedang di gunting.


"Lepasin gue. Apa yang kalian lakukan. Beraninya main keroyokan. Lepasin." teriak Intan sambil berusaha melepaskan diri dari Wati dan Sari.


Sementara Lina masih dengan santai memotongi rambut panjang Intan.


"Selesai." ucap Lina sambil memasukkan kembali guntingnya ke dalam tas miliknya.


Wati dan Sari pun melepas cekalan tangan mereka pada Intan.


"Kalian." geram Intan sambil meraba-raba rambutnya.


"Kenapa nggak elo botakin saja." kata Sari.


"Ini hanya peringatan. Kalau elo masih nekat. Gue pastikan, tidak ada satu helai pun rambut yang akan tersisa di kepala elo." ucap Lina sambil melenggang keluar dari rumah Intan.


"Nama elo Intan. Kelakuanku elo, comberan. Parasit." tukas Sari.


"Kalau elo nggak mau insyaf, gue infus elo. Biar sadar." imbuh Wati.

__ADS_1


Wati dan Sari pun menyusul Lina keluar dari rumah Intan. Ternyata dari balik tembok, ada beberapa pembantu yang menyaksikan kejadian tadi. Dan sepertinya mereka juga tidak ada inisiatif untuk membantu anak dari majikannya tersebut.


"Udah, kita pergi. Keburu ketahuan sama anak lampir nanti." ucap salah satu dari mereka.


Baru saja Lina dan teman-tamannya pergi meninggalkan rumah Intan, seorang lelaki sudah berada tepat di pintu masuk rumah.


"Ternyata sangat lemah." ucapnya sambil memandang remeh pada Intan.


Mendengar ada seseorang yang berbicara, Intan lantas menengok ke arah sumber suara. Ternyata Galih melihat semua kejadian tadi.


Sebenarnya dia ingin berbicara dengan Intan tentang masalah papa dan mamanya Intan. Tetapi Galih malah mendapatkan surprise yang sangat memanjakan matanya.


"Kalau begitu gue pulang saja. Air mata gue mau keluar, lihat elo kayak gini." imbuh Galih sambil tertawa dan melangkahkan kakinya pergi.


"Aahhhh." teriak Intan dengan memandangi rambutnya yang tercecer di lantai.


Intan berjalan menuju ke dalam kamarnya dan berdiri di depan cermin. Di lihatnya rambut indahnya kini sudah berubah tak terbentuk.


"Kalian, lihat saja. Dan elo, Lina. Gue pastikan, elo akan menerima balasan dari gue." kata Intan dengan air mata menetes di pipinya.


Setelah selesai sholat subuh, Bagas dan Rena berangkat menuju kampung halaman Rena. Tadi malam, Rena sudah menghubungi keluarga Bagas dan juga mak Irah atas kepergian mereka ke kampung halaman Rena.


Sedangkan Bagas sudah minta izin ke kantor jika dia cuti satu hari.


"Kamu sudah memberitahu bapak sama ibu?" tanya Bagas sambil menyetir mobil.


"Belum." jawab Rena.


"Sera." kata Bagas.


"Nggak juga. Aku mau kasih surprise untuk mereka mas." ucap Rena antusias.


"Terserah kamu. Lebih baik kamu tidur saja. Ini masih subuh." ucap Bagas sambil mengelus rambut Rena.


Tetapi, sudah beberapa hari Rena selalu tidur setelah sholat subuh. Bahkan mak Irah selalu masak sendirian saat pagi. Dan juga Rena merasa malas untuk melakukan pekerjaan rumah. Dia hanya ingin tidur, tidur, dan tidur.


"Sudah sampai mana mas?" tanya Rena sambil mengucek-ngucek matanya.


Dilihatnya matahari sudah menampakkan sinarnya.


"Ini masih setengah perjalanan sayang." jawab Bagas.


Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke rumah kedua orang tua Rena memakan waktu sampai 5 jam.


"Mao aku gantikan nyetir mobilnya?" tawar Rena.


"Nggak usah." jawab Bagas.


"Kita berhenti dulu ya. Mas mau ngopi sambil sarapan." ajak Bagas.


"Oke." ucap Rena.


Rena dan Bagas berhenti di sebuah rumah makan lesehan.


"Pelan-pelan makannya. Nanti keselek." ucap Bagas.


Rena makan sangat lahap. Dia seperti tidak makan beberapa hari saja.


"Ini enak banget mas." jawab Rena sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Saat Rena tengah lahap makan, ponselnya berbunyi. Menandakan sebuah pesan masuk ke dalam ponsel miliknya.


Di bersihkan dulu telapak tangannya, dan diambilnya ponsel di dalam tasnya.

__ADS_1


"Intan." gumam Rena masih bisa di dengar oleh Bagas.


"Kenapa?" tanya Bagas.


"Astaga." ucap Rena setelah melihat foto Intan.


"Mas lihat ini." ucap Rena sambil menyerahkan ponselnya pada Bagas.


"Astaga." kata Bagas.


Intan mengirim foto dirinya dengan mata sembab dan rambut yang masih berantakan karena ulah Lina. Entah apa maksud Intan mengirim foto tersebut pada Rena.


"Lina, Lina." ucap Bagas sambil geleng-geleng.


"Apa Lina juga sudah tahu." batin Rena sambil memandang ke arah Bagas.


"Lina sudah tahu sayang." ucap Bagas.


Bagas seperti mengerti apa yang ada di dalam pikiran istrinya.


"Dari mana Lina tahu?" tanya Rena.


Bagas hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan dari Rena.


"Aku takut mas. Kalau Intan dendam ke Lina bagaimana. Aku takut Lina kenapa-napa." ucap Rena mencemaskan adik iparnya.


"Lina ekstrim juga sih. Pake acara potong rambut segala." ucap Rena sambil tertawa dan menatap foto Intan di ponselnya.


"Kamu nggak usah mengkhawatirkan Lina. Dia itu tidak seperti kamu. Dia bisa bela diri." jelas Bagas.


"Benar. Mas nggak bohong." tanya Rena tidak percaya.


"Iya, sewaktu SMA dia ikut semacam perguruan silat. Tapi kamu jangan bilang bapak sama ibu. Mereka nggak tahu." ucap Bagas.


"Ya ampun. Hebat banget sih. Jadi pengen." ujar Rena.


"Nggak ada. Nggak boleh. Aku suka kamu seperti ini. Lemah lembut." kata Bagas sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Bilang saja kamu takut. Jika aku seperti Lina, pasti saat ini kamu sudah babak belur." ucap Rena sambil cemberut.


"Jangan dong sayang. Aku nggak akan mengulang lagi kesalahan yang sama. Aku bukan lelaki bodoh." kata Bagas.


Di dalam kamar Intan terus memperhatikan ponselnya.


"Gimana sih Rena ini. Cuma di lihat doang. Nggak di balas. Apa nggak punya rasa kasihan gitu." omel Intan.


"Percuma dong gue kirim foto sama dia. Nggak ada guna. Sebel. Lagian kenapa mas Bagas pake acara blokir nomor gue sih. Aaahhh."


"Mas Bagas sudah lihat apa belum ya. Pasti kalau dia lihat, mas Bagas akan kasihan sama aku. Pasti Rena nggak kasih lihat foto itu ke mas Bagas. Pasti dia takut mas Bagas akan nyamperin aku."


"Lebih baik gue ke salon saja. Ini semua karena Lina. Dasar brengsek." umpat Intan.


Di rumah pak Ramli, Lina tengah bercerita pada ibunya tentang apa yang dia dan teman-temannya lakukan tadi malam kepada Intan.


"Bagus. Ibu setuju. Tapi ingat, jangan sampai bapakmu tahu. Bisa habis di omeli kamu sama bapakmu." ucap bu Anis pelan.


"Ibu tenang saja. Aman pokoknya." ucap Lina.


Bu Anis dan Lina langsung ber-tos ria. Dan tertawa.


"Ada apa nih, seneng banget." tanya pak Ramli begitu sampai di meja makan.


"Urusan perempuan pak. Bapak nggak perlu tahu." jawab Bu Anis.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2