Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 56


__ADS_3


Bagas yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Mas bangun sudah pagi." kata Rena sambil menggoyang pelan tubuh suaminya.


"Emmmm...." Bagas membuka mata sambil menggeliat.


"Cepat sana, sholat subuh dulu. Aku mau ke dapur."


"Di sini saja. Banyakin istirahat. Biar sembuh dulu."


Bagas menahan tangan Rena yang hendak beranjak dari tempat tidur.


"Nggak enak sama ibu mas."


"Ibu pasti ngerti kok sayang."


Bagas memeluk badan Rena sambil menyandarkan kepalanya di pundak Rena. Dengan mata terpejam.


"Iiihhh,, malah merem." Rena mencubit gemas hidung Bagas.


"Sudah sana cepat, lagi pula aku kan cuma mau menyapa ibu saja. Aku janji nggak ngapa-ngapain."


Rena mengangkat tangannya membentuk huruf v.


"Ya sudah sana. Ingat, jangan ngapa-ngapain. Lagi pula mas yakin. Nanti setelah kamu sampai di dapur, pasti di usir sama ibu. Di suruh kembali ke kamar."


"Sok tahu."


Bagas mengacak pelan rambut istrinya dan beranjak pergi ke kamar mandi. Rena berdiri dan mengambil pakaian Bagas di dalam almari, lalu menaruhnya di atas nakas.


Kemudian dia keluar kamar menuju dapur.


"Pagi bu, pagi mak."


"Kamu kok ke sini sih Ren." kata ibu khawatir.


"Nggak apa-apa bu, lagian Rena kan cuma mau duduk di sini." kata Rena sambil menaruh bokongnya di kursi.


"Kamu itu lama-lama seperti Lina. Susah kalau di kasih tahu. Kalau sakit itu harus banyak istirahat." ucap bu Anis sambil tangannya memotong sayuran.


Mak Irah yang mendengarkannya hanya tersenyum bahagia. Dia senang bu Anis sangat memperhatikan majikannya.


"Lagi pula kamu nggak kedinginan, nggak pakai jaket. Nanti kamu nggak cepat sembuh. Sebaiknya kamu kembali ke kamar. Di sini dingin. Sudah sana, kembali ke kamar. Di bilangin malah senyam senyum."


"Iya bu, kalau begitu Rena kembali ke kamar. Maaf nggak bisa bantu."


"Mbak Rena, mbak kan lagi sakit. Malahan bu, jika tidak sakit mak datang mbak Rena sudah berada di dapur lebih dulu. Masakannya saja sudah hampir beres semua." kata mak Irah.

__ADS_1


"Bohong bu, jangan dengarkan mak Irah. Tukang bohong tu mak Irah bu. Bohong dosa lo mak." ucap Rena sambil berjalan menuju kamar.


"Jujur mak, saya sangat senang Bagas mendapat istri seperti Rena. Walaupun mereka belum di beri momongan. Tapi saya sangat menyayangi Rena seperti saya menyayangi anak saya sendiri."


Mak Irah yang mendengarkan perkataan bu Anis juga merasa bahagia.


"Kitakan tidak bisa menyalahkan siapapun, karena mereka belum di beri momongan. Lagi pula itu semua di luar kemampuan kita sebagai manusia kan mak. Jika Alloh menghendaki, pasti suatu hari mereka akan di beri momongan."


"Amin." ucap mak Irah.


Sementara di dalam kamar Rena langsung melihat ponselnya yang tergeletak di atas meja.


"Ya Ampun, baterainya sampai habis." ucap Rena sambil mencolokkan charger ke ponsel miliknya.


*****


Intan dan Lina sedang berada di dapur.


"Elo bisa masak Tan?"


"Bisa sih, masak telor ceplok sama mie."


"Itu sih gue juga bisa. Nyesel gue nggak dengerin omongan ibu."


"Kenapa?"


"Elo nggak marah."


"Marah kenapa?"


"Jelaskan, ibu lo ngebandingin elo sama kakak ipar elo."


"Kenapa harus marah, emang kenyataannya. Lagi pula gue justru seneng punya kakak ipar seperti mbak Rena. Bisa segalanya. Jadi, kalau gue nggak bisa kan bisa minta tolong untuk ngajarin gue."


"Tapi tetep aja, nggak bisa ngasih elo keponakan."


"Gue kan udah pernah bilang, keluarga gue bukan keluarga seperti di film film. Menantu nggak bisa ngasih keturunan, terus di buang."


Percakapan mereka terhenti saat pak Ramli sampai di dapur.


"Kalian mau masak apa?"


"Nggak tahu pak, Lina sama Intan cuma bisa ceplok telur." kata Lina melihat pak Ramli sambil memanyunkan bibirnya.


"Kalian beli makan untuk sarapan di luar saja. Nanti keburu bapak berangkat kerja belum ada makanan untuk sarapan. Makanya Lin, jadi perempuan harus bisa masak. Jika sudah berkeluarga mau kamu kasih makan apa anak dan suami kamu."


"Bisa beli kan pak." bantah Lina.


"Kita tidak tahu ekonomi keluarga kita seperti apa. Kadang di bawah, kadang di atas. Kamu mengertikan maksud bapak."

__ADS_1


"Iya pak, nanti Lina minta tolong mbak Rena ngajarin masak Lina."


"Jangan mbak mu, dia habis sakit. Sama ibumu saja."


"Nggak mau, ibu cerewet. Apa-apa salah. Ini salah. Itu salah. Nggak begini. Nggak begitu. Lebih enak sama mbak Rena. Lina nunggu mbak Rena sembuh saja dulu. Kan beres."


Intan hanya diam, dia tidak menimpali pembicaraan mereka.


"Mana pak uangnya Pak, Lina mau beli sarapan sekarang." kata Lina mendekat ke tempat pak Ramli berdiri sambil menengadahkan telapak tangannya di depan bapaknya.


Pak Ramli merogoh saku celana, dan mengeluarkan selembar uang kertas seratus ribuan.


"Ini, cepat beli sana. Bapak sebentar lagi mau berangkat kerja." ucap pak Ramli sambil memberikan uang pada Lina.


"Bapak saja belum mandi. Nyuruh Lina cepat-cepat. "


Lina mengambil uang dari tangan pak Ramli dan bergegas pergi.


"Intan, jangan lupa sapu lantainya." teriak Lina.


Karena saat ini Lina sudah berada di ruang tamu. Pak Ramli hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak perempuan satu-satunya. Ya iyalah satu-satunya. Yang satu kan laki-laki. Bagas.


Lina dan Bagas, mereka mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang.


Bagas lebih pendiam, dia akan bersikap dingin pada orang yang belum di kenalnya. Pembawaannya juga sangat tenang. Jika di beri nasihat oleh orang tuanya, dia hanya diam dan menyimak tanpa berkata sepatah kata pun.


Sementara Lina, dia sangat cerewet. Mudah bergaul, walau dengan orang yang baru di kenalnya. Dia tidak bisa duduk diam. Ada saja tingkahnya yang membuat orang tuanya kesal. Dan lagi, jika di beri nasihat oleh orang tuanya, pasti akan membantah dan menjawab.


Seperti kuis saja. 🤭🤭


Mendengar teriakan Lina yang menyuruhnya menyapu, membuat Intan sedikit kesal.


"Dia pikir aku pembantu apa di sini." gumam Intan.


Padahal dirinya saat ini sedang menumpang tinggal di rumah Lina. Tidak tahu diri.


"Ckk,,"


Intan pergi mengambil sapu, lantas dia menyapu lantai. Dia menyapu sambil mengomel pelan dan memanyunkan bibirnya. Sambil sesekali berhenti menyapu dengan tangan yang satunya berkacak pinggang.


Pak Ramli dari kejauhan tidak sengaja memandang Intan. Beliau hanya diam dan memperhatikan. Kemudian pak Ramli meninggalkan tempatnya berdiri dan pergi menuju kamarnya untuk bersiap pergi bekerja.


Intan tampak nyaman tinggal di rumah orang tua Bagas. Di seperti tidak tahu malu. Padahal dirinya sudah sembuh. Tapi tidak ada niat untuk meninggalkan rumah pak Ramli.


Ya iyalah, hidup gratis. Makan gratis, tidur tidak perlu bayar. Intinya dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk tinggal di rumah pak Ramli.


Pernah sekali dia memberi uang pada pak Ramli, tetapi di tolak oleh pak Ramli.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2