Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 113


__ADS_3

"I LOVE YOU." ucap Galih menirukan perkataan Lina. sambil menggelengkan kepalanya.


Galih diam sambil memikirkan perkataan Lina.


"Rena hamil. Jika Lina tahu perbuatan Bagas, apa Rena juga sudah tahu. Tapi kenapa Rena dan Bagas terlihat biasa saja. Intan, dari mana dia tahu jika aku menyukai Rena. Dan kenapa Intan mengajakku bekerja sama untuk memisahkan Rena dan Bagas." ucap Galih sambil berpikir.


Keesokan hari, saat masih subuh. Terjadi sedikit ketegangan di rumah Bagas.


"Sayang, apa sudah lebih baik?" tanya Bagas sambil memijat tengkuk Rena.


"Sudah mas." jawab Rena.


Sedari tadi Rena selalu muntah-muntah. Bagas yang melihatnya merasa takut bercampur khawatir. Dengan pelan di papahnya Rena untuk kembali ke tempat tidur.


"Sebentar ya sayang." ucap Bagas dan segera pergi ke dapur.


"Mak Irah belum datang juga. Bagaiman ini. Lebih baik aku buatkan teh hangat saja." ucap Bagas pada dirinya sendiri.


Bagas kembali ke dalam kamar dengan membawa segelas teh hangat.


"Sayang, di minum dulu ya." kata Bagas.


Rena bangun dari tempatnya berbaring dan segera meminum teh hangat yang di buatkan oleh suaminya.


Kemudian dia kembali lagi berbaring dan memejamkan mata.


Bagas yang baru pertama kali melihat Rena seperti ini merasa bingung. Sesekali di pegangnya dahi Rena. Kemudian dia berjalan ke dapur untuk melihat, apakah mak Irah sudah datang apa belum.


"Kenapa jamnya berjalan lambat sekali sih." ucap Bagas sambil menggerutu.


"Kenapa sayang?" tanya Bagas saat melihat Rena bangun lagi.


"Mual lagi mas." jawab Rena.


Rena kembali memuntahkan isi perutnya. Meskipun isinya hanya teh hangat yang baru saja di minumnya.


Bagas mendengar suara pintu terbuka.


"Pasti itu mak Irah." gumam Bagas.


Setelah mengantar Rena kembali berbaring di tempat tidur, Bagas segera pergi ke dapur.


"Alkhamdulillah mak, akhirnya datang juga." kata Bagas merasa lega.


"Ada apa mas?" tanya mak Irah khawatir.


"Rena dari tadi muntah terus mak. Sudah Bagas buatkan teh hangat, tetapi muntah lagi." ucap Bagas.


"Kenapa mas Bagas tidak menelpon dokter saja." kata mak Irah.


"Ini masih subuh mak. Bagas mau telpon siapa?" tanya Bagas.

__ADS_1


"Ya sudah, mak buatkan bubur dulu. Siapa tahu nanti mbak Rena mau. Soal dokter, kenapa mas Bagas tidak menelpon dokter Angga saja." kata mak Irah.


"Dokter Angga. Lebih baik mak Irah buatkan bubur dulu saja ya. Bagas mau melihat Rena dulu." kata Bagas.


"Apa aku harus menghubungi Angga. Iya, biar Angga tahu bahwa Rena sedang hamil. Supaya dia berhenti mengejar Rena." kata Bagas.


"Tapi kan Angga bukan dokter kandungan." kata Bagas saat hendak menghubungi Angga.


Bagas tidak jadi menghubungi Angga. Dia mendekat pada Rena.


"Kelihatannya Rena tidur lagi. Lebih baik aku sholat dulu saja." gumam Bagas.


Selesai sholat Bagas kembali ke dapur. Dan mengambil bubur buatan mak Irah.


"Mas Bagas nggak kerja?" tanya mak Irah.


"Belum tahu mak. Sebenarnya hari ini Bagas sudah harus masuk kerja. Tapi Bagas khawatir sama Rena." ucap Bagas.


Karena Rena terus menerus muntah, Bagas akhirnya menelpon Angga dan meminta tolong padanya untuk mencarikan dokter kandungan yang bisa datang saat ini juga ke rumahnya.


Tidak lama setelah Bagas menelpon Angga, seorang dokter kandungan datang ke rumah Bagas. Pastinya beliau datang bersama Angga. Dan juga Dona. Entah bagaimana ceritanya, Dona bisa ikut bersama mereka untuk datang ke rumah Bagas.


"Bagaimana Dok?" tanya Bagas dengan khawatir.


"Tidak apa-apa pak. Kejadian seperti ini memang sering terjadi pada ibu hamil. Apalagi kehamilan bu Rena masih menginjak 6 minggu." jelas dokter Puspa.


Dokter kandungan yang di bawa Angga ke rumah Bagas.


"Iya pak, nanti akan saya berikan obat untuk meredakan mual dan muntah untuk ibu Rena. Bapak tenang saja, kita akan lihat perkembangannya nanti ya pak. Setelah minum obat." jelas dokter Puspa.


"Sudah Gas, pasti Rena dan bayinya akan baik-baik saja. Rena perempuan kuat. Pasti janin yang ada di dalam perut Rena juga sama seperti ibunya. Kuat." ucap Dona mencoba menenangkan Bagas.


Padahal Dona sendiri juga merasa khawatir melihat kondisi dari sahabatnya yang terlihat lemas dan pucat.


"Apa perlu di rawat di rumah sakit Dok?" tanya Angga.


"Untuk sementara jangan dulu dok. Kita lihat saja nanti keadaan ibu Rena setelah meminum obat yang saya berikan." kata Dokter Puspa.


"Baiklah." kata Angga.


Angga melihat betapa khawatirnya Bagas. Sejak dari tadi, Bagas selalu di samping Rena dan memandangi istrinya tersebut.


Setelah mendengar bahwa Rena hamil, dan melihat Bagas begitu khawatir terhadap Rena membuat Angga menjadi bingung dan juga penasaran.


"Sebenarnya Bagas khawatir Rena sakit atau karena khawatir dengan janin yang ada di dalam kandungan Rena." batin Angga sambil terus memperhatikan Rena yang saat ini sedang tertidur di ranjang.


"Apa aku bisa mempercayai Bagas. Seandainya Rena tidak hamil, apa Bagas akan khawatir seperti sekarang ini. Bagaimana jika dia kembali menyakiti Rena." batin Angga.


Tidak sulit bagi seorang Angga untuk mengetahui apa saja yang menimpa Rena. Dan apa saja yang terjadi dalam rumah tangga dari perempuan yang dia cintai tersebut.


"Bapak tenang saja, janin yang ada di dalam kandungan bu Rena baik-baik saja." kata dokter Puspa pada Bagas.

__ADS_1


"Terimakasih dok. Tapi bukan hanya janin yang ada di dalam kandungan Rena yang saya khawatirkan. Tapi juga Rena nya dok. Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan mereka berdua." ucap Bagas dengan mata berkaca-kaca.


"Iya pak, saya paham maksud bapak. Tapu kondisi ibu Rena juga tidak apa-apa. Mereka berdua dalam kondisi yang baik. Nanti setelah sarapan, jangan lupa ya pak, suruh ibu Rena untuk meminum obat dan vitamin yang saya berikan. Dan untuk obat yang di peroleh dari desa, seperti yang saya tunjukkan tadi. Ada yang tetap terus di minum. Tapi ada juga yang di hentikan." jelas dokter Puspa.


"Baik dok, terimakasih." ucap Bagas.


Angga tersenyum samar saat mendengar perkataan Bagas yang mengkhawatirkan keduanya. Rena dan janin yang ada di dalam perut Rena.


Entah apa arti dari senyuman Angga. Hanya dia sendiri yang mengetahuinya. Setelah pemeriksaan Rena selesai, mereka pun meninggalkan rumah Bagas.


Sementara Bagas memutuskan untuk bekerja karena ternyata ibunya datang ke rumahnya. Lagi pula Bagas hanyalah karyawan biasa di perusahaan tempatnya bekerja. Dia bukan pemilik perusahaan, jadi dia tidak bisa semaunya sendiri.


Bagas menitipkan istrinya pada bu Anis dan juga mak Irah selam dia bekerja. Dia juga berpesan, supaya mak Irah segera menghubungi dirinya jika terjadi sesuatu.


Di kantor, Galih sering memandang ke arah Bagas. Entah apa yang ada di benak Galih setelah mengetahui bahwa Rena hamil.


Sedangkan Bagas selalu menelpon ke rumah, hanya untuk sekedar bertanya tentang keadaan Rena.


"Elo kenapa sih Gas, tumben banget. Telpon rumah terus." tanya Leon merasa aneh.


"Rena sedang tidak enak badan. Gue khawatir." jawab Bagas.


"Lah, kenapa elo masuk kerja. Sudah tahu istri lagi sakit." ucap Leon.


"Gue udah libur hari jum'at. Sedangkan gue cuma di beri izin libur satu hari. Bisa di pecat gue. Elo mau biayain hidup keluarga gue, kalau gue di pecat?" tanya Bagas.


"Enak aja. Sekarang aja kebutuhan gue tambah Gas. Elo tahukan sekarang gue sudah punya anak." kata Leon.


"Terus Rena bagaimana?" tanya Mira.


"Tadi pagi sudah di periksa sama Dokter. Sekarang ibu ada di rumah gue. Jadi gue bisa lega dan nggak terlalu begitu khawatir." jelas Bagas.


"Lah, kalau elo sudah nggak khawatir, kenapa elo telpon terus?" tanya Leon.


"Terserah gue. Ponsel-ponsel gue. Berisik elo." ucap Bagas dengan sewot.


"Elo sendiri gimana, istri elo udah balik?" tanya Bagas.


"Gue juga bingung. Sudah satu bulan lebih tahu nggak. Di ajak pulang tetap saja belum mau. Ada aja alasannya. Mana setiap minggu gue harus ke sana." kata Leon meras bingung dengan kemauan istrinya.


"Curhat eo, curhat." timpal Mira.


"Nggak usah ngejek. Elo sendiri gimana. Udah ketemu sama Tio?" tanya Leon.


"Belum." jawab Mira dengan malas.


"Kasihan. Pengen jadi janda tapi belum bisa." ejek Leon.


Galih hanya diam menyimak obrolan mereka. Pikirannya masih pada ajakan Intan dan juga perkataan Lina.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2