Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 114


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, Rena melewati kehamilannya dengan normal. Dia hanya muntah jika pagi hari saja. Setelah itu dia akan kembali seperti biasanya, makan dengan banyak.


Jika pagi hari Rena pasti terasa mengantuk. Tapi dia selalu teringat perkataan ibunnya, ibu mertua, dan juga mak Irah.


PAMALI JIKA IBU HAMIL TIDUR PAGI


Maka dari itu, Rena selalu menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Sekarang Rena lebih senang merajut. Dan sekarang dia sedang getol-getolnya belajar merajut. Dia belajar melalui YouTube.


Untuk ngidam, Rena tidak terlalu ngidam yang aneh-aneh. Kadang dia memang ingin makan sesuatu. Itupun makanan yang mudah di dapat.


Sementara Bagas semakin memperhatikan istrinya. Dia selalu menelpon Rena jika jam pulang kantor tiba. Dan pastinya dengan senang hati Rena akan menyebutkan makanan yang di inginkannya. Lantas Bagas akan membelikannya dan membawanya pulang untuk di makan oleh istrinya di rumah.


*****


"Sial. Kenapa Galih tidak pernah menghubungi. Dan jika gue hubungi, pasti tidak pernah di angkat. Di wa juga nggak pernah di balas. Sebenarnya di menginginkan Rena apa nggak sih." omel Intan merasa jengkel.


"Apa gue datangi orangnya lagi. Tapi malas banget ketemu dia. Sombong banget." imbuh Intan.


"Lebih baik gue ke rumah Rena saja." kata Intan.


Di rumah Bagas, Rena dan bu Anis sedang merajut.


Rena masih belajar merajut untuk pemula, sedangkan bu Anis yang sudah mahir, merajut jaket kecil yang beliau bilang untuk di pakai anaknya Bagas dan Rena kelak.


Setelah Rena hamil, bu Anis sering ke rumah Bagas. Paling tidak beliau akan datang dua hari sekali. Beliau datang bersama dengan Lina yang akan berangkat kerja ke butik. Dan untuk pulangnya. Pak Ramli selalu menjemputnya.


"Bagaimana, kamu bisa?" tanya bu Anis pada Rena.


"Ini bu. Coba di lihat dulu. Benar apa tidak." kata Rena sambil menyerahkan hasil rajutannya.


"Benar sayang. Padahal kami cuma lihat di tub tub low." kata bu Anis dengan senang.


"You tube bu." ucap Rena.


"Kamu memang telaten dan mudah mengerti. Makanya ibu lebih senang jika ngasih tahu kamu dari pada Lina. Itu anak, susahnya minta ampun. Di suruh belajar masak saja ada alasannya. Yang inilah, yang itulah. Nanti mau belajarnya sama kamu. Pusing ibu Ren." ucap bu Anis.


"Sudahlah bu, biarkan saja dulu. Anak seusia Lina memang seperti itu. Sera saja juga seperti itu bu. Biarkan saja dulu. Jika nanti sudah ada kemauan, pasti mereka akan belajar bu." kata Rena.


"Tapi kapan Ren, ibu cuma takut. Jika nanti dia sudah berumah tangga. Terus waktu di rumah mertua nggak bisa apa-apa. Kan kasihan anaknya Ren. Nanti di omelin sama mertuanya." kata bu Anis.


Sebenarnya seorang ibu atau orang tua, selalu menyuruh anaknya belajar sesuatu bukan karena ingin mengatur atau mengekang sang anak. Tapi kebanyakan dari mereka melakukan hal tersebut, hanya ingin anak-anaknya mandiri.


Karena mereka sadar, bahwa tidak selamanya mereka akan terus berada di samping sang anak.


Rena hanya tersenyum mendengar keluh kesah mertuanya tersebut.


"Ini, kamu lanjutkan lagi." kata bu Anis sambil menyerahkan kembali rajutannya pada Rena.


Saat mereka sedang asik merajut, pintu depan di ketuk dari luar.

__ADS_1


"Biar saya saja yang buka bu." kata mak Irah yang sedang berjalan dari belakang.


"Astaghfirulloh hal'adzim." kata mak Irah memegang dadanya setelah membuka pintu rumah.


"Kenapa. Kaget, lihat orang cantik." kata Intan dengan sombong.


Tanpa permisi, Intan nylonong masuk dan berjalan.


"Ehhh, dasar perempuan nggak waras, nggak punya sopan santun." teriak mak Irah.


"Elo bilang apa. Nggak waras." kata Intan menghentikan langkah kakinya dan menatap tajam mak Irah.


"Iya. Kenapa. Mau marah. Memang situ nggak punya sopan. Main masuk rumah orang. Permisi mbak. Permisi." kata mak Irah merasa kesal dengan perilaku Intan.


"Siapa sih mak?" tanya bu Anis sambil berjalan ke ruang tamu.


Bu Anis merasa penasaran. Siapa tamu yang datang, kenapa mak Irah malah mengajaknya berdebat. Bukan mempersilahkan masuk secara baik-baik.


"Ternyata kamu." ucap bu Anis setelah mengetahui siapa yang datang ke rumah anaknya.


"Kenapa orang tua ini ada di sini?" batin Intan.


"Kenapa. Kaget saya di sini. Ini rumah anak saya, terserah saya jika mau di sini. Kenapa mak marah-marah?" tanya bu Anis.


"Dia main masuk saja bu." jawab mak Irah.


"Kamu nggak pernah sekolah. Pantes nggak punya etika. Bertamu ke rumah orang itu ada etikanya nona Intan." kata bu Anis dengan nada mengejek.


"Wah wah wah. Merasa dirinya tamu penting. Suruh pergi mak. Mual perut saya melihat wajahnya." kata bu Anis.


"Siapa bu?" tanya Rena dari dalam.


Rena merasa aneh. Kenapa ibunya dan mak Irah lama sekali berada di depan.


"Kamu." kata Rena saat melihat Intan.


"Iya. Saya. Kenapa, kaget." kata Intan.


Mak Irah segera berlari ke belakang. Beliau segera menelpon Lina dan memberitahu jika Intan sekarang berada di rumah Bagas.


Mak Irah lebih memberitahu Lina dari pada Bagas karena tempat kerja Lina lebih dekat dengan rumah Bagas. Dan pastinya Lina akan cepat sampai.


"Dasar mandul. Saya tahu, kamu kan yang blokir nomor saya di ponsel mas Bagas." ucap Intan dengan tidak tahu malu.


"Eh eh eh. Mulut mu itu ya. Mau saya rajut." kata bu Anis merasa kesal.


"Bu, tenang." ucap Rena sambil mengelus pelan lengan mertuanya


"Kalau iya kenapa. Saya kan istrinya. Dan pastinya lebih berhak memblokir nomor siapa saja di ponsel suami saya." kata Rena dengan tenang.

__ADS_1


Di belakang, mak Irah tidak bisa menelpon Lina. Beberapa kali mak Irah mencoba menghubungi Lina, tapi tidak diangkat. Mak Irah pun memutuskan memberitahu Dona.


"Baik mak. Saya akan segera ke sana." kata Dona di seberang telepon.


Setelah selesai memberitahu Dona, mak Irah segera kembali ke depan lagi. Beliau khawatir meninggalkan majikannya bersama Intan.


"Istrinya. Nikmati saja peranmu sebagai istri mas Bagas selagi masih berstatus ISTRI. Karena sebentar lagi, pasti mas Bagas akan sadar. Perempuan seperti kamu nggak pantas di pertahankan." kata Intan.


"Mak Irah. Usir perempuan binal ini." teriak bu Anis.


"Dan kamu. Jika saya sudah menjadi istri mas Bagas, saya pastikan, mas Bagas tidak akan pernah lagi menemui kamu." kata Intan dengan percaya diri.


"Ya Alloh, bisa gila saya mendengar mulut kamu bicara omong kosong terus menerus. Sudah sana pergi." kata bu Anis sambil mendorong tubuh Intan keluar dari rumah Bagas.


"Singkirkan tangan kamu." kata Intan sembari mendorong dengan kuat tubuh bu Anis hingga bu Anis terjatuh.


"Aww." teriak bu Anis karena tubuhnya terjatuh ke lantai.


"Bu." teriak Rena dan mak Irah secara bersamaan sambil membantu bu Anis untuk bangun.


"Kamu." kata Rena dengan menatap tajam Intan.


Intan hanya bersedekap dan merasa tidak bersalah karena telah mendorong bu Anis hingga jatuh.


"Sabar Rena. Ingat, kamu sedang hamil." batin Rena sambil mengatur nafasnya.


"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini." kata Rena.


Di belakang Rena, mak Irah memegang tubuh bu Anis. Sedangkan bu Anis tampak menyentuh siku tangannya yang terasa sakit.


"Ini rumah mas Bagas. Bukan rumah elo Rena. Jangan sok berkuasa." kata Intan dengan sombong.


"Huft, maafkan hamba ya Alloh." gumam Rena sambil mengelus perutnya dengan pelan.


Plakkk..


Tangan Rena bersarang di pipi Intan. Mak Irah dan bu Anis melongo melihat kejadian barusan. Rena yang terkenal tidak suka kekerasan, dan lembut. Ternyata bisa melakukan hal seperti itu.


Bu Anis dan mak Irah saling pandang dan tersenyum senang.


"Kamu." ucap Intan sambil memegang pipinya yang di tampar Rena.


Intan hendak membalas tamparan Rena, tapi dengan sigap Rena mencekal pergelangan Intan dan memelintirnya.


"Awww." teriak Intan merasakan sakit di tangannya.


"Saya sudah berusaha bersikap baik sama kamu. Tapi kamu malah ngelunjak. Kamu dorong mertua saya hingga jatuh. Kamu pikir saya akan diam saja. Saat kamu menyakiti orang yang saya sayangi. Kamu belum tahu siapa saya Intan. Jangan membuat saya melakukan sesuatu. Yang pastinya akan membuat kamu sengsara. Jauhi keluarga saya. Paham." bisik Rena tepat di samping telinga Intan.


Rena melepas pelintiran tangannya dan mendorong tubuh Intan ke depan. Intan hanya bisa meringis sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang sakit karena Rena.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2