Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 59


__ADS_3

"Dasar perempuan ular, di hadapan semua orang terlihat baik. Tapi aslinya hatinya busuk." ucap mak Irah sambil memandang Intan.


"Tutup mulutmu. Dasar pembantu. Gue sudah muak dengan elo." kata Intan sambil bersedekap.


"Gue pastikan elo akan dipecat dari pekerjaan elo."


Mak Irah hanya memandang Intan. Mata mak Irah memandang Intan dengan ketidak takutannya.


"Mas Bagas pasti akan memecat elo. Gue pastikan itu."


"Memangnya siapa kamu?" tanya mak Irah.


"Calon nyonya di rumah ini." jawab Intan dengan percaya diri.


Lina yang mendengarnya merasa tidak percaya Intan mengatakan hal seperti itu.


"Apa-apaan ini." batin Lina.


"Jangan mimpi. Nyonya di rumah ini hanya mbak Rena. Perempuan ular seperti kamu tidak akan bisa masuk ke rumah ini." kata mak Irah.


"Kita lihat saja nanti." ucap Intan.


"Aku akan menyebar garam yang banyak di depan rumah. Supaya ular seperti kamu tidak bisa masuk ke rumah ini." kata mak Irah menggebu-gebu.


"Berbicara dengan orang rendahan seperti kamu, tidak ada gunanya. Dasar orang rendahan."


"Pelakor." ucap mak Irah.


Rasa kesal Intan pada mak Irah sudah berada di ubun-ubun. Intan langsung mencekik leher mak Irah.


"Jika ingin hidup tenang, tidak usah ikut campur urusan gue." kata Intan melepaskan tangannya dari leher mak Irah.


Kemudian menepuk-nepuk tangannya seolah ada kotoran yang menempel di telapak tangannya. Mak Irah terbatuk-batuk sambil memegang lehernya.


"Astaga, manusia macam apa Intan itu." batin Lina.


Melihat mak Irah di cekik oleh Intan, Lina hendak menghampiri mereka. Tapi dia tahan. Dan ternyata Intan melepaskan tangannya dari leher mak Irah.


Intan meninggalkan mak Irah dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


"Dia sangat berbahaya. Aku harus menjaga mbak Rena. Ya Alloh, apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus menceritakan pada mbak Rena." kata mak Irah.


"Tapi bagaimana jika mbak Rena mengetahuinya. Dia baru saja sembuh." ucap mak Irah.


Mak Irah menyandarkan badannya di tembok.


"Sebenarnya apa yang terjadi. Aku harus bertanya langsung pada mak Irah sebelum semuanya terlambat. Kelihatannya masalahnya tidak sesederhana yang ku pikirkan. Aku harus menunggu waktu yang tepat untuk bertanya pada mak Irah." batin Lina.


Lina meninggalkan tempatnya dan kembali ke ruang tengah.


"Dari mana saja kamu Lin?" tanya bu Anis.


"Melihat mbak Rena bu."

__ADS_1


"Jangan ganggu mbak mu."


Intan berjalan ke arah bu Anis dan Lina.


"Ada apa Lin?"


Intan merasa Lina memperhatikan dirinya.


"Lama banget, ngapain aja."


"Biasa, BAB dulu." jawab Intan sambil cengengesan.


"Kalian tadi masak apa?" tanya bu Anis.


"Beli nasi bungkus bu." jawab Lina.


"Nanti bawa makanan dari sini saja. Kasihan bapak." kata bu Anis.


"Ibu mau menginap di sini lagi?" tanya Intan.


"Tidak, Rena juga sudah sehat. Kasihan bapak jika ibu tinggal lama-lama. Tidak ada yang memasak." jawab bu Anis.


*****


"Kenapa elo kemarin nggak masuk Gas?" tanya Leon.


"Ada urusan keluarga." jawab Bagas.


"Istri elo sudah di sini?" tanya Bagas mengalihkan perhatian Leon.


"Pakai jasa baby sister."


"Dia nggak mau."


"Leon itu BBD Gas." sahut Mira.


Sontak semua menoleh ke arah Mira.


"Beristri Berasa Duda." jawab Mira sambil tertawa lepas.


Leon melempar bolpoin ke arah Mira. Tapi meleset. Bolpoin nya malah mengenai Galih.


"Sorry Lih, nggak sengaja. Elo Mir." Leon berbicara sambil mengepalkan tangannya ke atas.


"Ini tempat kerja, bukan tempat bermain." kata Galih dengan wajah datar.


"Elo kenapa sih Lih, elo jadi aneh tau nggak. Nggak seperti Galih yang gue kenal." kata Leon.


"Gue tahu elo berdua punya masalah, tapi selesaikan dengan baik-baik. Jangan seperti anak kecil. Kita sudah berteman sejak SMA." ucap Leon kemudian.


Mira hanya diam sambil melihat berkas-berkas di hadapannya. Dia sama sekali tidak ingin terlibat dalam masalah mereka. Dia berpikir ini bukan ranahnya. Dia tidak mau memperkeruh keadaan. Makanya dia lebih memilih diam dan bersikap netral. Tidak membela salah satu dari mereka.


"Gue sih biasa saja." kata Galih.

__ADS_1


"Biasa dari mana. Memang ada seorang laki-laki yang akan terima jika istrinya di sukai oleh pria lain." kata Bagas.


"Itu wajar, dia cantik, seksi, baik. Coba lelaki mana yang tidak suka." balas Galih.


"Dan gue nggak suka ada lelaki lain yang mendekati istri gue." ujar Bagas.


"Astaga,,, gue minta kalian menyelesaikan masalah kalian. Bukan malah berdebat begini." kata Leon.


"Salahkan saja teman mu itu. Jika dia tidak mempunyai perasaan pada istriku, semuanya tidak akan seperti ini." tutur Bagas tanpa menyebut nama Galih.


"Kalian tahu, gara-gara kalian seperti ini atasan kita jadi sering menegur kita. Karena kinerja kita tidak seperti dulu. Kita tidak bisa kompak lagi. Tidak bisa duduk semeja dengan nyaman." kata Leon.


"Ya,, dan lama-lama kita bisa dipecat." sambung Mira mengeluarkan suaranya.


"Dipecat ya keluar. Kenapa harus takut. Gue sih santai." kata Galih dengan nada sedikit tertawa mengejek.


"Walau gue di pecat gue masih bisa menghidupi istri gue, seandainya gue punya istri." ucap Galih sambil memainkan bolpoinnya.


"Elo,,, gue nggak tahu harus ngomong apa lagi yang bisa buat elo sadar." kata Leon.


Semua di ruangan merasa jengah dengan omongan Galih.


Sementara, tidak lama kemudian atasan mereka datang ke ruangan mereka, bersama sekertarisnya. Sontak mereka langsung berdiri.


"Ada yang ingin saya bicarakan."


"Pak, kenapa bapak repot-repot datang ke sini. Bapak tinggal meminta salah satu dari kita ke sana." kata Bagas dengan sopan.


"Tidak perlu, saat ini kinerja kalian sangat buruk." katanya sambil memberi kode pada sekertaris untuk memberikan map berisi berkas pada Bagas.


"Laporan kalian bulan kemarin tidak sesuai. Kalian benahi. Jika bulan ini kinerja kalian masih seperti ini, saya bisa menggantikan anggota divisi kalian." ucapnya sambil melangkah pergi.


"Oh iya, anda masih punya tanggungan pak Bagas. Saya harap kinerja bapak akan kembali seperti dulu lagi."


Setelah atasan mereka pergi semuanya kembali duduk dan terdiam. Galih memandang Bagas dengan bibir kirinya terangkat ke atas. Senyum yang meremehkan.


"Baru saja di bicarakan. Jangan sampai gue di pecat. Bisa mampus gue." kata Mira sambil menaruh kepalanya di meja dengan tangannya sebagai bantal.


"Apalagi cari kerja susah. Jangan sampai kita di pecat." ucap Leon.


"Ini berkas kalian. Kalian benahi lagi. Jangan sampai atasan kita mengembalikan lagi pada kita."


Bagas memberikan map nya pada Leon setelah dia mengambil beberapa lembar kertas yang ada di dalamnya.


Begitu juga Leon, setelah mengambil beberapa lembar kertas, dia menyerahkan pada Mira. Dan Mira menyerahkan pada Galih setelah ia mengambil berkas bagiannya.


Sebelum terjadi selisih antara Bagas dan Galih, mereka selalu mengerjakan sama-sama dalam satu meja. Tetapi setelah terjadi masalah tersebut, Bagas membagi pekerjaan mereka.


Dulu mereka adalah divisi paling kompak. Tidak ada masalah dalam melaksanakan tugas dari atasan. Atasan selalu memuji kinerja divisi mereka.


Tapi setelah terjadi perang dingin antara Bagas dan Galih, semuanya berubah. Tidak ada komunikasi. Tugas dari atasan yang bisanya selesai sebelum waktunya, kini malah sering terbengkalai.


Dan mereka juga sering mendaptkan teguran dari atasan.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2