Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 119


__ADS_3

"Galih pamit sama elo nggak Gas? Mungkin ngomong apa gitu sama elo." tanya Mira begitu Bagas baru mendudukkan pantatnya di kursi.


Galih membuat surat pengunduran diri. Tanpa bicara atau pamit kepada siapapun, Galih tiba-tiba berhenti bekerja.


"Kalian lihat di sosmed." kata Leon memperlihatkan layar ponselnya pada Bagas dan Mira.


Tampak Galih mengunggah sebuah foto tanpa dirinya. Yang menampakkan itu adalah sebuah bandara.


"Elo udah hubungi dia?" tanya Mira.


"Nomornya nggak aktif." jawab Leon.


Bagas hanya diam tidak merespon perkataan dari dua rekan kerjanya tersebut. Bisa di katakan, Bagas mungkin saja senang dengan kepergian Galih. Dengan begitu dia tidak perlu khawatir, karena Rena tidak akan di dekati sahabatnya tersebut.


Ponsel Bagas berbunyi. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel miliknya.


JAGA RENA. SEKALI LAGI ELO SAKITI DIA, GUE AKAN KEMBALI DAN AKAN MEREBUTNYA.


Galih mengirim pada Bagas. Bagas pun membalas pesan tersebut dengan sangat singkat.


PASTI.


"Elo kenapa, senyum-senyum sendiri?" tanya Leon saat melihat senyuman di bibir Bagas.


"Kepo." jawab Bagas.


Entah apa arti dari senyuman Bagas tersebut. Hanya Bagas sendiri yang tahu.


Di butik, Lina nampak murung. Dia baru tahu jika foto di sosmed yang di unggah Galih adalah sebuah bandara. Yang artinya Galih pergi tanpa memberitahu bahkan berpamitan pada dirinya.


"Padahal gue sudah bilang suka sama kak Galih. Kenapa kayak gini. Gue nggak di anggap sama sekali." kata Lina sambil menangis.


"Sudah Lin. Jangan kayak gini. Kita jadi bingung." ucap Sari.


Sari dan Wati hanya saling pandang. Mereka bingung apa yang harus mereka lakukan.


"Baru pertama ini gue suka sama seseorang. Kenapa rasanya hati gue sakit." Lina terus menangis.


Di balik tembok, Dona melihat Lina sedang menangis. Sari dan Wati berada di samping Lina untuk menenangkannya.


Sebenarnya Dona ingin membuka butik, tapi di urungkan karena ada karyawannya yang sedang menangis karena parah hati.


Dona pun kembali ke ruangannya dan memberi waktu pada mereka.


"Padahal gue tahu dari awal. Kak Galih nggak pernah nganggep gue. Dia nggak tertarik sama gue. Nggak pernah. Padahal gue tahu, siapa perempuan yang di sukai kak Galih. Tapi kenapa. Rasanya tetap sesakit ini. Sakit banget tahu nggak." ucap Lina dengan air mata masih terus keluar dari matanya.


"Sudah Lin sudah."


Wati dan Sari memeluk tubuh Lina.


"Apa ini namanya, sakit tapi tak berdarah." kata Lina.


"Elo cantik Lin. Masih muda. Pasti masih banyak lelaki di luar sana yang suka sama elo. Elo tenang saja." kata Wati.

__ADS_1


"Tapi rasanya tetap sakit." Lina memegang dadanya.


Di rumah, Rena sedang berkirim pesan dengan Galih.


Jaga kesehatan kamu dan calon ponakan aku.


^^^Elo pergi ke mana.^^^


Mau nyusul mama. Mau nerusin perusahaan kakek.


^^^Hati-hati.^^^


^^^Oh iya, elo bawa Intan ke mana.^^^


^^^Ingat Lih, dia itu sebenarnya anak yang baik.^^^


^^^Hanya kurang kasih sayang saja.^^^


^^^Jangan sampai elo nyakitin dia.^^^


Elo tenang saja Ren, gue tahu batasan kok.


Galih mematikan ponselnya dan menatap seorang perempuan yang duduk di kursi sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Intan. Galih sengaja mengajak Intan pergi bersamanya. Ada sebuah rencana yang terbesit di otak Galih.


Sebenarnya Intan tidak mau pergi dengan Galih. Tapi karena ancaman dari Galih, akhirnya mau tidak mau Intan mengikuti keinginan Galih.


"Rena, Rena. Padahal dia sudah jahat sama kamu. Beruntung sekali Bagas. Semoga aku bisa mendapatkan perempuan seperti kamu Ren." kata Galih dalam hati.


Galih memang sengaja tidak memberitahu tentang kepergiannya pada Lina. Karena dia tahu jika Lina mencintainya. Dia tidak ingin Lina terlalu berharap pada dirinya.


Lina segera memakai make up untuk menyamarkan matanya yang sembab. Setelah itu dia bergabung bersama yang lain untuk bekerja.


"Lina, hidup terus berjalan. Mungkin sekarang kamu tidak mendapatkan cintanya. Semoga kelak ada seorang lelaki yang bisa mencintai kamu. Amin" Lina berkata pada dirinya sendiri.


Sebuah mobil terparkir di halaman butik. Seorang lelaki tampan berada di dalamnya. Dia sedang bingung tentang keputusan yang akan di buatnya.


"Apa aku bisa hidup berumah tangga tanpa cinta." kata Angga.


Angga berencana akan melaksanakan pertunangan dengan Dona. Yang artinya dia juga sudah pasti akan menikahinya.


Meskipun dirinya sudah rela melepaskan Rena, tidak bisa di pungkiri bahwa dirinya masih ada dalam bayang-banyang Rena.


Membalikkan perasaan memang tidak semudah yang di bayangkan. Mulut bisa berkata bisa, tapi hati tetap tidak bisa di bohongi.


Setiap bertemu dengan Rena, hati Angga masih tetap terasa nyaman. Bibirnya akan melengkung dengan sendirinya. Padahal Angga sudah berjanji akan memberikan Dona kesempatan.


"Kenapa sulit sekali." gumam Angga bersender di kursi mobil sambil memejamkan mata.


Angga mengeluarkan ponselnya dan melihat kontak Rena.


HOT LOVE


Angga tersenyum melihat nama yang dia sematkan pada nomor Rena.

__ADS_1


"Aku harus memulainya." ujar Angga.


Angga menghapus kontak Rena di ponselnya. Setelah itu dia berganti masuk ke dalam galeri foto. Di sana banyak sekali foto Rena yang dia ambil secara diam-diam.


Jarinya mulai berselancar menghapus satu persatu foto Rena sambil memandanginya sebentar.


"Habis sudah." ucap nya saat tidak tersisa satupun foto Rena di dalam ponsel miliknya.


Angga keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam butik Rena. Tidak lupa, Angga menyapa Sari yang berada di kasir.


Di rumah, Rena tampak sedang bersantai dengan merajut kaos kaki bayi. Di depannya ada beberapa macam camilan. Dan pastinya segelas jus buah.


Saat usia kandungan Rena menginjak 4 bulan, mereka mengadakan tasyakuran di rumah. Mereka mengundang tetangga rumah dan pastinya kerabat.


Orang tua Rena dari kampung halaman pun juga datang. Termasuk Sera.


Setelah acara selesai, tamu undangan pun pulang ke rumah masing-masing. Hanya ada beberapa tamu yang merupakan kerabat dari keluarga yang sedang berbincang santai.


"Untung kamu cepat hamil Ren, jika tidak pasti bibi sudah mengenalkan seorang perempuan pada Bagas." celetuk seorang perempuan yang merupakan saudara jauh dari keluarga Bagas.


Semua yang ada di ruangan hanya tersenyum simpul menanggapi perkataannya.


"Iya bu, beruntung mbak Rena cepat hamil. Karena di kampung saya ada seorang lelaki yang menanyakan mbak Rena." ujar Sera tak mau kalah.


Rena hanya memandang tajam pada adiknya tersebut. Tapi sepertinya Sera tidak peduli.


"Wah, tapi perempuan yang mau bibi kenalkan bukan perempuan sembarangan. Dia kuliah di luar negeri. Jurusan Dokter. Anaknya cantik lagi."


"Sama bu, lelaki yang menanyakan mbak Rena juga bukan lelaki sembarangan. Dia masih muda dan tampan. Ibu pasti pernah dengarkan pondok pesantren DAARUL ULUM. Beliau pemiliknya." ucap Sera sombong.


Rena hanya bisa menghela nafas melihat sikap adiknya.


"Kenapa sih Ser, mesti kamu tanggapi." batin Rena.


"Dia adiknya Rena." bisik Angga pada Dona.


Angga dan Dona juga Rena undang. Termasuk Sari ,Wati, Mira dan Leon. Untuk mengundang Angga, terjadi perdebatan antara Rena dan Bagas. Pastinya Bagas tidak ingin Angga hadir di acara tersebut. Dengan alasan yang tidak masuk akal menurut Rena.


KARENA ANGGA PERNAH MENYUKAI KAMU.


SIAPA TAHU, SAAT INI DIA MASIH MEMILIKI HATI SAMA KAMU.


Tapi Rena tetap kekeh dengan berbagai alasan. Akhirnya Bagas mengalah dan Angga di undang ke acara tersebut.


"Kenapa. Nggak dapet kakaknya, kamu mau adiknya." jawab Dona jutek.


"Ngawur. Tajam juga ternyata mulutnya." kata Angga.


"Silahkan di cicipi makanannya. Ayo, mari-mari." ucap pak Ramli mencairkan suasana.


"Apaan sih tu orang. Dari dulu getol banget mau jodohin mas Bagas. Lagian ngapain di undang sih." batin Lina.


Keluarga Rena menginap di rumah Bagas beberapa hari. Karena ada besannya di rumah putranya, bu Anis setiap hari pergi ke rumah Rena. Hanya untuk sekedar mengobrol.

__ADS_1


Sementara Lina minta izin libur kerja untuk satu hari. Dia bermaksud untuk mengajak Sera jalan-jalan sebelum kembali ke kampung halamannya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2