Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 53


__ADS_3

Di pegangnya tangan Rena. Tampak Rena sedikit membuka matanya.


"Jangan di paksakan. Kamu tidur saja. Aku akan tetap di sini sampai Bagas kembali."


Mendengar perkataan Dona, hati Rena merasa nyaman. Rena menampilkan sedikit senyumnya walau dengan mata terpejam.


"Maaf lama."


Bagas datang dan segera mengambil air di nakas.


Dona segera berdiri dan menyingkir dari samping Rena.


"Diminum dulu."


Bagas membantu Rena dengan sedikit mengangkat badan Rena. Sedangkan Dona memegang obat dan juga air minumnya.


Setelah meminum obat, Rena tampak tertidur pulas.


"Gas, bisa kita bicara di luar."


Dona melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Dengan Bagas mengikutinya dari belakang.


"Ada apa?" tanya Bagas setelah sampai di ruang tengah.


"Aku tidak tahu permasalahan keluarga kalian. Tapi aku hanya minta sama kamu. Jangan sakiti Rena. Selama ini dia diam, selalu tersenyum, dan terlihat kuat. Padahal dia sangat rapuh. Dia memendam perasaan bersalahnya karena belum bisa memberikan anak pada kamu. Dia tidak pernah bercerita, atau bahkan mengeluh." Dona menghentikan perkataannya. Dia mengambil nafas panjang.


"Asal kamu tahu, beberapa kali aku melihat dia keluar dari kamar mandi di butik dengan mata sembab. Setiap di dalam kamar mandi, dia selalu menyalakan kran. Dia tidak ingin ada yang mendengar dia menangis."


"Apa kamu pernah melihat Rena berdua, bahkan pergi dengan seorang lelaki?" tanya Bagas.


"Pertanyaan macam apa ini. Apa kamu pikir bahwa aku sahabatnya lantas akan menutupi semua kelakuan Rena. Tidak. Kenapa kamu bertanya seperti itu. Apa kamu ragu pada Rena. Sudah berapa tahun kalian bersama."


Dona menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Bagas. Dia tidak menyangka jika pertanyaan semacam ini keluar dari mulut Bagas.


"Jika kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya pada anak-anak di butik. Dan satu lagi, di butik ada cctv. Kamu bisa melihatnya dari sana. Bagaimana Rena saat berada di butik." kata Dona.


"Saat Rena menunggu jemputan dari kamu, bahkan itu sangat lama. Dia menunggu kamu datang menjemputnya. Tapi kamu tidak datang-datang. Jika memang Rena mempunyai hubungan khusus dengan lelaki lain, mengapa saat itu dia tidak menelponnya. Dan menyuruhnya mengantarkan dia pulang. Mengapa dia lebih memilih berlari mencari kendaraan umum dan kehujanan."


Bagas memandangi Dona.


"Kenapa, kamu kaget. Bagaimana aku bisa tahu. Aku tahu dari cctv butik yang terletak di depan butik. Di sana aku menaruh beberapa cctv."

__ADS_1


Bagas terdiam mendengar ceramah dari Dona.


"Kamu akan menjadi lelaki bodoh dan juga pasti kamu akan menyesal, jika kamu meninggalkan Rena hanya karena alasan yang tidak masuk akal. Lihat orang tua kamu. Bagaimana mereka sangat menyayangi Rena. Bahkan adik kamu Lina, begitu dekat dengan Rena. Itu artinya Rena memang perempuan baik. Dia tidak pernah menyakiti hati orang."


"Jika kamu tidak percaya pada Rena, sebaiknya kamu lepaskan saja dia. Jangan siksa batinnya seperti ini. Dan akan aku pastikan. Banyak lelaki di luar sana yang mau menerimanya. Lelaki mana yang tidak mau dengan Rena. Cantik, seksi, baik."


Dona berdiri dan meninggalkan rumah Bagas tanpa berpamitan dengan Bagas. Ada perasaan kesal pada Bagas karena bertanya tentang Rena yang mempunyai lelaki idaman lain.


"Ck,, kenapa perkataan Dona dan Intan berbeda."


Bagas menyandarkan badannya ke sandaran sofa.


"Siapa yang bisa di percaya?"


Ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Mak Irah yang mendengarkannya langsung menuju pintu depan dan membukanya.


"Di mana Rena?"


Ternyata yang datang orang tua Bagas dan Lina. Juga pastinya... Intan.


"Ibu, bapak."


Bagas segera bangkit dari duduknya dan bersalaman dengan mereka.


"Ibu belum tenang jika belum melihat sendiri keadaan Rena."


"Rena sedang di kamar bu, dia sedang tidur. Barusan di periksa dokter dan minum obat. Mungkin karena efek obat, jadi dia tertidur."


Tanpa berkata bu Anis langsung berjalan ke kamar Rena. Di susul pak Ramli dan Lina di belakangnya.


Sementara Intan masih berdiri di samping Bagas dan terus memperhatikan Bagas. Saat Bagas hendak melangkah, tangannya di pegang oleh Intan.


"Jangan macam-macam." ucap Bagas sambil melepaskan tangannya.


"Kenapa, di sini nggak ada orang kok mas."


Bagas hanya menggelengkan kepala dan berbalik hendak melangkah pergi. Tapi dengan beraninya Intan malah memeluk Bagas dari belakang.


Bagas yang kaget akan keberanian Intan sempat tercengang. Di lepaskannya tangan Intan kemudian di tarik ke tempat yang kiranya tidak ada orang yang akan melihat dan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Mau kamu apa?"

__ADS_1


"Kamu." kata Intan sambil tersenyum manis pada Bagas. Sungguh menjijikkan.


"Benar-benar gila."


"Mas bisa mencobanya terlebih dulu. Siapa tahu jika dengan aku, mas bisa memiliki keturunan. Lagi pula,,, tadi mas sangat menikmati servis yang aku berikan. Bahkan ******* suara mas Bagas masih terngiang di telinga Intan."


Intan berjalan memutari tubuh Bagas.


"Pasti istri mas tidak sepintar aku dalam memberikan servis di atas ranjang. Tenang saja mas, aku tidak akan menceritakan pada istrimu tentang apa yang kita lakukan tadi siang."


Tangan Intan menyentuh dan memainkan jarinya di punggung Bagas. Karena saat ini posisi Intan berada di belakang Bagas.


"Bukannya aku jahat, tapi aku kasihan sama mas Bagas. Sudah lama menikah, tapi belum memiliki anak. Apa mas tidak menginginkan seorang anak."


Intan berjalan kembali. Dan kini ia berada di depan Bagas.


"Aku bisa memberikan mas seorang anak. Aku mau mas madu. Atau bahkan nikah siri. Aku ikhlas mas."


Saat Intan hendak merapatkan tubuhnya pada Bagas, tapi Bagas menghentikannya terlebih dulu.


"Hentikan omong kosong mu."


Bagas mendorong Intan ke belakang. Dan meninggalkannya sendirian.


"Aku yakin, saat ini pasti pendirian kamu mulai goyah mas." kata Intan sambil bersedekap.


"Dan akan aku pastikan, setiap hari aku akan menemui mu, dan memberimu wejangan." kata Intan dengan senyum devilnya.


"Hingga kamu terjatuh dalam pelukanku. Sesetia apapun kamu sama istrimu pasti lambat laun akan pudar juga. Akan aku berikan kamu sentuhan ku setiap hari. Hingga kamu terbiasa."


"Seorang lelaki normal pasti tidak akan tahan jika setiap hari di hadapkan dengan sentuhan-sentuhan wanita. Hingga kamu sendiri yang akan merangkak di bawah selangkanganku."


Intan tertawa dengan nada menakutkan. Sementara tidak jauh, mak Irah melihat dan mendengar semuanya. Dia buru-buru pergi.


Mak Irah pergi ke kamar yang biasanya ia gunakan untuk tidur jika dia menginap di sini.


"Ya Alloh..."


Mak Irah memegang dadanya. Entah kenapa setelah mendengar percakapan mereka dada mak Irah seperti terhimpit. Sesak. Badannya luruh ke lantai. Air matanya mengalir di pipinya.


"Mbak Rena, kenapa jadi seperti ini. Mbak Rena orang baik. Bagaimana jika mbak Rena mengetahui ini semua. Ya Alloh,, selalu lindungilah mbak Rena."

__ADS_1


Mak Irah dan Rena saling menyayangi. Mak Irah yang hidup sendirian, dan Rena yang jauh dari orang tua. Membuat hubungan mereka seperti ibu dan anak. Bahkan jika Rena ada masalah, dia selalu bercerita pada mak Irah. Sedangkan mak Irah tidak sungkan untuk memberi nasihat dan masukan pada Rena.


BERSAMBUNG.


__ADS_2