Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 88


__ADS_3

Sejenak Bagas duduk sambil memperhatikan ponsel yang ada di tangannya. Bagas memang sengaja mematikan ponselnya. Dia melakukan hal tersebut untuk menghindar dari Intan.


"Ada apa mas?" tanya Rena yang ternyata belum tidur.


Rena melihat suaminya seperti sedang gelisah.


"Baterainya habis." jawab Bagas sambil memperlihatkan ponsel di tangannya.


"Ini ada charger milik ku. Ponsel kita kan sama. Pakai saja ini." ucap Rena.


"Nggak usah. Besok saja. Lagian juga besok kan mas nggak kerja." ucap Bagas.


"Ya sudah. Terserah mas kalau begitu. Lebih baik mas segera tidur. Pasti capek seharian kerja. Aku juga mau tidur. Ngantuk." kata Rena sambil menutup mulutnya yang menguap.


*****


"Ternyata Galih sudah menjadi pemilik yang sah dari perusahaan papanya. Bagaimana bisa secepat ini. Kapan dia melakukannya." ucap Intan.


"Pantas saja, dia berani mengancam gue dan mama." imbuhnya lagi.


Sampai di rumah, Intan segera menelpon mamanya, dan memberitahu apa yang di katakan Galih pada dirinya. Betapa terkejutnya Intan setelah mendengar perkataan dari mamanya bahwa Galih memang menjadi pemilik perusahaan yang saat ini di kelola oleh papa tirinya.


"Jika semua kekayaan papa di atas namakan Galih, gue sama mama dapat apa. Nggak bisa. Mama harus bertindak cepat. Gue nggak mau hidup miskin lagi." ucap Intan dalam hatinya.


Intan kemudian kembali menelpon mamanya. Dan ternyata mamanya sudah menyiapkan sebuah rencana untuk mendapatkan beberapa bagian dari harta papanya Galih. Walaupun tidak semuanya.


"Baguslah jika mama sudah bergerak. Karena perusahaan sudah menjadi milik Galih. Pasti si brengsek itu sedang mengincar harta papanya yang lain." kata Intan sesudah menelpon sang mama.


"Dan untuk kamu mas Bagas. Apa yang harus aku lakukan. Supaya kamu sedikit saja bersimpati sama aku." ucap Intan sambil berpikir.


"Iya, aku akan menggunakan dia. Biarkan saja, wajah cantik ini sedikit jelek. Atau aku akan merasaksn sakit. Asalkan aku bisa bersama mas Bagas." imbuh Intan.


Pagi hari di rumah sakit.


Sesudah melaksanakan sholat subuh, Bagas segera pulang bersama mak Irah. Sedangkan bu Anis tetap di rumah sakit menjaga menantunya.


"Ren, ini ponsel Bagas tertinggal." ucap bu Anis sambil memberikan ponsel Bagas pada Rena.


"Mungkin lupa bu. Sini bu, biar Rena isi baterainya. Semalam mas Bagas bilang baterainya habis." ucap Rena.


"Kata mas Bagas baterainya habis. Ini kok baru di cash sudah 76 persen." batin Rena heran.


"Kenapa Ren?" tanya bu Anis sambil merapikan tikar beserta yang lain, yang ia, Bagas, dan mak Irah pergunakan untuk tidur tadi malam.


"Nggak ada apa-apa bu." jawab Rena.


Merasa ada yang aneh, Rena menyalakan ponsel milik Bagas.


"Ini kenapa mas Bagas bisa nyimpen nomor Intan. Setahuku, mas Bagas tidak punya nomor Intan. Dan kenapa banyak banget panggilan tidak terjawab dari Intan." kata Rena dalam hati sambil melihat-lihat isi ponsel Bagas.

__ADS_1


Merasa penasaran, Rena membuka ruang pesan.


"Ada nama Intan. Tapi kosong. Apa mereka pernah bertukar pesan. Tapi kenapa kosong. Apa mas Bagas sudah menghapusnya. Kenapa di hapus." batin Rena.


Ada banyak pertanyaan di benak Rena. Dari mulai banyaknya panggilan tidak terjawab dari Intan. Hingga di dalam wa Bagas ada nama Intan di barisan orang yang pernah berkirim pesan dengannya. Tapi kosong. Tidak ada percakapan sama sekali yang masih tersimpan.


Bagas hanya menghapus semua pesan yang Intan sudah kirim padanya. Tapi Bagas tidak menghapus nama Intan di deretan orang yang sudah berkirim pesan dengannya.


"Ren, ibu mau ke kamar mandi. Kamu nggak apa-apa kan ibu tinggal?" tanya bu Anis.


"Iya bu, nggak apa-apa."


Saat Rena hendak meletakkan ponsel milik Bagas, ponsel tersebut menyala dan berdering.


INTAN


"Kenapa dia menelpon lagi." batin Rena.


Rena pun mengangkatnya.


"Mas,,, kangen." kata Intan begitu teleponnya terjawab.


Dia tidak tahu jika saat ini, Rena yang mengangkat telepon darinya.


"Halo, ini Intan. Ada apa Tan?" tanya Rena.


"Perasaan tadi Intan bilang kangen. Maksudnya apa coba." gumam Rena.


Rena merasa ada yang tidak beres dengan Intan.


"Pendengaran ku masih normal. Tidak mungkin dia salah mengucapkan kalimat." batin Rena.


Segera Rena mencabut charger dari ponsel Bagas. Kemudian di matikan lagi ponsel milik suaminya tersebut. Dan di taruh di atas meja yang ada di sampingnya.


"Ren, kamu bilang sama mak Irah untuk membawa makanan lebih ya. Bapak mau ke sini juga. Kamu tahukan jika bapakmu makannya banyak." ujar bu Anis setelah keluar dari kamar mandi.


"Iya bu." jawab Rena.


Tidak lama kemudian terdengar pintu terbuka dari luar di barengi dengan ucapan salam.


"Assalamu'alaikum." ucap pak Ramli dan Lina bersamaan.


"Wa'alaikum salam." jawab Rena dan bu Anis.


"Lho, kamu kok ikut ke sini Lin. Nggak masuk kerja." tanya bu Anis.


"Masuklah bu, makanya Lina datang ke sini." ucap Lina sambil duduk.


"Maksud kamu." tanya Rena yang penasaran.

__ADS_1


"Mbak Rena dan Bu Anis yang cantik, jika kita bekerja itu butuh tenaga. Artinya, Lina membutuhkan asupan makanan. Di rumahkan tidak ada makanan. Maka dari itu, Lina datang ke sini." jelas Lina dengan gaya centil.


"Jika di sini adanya jarum suntik. Kamu mau?" timpal pak Ramli.


"Bapak." kata Lina dengan nada manja.


"Mau makan apa. Noh,,, obat itu. Di samping mbak mu. Kamu makan sana." ucap bu Anis.


"Nungguin mak Irah lah bu, sama mas Bagas." ujar Lina sembari memamerkan deretan giginya.


Rena tertawa mendengar kekonyolan adik iparnya tersebut. Rena sangat menyukai dan menyayangi Lina seperti dia menyayangi Sera.


Jika di kampung halamannya ada Sera dengan perkataannya yang sok dewasa tapi lucu. Di sini ada Lina. Dengan segala tingkah dan perkataannya yang bisa membuat orang di sekitarnya tertawa.


Setelah Bagas dan mak Irah datang, mereka sarapan bersama. Lina berangkat kerja. Sementara mak Irah pulang lagi karena anaknya dari rantau ada yang datang mengunjungi dirinya.


Sedangkan pak Ramli mengantar bu Anis pulang. Karena bu Anis harus menghadiri acara yang di adakan setiap sebulan sekali di tempat tinggalnya.


Mereka bilang pada Rena dan Bagas akan datang lagi setelah sholat dhuhur.


"Mas, ponsel kamu tadi tertinggal. Tapi belum aku cash. Maaf ya, soalnya lupa. Padahal tadi udah di kasih aku sama ibu." ucap Rena berbohong.


"Iya. Tidak apa-apa." kata Bagas sambil mengambil ponsel miliknya dan mengecashnya di colokan dekat sofa.


"Kenapa di sana mas, di sini saja." ucap Rena menyuruh Bagas mengecash di colokan samping Rena berbaring.


"Sudah nggak apa-apa. Di sini saja." kata Bagas.


Rena hanya tersenyum. Tindakan Bagas tersebut menguatkan kecurigaan Rena. Ada sesuatu yang suaminya sembunyikan dari dirinya.


"Mas, bagaimana keadaan Intan?" tanya Rena.


"Mana mas tahu sayang." jawab Rena.


"Emm,,, aku kira mas tahu." kata Rena.


"Mas sibuk ngurusin kamu. Nggak ada waktu buat mikirin atau ngurusin orang lain." ucap Bagas sembari mengecup sekilas bibir Rena sambil memeluknya.


"Mas, nanti ada yang masuk." ujar Rena.


"Aku mau ke toilet sebentar ya sayang." ucap Bagas.


Rena tersenyum sambil melepas pelukan suaminya.


"Kenapa kamu berbohong mas. Apa yang kamu sembunyikan. Jangan sampai kepercayaan aku hancur karena kamu menyembunyikan sesuatu dari aku." batin Rena.


"Aku akan mencari tahu sendiri, jika kamu tidak mau berterus terang padaku mas. Kita lihat, sejauh mana kamu bertahan untuk tidak jujur padaku." gumam Rena.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2