
Mendapatkan teguran dari bu Anis, tidak lantas membuat Intan angkat kaki dari rumah pak Ramli. Sungguh benar-benar bermuka tembok.
Sekitar pukul setengah 4 sore, Intan meminta izin pada bu Anis.
"Bu, Intan ingin bicara." ucap Intan.
Bu Anis menghentikan rajutan yang sedang beliau pegang. Karena saat ini bu Anis sedang merajut jaket untuk pak Ramli.
"Ada apa?"
"Intan minta maaf jika kemarin Intan tidak memberi kabar pada ibu maupun bapak." ucap Intan memulai dramanya.
"Kemarin baterai ponsel Intan habis bu." lanjut Intan.
"Iya." jawab bu Anis dengan malas.
"Sekarang Intan mau minta izin, Intan ingin keluar sebentar. Intan janji, akan pulang sebelum larut malam."
"Iya."
"Terimakasih bu, Intan pamit dulu."
Tanpa bersalaman terlebih dulu, Intan melangkahkan kakinya meninggalkan bu Anis yang masih duduk dengan memegang hackpen dan benang rajut.
(hackpen adalah alat untuk merajut)
"Sungguh tidak punya sopan. Kenapa tidak keluar selamanya saja." gumam bu Anis.
Ternyata Intan pergi ke rumah Bagas. Dia tahu, jika Rena sudah mulai bekerja hari ini. Entah dari mana Intan mengetahuinya. Seperti paranormal saja.
Intan mengetuk pintu rumah Bagas. Mak Irah yang mendengarnya membukakan pintu. Intan langsung masuk begitu pintu terbuka.
"Astaghfirullah.."
Mak Irah memegang dadanya karena kaget.
Dengan santainya Intan duduk di kursi ruang tamu dengan menyilang kan kakinya.
"Mau apa kamu, tuan rumahnya tidak ada semua." kata mak Irah.
"Buatkan gue minum. Dan kamu dengar baik-baik ya. Saya calon nyonya di rumah ini. Jadi, jangan macam-macam." kata Intan dengan sombong.
Tanpa berkata sepatah katapun, mak Irah meninggalkan Intan. Dia menuju ke dapur. Melanjutkan menyiapkan makan malam untuk majikannya.
Seketika mak Irah ingat dengan perkataan Lina saat di rumahnya. Mak Irah segera menelpon Lina dan memberitahu jika Intan sekarang berada di rumah kakaknya. Bagas.
Intan yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya merasa tenggorokannya kering.
"Lelet banget sih pembantu di rumah ini. Di suruh buatkan minum dari tadi belum datang juga." omel Intan.
Intan tidak tahu jika mak Irah pergi ke belakang bukan untuk membuatkannya minum, melainkan melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Saat Intan hendak pergi ke belakang, terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Intan melihat dari balik gorden.
"Mas Bagas."
Senyum Intan mengembang sempurna. Segera dia meletakkan tasnya di kursi. Dan merapikan pakaiannya serta rambutnya. Dan berdiri di sebelah pintu.
Bagas terbengong setelah membuka pintu rumahnya.
"Intan." gumam Bagas.
"Surprise." teriak Intan dengan membentangkan kedua tangannya.
"Untuk apa kamu ke sini?"
"Aku kangen mas."
Intan hendak memegang lengan Bagas, tetapi tangan Intan lebih dulu di tepis oleh Bagas.
"Sebaiknya kamu segera keluar dari sini." ucap Bagas dengan tegas.
"Memang mas tidak kangen dengan Intan." kata Intan dengan nada manja.
"Jangan kamu kira aku tidak tahu. Kami memasukkan obat di minumanku kan."
Bagas mencengkeram kuat dagu Intan.
"Mas, sakit. Lepas." ucap Intan.
Dengan kasar Bagas melepaskan tangannya pada dagu Intan.
Mendengar perkataan Intan, Bagas hanya diam. Memang benar apa yang di katakan Intan. Dalam hati terdalam, Bagas sangat menginginkan hadirnya buah hati.
"Aku rela mas madu. Aku rela menjadi istri kedua mas Bagas. Aku tidak akan meminta mas untuk menceraikan mbak Rena. Karena aku tahu, bagaimana mas sangat mencintai mbak Rena."
Bagas mengendurkan dasinya dan melepaskan jasnya. Dia duduk di kursi ruang tamu. Intan menarik ujung bibir sebelah.
"Mas, aku tidak mengharapkan mas Bagas membalas cintaku. Setidaknya, biarkan aku di samping mas. Biarkan aku melahirkan anak-anak mas kelak. Kita bertiga akan membesarkan anak kita bersama. Mas Bagas, mbak Rena, dan aku."
Bagas hanya diam dengan pandangan lurus menatap ke depan.
"Kali ini aku harus bisa mempengaruhi mas Bagas." batin Intan.
Intan duduk di samping Bagas.
"Mas,,, mas Bagas bisa berbicara dengan mbak Rena. Jika mbak Rena benar-benar mencintai mas, pasti mbak Rena akan mengizinkannya."
Intan mencoba mempengaruhi pikiran Bagas.
Tiba-tiba pintu rumah Bagas di buka dari luar dengan kasar.
plakkk.....
__ADS_1
Lina menampar keras pipi Intan. Bagas terdiam melihatnya. Sedangkan Intan memegang pipinya.
Keduanya langsung berdiri.
"******, apa mulutmu belum pernah di robek." ucap Lina dengan memandang tajam Intan.
Seolah-olah Lina ingin sekali membunuh wanita yang sedang berdiri di hadapannya.
"Lina." teriak Bagas.
"Apa. Mas mau membela ****** ini. Apa yang sudah dia berikan pada mas Bagas. Tubuhnya." ucap Lina dengan sinis.
"Linnn." kata Bagas.
"Apa mas lelaki bodoh. Lihat dia. Lihat mbak Rena. Lina pastikan. Jika mas meninggalkan mbak Rena hanya karena dia, mas akan menyesal seumur hidup mas."
Lina berkata dengan menggebu-gebu, sambil menunjuk-nunjuk wajah Intan.
"Mas pikir dong,,, kenapa dia mengejar-ngejar mas. Karena dia tidak laku. Sejak sekolah sampai sekarang tidak ada lelaki yang mengejar-ngejar kamu kan. Dan mas adalah lelaki bodoh. Mau menerima perempuan tidak laki seperti dia."
Intan melihat Lina dengan tatapan tajam dengan tangan mengepal sempurna.
"Apa hah,,," Lina membalas tatapan Intan.
"Dan mas sekarang pikirkan, lihat mbak Rena. Dia perempuan yang sudah lama berkeluarga. Tapi aku yakin. Banyak sekali pria di luar sana yang menantikan status jandanya." kata Lina sambil melirik Intan dengan sinis.
"Mantap." kata mak Irah lirih di balik tembok.
"Elo pergi sendiri, atau gue seret." ucap Lina dengan membukakan pintu rumah Bagas.
Dengan mata merah menahan amarah Intan meninggalkan rumah Bagas.
"Heh ******, ambil semua baju elo di rumah gue. Rumah gue tidak menerima ****** seperti elo." kata Lina saat Intan melewati dirinya.
Lina memandang sinis pada kakaknya. Lelaki yang selama ini dia sangat sayang selain bapaknya. Kakak yang selalu dia ceritakan pada teman-temannya dengan bangga.
"Apa bapak dan ibu tahu Lin?" tanya Bagas.
"Mereka akan tahu jika mas Bagas tidak menghentikan kegilaan ini." jawab Lina.
Bagas duduk dengan kedua tangan memegang kepalanya.
"Mas,,, mbak Rena rela tinggal jauh dari keluarganya untuk mengikuti mas tinggal di sini. Mbak Rena mendampingi mas, dari mas belum punya apa-apa sampai sekarang. Apa mbak Rena pernah mengeluh?"
Bagas hanya diam mendengar perkataan adiknya. Seorang kakak yang biasanya menasehati adiknya, kini malah terbalik. Di umur yang masih terbilang muda, Lina bisa memberi pengertian pada kakaknya jika kakaknya salah.
Intan tidak pulang ke rumah orang tua Bagas, dia pulang ke rumahnya sendiri. Sampai di rumah, Intan mengamuk membabi buta. Semua barang-barang di lemparkannya.
Para pembantu yang melihatnya hanya bisa bersembunyi sambil memperhatikan dari jauh. Tidak ada yang berani menegurnya. Karena mereka tahu, bagaimana sifat anak majikannya tersebut.
"Biarkan saja, kita jadi penonton saja." kata salah satu pembantu.
__ADS_1
Para pembantu di rumah Intan malah mengambil kursi dan duduk. Mereka seperti menyaksikan adegan silat.
BERSAMBUNG.