
"Mas.." Rena mengelus pelan rambut suaminya. Mereka berada di ruang tengah dengan duduk di atas karpet.
"Hemm.." Bagas menjawab sambil memainkan ponselnya. Dengan kepalanya diletakkan di atas paha Rena.
"Mas,, apa mas akrab sama mbak Mira?"
"Biasa saja."
"Apa kalian pernah keluar bersama, emmm mungkin pergi ke mana gitu?"
Rena bertanya dengan perasaan cemas menyelimuti hatinya.
"Pernah." Bagas menghentikan perkataannya sebentar.
"Kita kan satu kantor, satu divisi. Pasti pernahlah keluar bersama. Tapi bareng yang lain."
"Berarti tidak berdua saja."
"Ya nggak lah."
Rena mengangkat ke dua ujung bibirnya sedikit. Ada sedikit rasa lega di hatinya. Walau dia masih merasakan cemas.
"Menurut mas, mbak Mira itu orangnya bagaimana?"
"Baik, sedikit kocak." Bagas masih fokus pada ponselnya.
"Mas," Rena menghentikan perkataanya. Memejamkan matanya dan menarik nafas secara perlahan.
"Apa mas suka sama mbak Mira?" detak jantung Rena kian cepat. Perasaan cemas yang tadi sempat surut, kini makin bertambah.
Seketika Bagas memandang wajah Rena yang tepat berada di atasnya. Di letakkan ponselnya di karpet tempatnya dan Rena duduk. Kemudian duduk di samping Rena.
"Ada apa?"
Rena tidak menjawab pertanyaan Bagas. Dia malah menangis. Bagas mebawa Rena ke dalam pelukannya. Diusapnya bahu Rena pelan. Di biarkan nya Rena menangis.
"Ada apa." Bagas bertanya setelah tangisan Rena reda.
Rena mengambil ponsel yang berasa di sampingnya. Di serahkan pada Bagas.
'Ini..?" Bagas memandang ponsel Rena. Terdapat fotonya dan Mira tampak akrab dengan senyum mengembang di bibir ke duanya. Di foto lainnya tampak Bagas sedang mengusap bahu Mira dengan senyumnya. Jika di lihat dari foto, mereka tampak seperti pasangan yang tengah jalan berduaan.
Sangat pandai yang memotret bukan.
"Dari mana kamu dapat foto ini?"
Rena hanya menggeleng pelan dengan mata masih sembab. Bagas membuka chat di wa Rena..Tidak ada nama si pengirim foto.
__ADS_1
"Mas nggak ada hubungan apa-apa sama Mira. Kita hanya rekan kerja. Tidak lebih."
Bagas menggenggam tangan Rena. Dia menceritakan di mana dia dan Mira bertemu. Dan tentang foto itu Bagas benar-benar tidak tahu siapa yang sudah begitu berani memotret dirinya dan Mira hingga tampak seperti pasangan. Dan mengirimkannya pada Rena.
"Aku takut mas berpaling dan meninggalkan aku. Sempat berfikir, pantas mbak Mira ikhlas melepas suaminya dengan Dona. Karena sudah ada penggantinya. Yaitu mas. Aku takut mas. Aku penakut. Aku tidak mau merasakan sakit hati." Rena menangis terisak dengan kepala menunduk.
"Maaf, belum bisa memberikan mas anak. Maaf." tangis Rena semakin menjadi.
"Tidak akan pernah terjadi." Bagas mengusap air mata yang menetes di pipi Rena. Di pegang nya dagu Rena, kemudian di angkat. Kini mereka saling bertatapan.
"Berapa lama kamu mengenalku hemm, kita akan menghadapi bersama-sama. Tidak akan ada orang ketiga dalam keluarga kita. Jika ada, itupun buah hati kita nanti." Bagas mengecup pelan kening istrinya.
*****
"Mir, tunggu sebentar. Ada yang ingin aku tanyakan." Bagas menghentikan Mira saat Mira ingin keluar ruangan menuju kantin. Karena saat ini sudah waktunya istirahat siang.
"Ada apa?" Mira membalikkan badan. Dia tetap berdiri di tempatnya.
"Cepet ngomong. Udah laper ni perut." sambil memegang perutnya dengan memonyongkan bibirnya.
"Kamu ingat waktu kita bertemu di toko buku?"
Mira hanya mengangguk. Menandakan ia mengingat pertemuannya dengan Bagas.
"Saat kita di luar, ada yang memfoto kita." Bagas mendekat ke arah Mira berada.
Mira hanya mengerutkan keningnya sambil menatap Bagas.
Mira masih memandang Bagas. Dia masih berpikir untuk memberi tahu Bagas. Dia takut terjadi keributan di kantor.
"Kok kamu tahu ada yang memfoto kita?" Mira mencoba mengorek informasi dari Bagas.
"Emm,,, itu." Bagas masih tampak bimbang ingin menceritakan tentang permasalahannya.
"Ya sudah, aku mau ke kantin saja. Keburu waktu istirahat habis." Mira ingin pergi meninggalkan ruangan. Tetapi di tahan oleh Bagas.
"Tunggu, kamu tahu kan?" Bagas memegang pergelangan tangan Mira.
"Lepas, nanti ada yang memfoto lagi lo." Mira mengibaskan tangan Bagas.
"Nanti setelah pulang kerja aku kasih tahu. Sekarang aku mau ke kantin. Laper." Mira meninggalkan Bagas yang masih berdiri.
Tanpa mereka sadari ada yang menguping pembicaraan mereka dari balik pintu. Senyum menakutkan terpasang jelas di wajahnya. Dia meninggalkan tempatnya menuju arah yang berlawanan dengan Mira.
*****
"Langsung saja. Siapa orang nya?"
__ADS_1
Bagas dan Mira duduk di meja sebuah cafe. Mereka berfikir ini tempat aman untuk bicara. Tanpa mereka sadari sepasang mata di meja lain sedang memperhatikan mereka. Dengan memegang ponsel yang di pergunakan untuk mengabadikan pertemuan Bagas dan Mira. Galih mendengarkan pembicaraan mereka waktu di kantor. Dia membuntuti mereka sampai cafe.
Setelah memperoleh beberapa gambar mereka, Galih segera pergi. Dengan berjalan santai dia keluar dari cafe. Galih berpikir tidak perlu mendengarkan pembicaraan mereka. Karena dia tahu ke mana arah pembicaraan mereka.
"Yang terpenting aku sudah mendapatkan ini." dilihatnya hasil jepretannya tadi.
"Kelihatannya aku berbakat jadi fotografer." Galih tertawa remeh sambil memasukkan ponsel ke dalam sakunya.
"Katakan, siapa yang memfoto kita."
"Kenapa kamu pengen tahu. Lagi pula cuma di foto doang." ucap Mira santai sambil mengaduk minuman di depannya.
"Ok. Dia kirim foto itu ke Rena. Dia salah paham. Dia pikir kita punya hubungan."
"Sudah ku tebak sebelumnya. Pasti foto itu di pergunakan untuk itu." Mira menyeruput minumannya.
"Maksud kamu ?"
"Ga-lih." Mira menyebut nama Galih dengan penekanan.
"Brengsek. Mau nya apa sih itu anak." Bagas mengepalkan tangannya di atas meja.
"Sudah sabar. Lalu Rena bagaimana?"
"Dia percaya." Bagas mengambil uang dari dompetnya, lalu meletakkan di atas meja.
"Aku pergi dulu." Bagas meninggalkan Mira sendiri dengan perasaan kesal dan emosi.
"Ehh,,, main nylonong pergi. Lumayan lah di traktir."
Mira mengambil uang di meja dan membayarkannya.
*****
"Galihhhh,,,, rupanya dia belum berhenti." Bagas memukul-mukul stir mobil.
Tring (anggap saja suara ponsel Bagas)
Bagas melihat ada pesan bergambar masuk ke ponselnya.
"Brengsek."
Seseorang mengirimi fotonya dan Mira beberapa waktu lalu saat mereka di cafe. Siapa lagi kalau bukan Galih.
"KASIHAN RENA KU" begitulah tulisan pelengkap foto yang di kirimkan oleh Galih.
"Rena ku. Dia pikir dia siapa. Kalau di biarkan dia akan menjadi-jadi. Tunggu,, jangan sampai dia juga mengirim foto ini ke Rena. Bisa jadi Rena salah paham lagi. Sial."
__ADS_1
Bagas ingin melajukan mobilnya dengan kencang. Tapi itu tidak mungkin, karena saat ini kendaraan cukup ramai. Di dalam mobil Bagas hanya bisa mengumpat dan sesekali memukul stir mobil.
BERSAMBUNG