Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 95


__ADS_3

"Sayang, nanti malam kamu temani mas ya." ucap Bagas dengan memeluk Rena dari belakang.


"Jauhi Intan." ucap Rena.


Bukannya menjawab pertanyaan dari suaminya, Rena malah menyuruh Bagas menjauhi Intan. Sebenarnya Rena juga merasa marah pada Bagas. Meskipun Bagas berkata mereka masih hampir melakukan, tapi entah kenapa di pikiran Rena terbayang-bayang akan hal yang menjijikkan itu.


Tapi sebisa mungkin, Rena menahan emosinya. Dia tidak ingin bertindak gegabah. Apalagi tindakan yang akan merugikan dia nantinya.


"Pasti." kata Bagas semakin mengeratkan pelukannya pada Rena.


"Mas berangkat kerja dulu. Kalau kamu mau keluar rumah, bilang dulu. Jangan bikin mas khawatir." ucap Bagas.


Setelah kepergian Bagas ke kantor, Rena membuat kue bersama mak Irah di dapur.


Sampai di kantor Bagas langsung menemui satpam.


"Pak, nanti jika perempuan itu datang lagi dan nitip apapun ke bapak untuk saya, bapak jangan terima." ucap Bagas.


"Baik mas." kata Pak Satpam.


"Kenapa, elo sudah bosan dengan ****** cilik itu." celetuk Galih yang sudah berada di samping Bagas.


"Nggak usah munafik. Oh iya, kapan elo nikahin ****** kecil itu?" tanya Galih dengan senyum mengejek.


Bagas tidak menggubris perkataan Galih. Bagas meninggalkan Galih, tetapi perkataan Galih membuat langkah kaki Bagas terhenti.


"Segera elo nikahin adik tiri gue. Dan elo akan panggil gue kakak. Dan pastinya elo juga akan panggil Rena, kakak ipar." ucap Galih.


"Jaga ucapan elo." kata Bagas sambil mencengkeram kerah kemeja Galih.


"Jangan serakah Gas, elo itu lebih cocok sama Intan. Dan Rena, terlalu sempurna buat elo." ucap Galih.


"Sudah mas, sudah. Ini di kantor." ucap Pak Satpam mencoba melerai mereka.


Bagas melepaskan cengkeramannya dan mendorong tubuh Galih ke belakang. Galih merapikan pakaiannya.


Saat Rena sibuk di dapur dengan adonan kue, terdengar suara ketukan pintu. Rena membasuh ke dua tangannya dan membuka pintu. Sementara Mak Irah sedang membeli beberapa bahan kue ke toko.


"Intan." gumam Rena setelah membuka pintu.


"Mbak Rena, maaf menganggu." ucap Intan dengan ramah.


"Ada apa?" tanya Rena dengan tenang.


"Hanya ingin main ke rumah mbak Rena saja. Sudah lama saya tidak bertemu dengan mbak Rena." ucap Intan.


"Masuk." kata Rena mempersilahkan Intan.

__ADS_1


"Makasih mbak. Mbak Rena sedang apa?" tanya Intan karena melihat sisa tepung di tangan Rena.


"Buat kue." jawab Rena dengan senyum palsunya.


"Wahhh. Boleh ikut nggak mbak. Aku juga pengen belajar buat kue." kata Intan.


"Boleh." ucap Rena melangkahkan kakinya ke dapur.


"Mbak sendiri, pembantunya mana?" tanya Intan.


"Mak Irah pergi ke toko. Kamu mau minum apa?" tanya Rena.


"Nggak usah mbak, belum haus." jawab Intan dengan senyum.


"Ya sudah. Nanti kalau kamu haus, ambil sendiri di kulkas." ucap Rena.


"Iya mbak." kata Intan.


Intan pun memakai celemek di badannya. Dan mulai membantu Rena membuat kue. Tidak lama kemudian mak Irah datang.


"Kenapa iblis kecil itu bisa berada di sini. Kapan datangnya?" kata mak Irah dalam hati.


"Sudah datang mak, sini belanjaannya. Mak ke belakang saja." ucap Rena.


"Baik mbak. Kalau begitu mak mau setrika baju saja." ucap Mak Irah sambil melirik ke arah Intan.


"Maunya apa coba, datang ke sini?" batin mak Irah sambil berjalan ke belakang.


"Mbak Rena pinter banget sih bikin kue. Pasti mas Bagas sayang banget sama mbak Rena." kata Intan.


"Pasti." jawab Rena dengan singkat.


Sebenarnya Rena sangat muak melihat Intan berada tepat di depan matanya. Ingin sekali rasanya tangan Rena melayang di pipi Intan dan mencakar wajahnya yang terlihat ramah padahal iblis.


"Mas Bagas itu sukanya makanan apa sih mbak?" tanya Intan.


"Semuanya mas Bagas suka. Asalkan istrinya yang membuatkan untuknya." jawab Rena.


"Hmmm. Pasti dulu mbak Rena belajar masak dengan mertua mbak Rena ya. Makanya mas Bagas suka dengan semua yang di masak mbak Rena." ucap Intan.


"Tidak. Saya tidak pernah belajar memasak dengan mertua saya. Sedari kecil saya di ajarkan kedua orang tua saya cara memperlakukan dan menghargai orang lain. Apalagi keluarga saya adalah keluarga yang harmonis. Jadi saya bisa mencontoh kedua orang tua saya. Bagaimana ibu menghormati bapak. Begitupun sebaliknya. Semua itu tergantung dari keluarga kita. Karena anak, biasanya akan terinspirasi dari orang tua mereka." jelas Rena panjang lebar.


"Bagus mbak Rena. Mak makin suka dengan mbak Rena." batin mak Irah yang ternyata sedari tadi mengintip dan menguping mereka di balik tembok.


Intan tersenyum hambar mendengar perkataan yang barusan Rena katakan. Perkataan Rena seperti anak panah yang melesat tepat mengenai sasaran.


"Brengsek." batin Intan.

__ADS_1


"Maaf mbak. Tapi apa mbak Rena nggak takut jika sewaktu-waktu mas Bagas berpaling dari mbak Rena. Maaf ya mbak. Bukannya Intan bermaksud buruk. Tapi kalian kan sudah menikah lama. Dan belum memiliki keturunan." ucap Intan sambil melirik ke arah Rena dengan senyum menghina.


"Kenapa harus takut. Aku percaya mas Bagas akan tetap di sampingku. Ya,, bisa jadi mas Bagas sekarang mempunyai wanita lain di luar sana. Tapi aku yakin, mereka semua hanya sekedar hiburan saja. Setelah mas Bagas bosan, mereka akan di tinggalkan seperti sampah. Dan ujung-ujungnya mas Bagas akan tetap memilih istrinya. Karena dia tahu, perempuan yang menggoda dirinya hanyalah ****** jalanan." ucap Rena panjang lebar.


Rena berbicara sambil mengepal-ngepalkan tangannya di dalam adonan. Untuk meredam amarahnya. Sebenarnya Rena ingin meluapkan emosinya. Tapi dia sadar, ****** seperti Intan tidak bisa di lawan dengan kekerasan.


Apalagi Intan bermain dengan lembut. Maka dari itu Rena bermaksud mengimbangi permainannya. Dia sebisa mungkin menahan tangannya yang sangat ingin menjambak rambut panjang milik Intan.


"Sial. Dia bilang ****** jalanan." batin Intan.


"Intan. Kenapa kamu penyokin semua kuenya?" tanya Rena saat melihat Intan meremas kue yang sudah Rena cetak dan siap di masukkan ke dalam oven.


"Maaf. Nggak sengaja mbak." ucap Intan dengan senyum di buat-buat.


"Pasti kamu marah kan, aku bilang ****** jalanan." batin Rena.


"Maaf mbak, Intan harus pamit." ucap Intan.


"Kenapa?" tanya Rena.


"Intan lupa, tadi ada janji sama teman. Mau ketemuan." ucap Intan memberi alasan.


"Ya sudah. Hati-hati di jalan ya." ucap Rena.


Rena melepas celemek yang di pakainya dan menaruh di kursi.


"Huftt. Benar-benar menguras emosi. Sejak kapan Intan menyukai mas Bagas. Padahal kan mereka jarang bertemu. Mereka bertemu hanya saat mas Bagas menjemput ku di butik." gumam Rena sambil tangannya membentuk kembali kue yang sempat rusak karena ulah Intan.


Sore hari Dona sempat menelpon Rena. Dia bertanya tentang acara ulang tahun perusahaan tempat Bagas bekerja. Dona bilang bahwa dirinya juga akan hadir untuk mendampingi Angga. Karena Angga salah satu rekan kerja perusahaan tersebut.


Entah bagaimana caranya, Dona dapat membuat Angga mengajak dirinya. Atau mungkin, Dona menggunakan cara lain supaya Angga mengajaknya.


Ya, hanya Dona sendiri yang tahu.


Sepertinya Dona sudah mulai bergerak untuk merecoki kehidupan Angga. Hingga Angga tidak punya waktu untuk memikirkan Rena. Karena Dona akan membuat Angga sibuk dengan dirinya.


Di butik, Dona sibuk memilih gaun yang akan di kenakannya untuk malam nanti. Sementara, Rena sudah menyiapkan gaun yang akan dia pakai nanti malam. Tidak lupa untuk Bagas juga sudah dia siapkan.


"Mak, nanti kami mau pergi ke acara perusahaan tempat mas Bagas bekerja. Mak nggak usah masak." ucap Rena saat melihat mak Irah sibuk di dapur.


"Tapi kalau nanti malam, mbak Rena dan mas Bagas lapar bagaimana?" tanya mak Irah.


"Sayur tadi kan masih ada. Itu saja sudah. Tinggal di angetin." kata Rena.


"Mak tidur di sini?" tanya Rena.


"Nggak mbak. Mak mau pulang." jawab mak Irah.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2