
Pagi hari, pintu rumah Rena sudah di ketuk oleh seseorang dari luar.
"Siapa sih?" tanya mak Irah pada dirinya sendiri.
Saat ini mak Irah sedang memasak di dapur seorang diri. Biasanya Rena selalu membantunya. Tapi hari ini, Rena bahkan belum keluar dari kamar tidurnya.
Mak Irah berpikir bahwa tadi malam mungkin majikannya tidur larut karena menghadiri acara di perusahaan tempat Bagas bekerja. Jadi mungkin saja mereka masih tertidur. Apalagi hari ini adalah hari minggu. Jadi mak Irah tidak ingin membangunkan mereka.
Sesaat kemudian, suara ketukan pintu terdengar lagi.
"Siapa pagi-pagi bertamu. Nggak punya pekerjaan apa di rumahnya." omel mak Irah sambil berjalan menuju pintu depan.
"Tunggu dulu." ucap mak Irah pada dirinya sendiri saat hendak membuka pintu.
Mak Irah mengurungkan niatnya membuka pintu. Dia penasaran, siapa yang bertamu sepagi ini. Mak Irah membuka gorden jendela dan mengintip dari dalam.
"Setan kecil. Untuk apa dia sepagi ini datang kemari." gumam mak Irah setelah melihat siapa yang bertamu sepagi ini.
Intan kembali mengetuk pintu dengan raut wajah yang masam.
"Terus. Ketuk sampai tangan elo bengkak. Nggak bakal gue bukain. Setan kecil." ucap mak Irah sambil bersedekap menghadap pintu.
Mak Irah pun kembali ke dapur tanpa membukakan pintu untuk Intan. Bahkan di dapur mak Irah bernyanyi-nyanyi, supaya tidak mendengar suara ketukan pintu tersebut.
"Untung, mbak Rena belum bangun." gumam mak Irah.
Di luar, Intan mencoba menghubungi Rena. Ternyata ponsel Rena sedang tidak aktif.
"Bagaimana aku bisa masuk. Mas Bagas pake acara blokir nomorku segala." gumam Intan merasa kesal.
Intan menghubungi nomor rumah Bagas.
"Siapa yang telepon." gumam mak Irah.
Segera mak Irah mematikan kompor dan mengangkat telepon.
"Hallo." kata mak Irah.
"Bukakan pintu." kata Intan di balik telepon.
Kemudian Intan mematikan sambungan teleponnya. begitu saja setelah berbicara.
"Ooo, setan kecil. Belum nyerah juga. Mana nggak punya sopan santun lagi. Malah sekarang pake nyuruh-nyuruh. Heh, kamu pikir kamu siapa?" ucap mak Irah sambil menatap gagang telepon.
Mak Irah meletakkan gagang telepon dan mencabut kabel di belakang meja yang terhubung dengan telepon rumah.
"Silahkan telepon kalau bisa. Mengganggu orang masak saja." kata mak Irah sambil berjalan kembali ke dapur.
"Mana sih pembantu sialan itu." ucap Intan di teras rumah milik Bagas.
Lagi-lagi Intan menggedor pintu rumah Rena.
"Di suruh buka pintu, malah nggak di buka. Awas saja nanti." ucap Intan dengan nada kesal.
"Gedor terus, sampai itu tangan patah." ucap mak Irah dari dapur sambil tersenyum dan meneruskan memasaknya.
__ADS_1
"Siapa sih gedor-gedor pintu." tanya Rena keluar dari kamar tidurnya masih dengan piyama dan rambut di gulung ke atas secara asal.
"Mbak Rena sudah bangun?" tanya mak Irah.
"Itu gedor-gedot pintu siapa sih mak. Coba dilihat." ucap Rena sembari menutup mulutnya yang menguap.
Rena dan Bagas bangun sekitar pukul setengah 5 pagi. Kemudian mereka melaksanakan sholat subuh. Setelah itu, mereka melanjutkan mimpi mereka yang sempat terhenti tadi. Atau bisa di bilang, tidur kembali.
"Iya mbak." ucap Mak Irah.
Mak Irah berjalan menuju depan. Berpura-pura di hadapan Rena, seolah-olah dia belum tahu orang yang sudah gedor-gedor pintu.
Mak Irah menengok ke belakang. Memastikan Rena tidak melihatnya. Kemudian, mak Irah mengintip dari jendela. Tampak Intan berjalan keluar melewati gerbang rumah Rena.
"Pergi juga itu setan kecil. Dasar nggak tahu malu. Memangnya tidak tahu apa dia, adab orang bertamu." gumam mak Irah.
Setelah mak Irah memastikan Intan benar-benar pergi, dia membuka pintu dan berpura-pura mencari tamunya. Lantas kembali lagi ke dapur.
Di dapur, tampak Rena sedang memegang gelas dan meminum air putih.
"Nggak ada orang mbak." ucap mak Irah.
"Masak sih mak." ucap Rena tidak percaya.
"Iya, bener mbak." kata mak Irah menyakinkan Rena.
"Gimanasih, tadi gedor-gedor sampai ngebangunin orang tidur. Giliran pintu di buka nggak ada." kata Rena heran.
"Siapa sih sayang?" tanya Bagas keluar dari kamar, dengan masih menggunakan kaos oblong dan boxer.
"Maaf mbak, mak mau nerusin masak dulu." ucap mak Irah.
"Nggak tahu. Kata mak Irah sudah nggak ada orangnya." ucap Rena.
"Ganggu orang tidur saja. Padahal masih ngantuk." ucap Bagas.
Rena melengos mendengar perkataan suaminya tersebut.
"Kita tidur larut malam gara-gara siapa?" tanya Rena dengan nada jutek.
"Gara-gara anu kamu." bisik Bagas di samping telinga Rena.
"Kamu tuh mas." ucap Rena sambil berdiri dari duduknya.
"Mak, saya mau mandi dulu ya." kata Rena.
"Iya mbak." ucap mak Irah.
"Sayang, jangan tinggalin." kata Bagas menyusul Rena ke dalam kamar.
"Beruntung, setan kecil pergi tepat waktu. Aku harus segera memberi tahu mbak Lina." gumam mak Irah.
Mak Irah melihat ke arah kamar Rena. Di rasa aman, mak Irah mematikan kompor dan mengambil ponsel miliknya. Lalu mak Irah mengetik pesan yang akan di kirimkan ke Lina.
MBAK, TADI INTAN DATANG KE RUMAH PAGI-PAGI.
__ADS_1
TAPI MAK NGGAK BUKAIN PINTU.
JADI MBAK RENA SAMA MAS BAGAS TIDAK TAHU.
"Selesai. Tinggal di kirim." ucap mak Irah.
Di dalam kamar, Bagas bersikap layaknya anak kecil pada Rena. Dia selalu membuntuti kemanapun Rena pergi.
"Apa sih mas? Aku mau mandi." ucap Rena.
Bagas tidak menjawab pertanyaan Rena. Dia malah tersenyum lebar.
"Ya sudah, mas dulu saja yang mandi." kata Rena berjalan ke arah kursi dan duduk di kursi.
Dan lagi-lagi Bagas menyusul Rena, dan duduk di samping Rena.
"Mas, mau nya mas apa sih?" tanya Rena dengan jengkel.
"Mandi bareng kamu." ucap Bagas sambil memeluk Rena dengan erat.
Rena memandang Bagas dengan tatapan curiga. Sementara Bagas memajukan bibirnya untuk membalas pandangan dari sang istri.
Rena yang mengerti arah pembicaraan suaminya hanya menghela nafas dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dengan Bagas berada di belakang Rena. Mengikuti sang istri untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Bagas dan Rena mengulang olah raga yang sempat mereka lakukan di dalam mobil semalam.
*****
"Apa. Intan sepertinya mulai melakukan hal yang nekat." kata Lina setelah membaca pesan dari Mak Irah.
Lina segera memberitahu bapak dan ibunya.
"Apa." ucap Bu Anis kaget.
"Pak, bapak sudah bicara sama Bagas?" tanya Bu Anis.
"Belum. Bapak melihat hubungan Bagas dan Rena baik-baik saja. Dan juga, bapak menyimpulkan. Bahwa di sini, Intan lah yang terus mengganggu keluarga Bagas. Jika Bagas tidak menanggapinya, maka Intan pasti akan merasa di abaikan." jelas pak Ramli dengan tenang.
"Tapi bapak harus menasehati Bagas." kekeh bu Anis.
"Bu, yang terpenting itu sikap dari Bagas. Dia harus lebih tegas pada Intan. Ibu tenang saja, jika bapak merasa Bagas keluar dari garis yang seharusnya Bagas lewati, bapak sebagai orang tuanya pasti akan menegur dia." kata pak Ramli dengan tenang.
"Pak, bu, Lina pamit ya. Mau berangkat kerja." ucap Lina pada kedua orang tuanya.
Saat Lina dengan santai mengendarai sepeda motornya, tiba-tiba sepeda motor miliknya berhenti.
"La,la,la. Kenapa. Kok berhenti sih." kata Lina saat sepeda motornya macet.
Lina turun dari sepedanya dan berdiri di samping sepeda motor miliknya sambil memandangi sepeda motornya.
"Aduh, kenapa sih. Mana gue nggak tahu lagi soal mesin. Ada-ada aja ni motor." ucap Lina menggerutu.
Saat Lina sedang mengomel karena sepeda motornya tiba-tiba mogok, sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
"Ada apa?" tanya orang tersebut setelah turun dari mobilnya.
__ADS_1
Lina bengong sambil memandang orang tersebut.
BERSAMBUNG.