
"Mak, yang ini di taruh di rantang ya. Mau saya bawa ke rumah sakit." Rena menyuruh mak Irah memasukkan makanan ke rantang untuk di bawa ke rumah sakit.
"Siapa yang sakit mbak?" tanya mak Irah sambil memasukkan makanan ke dalam rantang.
"Lina. Adiknya mas Bagas."
Rena menceritakan pada mak Irah kenapa Lina bisa di rawat di rumah sakit. Saat mereka sedang asik ngobrol di dapur, terdengar Bagas memanggil Rena. Diapun segera bergegas menghampiri suaminya. Dan meninggalkan mak Irah.
"Ada apa mas?" tanya Rena begitu sampai di dekat Bagas.
"Kangen." Bagas memeluk manja istrinya.
"Apa sih mas, sudah sana. Setiap hari ketemu juga. Malu nanti dilihat mak Irah."
"Makanya mas panggil kamu ke sini." Bagas memeluk Rena dari belakang.
"Jam berapa berangkat ke rumah sakit?"
"Sebentar lagi. Ya sudah kita siap-siap." Bagas menarik tangan Rena untuk masuk ke kamar.
Di dalam kamar Bagas bersiap-siap. Bukannya bersiap-siap pergi ke rumah sakit, dia malah bersiap-siap mengulang olah raganya tadi malam bersama Rena.
"Mas.."
"Dosa lo nolak suami."
Tangan Bagas sudah bergerilya di tubuh Rena. Akhirnya mereka mengulang olah raga ranjang semalam.
*****
"Ayo berangkat." Bagas sudah rapi dengan pakaian kasualnya.
Setelah olah raga mereka langsung membersihkan badan karena akan pergi ke rumah sakit menjenguk Lina.
Rena tidak segera menjawab ajakan suaminya. Ia masih sibuk di depan cermin.
"Sudah cantik." Bagas duduk di atas kasur sambil memperhatikan istrinya.
"Lihat." dengan geram Rena menunjukkan tanda di lehernya yang di buat Bagas.
"Sangat indah." Bagas menjawab dengan matanya melihat atas sambil memainkan kakinya di lantai.
Sementara Rena hanya mendengus sebal mendengar jawaban suaminya.
Setelah Rena selesai menutupi karya Bagas di lehernya mereka pamit pada mak Irah. Dan berangkat ke rumah sakit.
"Mak, kalau nanti sore kita belum pulang mak pulang saja dulu."
"Iya mbak."
*****
Di dalam mobil Bagas sesekali memandang Rena.
"Ada apa?" tanya Rena heran.
__ADS_1
"Kemana karyaku tadi, kok sudah nggak ada"
"Sudah hilang. Kebawa angin." jawab Rena sambil memegang lehernya.
"Sepertinya kurang banyak, makanya hilang."
"Kalau kurang banyak cium saja tembok." jawab Rena cuek sambil melirik Bagas dengan wajah masamnya.
"Mas hentikan kan mobilnya." tiba-tiba Rena menyuruh Bagas menghentikan mobil saat Bagas tengah menyetir.
"Ada apa?" Bagas menuruti perintah istrinya.
"Itu bukannya Dona." pandangan Rena mengarah ke sebuah kafe di depan mobil.
"Dengan siapa dia."
Rena membungkam mulutnya sendiri menggunakan ke dua telapak tangannya.
"Berhenti berhenti..! Mas berhenti..!" di pegang lalu goyang-goyang lengan Bagas. Mau tidak mau Bagas pun berhenti.
"Itukan dokter Angga." Rena menatap suaminya dengan tatapan bahagia.
"Mereka bersama, masuk kafe. Berdua. Ahhh... Mas, kita ke sana yuk." rengek Rena.
"Ngapain...?"
"Aku kepo. Pengen tahu mereka mau apa." Rena seperti anak kecil. Dia menggenggam ke dua tangannya di depan dadanya sambil senyum-senyum tak jelas.
Bagas menjalankan mobilnya.
"Lo,, kok jalan sih mas."
"Oh iya mas, ruangan yang di tempati Lina kan ruangan bagus. Apa nggak mahal." tanya Rena memecah keheningan.
"Kata bapak semua biaya sudah di bayar oleh keluarga Intan. Mereka bilang sebagai ucapan terimakasih."
*****
Di ruang rawat Lina.
Intan ingin meminjam ponsel Lina. Dia beralasan pulsanya habis. Sedangkan dia ingin menelpon orang tuanya. Lina yang tidak curiga langsung memberikannya. Secepat mungkin Intan mencari kontak Bagas dan mengirimkannya ke ponsel miliknya. Setelah itu di hapus nya jejak pada ponsel Lina.
"Ini, terimakasih." Intan menyerahkan kembali ponselnya ke Lina.
"Bagaimana?"
"Tidak di angkat." Intan tertunduk melihatkan rasa sedihnya. Padahal di hatinya sedang tertawa.
Semalam Intan telah mengirimkan pesan kepada mamanya. Dia meminta mereka tidak datang ke rumah sakit. Bahkan dia juga meminta mamanya untuk meminta tolong pada bu Anis. Intan tidak peduli apa alasan mamanya. Yang terpenting dia ingin tinggal di rumah Lina.
Pintu kamar ruang pasien Lina terbuka dari luar. Rena dan Bagas masuk dengan senyum di bibirnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawab Lina dan Intan bersama.
__ADS_1
"Ibu sama bapak mana Lin?"
"Keluar mas, katanya mau nanya sama dokter."
"Ini kan hari Minggu, apa ada dokternya."
"Tidak tahu."
Rena sedang sibuk menyiapkan makan untuk Lina dan Intan. Setelah selesai di serahkan piring berisi makanan pada mereka.
"Ini kalian makan dulu." Rena menyerahkan makanan pada Lina terlebih dulu. Kemudian pada Intan.
"Intan, ini kamu makan dulu."
"Eh,, iya mbak." Intan sedikit kikuk pada Rena. Karena sewaktu Rena panggil dia sedang memperhatikan Bagas.
"Kelihatannya mbak Rena nggak tahu aku lagi lihat mas Bagas." batin Intan.
"Sayang,, pinjam ponsel kamu." Bagas sudah berada di belakang Rena.
"Ada di dalam tas." Rena menunjuk tasnya yang berada di atas meja.
Bagas mengambil ponsel Rena dari dalam tas. Dia duduk di sofa dan mulai membukanya. Sementara Intan terus mencuri pandang pada Bagas.
"Ya ampun, ganteng banget mas Bagas." batin Intan sambil makan.
krekk.. pintu ruang rawat terbuka dari luar.
Mereka serempak menoleh ke arah pintu. Bu Anis dan Pak Ramli masuk ke dalam ruangan.
"Kalian sudah lama?"
"Belum pak." Bagas dan Rena mendekat pada mereka dan bersalaman.
"Bapak sama ibu dari mana?"
"Tanya dokter jaga."
"Memang ada, inikan hari Minggu?"
"Ada, tapi dokter jaga."
Pak Ramli menjelaskan pada mereka bahwa Lina dan Intan sudah bisa pulang. Tetapi besok.
"Intan, tadi mama kamu telpon tante. Orang tua kamu belum bisa pulang. Untuk sementara mereka menitipkan kamu pada kami. Jadi untuk sementara, sampai kamu benar-benar sembuh lebih baik kamu tinggal di rumah tante saja" jelas bu Anis.
"Terimakasih tante. Sudah mau merawat saya selama di rumah sakit. Setelah keluar dari sini saya akan pulang ke rumah saya saja. Di rumah ada pembantu yang bisa merawat saya." Intan berpura-pura menolak ajakan bu Anis. Padahal dia sangat berharap tinggal di rumah orang tua Bagas.
"Benar kata ibu Tan, kamu tinggal dulu saja di rumah kami. Lagi pula kamu celaka juga karena saya." Lina menatap Intan dengan penuh harap supaya dia mau tinggal di rumahnya. Dia merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa Intan.
"Apa saya tidak merepotkan kalian nantinya."
"Tidak. Saya malah senang. Iyakan bu, pak." jawab Lina.
Bu Anis dan pak Ramli tersenyum memandang Intan.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa dekat dengan keluarga mas Bagas. Tunggu aku mas, tunggu sampai aku bisa mendapatkan hatimu." batin Intan sambil menatap semua orang di ruangan dengan senyumnya.
BERSAMBUNG