
Bagas menatap tajam pada Angga.
"Siapa kamu? Lebih baik kamu pergi dari sini." kata Bagas.
"Aku mungkin lebih mampu untuk menjaga istrimu, dari pada kamu. Suaminya. Kenapa?"
Angga menatap Bagas remeh, dia tak mau kalah dengan Bagas. Galih diam dan memandang pada Bagas dan Angga secara bergantian.
"Dia,, jangan-jangan." batin Galih sambil menebak-nebak.
"Jika sudah tidak bisa menjaga Rena, lebih baik kamu lepaskan saja. Aku bisa menjaganya. Bahkan lebih baik dari kamu."
Bughh...
Bagas memukul wajah Angga. Tetapi Angga tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Dia hanya menoleh ke samping karena pukulan dari Bagas.
"Mas." Rena yang masih terbaring meraih tangan Bagas dan menariknya ke belakang.
"Angga." Dona berteriak karena kaget.
"Lebih baik kita pergi dari sini." ajak Dona pada Angga dan meraih tangan Angga.
Angga menoleh pada Dona, dan melepaskan pegangan tangan Dona. Pandangan matanya terarah pada Dona dengan sangat tajam.
Dona hanya bisa mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Jika kamu masih membuat keributan, lebih baik kamu keluar dari sini." kata Rena sambil memandang Angga.
"Sebelum kamu menceritakannya, aku akan tetap berada di sini Ren." kata Angga dengan nada lembut.
Pandangan mata Angga berubah saat berbicara dengan Rena. Sangat teduh, apalagi di tambah senyum di bibirnya.
Aduh,,, Hati adek meleleh bang,,, Tapi tidak dengan Rena. Karena di hatinya masih tertulis nama Bagas.
Degg...
Hati Dona sedikit nyeri melihat kelembutan yang diberikan Angga pada Rena. Apalagi selama ini Angga tidak pernah tersenyum seperti itu pada dirinya.
"Astaga, tiga orang lelaki di ruangan ini. Dan semua menginginkan satu perempuan. Elo nggak tertarik." bisik Mira di telinga Leon.
"Gue akan kalah, elo lihat saja mereka." bisik Leon pada Mira.
"Angga. Ternyata dia juga menginginkan Rena. Keberaniannya sungguh gue acungi jempol." batin Galih.
Rena menatap pada Mira. Membuat semuanya bingung. Mira yang merasa di perhatikan Rena menjadi salah tingkah.
"Ada apa Ren?" tanya Mira memecah keheningan.
"Mas Tio yang mau memperkosa saya." ucap Rena langsung tanpa basa basi, dengan mata masih memandang Mira.
Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Rena membuat semua yang berada di dalam ruangan menjadi bengong dan berpikir sejenak.
"Kamu jangan bercanda Ren." kata Mira sambil tertawa.
"Dia mengirim pesan padaku lewat ponsel milik Dona." kata Rena lagi. Dengan tatapan masih mengarah pada Mira.
__ADS_1
"Pantas saja, ponselku seperti hilang di telan bumi."
Dona menutup mulutnya tidak percaya.
Tubuh Mira seperti hendak tumbang ke belakang. Tapi dengan sigap Leon menahannya.
"Tidak mungkin." kata Mira masih tidak percaya.
Sementara ketiga lelaki yang memiliki perasaan yang sama pada Rena mengeratkan rahang mereka. Menahan emosi yang ingin meledak.
"Dia melakukan ini karena aku ikut campur dengan masalahnya terkait Dona."
Rena berbicara dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Dia menahan supaya air matanya tidak jatuh. Tapi itu mustahil.
Air mata Rena meluncur ke pipi.
Dona menggeleng antaran tidak percaya dan merasa bersalah. Segera Dona menghampiri Rena dan memeluknya.
"Maaf." kata Dona sambil menangis sesegukan.
Mira yang masih tidak percaya, terus menggelengkan kepalanya dan menangis. Di sampingnya nampak Leon berusaha menenangkannya dengan menepuk pelan pundak Mira.
"Cari di mana Tio pemilik cafe NN saat ini berada." perintah Angga dengan menelpon bawahannya.
Dona yang mendengar Angga menyebut nama Tio beserta nama cafenya sempat terkejut.
"Dari mana dia tahu." batin Dona dengan memandang Angga.
Sementara Galih dan Bagas masih terdiam di tempat dengan pikiran masing-masing.
"Salah orang." ucap Rena sambil tersenyum mengejek.
"Anda yang salah orang. Anda salah mencintai orang. Buka mata kamu mbak, buka. Apa selama ini suami kamu pernah memberi kebahagiaan padamu. Apa selama ini dia pernah mempedulikan kamu. Apa selama ini dia pernah berkorban untukmu. Pernah?" kata Rena dengan menggebu-gebu.
"Apa dia mencintai kamu. Apa selamanya anda akan hidup seperti ini. Tanpa cinta. Dia sama sekali tidak menghargai kamu mbak. Apa seorang lelaki baik akan tega memperlakukan perempuan seperti ini mbak." ucap Rena lirih sambil menangis.
Tubuh Mira luruh di lantai dengan suara tangisan yang terdengar di ruangan tersebut.
Ponsel Angga tiba-tiba berdering.
"Oke." kata Angga berbicara dengan seseorang di telepon.
Tanpa berkata sepatah katapun, Angga membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu. Bagas dan Galih langsung berjalan menyusul Angga.
Dona mendekati Rena dan berusaha menenangkannya. Sementara Leon tampak bingung.
"Apa yang harus aku lakukan. Di sini, apa menyusul mereka." gumam Leon.
Akhirnya Leon duduk dengan berjongkok di samping Mira dan mencoba menenangkan temannya tersebut.
"Sudah lah Mir, apa yang kamu tangisi. Kamu seorang wanita hebat. Selama ini kamu selalu tertawa bahagiakan." kata Leon.
Sebenarnya Leon juga bingung harus berbicara apa pada Mira. Selama ini dia tidak pernah menenangkan wanita, selain merayu istrinya.
Dona masih memeluk Rena dari samping dan memperhatikan Mira. Ada rasa iba di hati Dona melihat Mira.
__ADS_1
"Mbak Mira,," kata Rena.
Sebelum Rena melanjutkan perkataannya, Mira telah berbicara terlebih dulu.
"Aku memang bodoh. Dari dulu aku selalu percaya. Jika seiring berjalannya waktu, mas Tio akan mencintaiku. Aku selalu berusaha berbuat hal yang bisa membuat mas Tio memandang ku. Aku rela melakukan apa saja buat dia. Bahkan juga untuk keluarganya."
Mira berbicara dengan air mata terus keluar dari matanya. Dona yang tidak tahan melihatnya, langsung melepaskan pelukannya pada Rena dan menghampiri Mira.
"Maafkan aku Mir."
Dona merengkuh tubuh Mira. Dan membawanya ke dalam pelukannya.
Leon berdiri dari duduknya, dia hanya memandangi dua wanita yang sama-sama mencintai Tio.
"Aku bingung, sekarang aku harus apa." ucap Leon sambil menghembuskan nafas panjang dan menggaruk rambut di kepalanya yang tidak gatal.
"Yon,, bisa bantu aku." kata Rena.
Seketika Leon memandang ke arah Rena. Dan berjalan mendekat ke arah istri sahabatnya tersebut.
"Kamu susul mas Bagas ya. Aku khawatir." ucap Rena dengan memandang Leon.
"Oke. Aku tinggal dulu ya."
Sebelum meninggalkan ruang rawat Rena, Leon kembali menatap Dona dan Mira yang masih berpelukan.
"Jangan khawatirkan mereka. Kita sesama perempuan. Semuanya akan baik-baik saja." kata Rena pada Leon.
Leon pun menoleh ke arah Rena dengan senyum dan anggukan kepala.
"Kalian tidak lelah di situ terus." ucap Rena melihat ke arah Dona dan Mira.
Dona dan Mira melepaskan pelukan mereka dan memandang ke arah Rena.
"Di sini aku yang sedang sakit. Kenapa malah kalian yang seperti itu." ucap Rena pura-pura merajuk dengan bibir cemberut.
Dona dan Mira saling memandang. Mereka lantas mengangkat sedikit bibirnya ke atas dan berdiri dari duduknya di lantai.
Mira dan Dona mendekat ke arah Rena. Mereka bertiga saling berpelukan.
"Maaf Ren. Ini semua karena suamiku. Kamu jadi seperti ini." kata Mira setelah melepaskan pelukannya.
"Nggak Mir, ini karena aku. Karena Tio berpikir, jika aku memutuskan hubungan kami gara-gara Rena." kata Dona sambil memandang Mira.
"Iisshh."
Rena tiba-tiba merasakan sakit di telapak kakinya.
"Ada apa Ren?" tanya Mira dan Dona bersamaan.
"Kaki ku sakit." ucap Rena sambil memejamkan matanya menahan rasa nyeri di telapak kakinya.
"Sebentar, aku panggilkan dokter."
Dona berjalan keluar ruangan untuk memanggil dokter. Padahal di dalam kamar rawat Rena terdapat tombol untuk memanggil perawat. Karena gugup melihat Rena kesakitan, membuat Dona dan Mira menjadi lupa dan bingung.
__ADS_1
BERSAMBUNG