
"Ada apa mas?" tanya Rena, karena Bagas menghentikan laju mobilnya.
Bagas melepas sabuk pengamannya dan menghadap ke tempat Rena. Di pegangnya dengan lembut kedua pipi Rena. Bagas mengecup pelan bibir Rena.
"Mas jangan gila. Ini di jalan." ucap Rena sambil mendorong pelan tubuh Bagas ke belakang.
Rena lantas menoleh ke luar mobil. Dia takut jika sampai ada yang melihat tindakan mereka. Bisa di bilang pasangan mesum nantinya
Bagas tersenyum sambil membelai lembut rambut istrinya.
"Nggak usah takut. Ini sudah larut malam." ucap Bagas sambil mencium kembali bibir Rena.
" Mas, iiihh." rajuk Rena sambil memanyunkan bibirnya dengan menahan senyumnya.
"Nggak baik di tahan-tahan." ucap Bagas dengan mencomot bibir Rena.
Rena hendak memukul lengan Bagas lagi. Tapi tangan Rena di tangkap oleh Bagas dan di bawa ke lehernya. Bagas mendekatkan bibirnya ke bibir Rena.
Bagas langsung memainkan lidahnya di dalam mulut Rena. Tangan Rena sudah melingkar di leher Bagas. Sementara, tangan Bagas merayap untuk melepas sabuk pengaman milik Rena.
Setelah sabuk pengaman terlepas, Bagas lebih mendekatkan Rena ke badannya.
Aahhh...
Suara nafas keduanya tak beraturan setelah menyudahi ciuman hangat di dalam mobil.
Keduanya saling bertatapan dengan senyum di bibir masing-masing. Bagas kembali mencium dahi Rena dengan lembut. (Anggap saja jika di gambar malam hari ya kak,, ☺️☺️)
Dengan satu gerakan dari Bagas, Rena di bawa ke pangkuannya. Kini Rena berada di atas pangkuan Bagas dengan posisi saling berhadapan.
"Mas." ucap Rena.
"Kenapa?" tanya Bagas pura-pura tidak mengerti.
Di belainya paha sang istri. Karena Rena memakai dress pendek, dengan posisi sekarang nampak paha Rena terpampang sempurna.
Bagas sedikit menurunkan dress bagian atas milik Rena.
"Mas." ucap Rena.
"Mas suka." ucap Bagas dengan kedua tangan sudah berada di gundukan dada Rena.
Kini, hanya perut Rena saja yang tertutup oleh dress yang sedang ia pakai.
Buah ceri yang ada di gundukan dada Rena sudah masuk secara sempurna ke dalam mulut Bagas.
Sedangkan tangan Bagas yang satu lagi sudah berada di lubang donat milik Rena. Dengan jari jemarinya keluar masuk lubang dengan bebas.Tangan Rena memegang erat pundak Bagas. Menahan suara yang ingin keluar dari mulutnya karena rasa nikmat yang di berikan sang suami.
"Punya kamu sudah basah sayang." bisik Bagas.
"Punya kamu juga sudah menantang." ucap Rena.
__ADS_1
Rena merasakan mentimun Bagas yang sudah mulai mengeras saat ia duduki.
"Kita bermain di sini." ajak Bagas.
Rena hanya mengangguk pasrah dengan ajakan suami. Bagas mengeluarkan mentimunnya dan memasukkan ke dalam lubang donat milik Rena.
Kali ini giliran Rena yang berada di atas tubuh Bagas. Rena menggerakkan badannya naik dan turun. Sementara mulut Bagas tidak bisa berhenti bermain dengan buah ceri milik Rena. Hingga keduanya selesai melakukan ritual yang menguras tenaga.
Rena kembali ke tempatnya duduk dan merapikan penampilannya. Bagas terus memandang ke arah Rena yang masih sibuk merapikan penampilannya.
"Sudah sayang. Sudah cantik. Lagi pula ini sudah terlalu malam. Tidak akan ada yang melihat, kecuali suami mu ini." ucap Bagas.
Rena berhenti dan menoleh ke arah Bagas. Ini pertama kali bagi mereka melakukan hubungan suami istri di dalam mobil. Tampak tisu yang sudah terpakai berserakan di mobil Bagas bagian depan.
Rena membungkukkan badan dan memungutinya. Lalu memasukkan ke dalam kantong kresek.
"Mau kamu apakan tisu itu sayang?" tanya Bagas menggoda Rena.
"Aku jual." jawab Rena jutek.
"Memang ada yang beli?"
"Ada."
"Siapa?"
"Kamu."
Bagas mencubit gemas hidung istrinya.
"Iya." ucap Bagas sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Tadi saja nggak bilang ngantuk. Sekarang bilang nya ngantuk." kata Bagas sambil menyetir.
"Sudah diam. Fokus nyetir." ujar Rena.
Sampai di rumah Rena langsung merebahkan badannya di ranjang.
"Bersihkan dulu badan kamu sayang." ucap Bagas.
"Ngantuk." kata Rena memejamkan mata.
Bagas mendekat dan menggendong tubuh Rena.
"Mas." teriak Rena.
"Mas yang bersihkan. Atau kamu sendiri yang bersihkan." kata Bagas, dengan Rena masih berada di gendongannya.
"Sendiri. Cepat turunkan." ucap Rena.
Bagas pun menurunkan Rena dari gendongannya. Rena berjalan ke arah kamar mandi dengan malasnya.
"Dibersihin. Bukannya bersih, malah tambah kotor. Dan pasti tambah makin lama. Bisa subuh nanti aku tidurnya." gerutu Rena sambil berjalan.
__ADS_1
Bagas yang mendengarnya hanya tersenyum dan memandang Rena dari belakang. Rena masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam.
"Bahaya kalau nggak di kunci. Nanti malah nggak jadi tidur cepet." gumam Rena.
"Astaga." kata Bagas saat telinganya menangkap suara pintu yang terkunci.
Bagas menunggu Rena dengan duduk di kursi dan memainkan ponselnya. Beberapa pesan bergambar dari Intan masuk ke ponsel Bagas. Tapi Bagas sama sekali tidak membukanya.
"Apa gue blokir aja ya." gumam Bagas.
"Iya. Lebih baik seperti itu." kata Bagas.
Dengan sekali sentuh, Bagas memblokir nomor Intan dari ponselnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Tampak Rena keluar menggunakan baju tidurnya. Tanpa melihat, bahkan menyapa Bagas, Rena langsung merebahkan badannya di atas ranjang. Lantas Rena langsung memejamkan mata.
Bagas tersenyum melihat tingkah istrinya. Sekarang gilirannya untuk membersihkan badan dan menyusul Rena ke dalam mimpi.
Di ambilnya selimut yang masih tertata rapi. Kemudian di tutup kan selimut tersebut ke tubuh Rena dan tubuhnya sendiri. Tampak Rena tidak merasa terganggu dengan goncangan lembut di ranjangnya.
Rena benar-benar sudah amat sangat mengantuk.
"Selamat tidur sayang. I love love love you." ucap Bagas dengan membawa Rena ke dalam pelukannya.
*****
"Kenapa?"
Intan marah besar karena Bagas memblokir nomornya.
Dilihatnya kembali ponsel miliknya.
"Kenapa mas Bagas tega. Bahkan Intan rela jika harus di jadikan istri ke dua mas Bagas."
Intan mengamuk saat larut malam. Pembantu di rumahnya pun semua terbangun karena suara benda-benda yang di banting oleh Intan di dalam kamarnya.
"Kenapa dia ngamuk?" tanya pembantunya.
"Nggak tahu, sudah biarkan saja. Kita tidur lagi." ucap pembantu yang lain.
Akhirnya mereka masuk kembali ke dalam kamar dan membiarkan Intan mengamuk sendiri. Mereka mencari aman saja. Karena mereka tahu bagaimana watak dari anak majikannya tersebut.
"Aku harus mencari cara supaya mas Bagas mau menerima ku. Harus. Apapun caranya" ucap Intan dengan berdiri di depan cermin dan melihat ke wajahnya sendiri.
*****
Di dalam kamar, Angga tampak masih terjaga. Sesekali dia tersenyum mengingat betapa gilanya dia berani mencium bibir Dona walaupun hanya sekilas.
"Apa yang terjadi dengan diriku?" tanya Angga pada dirinya sendiri.
"Bukannya aku mencintai Rena. Tapi kenapa sekarang aku malah memikirkan Dona. Rena. Cantik dan begitu pintar. Dia sangat pandai membaca keadaan. Setiap lelaki pasti akan takjub dengan kecantikannya. Apalagi jika dia sudah berbicara. Tampak seksi sekali bibirnya." ucap Angga.
"Dona, dia selalu ada saja tingkahnya. Membuat ku pusing saja. Apalagi jika dia sudah bicara. Sumpah. Telingaku rasanya mau pecah. Tapi entah kenapa aku malah terhibur dengan tingkahnya yang selalu semaunya sendiri." kata Angga sembari membayangkan kembali tingkah Dona saat loncat-loncat tadi.
__ADS_1
Angga tertawa teringat Dona yang loncat-loncat karena di cium olehnya. Angga mengusap wajahnya dan membaringkan badannya di atas ranjang besar miliknya. Sementara bibirnya terus tersenyum.
BERSAMBUNG