Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 21


__ADS_3

"Tadi jadi ketemuan sama Dona." Bagas menatap Rena yang tengah melamun. Di colek nya dagu Rena.


"Ada apa, mas mau kopi lagi." Rena terkejut oleh colekan Bagas.


"Kopi mas masih banyak." Bagas mengambil cangkir kopi yang masih terisi setengah dan menyeruputnya.


"Kamu sedang mikirin apa sih, sampai mas tanya nggak dengar." Bagas meletakkan kepalanya di atas paha Rena.


Mereka sedang bersantai di ruang tengah.


Rena menceritakan persoalan Dona pada Bagas. Air mata Rena lolos begitu saja.


"Kok kamu nangis, hey, kenapa." Bagas mengusap air mata di pipi Rena.


"Nggak kebayang jadi perempuan seperti dia mas, hebat banget. Bahkan dia menemui Dona dengan senyuman. Pasti kalau aku nggak akan kuat." pelupuk mata Rena masih tergenang dengan air matanya.


"Hahhh,,, kamu sudah nasehati Dona."


"Sudah, aku menyuruhnya menerima perjodohannya. Lagi pula tidak mungkin mamanya Dona mencarikan pasangan yang ngawur pada anaknya."


"Iya, itu akan lebih baik. Dari pada Dona akan menyesal kemudian hari."


Ponsel Rena tiba-tiba berbunyi.


"Tante Tika." Rena melihat layar ponselnya.


"Ada apa ya mas, tumben telpon." Rena merasa heran, karena tidak biasanya mamanya Dona menghubunginya.


"Kamu angkat saja dulu."


"Assalamualaikum tante, ada apa?"


"Iya, saya sedang di rumah."


"Iya tante, saya tunggu ya tante." Rena mematikan ponselnya.


"Ada apa."


"Katanya tante Tika mau ke sini."


Tidak lama kemudian terdengar bel rumah berbunyi.


Ting,, tong,, (anggap saja itu bunyi bel rumah Bagas ya teman-teman 😉😉)


"Tante, silahkan masuk." Rena bersalaman dengan beliau.


"Maaf mengganggu." tante Tika merasa tidak enak bertamu malam-malam.


"Tidak kok tante, mas,,, tante Tika datang." Rena memanggil Bagas yang masih ada di belakang.


Bagas segera menghampiri tante Tika dan bersalaman dengan beliau.


"Tante sehat?" Tanya Bagas.


"Alkhamdulillah sehat."

__ADS_1


"Silahkan duduk tante."


"Tante sama siapa ke sini?"


"Di antar sopir. Papanya Dona lagi ada pekerjaan di luar kota."


Rena beranjak pergi ke belakang untuk membuatkan minum.


"Ini tante di minum dulu." di letakkan nya dua cangkir teh di meja.


"Terimakasih." tante Tika mengambil cangkir di depannya dan di seruput tehnya kemudian di letakkan kembali ke meja.


"Tante ke sini mau minta tolong sama kalian." beliau memandang Rena dan Bagas bergantian.


"Ini soal Dona, sebenarnya tante malu minta tolong sama kalian, tapi tante bingung. Cuma kamu Ren, satu-satunya yang bisa membantu Dona. Kalian pasti sudah mengetahuinya kan." raut wajah tante Tika terlihat seperti tertekan.


"Tante tenang saja, kami pasti akan berusaha membuat Dona meninggalkan laki-laki itu dan menerima perjodohan ini." Rena menggeser duduknya dan memegang telapak tangan tante Tika.


"Sejak tante menjodohkannya, sekarang sikap Dona pada tante berubah. Di lebih tertutup sama tante. Kami pun jarang berbicara. Semuanya berubah Ren." tante Tika menangis tersedu. Rena mengelus bahu tante Tika.


Bagas diam tanpa ikut berkomentar. Dia masih menjadi pendengar yang setia.


"Apa tante salah Ren, tante hanya tidak mau Dona salah dalam memilih pendamping hidup. Apalagi menyakiti hati wanita lain."


"Tante tidak salah, mana ada orang tua yang membiarkan anaknya berjalan di jalan yang salah." Rena memberi dukungan semangat pada tante Tika.


"Apa om sudah tahu jika Dona menjalin hubungan dengan lelaki yang sudah punya istri." Rena bertanya dengan hati-hati.


Tante Tika hanya menggeleng pelan. Rena memandang suaminya. Terlihat Bagas seperti memberikan perintah lewat tatapan matanya sambil mengangguk pelan pada Rena.


"Tan,, ini soal lelaki yang di jodohkan dengan Dona. Apakah dia tahu soal ini." Rena bertanya dengan pelan, dia takut jika pertanyaannya salah di mata tante Tika.


"Tante percaya sama kita." Bagas akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Dona anak tante satu-satunya. Tante ingin yang terbaik untuk putri tante. Katakan apa rencana kalian."


tante Tika memandang Bagas penuh harapan.


"Kita harus memberi tahu calon suami Dona tentang semua ini, kenapa tante menjodohkan Dona dengan dirinya. Semua itu sangat membantu kita Tan." Bagas mencoba menyakinkan tante Tika.


"Tante takut jika dia tidak menerima alasannya, tante takut begitu dia tahu dia akan membatalkan perjodohan ini. Lalu bagaimana dengan Dona. Bagaimana kehidupannya ke depan. Tante tidak mau Dona menjadi alasan rusaknya sebuah rumah tangga orang." Tante Tika berkata dengan mata berkaca-kaca ingin menangis.


"Tapi itu harus kita lakukan Tan, kita harus berani mengambil resiko ini. Dia satu-satunya kunci terbaik kita untuk memisahkan Dona dengan lelaki tersebut. Tante percayakan pada kita. Biar kita yang berbicara dengannya." Lanjut Bagas menyakinkan tante Tika.


Tante Tika memandang Rena dan Bagas bergantian.


Rena menepuk-nepuk pelan genggaman tangan tante Tika. Bagas tersenyum seakan menyakinkan semuanya akan baik-baik saja.


"Baiklah, saya percaya pada kalian." Tante Tika memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya pelan dan panjang.


"Oh iya, Dona tidak tahu kalau Tante ke sini?"


"Sekarang Dona jarang tidur di rumah, dia lebih sering menginap di butik." Tante Tika mengusap air matanya sebelum jatuh, dan berusaha memaksakan senyumnya.


"Tante yang sabar ya. Kita akan bantu tante."

__ADS_1


"Tan, nanti Rena minta nomor ponsel laki-laki yang mau di jodohkan sama Dona ya?"


"Iya, nanti tante kirimi. Ren, tante pamit dulu ya. Ini sudah larut malam. Maafin tante ya mengganggu waktu istirahat kalian."


"Sama sekali tidak mengganggu kok Tan."


"Tante hati-hati di jalan."


Bagas dan Rena mengantar tante Tika sampai teras rumah mereka.


*****


"Mas sudah menghubungi dokter Angga?" Rena menarik selimut sampai bagian dadanya.


"Sudah, besok kita akan bertemu dengannya." Bagas menata posisi bantalnya.


"Besok kan hari libur kerja. Dokter Angga juga setuju untuk bertemu besok." Bagas menyusul Rena masuk ke dalam selimut.


"Dia nggak tanya-tanya gitu mas. Kenapa mas tiba-tiba ngajak ketemuan."


"Mas bilang sama dia, besok akan mas jelaskan semuanya."


"Mungkin dokter Angga berpikir mas mau membicarakan soal kesehatanku."


"Mungkin."


"Besok aku ikut apa tidak." Rena memiringkan badan menghadap Bagas dan menyangga kepalanya menggunakan tangan sebelah kananya


"Ikutlah,, sambil jalan-jalan sekalian." Bagas menyenggol lengan Rena sehingga kepala Rena terjatuh ke bantal.


"Mas,, ihhh. Usil banget sih." Rena memukul pelan tubuh Bagas.


"Apa ada yang menghubungi kamu hari ini?"


Rena memandang Bagas dengan mata menyipit sebelah.


"Maksud ku, apa ada nomor baru yang menghubungimu?" Bagas mengelus alis Rena secara berulang.


"Tidak ada."


"Aku hanya khawatir Galih melakukan hal-hal di luar dugaan kita." Bagas tidur terlentang dengan kedua tangan di bawah kepalanya.


"Aku akan lebih berhati-hati mas." Rena meletakkan kepalanya di atas dada Bagas.


"Mas, bagaimana jika besok dokter Angga menolak kerjasama kita." kekhawatiran Rena tina-tiba muncul.


"Tidak usah kamu pikirkan, kita kan belum mencobanya. Kenapa takut tidak akan berhasil. Hemmm..." Bagas mengacak-acak rambut Rena.


"Ihh,,, mas. Berantakan rambut aku." Rena memegang tangan Bagas.


"Lebih baik sekarang kita tidur."


Rena dan Bagas terlelap di bawah selimut. Hanya dengkuran halus yang terdengar.


Mereka tidak menyadari di depan pintu rumah mereka berdiri seseorang yang sedang memegang sebuket bunga.

__ADS_1


"Semoga kamu suka." Dia mencium sebuket bunga mawar merah dan meletakkannya di depan pintu dan melangkah pergi.


BERSAMBUNG


__ADS_2