Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 83


__ADS_3

Intan mengambil ponselnya dan ber-selfie menggunakan kemeja milik Bagas di atas ranjang kamar Bagas.


"Lebih baik aku kirimkan ke mas Bagas." kata Intan.


MAAF MAS, AKU PINJAM BAJU KAMU.


BAJU AKU KOTOR, KARENA BARU SAJA BERSIH-BERSIH RUMAH.. ❤️


Intan menggunakan kalimat tersebut dan di tambahi gambar hati untuk melengkapi foto yang di kirim pada Bagas.


"Selesai, sekarang waktunya istirahat." ujar Intan sembari meregangkan badannya dan tidur di kamar Bagas layaknya nyonya rumah.


Di rumah sakit, Rena di temani oleh mak Irah dan bu Anis. Mereka tampak berbincang. Sesekali Rena berbalas pesan dengan adiknya Sera.


"Bagaimana kabar kedua orang tuamu Ren?" tanya bu Anis.


"Alkhamdulillah mereka baik bu."


"Maaf bu, mbak Rena. Nanti mau di masakin apa?" tanya mak Irah dengan sopan.


"Nggak perlu mak, kita beli makanan saja. Dari pada mak bolak balik. Nanti malah capek lagi." ucap Rena.


Bu Anis tersenyum mendengar kalimat yang di ucapkan Rena pada mak Irah.


"Tapi mak kan juga mau bersih-nersih rumah mbak." jelas mak Irah


"Sudah, biarkan saja dulu mak." imbuh bu Anis.


"Baik bu."


Di butik, Lina mudah akrab dengan Wati dan Sari. Saat ini butik lumayan ramai. Dona ikut membantu karyawannya dengan menempatkan dirinya di kasir. Sementara yang lain melayani pembeli.


Setiap ada pembeli yang bertanya pada Lina, dan Lina tidak tahu, maka dia akan bertanya pada yang lain.


"Sari, ini ada warna lain?" tanya Lina sambil membawa sebuah gaun di tangannya.


Dengan telaten, Sari menjawab setiap pertanyaan dari Lina.


"Nggak ada, pokoknya baju yang ada di sana semuanya hanya satu warna dan satu model. Karena itu rancangan mbak Dona sendiri. Jika di bagian sana, ada warna dan ukurannya." kelas Sari sambil menunjuk ke tempat baju tersebut di taruh.


"Oke, makasih ya." kata Lina sembari berjalan kembali ke tempatnya.


"Sar, elo nggak tanya soal Intan sama Lina." ucap Wati yang sudah berada di belakang Sari.


"Ntar aja, nunggu butik sepi. Nggak enak sama mbak Dona." jelas Sari.


"Oke. Gue balik dulu." kata Wati sambil berjalan kembali ke tempatnya.


Saat jam makan siang, butik sudah sepi. Hanya ada dua pengunjung yang sedang melihat-lihat pakaian.


"Alkhamdulillah." ucap Dona sambil merentangkan kedua tangannya.


"Sari." panggil Dona.


Sari berjalan cepat menuju kasir.


"Ada apa mbak?"


"Kamu ke belakang dulu. Ajak Lina ya. Dia kan masih baru. Jangan tinggalkan dia sendiri di depan. Takutnya dia belum terlalu mengerti. Kamu bisa gantian sama Wati saat menemani Lina." jelas Dona.


"Baik mbak, kalau begitu saya ajak Lina ke belakang dulu. Mumpung sepi." ucap Sari.


Sari berjalan ke arah Lina dan mengajaknya ke belakang. Tapi sebelumnya, dia memberitahu dulu pada Wati.


"Wati, aku sama Lina ke belakang dulu." kata Sari.


Wati hanya mengangkat ke dua jempol tangannya.

__ADS_1


Di belakang Sari makan bersama Lina, tidak ada pembicaraan sampi saat ini. Hingga rasa penasaran Sari muncul.


"Ekh,, Lin."


"Apa?" tanya Lina dengan memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


"Bagaimana kabar Intan?" tanya Sari.


Mendengar nama Intan, Lina menghentikan makannya.


"Gue harus berhati-hati dalam berbicara. Gue belum terlalu kenal dengan mereka." batin Lina.


"Emang Intan nggak ngasih kabar ke kamu." tanya Lina.


"Nggak." jawab Sari.


"Aneh, mereka kan satu pekerjaan. Bahkan yang gue denger mereka satu kontrakan. Masa iya nggak pernah komunikasi." batin Lina.


"Dia sudah membaik. Sekarang udah nggak tinggal di rumahku. Sudah pulang ke rumahnya. Dia bilang nggak enak jika ngrepotin keluargaku terus." jelas Lina berbohong.


"Emm,,, tapi kenapa nggak masuk kerja." tanya Sari.


Lina hanya mengangkat ke dua bahunya, menandakan dia juga tidak tahu menahu soal Intan.


"Kamu dekat ya sama Intan." tanya Sari lagi.


"Nggak. Kita memang satu sekolah saat SMA. Tapi nggak satu kelas. Cuma kenal doang." jelas Lina.


"Selama Intan tinggal di rumah kamu,,, maksudku,,, emmm,,, bagaiman menurut kamu mengenai Intan." tanya Sari.


Lina hanya diam dan memandang Sari.


"Kenapa dari tadi dia nanyain Intan terus." batin Lina.


"Baik." jawab Lina singkat dan melanjutkan makannya.


"Bodoh Sari, pasti Lina bingung. Kenapa dari tadi elo nanyain uler keket itu terus." batin Sari.


"Oke. Aku nanti dari kamar mandi langsung ke depan. Cuma mau ganti pembalut doang. Soalnya kagak sholat." ucap Sari.


"Ya sudah. Kamu duluan saja nanti. Nggak usah nungguin aku." kata Lina sambil menaruh piring yang telah ia cuci.


"Gimana, kamu udah tanya ke Lina soal Intan?" tanya Wati pada Sari begitu sahabatnya datang.


"Nanya sih, tapi." kata Sari sambil memanyunkan bibir.


"Tapi kenapa?" tanya Wati penasaran.


"Cuma nanya kabar Intan. Ternyata dia sudah tidak tinggal di rumah Lina."


"Ooo..." ucap Wati sambil manggut-manggut.


"A,,o,,a,,o...Gimana nih?" seru Sari.


"Kita ngomong yang sebenarnya saja pada Lina. Gimana?" kata Wati.


"Udah ah, capek mikirin masalah orang." kata Sari sambil berjalan meninggalkan Wati.


"Eaaa,,, malah pergi. Sar, gue kebelakang." teriak Wati.


"Sip." kata Sari mengacungkan jempol sebelah kanannya tanpa melihat ke arah Wati.


Di kantor Bagas teringat pesan yang dia baca saat dirinya sedang mencari Tio.


"Apa Galih yang sudah menangkap dan menyembunyikan Tio." batin Bagas sambil menatap ke arah Galih.


"Gimana dengan Rena." tanya Leon sambil menepuk pundak Bagas.

__ADS_1


"Sudah lebih baik." jawab Bagas.


"Terus Tio?" lanjut Leon.


Mendengar nama suaminya disebut, Mira menghentikan pekerjaannya. Dia memasang telinga untuk mendapatkan informasi tentang suaminya.


Sementara Galih meneruskan pekerjaannya meskipun dia sambil mendengarkan percakapan Bagas dan Leon.


Bagas menggeleng pelan.


"Maksud kamu?" imbuh Leon.


"Nggak tahu. Gue nggak tahu Tio di mana saat ini. Dia seperti hilang di telan bumi." jelas Bagas sembari menatap Galih.


Leon pun mencari ke mana arah pandangan mata Bagas tertuju.


"Kenapa elo lihatin Galih kayak gitu?" bisik Leon di telinga Bagas.


"Sudah sana, elo balik ke kursi elo. Lanjutin kerjaan elo sana." pinta Bagas sambil mendorong pelan tubuh Leon.


"Nanggung. Bentar lagi juga istirahat." ucap Leon.


"Itu artinya Tio belum di temukan. Terus gimana gue mau gugat cerai dia." batin Mira sambil memijat pelipisnya.


"Elo kenapa. Migren." ucap Leon.


"Astaga."


Mira kaget karena Leon tiba-tiba sudah berada di dekatnya.


"Elo bikin kaget gue brengsek. Ngapain elo tiba-tiba ke sini?" tanya Mira dengan kesal.


"Gue gabut." kata Leon enteng.


"Elo. Minggir, balik sana ke kursi elo. Ganggu aja." kata Mira sewot.


"Lama banget sih jam istirahat siang." kata Leon.


Bukannya balik ke kursinya, Leon malah duduk di meja kerja milik Mira.


Mira hanya geleng-geleng melihat tingkah teman kantornya tersebut.


"Alkhamdulillah, akhirnya jam makan siang datang." ucap Leon dengan senang.


Leon langsung keluar ruangan dan menuju kantin kantor tanpa mengajak yang lain seperti biasanya.


"Benar-benar kelaparan itu anak." gumam Mira.


Mira pun menyusul Leon untuk pergi ke kantin.


"Elo nggak ke kantin?" tanya Mira pada Bagas.


"Bentar lagi. Elo duluan saja." ucap Bagas pada Mira.


Mira akhirnya pergi ke kantin terlebih dulu. Saat Galih hendak pergi keluar ruangan, Bagas menghentikannya.


"Tunggu. Apa elo sudah menemukan Tio." tanya Bagas pada Galih.


Bagas mencoba bertanya pada Galih, dengan tidak mengatakan tentang surat tersebut. Dia ingin melihat ekspresi Galih.


"Gue juga nggak tahu di mana dia." jawab Galih.


"Serius." tanya Bagas lagi.


"Terserah elo." ucap Galih sambil berjalan meninggalkan Bagas.


Bagas mengambil ponselnya di laci meja dan melihatnya. Terdapat pesan bergambar yang masuk ke dalam ponselnya sekitar dua jam lalu.

__ADS_1


Mata Bagas melotot tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di layar ponselnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2